Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 8


__ADS_3

Hari ini, seusai kuliah Grace dan Aurel memutuskan untuk pergi ke kosku karena kita berempat ingin mengerjakan tugas bersama.


Sebelum ke kos, kita memilih mampir ke salah satu swalayan yang berada di dekat kampus untuk membeli minuman dan snack.


“Ehhh ada Kak Theo sama Kak Jeff jalan berdua tuh, kayaknya mereka juga mau pulang ke kos tuh. Eh buruan-buruan bayar, biar bisa jalan deketan sama mereka yukkk.” Kata Grace tiba-tiba dan langsung menarik kita bertiga ke arah kasir untuk membayar.


“Lu emang agak gila dah,” kata Aurel ke Grace.


“Lu bilang kayak gitu ke gue, soalnya lu dah ada pacar, coba kalau lu belum ada pacar pasti lu juga kayak gue,” balas Grace ke Aurel.


“Emang kamu mau ngapain sih Grace,” tanya Angel pada Grace.


“Jalan deketan di belakangnya atau kalau gak kita salip mereka trus nyapa gitu, heheheheh, ayoo lahh masak kamu juga gak mau sih Ngell.” Kata Grace tetap memaksa.


Seusai membayar, Grace dengan semangatnya langsung menarik kita bertiga untuk jalan cepat menyusul mereka berdua.


Benar saja, mereka sepertinya sedang berjalan ke arah kos mereka dan kini mereka berjarak tidak jauh dari kita berempat.


“Graceeeee, mau ngapainn? Jangann nekat deh.” Kata Angel menarik tangan Grace yang jalannya terlihat semakin cepat.


“Aku gak macem-macem deh, kita jalan nyalip mereka doang aja terus kita jalan di depan mereka biar paling gak mereka berdua ngeliat kita gitu.” Kata Grace menjelaskan idenya.


Mendengar itu spontan aku tidak setuju karena aku takut Kak Jeff ada pemikiran yang jelek terhadapku bila terlihat terlalu frontal seperti itu. Apalagi aku yakin dia sekarang sudah ingat dengan diriku.


“Ahh malesss ah, nanti dikira caper gimana?” Kataku pada Grace yang langsung membuat raut wajah Grace sedih.


“Ah ya sudah kalau kalian gak mau aku tinggal jalan cepat sekarang sendiri.” Kata Grace yang memulai mempercepat langkahnya sendiri.


“Aduhh-aduhh ya udahh, kita ngikut dahhh.” Kata Aurel dengan sedikit geram dan mengedipkan mata ke arahku dan Angel.


Kini setelah berjalan cepat kembali, jarak kita berempat dengan Kak Jeff dan Theo hanya tertinggal beberapa langkah saja.


Tetapi tiba-tiba mereka berdua memperlambat langkah saat melewati penjual jus yang terdapat di tepi kampus. Pada saat inilah akhirnya kita berempat menyalip jalan mereka, aku dan Angel bergandengan tangan agar tidak saling tertinggal.


Tiba-tiba saat kita sudah berjalan cepat dan baru melewati Kak Jeff dan Kak Theo. “Tinnnn…Tinnn…Tinnn… Dug.” Terdengar klakson mobil yang kencang dan di sampingku terdengar bunyi seseorang yang tertabrak spion mobil dan aku merasa badanku sedikit terdorong ke arah Angel, sehingga aku dan Angel sedikit menepi ke arah rumput-rumput yang ada di tepi jalan.

__ADS_1


Saat aku menoleh ke samping, ternyata di situ Kak Jeff berdiri dengan memegangngi tangan kanannya dengan tasnya yang terjatuh di aspal dan mobil tersebut berhenti.


“Woiii lu ngapain bodohh.” Teriak sopir mobil tersebut saat membuka kacanya.


“Woiii, turun sini, sapa yang salah coba.” Teriak Kak Jeff dengan suara beratnya.


“Ya ampun ya ampunn, aduhh gimana iniii? Kenapa jadi ginii,” celetuk Grace panik.


“Jeff lu tahan emosii lu.” Kata kak Theo yang langsung lari menarik dan menahan Kak Jeff.


“Nih orang yang salah, dah tau jalan di area kampus, jalannya sempit lagi banyak orang jalan, gak bisa apa pelan-pelan gitu jalannya.” Celetuk Kak Jeff dengan nada kesal dan tampak masih emosi.


“Ohh lu anak kedokterann bawa jas putih. Lu pikir dengan jadi anak kedokteran bisa nasehatin semua orang, sok-sok an ngatur orang.” Kata sang sopir mobil tersebut ketika turun dari mobilnya.


