
Setelah beberapa saat aku lari untuk kabur dari mereka semua, kini saat aku lihat ke belakangku teman-temanku sudah tidak ada lagi mungkin mereka kehilangan jejakku karena aku yang berlari cukup cepat.
Perasaanku sekarang sangat sedih, aku belum pernah diancam ataupun dimarah-marahi dengan kasar seperti tadi. Apalagi hal itu hanya karena berkaitan dengan cowok.
“Clairee ... Clairee … itu lu kann?” Tiba-tiba terdengar suara Aurel yang cukup keras dari lantai dua yang sepertinya melihat aku sudah di lantai satu.
Aku langsung memutuskan untuk kabur lagi ke arah luar kampus.
Setelah di luar kampus, aku cukup bingung mau ke mana untuk bisa menyendiri. Tiba-tiba di pikiranku hanya muncul satu tempat, yaitu Taman Kupu-Kupu yang berada tidak jauh dari kampusku.
Dengan berjalan kaki, akhirnya kini aku sampai di Taman Kupu-Kupu ini.
Taman ini cukup sepi hanya ada beberapa pengunjung saja yang sepertinya sedang bersantai-santai di taman ini.
Aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman tersebut, di tengah pepohonan yang rimbun.
Aku termenung sejenak lalu tanpa aku sadari bulir-bulir air mataku keluar begitu saja dan aku membiarkannya karena ini hanyalah satu-satunya cara yang biasa bisa aku lakukan untuk mengungkapkan perasaanku yang sedih, yaitu dengan menangis.
Setelah beberapa saat hanya bisa menangis sendiri dan merasa kesepian, akhirnya aku mencoba menelepon Kelvin.
“Vinnn ...” Kataku dengan masih terisak-isak.
“Hahhh... Claire kamu kenapa?” Tanyanya saat mendengar suaraku.
“Kamu lagi apa?” tanyaku pada Kelvin.
“Lagi otw mau maen basket di daerah dekat kampusmu. Kamu kenapa Clairee?” Kata Kelvin dan kembali mempertanyakan kondisiku.
“Ke sini bentar. Aku lagi di Taman Kupu-Kupu deket kampusku," pintaku pada Kelvin.
“Okee-okee. Aku ke sana sekarang, shareloc ya.” Kata Kelvin langsung menyetujui permintaanku.
Setelah menutup telepon Kelvin aku langsung shareloc lokasiku saat ini. Kelvin langsung mengirim pesan padaku bahwa dia akan sampai dengan cepat.
...--------...
Tak perlu waktu lama, kini aku melihat Kelvin sudah sampai di taman ini dan sekarang dia sedang mencari aku berada di mana.
“Vinnn …” Kataku sambil sedikit berlari dan langsung memeluk dia saat aku melihat dia sudah tidak jauh dariku.
“Claireee.” Celetuknya lalu terdiam seperti karena terkejut melihat keadaan aku yang tiba-tiba seperti ini.
Tangisanku kini semakin pecah dipelukannya dan Kelvin membiarkan aku yang seperti ini.
“Kenapa? Cerita ke aku gapapa.” Kata Kelvin setelah tangisku mulai berkurang.
__ADS_1
Aku menolak dengan menggelengkan kepalaku.
“Hmm… okee-okee. Duduk dulu, yuk.” Katanya sambil masih mengusap-usap bahuku untuk menenangkan aku.
“Sorry. Baju basketmu jadi basah kena air mataku gini.” Kataku setelah melepaskan pelukanku pada Kelvin dan melihat baju biru Kelvin yang terlihat ada bekas-bekas dari air mataku.
“Ya elah. Santai aja kali baju masih bawa cadangan juga.” Katanya sambil sekilas mengelus puncak kepalaku dan tersenyum.
“Kenapa? Cerita dong.” Katanya memintaku untuk bercerita.
“Nanti-nanti aja. Masih malessss, penginnya diem doanggggggg,” kataku menolak Kelvin.
“Hmm ... okee-okee. Sini dehh." Kata Kelvin sambil merangkulku dan meletakkan kepalaku di bahunya yang nyaman.
“Sapa sih yang berani buat sahabatku sampe kayak gini. Sini hadepin aku kalau berani." Kata Kelvin sedikit menghiburku.
“Awas aja ya, kalau sampe cowok yang buat kamu begini.” Kata Kelvin kali ini yang terdengar lebih serius.
“Ihhh apaan sih, belum juga tahu ceritanya dah nebak-nebak seenakmu sendiri.” Ucapku sambil sedikit mencubit samping perutnya.
“Awhh sakit Claire. Kukumu panjang tuh sakit kena perutku.” Katanya sambil memegangi perutnya.
“Hah emang iya? Perasaan kukuku gak panjang.” Ucapku sambil melihat kukuku untuk memastikan.
“Emang boong.” Kata Kelvin dengan tersenyum padaku.
“Ya elah. Senyum dongg, gak enak diliat mukamu kalau lagi cemberut gini.” Katanya sambil menarik-narik pipiku untuk tersenyum.
“Mau es krim gak? Tuh es krim di depan kelihatannya enak,” tawar Kelvin padaku.
“Mauuuuuuu.” kataku sambil tersenyum tipis.
