
Sore ini, tiba-tiba ponselku berbunyi dan saat aku lihat, ternyata Jacob yang meneleponku. Aku langsung mengangkatnya karena aku tahu dia pasti mau memberiku kabar tentang tradingku.
“Haloo, Claireee,” sapa Jacob.
“Iyaa. Kenapa nih?” tanyaku.
“Eh besok sore, ada waktu kosong gak?” tanyanya.
“Kenapa emangnya?” tanyaku balik.
“Kalau ada waktu kosong, besok basket yuk. Soalnya dua hari lagi ada sparing loh, lumayan ‘kan kalau kamu bisa ikutan sparing. Buat pemanasanmu, ‘kan kamu udah lama gak main.” Kata Jacob mengajakku.
“Kalau besok aku datang terus ngapain kalau sparingnya masih dua hari lagi?” tanyaku.
“Besok ikutan latihan biasa dulu. Biar coachnya, ada tahu permainanmu gitu,” jelas Jacob.
“Okee-okee deh. Aku besok ikut latihannya.” Kataku setelah melihat besok sore aku kosong.
“Yes, besok aku jemput ya setengah empat. Latihannya besok jam empat.” Kata Jacob memberitahuku.
“Okee-okee. Boleh,” jawabku.
Setelah mengakhiri telepon dengan Jacob, aku langsung mencari pakaian olahragaku untuk aku pakai besok.
Di dalam lemari yang ada di kamarku, aku tidak menemukan pakaian olahragaku. Akhirnya aku mencoba bertanya pada mbakku, karena terkadang baju-bajuku sering terselip olehnya.
Setelah dicarikan oleh mbakku, benar saja celana basket dan kaos olahragaku ada di lemari penyimpanan kos yang biasanya merupakan tempat mbakku meletakkan pakaian-pakaian setelah dicucinya.
“Eh Claire, ini jas lab kamu gak mau kamu simpen sendiri aja nih?” Tanya Mbakku.
Setelah menemukan pakaian olahragaku dia tampaknya melihat jas labku yang masih disimpankan olehnya.
“Nanti deh kalau mau dipakai lagi, aku ambil. Bulan ini sudah gak ada praktikum, mungkin bulan depan aku ambil.” Kataku memberitahu Mbak.
“Ya dah pokok jangan lupa. Nanti kayak Angel waktu itu, buru-buru banget sampai mbak juga panik buat carinya.” Celetuk Mbakku yang membuatku menjadi mengernyitkan dahi.
“Kapan Mbak?” Tanyaku bingung.
“Aduh sudah lama sih. Waktu kalian masih baru awal-awal masuk deh itu seingat Mbak. Pokoknya, karena Angel mbak sampai kacau deh pagi-pagi itu. Dia bilang soalnya tinggal empat menit doang gitu kalau gak salah, pokok kurang dari lima menit dia dah mau masuk kelas katanya.” Kata Mbakku yang membuat aku teringat dengan kejadian hari itu.
“Oh, tapi itu bukannya Angel agak lama di kos karena dia selain ambil jas juga sakit perut ya?” Tanyaku yang teringat dengan kata-kata Angel waktu itu.
“Kok kayaknya bukan ya. Orang waktu itu Mbak lagi sapu-sapu di dekat gerbang, terus datang-datang Angel langsung panik terus minta jas labnya itu. Dah pokok kamu nanti kalau memang sudah mau praktikum, jangan lupa deh ambil jasnya ini di Mbak,” katanya.
“Ohh iyaa-iyaa Mbak.” Kataku kemudian kembali ke kamarku sambil mengingat-ingat kejadian waktu itu.
Berarti waktu itu, Angel berbohong pada kita bertiga kalau dia terlambat karena sakit perut ya. Lalu apa ya sebenarnya yang terjadi waktu dia balik ke kos? Kayaknya waktu itu masih ada sepuluh menit lebih, tetapi dia sampai sini waktunya sudah kurang dari lima menit?
__ADS_1
Apa jangan-jangan Angel menutupi sesuatu dari kita bertiga ya?
...--------...
Sore ini, seusai kuliah aku langsung pulang dan bersiap-siap untuk dijemput oleh Jacob. Tepat setengah empat, Jacob sudah berada di depan kosku.
Setelah mendapatkan telepon dari dia, aku langsung turun untuk menemuinya. Saat aku mau keluar dari pintu kos, terlihat motor gede yang meninggalkan kosku.
Saat aku sudah keluar gerbang, aku melihat ke arah motor tersebut. Yap, itu adalah motor kak Jeff yang membonceng seorang cewek diboncengannya.
Aku sampai saat ini masih penasaran karena masih tetap belum mengetahui cewek yang ada di kosku yang dekat dengan kak Jeff sebenarnya siapa.
Sekilas dipikiranku tersirat, apakah sebenarnya kak Jeff ada hubungan spesial dengan cewek tersebut ya sebenarnya?
“Claire!” Panggil Jacob dari mobilnya dengan suara cukup kencang yang seketika menyadarkan aku dari lamunanku.
