
Malam ini, seperti apa kata Kak Arthur. Kak Jeff mengajak aku dan Kak Arthur untuk call grup sebentar karena mau membahas tentang hasil kerja kita.
Aku sudah menyiapkan diri agar tampak biasa saja di depan Kak Jeff dan seperti seseorang yang benar-benar baru tahu bila dia sudah menemukan semuanya.
Benar saja, saat aku sudah join call grup, Kak Jeff langsung memberitahu aku bahwa dia sudah berhasil menyelesaikan mencari semua data nomor telepon para dosen.
Dia juga menjelaskan mengapa melakukan hal tersebut, karena menurutnya aku pasti cukup kesusahan untuk beberapa dosen dan waktu semakin dekat sehingga dia memutuskan untuk langsung membantu aku seperti itu.
Kak Jeff ada minta maaf padaku karena dia dan Kak Arthur tidak bisa terlalu cepat karena beberapa hari terakhir dia sibuk dengan kehidupan koasnya.
Mendengar hal tersebut, aku langsung memberitahu dia bahwa aku sama sekali tidak masalah dengan hal tersebut melainkan aku merasa yang telah sangat merepotkan dia.
Setelah selesai membicarakan tentang apa yang telah dilakukan Kak Jeff dan kita bertiga berkoordinasi tentang apa yang harus kita lakukan nanti di grup, Kak Arthur langsung keluar dari call grup karena dia masih sedang di jalan.
“Claire, nanti dukung sapa nih di pemilihan pemilu beberapa hari lagi?” Tanya Kak Jeff tiba-tiba setelah Kak Arthur keluar dari call grup.
“Ehh ... kan itu gak boleh disebar-sebarin Kak. Itu ‘kan hak suaraku.” Kataku tidak mau memberitahu.
“Hmm ... iyaa sih. Tapi gak mau gitu ya kasih tahu khusus buat aku gitu? Kan aku pengin tahu aja pendukungnya ada gak sebenernya,” kata Kak Jeff.
“Ada dong pasti Kak. Kayaknya pendukung Kakak banyak deh.” Kataku sok tahu.
“Hmm… gak juga. Aku gak ngerasa gitu. Aku sebenarnya gak terlalu yakin mau jadi ketua karena kadang masih gak pede sama diriku.” Kata Kak Jeff tiba-tiba sedikit curhat padaku.
“Kok ngomongnya gitu Kak. Tapi Kakak tuh kan yang gemari banyak gitu, pasti yang dukung Kakak juga banyak deh.” Kataku mencoba mendukung Kak Jeff.
“Hahahaha iyaa suka tuh beda sama mau ngedukung. Yang suka okee deh mungkin lumayan tapi kalau dukung ginian gak banyak deh, soalnya pasti pada tahu Arthur itu jauh lebih bagus daripada aku kalau jadi pemimpin.” Katanya yang menurutku Kak Jeff terlalu rendah diri.
“Gak juga kok. Kakak juga cocok.” Kataku tetap mencoba mendukung Kak Jeff.
“Hmm ... kalau gitu nanti kamu pilih aku ya?” Tanya yang terdengar dengan sedikit tertawa.
“Ehh… iyaa.” Kataku akhirnya memberitahu.
__ADS_1
“Hehehe thank you, tapi kayaknya aku gak sebanding beneran kalau lawan Arthur. Arthur orangnya lebih ada jiwa pemimpinnya dan dia lebih bisa mengayomi banyak orang. Kalau aku gak sebisa itu. Aku sendiri aja dulunya introvert, karena berbagai hal yang mendesak di kuliah ini yang buat aku jadi agak berubah.” Cerita Kak Jeff padaku yang membuat aku baru mengerti bahwa Kak Jeff seperti itu.
“Kak, gak boleh mikir kalah dulu. Kakak harus percaya dan yakin dulu, ada kok pendukung Kakak. Nih, salah satunya yang lagi ngomong sama Kakak, hehehehe.” Kataku mencoba menyemangati Kak Jeff.
“Hahahaha jadi malu. Ah udah lah sorry jadi random, tiba-tiba aja dah deket hari H makin gak pede.” Kata Kak Jeff sambil sedikit tertawa.
“Iyaa gapapa Kak. Yakin kalau menang dulu deh Kak. Sampai nanti Kakak beneran menang, traktir aku makan ya?” Celetukku tiba-tiba karena sekilas hal itu yang terlintas di kepalaku.
“Okee boleh. Anggap sebagai rasa terima kasihku ke kamu dah dukung aku. Tapi kalau aku kalah, kamu yang traktir makan ya?” Kata Kak Jeff menantang aku balik.
“Okee boleh.” Kataku membalasnya.
“Berdua aja ya tapi, gak usah ajak temanmu yang lain nanti aku bangkrut.” Kata Kak Jeff yang membuatku ketika membayangkannya akan menjadi canggung.
“Ehh ... aku bawa satu teman, Kakak bawa satu teman juga gimana?” Kataku menawar Kak Jeff.
“Gak ah. Bosen makan sama Theo, Arthur. Dah sering.” Kata Kak Jeff yang membuatku bingung untuk mau menolak seperti apalagi.
