
Hari ini adalah puncak di mana setelah beberapa minggu kita nanti-nantikan. Yap, pemilu ketua BEM waktunya hari ini dilaksanakan.
Aku bersama dengan seluruh anggota BEM hari ini mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari pagi. Aku sudah berada di hall tempat pemilu nantinya akan dilaksanakan ini mulai dari jam tujuh pagi.
Kini jam sudah menunjukkan pukul delapan yang berarti satu jam lagi pemilu akan mulai dilaksanakan. Sistem pemilu kali ini akan bergantian, di mana dua jam awal untuk seluruh dosen dan juga karyawan kemudian akan dilanjutkan dengan seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran.
“Claire, lu angkatin meja-meja yang ada di luar terus lu tata di dekat pintu masuk situ dong.” Perintah Kak Olive padaku di saat aku sedang membantu Elsa menata di bilik-bilik yang ada.
“Baik Kak,” jawabku.
Aku langsung menuju ke luar hall dan mencari meja yang harus aku pindahkan. Ternyata ada sekitar empat meja yang harus aku tata di dekat pintu masuk.
Saat aku mencoba mengangkat meja yang pertama ternyata meja ini cukup berat tidak seperti tampak luarnya yang terlihat cukup ringan.
Saat aku sudah mengangkat meja yang pertama, tiba-tiba saat aku sudah mau masuk ke dalam hall, pintu hal tersebut tertutup tiba-tiba, “Awhh.” Erangku saat meja yang aku angkat ini mengenai perutku karena terdorong oleh pintu yang tiba-tiba tertutup.
“Daisy! Lu emang gila!” Teriak seseorang yang aku dengar dari luar saat pintu hall tertutup.
Tak lama dari itu, pintu yang ada di depanku ini terbuka kembali dan dibalik itu muncullah Kak Arthur dengan mukanya yang terlihat sedang kesal.
“Claire, kamu gapapa?” Tanya Kak Arthur setelah membukakan pintu hall kembali.
“Lu ada masalah apa sih sama dia sebenernya? Ngaku gak lu ama gue!” Kata Kak Arthur dengan nada tinggi pada Kak Daisy yang baru pertama kalinya aku melihat Kak Arthur marah seperti ini.
“Gue gak sengaja Thur. Lu jangan nuduh-nuduh gue deh.” Kata Kak Daisy menjawab Kak Arthur dengan nada tinggi juga.
“Jelas-jelas gue lihat apa yang lu lakuin pakek mata kepala gue sendiri. Lu gak usah bohong deh ama gue. Lu kenapa sih harus selalu kasar ama dia?” Tanya Kak Arthur pada Kak Daisy dengan nada tinggi kembali yang membuat beberapa orang yang ada di sekitar kita kini melihat ke arah kita.
“Lu ngada-ngada deh sukanya. Mentang-mentang lu mau jadi pemimpin, jadi lu sok-sokan kayak gini ama gue?” Kata Kak Daisy dengan menunjuk-nunjuk di depan muka Kak Arthur.
“Nih ada apa?” Tanya seseorang yang muncul dari belakangku dengan suara beratnya yang khas.
__ADS_1
Seketika aku langsung menoleh ke belakang dan seperti dugaan, Kak Jeff kini datang dan ada di belakangku.
“Eh gapapa Kak. Cuma ada salah paham aja tadi.” Kataku langsung tidak mau Kak Jeff tahu tentang kejadian ini.
“Thurr, lu kenapa?” Tanya Kak Jeff pada Kak Arthur.
Aku langsung berbalik badan dan mencoba menginstruksikan Kak Arthur dengan memberikan isyarat untuk tidak memberitahu Kak Jeff.
“Ehh … gapapa. Cuma sempet salah paham kayak kata Claire aja barusan,” balas Kak Arthur.
“Terus lu?” Tanya Kak Jeff dengan menatap ke arah Kak Daisy kali ini.
“Ehh … gapapa Jeff. Tadi gue yang salah paham sama Arthur.” Kata Kak Daisy dengan suaranya yang seketika melembut.
“Ohh … terus dah kelar gak nih?” tanya Kak Jeff.
“Ohh … sudah Kak.” Balasku dengan sedikit memberikan senyuman untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi menegangkan.