Aku akhirnya langsung masuk ke mobil Jacob.
“Kenapa? Ngelamunin apa?” Tanya Jacob padaku.
“Eh gapapa. Tadi kamu ada lihat motor yang barusan pergi itu gak?” tanyaku.
“Gak perhatiin. Tadi ‘kan aku telepon kamu, jadi gak terlalu perhatiin itu. Lihatnya waktu kamu dah keluar terus motor itu jalan,” jelas Jacob.
“Kenapa?” tanyanya.
“Hehehehe gapapa kok. Gak penting.” Balasku dengan tersenyum tipis.
Perjalanan kita kali ini tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Hanya sekitar dua puluh menit kini kita sudah berada di depan gedung olahraga yang berada masih di daerah kampusku.
“Jac, beneran nih aku gapapa tiba-tiba gabung kayak gini?” Tanyaku memastikan pada Jacob.
“Beneran Claire, gakpapa kok. Di sini orangnya pada welcome semua. Percaya deh sama aku.” Kata Jacob kemudian keluar dari mobil lalu menghampiriku dan membukakan pintu untukku.
Dengan berjalan di samping Jacob, aku langsung memasuki gedung olahraga tersebut yang ternyata di dalamnya terdapat empat lapangan. Dua lapangan bulu tangkis dan dua lapangan basket.
Jacob langsung mengajakku ke arah lapangan basket. Setelah sampai di salah satu lapangan basket yang ada, Jacob langsung memperkenalkan aku dengan coach yang akan mendampingiku.
Coach Ben ternyata nama coach yang akan mendampingi tim cewek.
“Panggil gue Bang Ben aja gapapa biar terdengar lebih akrab.” Katanya saat menyambut uluran tanganku saat perkenalan.
“Baik Bang,” balasku.
Setelah Jacob memperkenalkan aku dengan Bang Ben dan teman-teman tim cewek yang ada, Jacob langsung menuju ke lapangan sebelah yang untuk para cowok latihan.
“Jacob siapa kamu Claire? Pacar?” Tanya salah satu teman yang baru saja aku kenal.
__ADS_1
“Ehh bukan. Kita temenan aja kok.” Kataku dengan sedikit terkejut mendengar pertanyaannya.
“Btw, lu dari univ mana?” Tanya temanku yang lain.
“Eh aku dari Universitas Petinggi,” jawabku.
“Wihhh itu ‘kan bagus ya univnya. Tempat kita ada beberapa dari universitas lu, tapi kebanyakan di tim cowok sih. Di tim cewek dulu ada satu, tapi sudah keluar deh kayaknya. Soalnya dah lama banget gak pernah datang latihan.” Jelas salah satu temanku.
Di tengah-tengah kita masih asyik berbincang-bincang, tiba-tiba Bang Ben memanggil kita untuk mulai latihan.
Setelah melakukan pemanasan sekitar lima belas menit, kini kita mulai latihan. Sudah lama rasanya aku tidak latihan seperti ini, sehingga latihan yang masih setengah jam ini terasa seperti sudah dua jam untukku.
Latihan hari ini, ditutup dengan permainan satu game saja. Dan, kelompokku yang menang di permainan kali ini.
“Yuk, kumpul dulu di sini.” Kata Bang Ben menginstruksikan kita semua.
Aku bersama dengan teman-temanku langsung duduk melingkar di sekitar Bang Ben.
Bang Ben ternyata mengapresiasi aku. Dia mengatakan bila suka melihat permainanku dan aku diajak untuk gabung di sparing besok sore. Ketika Bang Ben mengatakan hal tersebut, teman-temanku langsung bersorak-sorak senang.
Ternyata apa yang dikatakan Jacob aku rasa cukup benar. Orang-orang yang ada di sini sangat terbuka dan ramah terhadapku.
Setelah aku selesai, aku melihat Jacob tampak menghampiriku.
“Gimana?” Tanyanya ketika berdiri di depanku.
“Hmm … seru.” Jawabku singkat dengan tersenyum lebar.
“Benar ‘kan apa kataku. Besok ikutan sparing, kan?” tanyanya.
“Iyaa,” balasku.
“Di timmu, kok orangnya cuma sepuluh?” Tanyaku saat melihat ke arah lapangannya dan melihat jumlah pemainnya hanya sedikit.
“Iyaa. Lima orang lagi gak datang, termasuk kapten kita. Oh ya, itu lima orang dari kampusmu semua loh. Besok deh kalau datang, lihat aja sapa tahu kamu kenal.” Kata Jacob sambil mengganti sepatu basketnya dengan sandal.
“Okee. Pulang yuk. Aku dah capek.” Ajakku pada Jacob yang langsung diikuti dengan dia berdiri dari tempatnya.
Gimana nih cerita author? 😊
Author minta dukungannya yaa biar author makin semangat buat up.
Jangan lupa,
Like
Comment
__ADS_1
Vote
❤ Double Sister