“Sapa bilang? Arthur meski tiap hari pulang ke rumahnya, kalau malam sering main ke kosku buat makan bareng. Kenapa gak mau makan berdua sama aku? Perasaan yang lalu makan di pinggir jalan aja kamu juga mau.” Celetuk Kak Jeff yang membuatku menjadi bingung sendiri untuk menjawabnya.
“Ehh iyaa dah Kak, gapapa.” Jawabku akhirnya karena merasa pasti kalah juga kalau harus berdebat dengan Kak Jeff.
Setelah membuat kesepakatan tersebut, tak lama kemudian akhirnya kita mengakhiri telepon tersebut karena Kak Theo tiba-tiba memanggil Kak Jeff.
Aku menjadi membayangkan akan seperti apa nanti bila aku harus makan berdua saja dengan kak Jeff dan kenapa aku tadi bisa tiba-tiba memberikan ide seperti itu.
Sepertinya itu ide yang terlalu gila dan aku hanya berharap jangan sampai kak Daisy ataupun teman-temannya tahu tentang hal ini.
Aku tidak tahu bagaimana lagi nanti nasibku kalau sampai mereka tahu kembali apa yang aku lakukan.
...--------...
Setelah makan malam, tiba-tiba teleponku berdering, aku mengira mungkin kak Jeff kembali yang telepon tetapi ternyata bukan melainkan Jacob.
__ADS_1
Aku agak bingung kenapa dia tiba-tiba telepon tetapi akhirnya aku mengangkatnya.
“Clairee.” Katanya saat aku angkat teleponnya.
“Kenapa?” tanyaku padanya.
“Hehehehe gapapa mau nanyain kabar aja. Gimana tradingnya? Dah banyak coba-coba sendiri?” tanyanya padaku.
Aku akhirnya menceritakan bagaimana proses tradingku selama ini.
Aku cukup kesusahan akhir-akhir ini melakukan trading karena sedang sibuk. Aku juga jarang melakukan transaksi karena waktu kosongku kebanyakan di malam hari sedangkan transaksi jual beli di trading seharusnya dilakukan hanya sampai sore.
“Kalau gitu, mau gak aku bantuin? Aku yang jalanin tradingmu, nanti kamu tinggal dapat hasilnya aja dan nanti aku tiap mau jual beli apa, aku kabarin kamu gitu biar kamu tahu.” Kata Jacob menawariku setelah mendengarkan ceritaku.
“Eh terus nanti buat kamunya gimana?” tanyaku pada Jacob.
“Biasanya selama ini kalau aku bantu yang lain, aku ambil 5% aja dari hasilnya tapi buat kamu 3% aja deh gapapa.” Kata Jacob yang membuatku menjadi cukup tertarik dengan hal ini.
“Kelvin gimana ya tapi? Nanti kita jadi gak ketemuan rutin di café kayak biasanya gitu dong?” Kataku memikirkan Kelvin kali ini.
“Sebenarnya gak perlu sih, kan yang jalanin tradingmu jadinya aku. Kelvin sebenarnya juga lagi sibuk sih semester ini karena dia lagi ambil full sksnya terus dia baru aja keterima di dua organisasi yang sebenernya dia gak harapin keterima cuma iseng-iseng daftar tiba-tiba keterima.” Kata Jacob memberitahuku tentang Kelvin.
“Tapi kalau dia kayak ajak belajar lagi kayak biasanya gimana? Kan dia bilang kalau aku dah bisa tetep mau dia ajak ketemuan-ketemuan gitu untuk update ilmuku.” Kataku masih bingung memikirkan Kelvin.
“Tenang Claire, kalau sampai kayak gitu gapapa tetap datang aja kita ketemuan. Tapi jangan bilang Kelvin kalau aku bantu kamu, kan gak enak kalau kasih tahu dia. Nanti dikiranya dia percuma selama ini dah luangin waktu buat bantu kamu. Lagian bener deh aku gak boong Kelvin lagi sibuk, harusnya dia gak terlalu bisa ajak kamu ketemuan banyak kayak dulu.” Kata Jacob yang membuatku menjadi berpikir ada benarnya juga karena beberapa hari yang lalu aku mengirim pesan ke Kelvin juga hanya sempat dibalas singkat-singkat tidak seperti biasanya.
“Okee deh boleh.” Kataku akhirnya menyetujui hal tersebut.
“Okee. Mau ketemuan kapan buat secara resmi kamu mau nyerahin akunmu ke aku? Jadi kita login di tempatku juga biar aku bisa main. Biar enak dan kamu lihat prosesnya langsung kita ketemuan aja.” Ajak Jacob padaku.
“Mungkin hari Senin depan ya. Setelah aku acara pemilu di kampus, karena aku lagi sibuk acara itu yang tinggal beberapa hari aja nih.” Kataku menjelaskan pada Jacob.
“Okee boleh-boleh. Aku bisa. Nanti kabarin lagi jamnya.” Kata Jacob yang kemudian tak lama dari itu Jacob langsung mengakhiri teleponnya.
__ADS_1