Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 31


__ADS_3

“Claire, kayaknya gak ada yang datang terlambat deh. Lu masuk aja gapapa deh, tapi tetap di dekat pintu. Nanti kalau memang ada yang mau datang untuk gabung, gue kasih tahu lu.” Kata salah satu anak tim keamanan yang menghampiriku.


“Okee-okee.” Kataku kemudian langsung memasuki hall kembali.


Saat aku memasuki hall ternyata sekarang sedang sesi tanya jawab dengan kedua calon ketua BEM. Aku memutuskan untuk tetap berdiri di dekat pintu masuk ini dan dari kejauhan aku melihat Kak Jeff yang tampak baik-baik saja tidak terlihat terlalu nervous.


“Apa dorongan terbesar yang membuat kalian mau mengajukan diri untuk menjadi calon ketua BEM?” Tanya salah satu audience yang merupakan seorang kakak koas.


Entah mengapa tiba-tiba aku melihat raut wajah Kak Jeff berubah ketika mendapatkan pertanyaan tersebut. Kak Jeff tampak gelisah dan tidak bisa fokus seperti sebelumnya.


Kak Arthur menjawab terlebih dahulu untuk pertanyaan tersebut. Kini mataku tetap tertuju pada Kak Jeff yang menurutku terlihat semakin gelisah. Aku menjadi khawatir dengan Kak Jeff meskipun tidak tahu mengapa dia tiba-tiba seperti itu.


Ketika waktu diberikan untuk Kak Jeff menjawab, Kak Jeff terlihat seperti benar-benar belum siap. Tiba-tiba dipikiranku terlintas ide dan aku langsung berdiri dari bangkuku yang berada di dekat pintu ini.


Dengan memberikan lambaian tangan cepat sebagai kode, kini pandangan Kak Jeff langsung teralihkan dan dari kejauhan dapat aku pastikan bahwa Kak Jeff melihatku. Ketika tahu bahwa Kak Jeff melihat ke arahku, aku langsung memberikan semangat dengan menggenggamkan tanganku dan menggerakkan ke atas untuk menunjukkan bahwa aku mendukung dia.


Aku juga mengisyaratkan Kak Jeff untuk menatapku dan tidak melihat ke arah penonton yang sedang menunggu jawabannya.


“Ehh … jadi untuk dorongan terbesar saya adalah saya sangat ingin bisa membuat BEM di Fakultas Kedokteran kampus ini semakin maju dan jauh berkembang di tangan saya. Saya sudah memikirkan banyak hal mengenai konsep-konsep yang bisa saya lakukan untuk mengembangkan BEM ini bila nanti saya menjabat.” Kata Kak Jeff akhirnya menjawab dengan tetap menatap ke arahku.


“Selain itu, saya juga mendapatkan dukungan yang sangat besar dari orang sekitar saya sehingga dukungan itu yang mendorong saya jauh lebih yakin untuk bisa menjadi seorang ketua BEM.” Kata Kak Jeff yang terdengar tidak tergesa-gesa seperti ucapannya yang pertama dan tetap menatap ke arahku.


“Sekian dari saya.” Sambung Kak Jeff dengan sedikit memberikan senyuman tanda nervous Kak Jeff sudah menghilang.


Setelah sesi tanya jawab selesai, kini saatnya sesi tantangan di mana tiap calon ketua akan mendapatkan suatu pertanyaan berupa tantangan yang bisa terjadi selama bekerja di BEM dan mereka harus menyelesaikan hal tersebut.


Di tengah-tengah aku sedang menonton sesi tantangan ini, tiba-tiba ponselku bergetar. Saat aku lihat, ternyata mama yang meneleponku.


Aku mereject terlebih dahulu telepon tersebut karena merasa tidak enak mengganggu di dalam hall. Aku akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam hall dan menelepon kembali mamaku. Tetapi saat aku menelepon mamaku, mamaku tidak mengangkatnya yang membuat aku kini menjadi khawatir.


Tak lama kemudian, tiba-tiba ada notif pesan masuk,


Mama: Claire, Raymond kecelakaan motor sama tmnnya. Mama sdg urus di RS.


Deg, seketika aku tidak bisa berpikir mengetahui adikku mengalami kecelakaan. Aku akhirnya langsung berjalan keluar kampus dan memutuskan untuk pulang ke kos dan menelepon mamaku untuk mengetahui lebih jelas tentang keadaan Raymond.

__ADS_1


Sesampainya di kos, aku langsung menelepon mamaku dan saat mengangkat teleponku terdengar mama yang sedang panik sendiri. Papaku sedang menjaga toko dan toko tidak bisa ditinggal sehingga mama akhirnya yang mengurus sendiri.


Meski hanya bisa melalui telepon, aku berusaha untuk menenangkan mamaku. Kini mamaku masih belum bisa bertemu dengan adikku karena adikku masih sedang diperiksa sehingga belum mengetahui kondisi adikku sekarang bagaimana.


...--------...