Seketika kita bertiga menjadi salah tingkah. Kak Daisy langsung berbalik badan meninggalkan kita. Aku langsung mengangkat kembali mejaku untuk masuk ke ruangan.
“Biar aku bantu.” Kata Kak Arthur langsung membantuku mengangkat meja yang sedang aku angkat.
Setelah mengangkat dan meletakkan satu meja masuk ke dekat pintu masuk hall, aku bersama Kak Arthur langsung keluar kembali berniat untuk mengambil meja yang lain.
“Gak usah. Itu berat, biar aku sama Arthur aja.” Cegah Kak Jeff saat aku keluar dari hall.
“Gapapa Kak. Ini tapi tugasku.” Jawabku memikirkan mau seperti apa nantinya aku kalau tidak melaksanakan tugas Kak Olive.
“Nih, aku kasih tugas. Pegangin mapku ini sampai aku selesai ngangkat mejanya sama Arthur.” Kata Kak Jeff sambil memberikan map yang daritadi dia pegang padaku.
Tidak bisa menolaknya kembali, akhirnya aku hanya bisa menuruti Kak Jeff. Kak Jeff dan Kak Arthur memindahkan meja tersebut dengan sangat cepat, hanya beberapa menit saja semuanya sudah masuk ke dalam hall.
__ADS_1
“Makasih Kak.” Kataku pada Kak Jeff dan Kak Arthur ketika sudah selesai memindahkan semua mejanya.
“Kamu digangguin Daisy?” Tanya Kak Jeff ketika mengambil mapnya yang berada di tanganku.
“Gak Kak.” Balasku dengan tersenyum tipis.
“Awas sampai bohong sama aku.” Kata Kak Jeff kemudian meninggalkan aku bersama dengan Kak Arthur yang dari raut wajahnya bisa aku lihat masih sedikit terlihat kesal.
...--------...
Setelah tugasku untuk memindahkan meja selesai, aku langsung kembali pada timku dan memberitahu Kak Olive.
“Lu udah ingetin dosen-dosen sama karyawan ‘kan buat jamnya?” Tanya Kak Olive seusai aku laporan pada Kak Olive tentang tugasku.
“Sudah Kak,” balasku.
“Okee bagus. Bentar lagi kita kumpul, buat pembagian tugas tim humas. Ada beberapa yang diubah dari yang kemarin sudah di share di grup. Lu tunggu aja, Daisy yang bentar lagi kasih tahu. Siap-siap aja lu, apalagi lu barusan udah berulah sama dia.” Kata Kak Olive yang membuatku seketika pasrah mendengar hal tersebut.
Tak lama kemudian, Kak Daisy langsung mengumpulkan kita semua tim humas. Kini aku merasa sepertinya aku akan bekerja sendiri kembali karena kemarin aku merasa tugasku adalah menjaga absensi bersama dengan Elsa. Tetapi baru saja Kak Daisy memasangkan Elsa dengan yang lain. Dan kini, hanya tersisa aku yang belum mendapatkan tugas.
“Lu Claire, jaga di bagian meja tinta. Lu kerja yang bener, gak usah cari perhatian ke yang lain-lain. Lu jaga baik-baik di sana! Tiap orang yang sudah milih jangan sampe ada yang bisa milih lagi cuma karena tangannya gak lu kasih tinta waktu dia keluar.” Jelas Kak Daisy padaku.
“Lu di sana sendirian. Gak usah manja. Lu selama ini setiap tugas lu ngandalin kemanjaan lu ‘kan. Awas aja kali ini lu masih ngandalin sok manja lu itu.” Kata Kak Daisy dengan menekankan di setiap kata “manja” padaku.
“Kita semua langsung stand by di tempat kita masing-masing setelah ada arahan dari Jeff sama Arthur ya.” Kata Kak Olive memberitahu sebelum kita bubar.
“Baik Kak,” jawab kita semua.
“Apa bagusnya lu sih? Sampe semua orang belain lu.” Kata Kak Daisy memandangiku dari atas sampai bawah saat melewatiku untuk meninggalkan tempat.
Mendengarkan kata-kata Kak Daisy yang seperti itu cukup membuatku sakit hati mendengarnya. Tetapi aku berusaha untuk menguatkan diriku dan biasa saja menanggapinya.
__ADS_1