“Nahh, gini dongg. Kan enak diliat mukanya kalau gini." Kata Kelvin sambil sekilas mengelus puncak kepalaku dan lalu berdiri meninggalkanku untuk membeli es krim yang berada tak jauh dari tempat kita.
Kelvin ternyata masih ingat dengan apa yang aku suka.
Dulu ketika SMA, kalau aku sedang badmood ataupun sedih, tiap Kelvin bertanya mau apa buat moodku kembali, aku selalu mengatakan minta es krim sama dia. Dan dia selalu menuruti dan membelikan es krim dengan rasa kesukaanku strawberry.
“Dahh gak usah bengong mikirin masalahnya. Nih, es krimmu.” Kata Kelvin setelah selesai membeli satu cone es krim strawberry dan sengaja mengenakannya di hidungku.
“Vinnnnnnnnn… ihh hidungku nanti jerawatan loh” Kataku sambil hendak mencubit perutnya kembali.
“Hahahahaha, marah-marah muluu ahh.” Katanya sambil mengelap hidungku yang terkena es krim dengan tissue yang ada di genggaman tangannya.
“Dah makan sana es krimnya." Ucapnya setelah mengelap hidungku.
__ADS_1
“Kok kamu gak beli?” Tanyaku heran karena dulu biasanya setiap aku makan es krim dia selalu ikut makan juga hanya saja dia lebih suka rasa coklat.
“Lagi kurangin manis. Biar badan tetep bagus.” Katanya dengan memasang muka sombong menggodaku.
“Ya ampun. Lagi suka sama sapa sih sampe jaga badan segala?” Celetukku dengan bergaya mengejek dia.
“Dah bawel ah. Makan buruan, keburu leleh nih.” Katanya sambil mengarahkan tanganku yang memegang es krim ke arah mulutku.
“Kringgg … Kringg …” Ponsel Kelvin tiba-tiba berbunyi tanda ada telepon masuk.
“Halo." Ucapnya saat mengangkat telepon tersebut.
“Kayaknya gue ntar-ntar dulu deh bro, ada urusan mendadak nih. Lu maen ama yang laen-laen dulu aja gapapa deh bro.” Ucap Kelvin pada seseorang yang ada di teleponnya.
“Okee-okee, ntar gue susul.” Katanya saat mengakhiri teleponnya.
“Temen basketmu ya?” tanyaku padanya.
“Hehehehe iyaa.” Jawabnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke kantong celananya.
“Sorryy ya Vinn, dah buat ganggu maen basketmu,” kataku meminta maaf.
“Hssttttsststtstt, gak usah sorry-sorry. Gak salah apa-apa kok. Sebagai temen deketmu masak kalau kamu kenapa-kenapa aku biarin.” Kata Kelvin menjawabku.
“Dahh gak usah ngomong yang aneh-aneh lagi. Kalau kamu emang butuh apa-apa langsung call aku aja gapapa. Kita pernah temenan deket bisa disebut kayak sahabat, masak kena kuliah kita beda kampus mau jadi kayak orang asing jauh-jauhan gitu. Dah setahun loh kamu sombong sama aku sampe akhirnya hubungin aku lagi.” Kata Kelvin padaku sambil menatap serius ke arahku.
“Kok jadi aku yang sombong? Kan kamu juga gak ajak-ajak ketemuan.” Kataku membantah perkataan Kelvin.
“Ya ampun. Awal-awal kita tahu dah sama-sama di Jakarta, berapa kali aku ngajakin kamu ketemuan coba? Tapi kamu selalu yang gak bisa terus, sampe akhirnya aku mikir ya sudah lah mungkin emang sibuk banget sekolahmu. Sampe kemarin kamu minta belajar trading itu akhirnya aku masih mikir, ya ampun untung Claire masih ada inget sama aku." Kata Kelvin sambil tersenyum terlihat sedikit mengejek ke arahku.
“Ihh iyaa sih. Ah tapi lebay ahh kamu.” Kataku dengan sedikit mendorong badannya.
“Dah ah yuk anterin aku pulang, terus lanjut basketan sana,” ajakku pada Kelvin.
“Beneran dah gapapa nih bayi gedenya?" Kata Kelvin sambil memegang puncak kepalaku.
“Nyebelin banget sih jadi oranggggg.” Kataku mengelak tangannya yang berada di kepalaku.
“Becanda-becanda. Habis jarang banget kamu tuh nangism Terakhir lihat kamu yang nangis berat tuh pas habis putus, terus baru ini tadi lagi tapi gak seberat dulu sih hehehehe. Pokoknya kapan-kapan harus cerita kenapa hari ini.” Celetuk Kelvin yang membuatku langsung menoleh padanya dengan tatapan mematikan.
“Gak usah bahas-bahas yang lalu lagiiiiii!!” Kataku dengan tegas.
“Iyaa-iyaa ampun deh. Dah yuk pulang.” Katanya sambil menarik tanganku untuk berdiri.
...--------...
__ADS_1
“Byee-byee, dah jangan sedih lagi. Kalau kenapa-kenapa lagi langsung call aku aja gapapa.” Kata Kelvin dari jendela mobilnya saat menurunkan aku di depan kos.
“Iyaa-iyaa. Byeee. Hati-hati di jalan.” Kataku sambil melambaikan tangan padanya.