Jefferson:


Seusai acara kampanye, aku langsung mencari Claire karena ingin bertemu dengannya. Tetapi, setelah mencoba mencari di sekeliling hall aku sama sekali tidak menemukan dia.


“Lu ngapain Jeff?” Tanya Arthur padaku saat menyadari aku seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu.


“Lu lihat Claire gak?” Tanyaku akhirnya.


“Gak. Emang kenapa?” Tanya Arthur kembali.


“Hmm … gapapa. Lanjutin buruan deh briefing buat ntar hari H,” jawabku.


Setelah briefing untukku dan Arthur selesai, aku langsung mencoba keluar dari hall dan mencari Claire tetapi sama sekali tidak menemukannya.


“Jeff, yuk pulang sekarang.” Ajak Theo padaku yang tiba-tiba berada di sampingku.


“Lu pulang duluan aja deh. Gue masih mau urus sesuatu.” Kataku pada Theo, kemudian dia langsung memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


Setelah berpikir-pikir, akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi kos Claire saja karena aku penasaran dia sedang kenapa sebenarnya.


...--------...


Setelah menemani mamaku cukup lama meski hanya melalui telepon, kini mamaku harus mengurus administrasi terlebih dahulu karena Raymond besok harus dilakukan operasi. Kaki Raymond mengalami patah yang cukup parah sehingga memerlukan operasi untuk dipasang pen.


Kepalaku kini cukup pusing karena menjadi terpikirkan bagaimana untuk biaya operasi dan perawatan Raymond setelah operasi. Aku yakin pasti mama dan papaku harus mengeluarkan uang yang cukup banyak karena tadi aku juga sedikit mencari tahu bahwa untuk operasi pemasangan pen tersebut cukup mahal karena kaki Raymond cukup parah.


Selain itu, kata mama karena Raymond yang membawa motor, orang tua teman Raymond yang dibonceng Raymond menuntut mama papaku untuk membiayai pengobatan anaknya juga. Emosiku sedikit naik ketika mendengarkan hal tersebut tetapi langsung aku redam karena tidak mau semakin memperparah keadaan di depan mamaku.


Ini tidak pertama kalinya Raymond membuat masalah seperti ini, tetapi sudah berkali-kali Raymond selalu membuat kenakalan-kenakalan yang membuat mama papaku harus banyak bertanggung jawab atas perbuatannya.

__ADS_1


Setelah menutup telepon dari mama karena mama harus sibuk mengurus administrasi, aku ingin menelepon Jacob untuk membicarakan tentang tradingku. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku.


“Mbak? Kenapa?” Tanyaku saat membukakan pintu kamar dan ternyata mbakku kosku yang ada di depan kamarku.


“Eh itu, di bawah ada tamu yang nungguin,” kata mbakku.


“Tamu mbak? Sapa ya?” Tanyaku bingung karena aku merasa tidak pernah punya tamu di kosku.


“Gak tahu deh. Katanya temannya Claire gitu aja.” Kata mbakku yang membuat aku semakin bingung karena kalau Aurel ataupun Grace pasti selalu memberi kabar bila mau ke kos.


“Okee deh mbak. Makasih ya, aku turun sekarang.” Kataku akhirnya memutuskan untuk menemui orang tersebut.


Saat aku turun ke bawah, di depan pintu kosku tidak ada siapa-siapa. Tetapi setelah aku lihat ke arah gerbang kosku, ternyata pintu gerbang kosku terbuka. Aku akhirnya berjalan ke arah gerbang kosku.


“Lohh, Kak.” Spontan kataku saat melihat ternyata Kak Jeff yang berada di depan kosku sambil duduk di atas motornya.


“Kok tadi acara selesai dah gak ada?” Tanyanya dengan nada datar.


“Eh sorry Kak, tadi aku ada urusan mendadak,” jawabku.


“Urusan apa? Kok sampai aku teleponin tadi juga gak bisa, katanya kamu lagi ngelakuin panggilan.” Tanya Kak Jeff kembali yang membuat aku merasa seperti sedang diintrogasi.


“Tadi mama tiba-tiba telepon. Adikku kecelakaan Kak.” Kataku akhirnya memberitahu.


“Hahh? Terus sekarang gimana?” Tanyanya yang terlihat cukup terkejut.


“Hmm … besok harus dioperasi karena patahnya cukup parah. Hehehe masih belum tahu juga Kak kejadiannya sebenarnya gimana, terus kondisi jelasnya dia gimana.” Kataku kembali menjelaskan.


“Semoga adikmu tetap baik-baik aja ya, bisa cepet sembuh juga. Doa yang terbaik untuk adikmu Claire.” Ucap Kak Jeff yang aku balas dengan anggukan.


“Kakak kenapa ke sini?” Tanyaku saat sadar dengan Kak Jeff yang tiba-tiba datang.


“Hmm … ikut aku bentar yuk,” ajaknya.


“Mau ke mana Kak?” Tanyaku bingung.

__ADS_1


“Deket sini aja kok.” Katanya kini sambil menarik tanganku untuk naik ke boncengannya sambil memberikan helm untukku.


__ADS_2