“Terserah lu anggep diri gue apa, yang penting lu salah dan lu minta maaf sama orang yang hampir lu serempet.” Kata Kak Jeff kembali dengan nada tinggi sambil menunjuk ke diriku yang membuatku seketika mematung.


“Dasar orang gila. Aneh. Yang salah, tuh cewek kali gak pakek mata jalannya, gak bisa minggir.” Kata cowok tersebut sambil kembali masuk ke mobilnya, yang kini mulai menyalahkan diriku dan seketika membuatku merasa bersalah.


“Lu gak bisa apa ngomong ama cewek yang bener. Urusan lu belum kelar banci." Teriak Kak Jeff kembali sambil memukul kaca mobilnya.


“Jeff udah biarin, percuma lu emosi sama orang kayak gitu.” Tarik Kak Theo pada Kak Jeff.


“Claireee … Clairee… mau ke mana.” Teriak Angel ketika aku melepaskan gandengannya dan memilih untuk berlari.


Angel, Aurel, dan Grace sekilas aku dengar tetap berteriak memanggil namaku tetapi kuabaikan karena kepalaku yang semakin pusing.


Aku memutuskan untuk segera pulang ke kos dan masuk ke kamar, mengunci diri. Aku langsung menenangkan diri dengan menutup telingaku dengan bantal dan aku memilih untuk rebahan di tempat tidurku.


...--------...


Angel akhirnya berpamitan pada Grace dan Aurel untuk menyusul Claire karena ingin mencoba melihat keadaannya, sedangkan Grace dan Aurel memutuskan untuk mendatangi Kak Jeff dan Theo.


“Kak terima kasih banyak, maaf Kak ngerepotin, Kakak gapapa?” Kata Grace mendatangi Jeff yang masih menepi bersama Theo.


“Lain kali lu sama temen-temen lu kalau jalan lebih ati-ati. Liat jalannya yang bener,” jawab Jeff dengan nada datar.

__ADS_1


“Baik Kak, maaf Kak. Kakak perlu obat Kak?” Tanya Aurel menawarkan bantuan.


“Gapapa, urus aja temen lu tadi, gue bisa urus diri gue sendiri.” Kata Jeff kemudian meninggalkan Grace dan Aurel.


“Nih salahmu dahh,” tegur Aurel pada Grace.


“Maaf, aku gak tahu kalau ternyata jadi begini,” balas Grace dengan nada sedih.


“Yukk samperin Claire aja.” Ajak Aurel pada Grace.


...--------...


“Gimana Claire?” Tanya Aurel pada Angel saat sudah sampai di kos Angel dan Claire.


“Dia gak mau keluar buka pintu, katanya dia mau sendiri dulu aja,” jawab Angel menjelaskan.


“Ya dah kayaknya mending diturutin dulu aja, daripada dia makin kenapa-kenapa.” Kata Aurel yang dapat mengerti keadaan Claire.


“Hmm kalau gitu, kita mending pulang aja kali ya?” tanya Grace pada Aurel.


“Iyaa deh. Hmm ... nanti kalau Claire kenapa-kenapa kasih tahu kita aja ya Ngell.” Kata Aurel menyetujui Grace dan meminta tolong pada Angel.


“Pasti,” jawab Angel singkat.


...--------...


Jefferson:


“Aduh untung lu gak sampe berdarah-darah, cuma memar gini doang.” Kata Theo padaku saat membantuku mengobati lukaku.


“Eh lagian, lu tumben amat peduli sama orang laen.” Kata Theo tiba-tiba pada diriku yang membuatku juga menjadi berpikir sejenak.


“Lu gila apa, tuh keliatan mau keserempet, masak kalau orang kayak gitu lu gak tolongin, calon dokter macem apa lu.” Jawabku pada Theo yang sukses membuat dia cengar-cengir salah tingkah.


“Dah ah, gue mau balek ke kamar gue, mau istirahat.” Kataku pamit pada Theo.

__ADS_1


“Dia gimana yaaa?? Kenapa yaa dia tiba-tiba lari sempoyongan gitu? Sempet kena gak ya dia tuh sebenernya, apa aku dah berhasil selametin dia jadi dia aman ya? Apa dia marah ke aku ya? Tapi emang aku salah ya? Kenapa gak bilang makasih dulu ke aku baru pergi gitu?” Pikirku yang kini terus menebak-nebak.


“Ahh sudahlahh ngapain juga peduliiin, ingett Jefff bodohh lu tuhhh kalau mikirin dia, dia dah adaa pacar bodooohhhh. Stopppp stop pikirin keadaan tanganmu sendiri.” Batinku sendiri sambil rebahan.


__ADS_2