
Pagi ini, aku langsung bersiap diri untuk dijemput Jacob. Jam sepuluh tepat, Jacob sudah ada di depan kos.
Sesampainya di dalam mobil Jacob, Jacob menawarkan padaku untuk pergi ke salah satu café yang ada di dekat kampusku sini saja karena takut bertemu Kelvin bila ke café tempat kita belajar.
Tak perlu waktu lama, kita langsung sampai di salah satu café yang Jacob pilih.
“Pesen dulu aja Claire, aku ke toilet dulu ya.” Kata Jacob setelah kita memilih salah satu tempat yang ada di café tersebut.
Seusai aku memesan minuman, tiba-tiba handphone Jacob yang ia tinggal di meja berbunyi. Rupanya ada telepon masuk dari seseorang. Saat aku mencoba melihatnya, ternyata “Baby” nama yang meneleponnya.
Aku menjadi berpikir, apakah sebenarnya Jacob sudah punya pacar? Kalau memang dia sudah punya pacar, aku merasa menjadi tidak enak bila bertemu dengan Jacob berduaan seperti ini.
Tak lama kemudian Jacob kembali dari toilet dan akhirnya aku mencoba bertanya padanya langsung daripada aku merasa tidak enak.
“Jac, kamu dah punya pacar?” Tanyaku yang membuat dia mengernyitkan dahinya.
“Gak tuh. Kenapa tanya gitu?” balasnya.
“Itu tadi kamu ada telepon dari Baby gitu waktu aku lihat,” kataku.
“Ohh ya ampun Claire, itu teman aku namanya emang Baby bukan panggilan sayang ke pacarku, hehehehe.” Kata Jacob menjelaskan yang membuat aku cukup lega saat mengetahuinya.
“Oh ya, katanya kamu mau cerita ke aku tentang keperluan mendesakmu.” Kata Jacob ternyata masih ingat dengan apa yang aku katakan kemarin.
“Hmm… jadi aku sekarang sedang butuh uang.” Kataku memberitahu Jacob.
“Untuk apa?” tanya Jacob.
“Adikku baru aja kecelakaan, terus dia harus operasi karena kakinya patah dan operasi untuk wajahnya karena wajah dia sobek dan masih sedang diperiksa apa ada yang patah di bagian wajahnya. Selain itu, karena adikku sambil membonceng temannya dan temannya juga terluka, orang tua teman adikku meminta orang tuaku untuk tanggung jawab membiayai pengobatan anaknya,” kataku menjelaskan pada Jacob.
“Sorry banget ya Claire, tapi aku cuma mau nanya. Jadi, keluarga kamu sekarang sedang butuh biaya besar untuk masalah adikmu ini ya?” tanya Jacob.
“Iyaa. Aku tahu orang tuaku tidak ada yang memintaku untuk membantu mereka masalah itu, tetapi aku sadar kalau keluargaku itu gak banyak uang sebenarnya Jac. Aku sekolah ini aja penuh dengan pas-pasan, makanya salah satunya aku mau trading karena aku ingin bisa menghasilkan uang sendiri untuk bisa membantu kedua orang tua.” Kataku kembali menjelaskan keadaanku pada Jacob.
“Okee sekarang aku bisa bantu kamu gimana Claire?” tanya Jacob kembali.
“Aku minta tolong, tradingku ini tolong segera kamu jalanin Jac, biar aku bisa segera dapat uang berapa pun itu. Meskipun aku tidak tahu secara jelas kira-kira biaya yang sekarang sedang diperlukan orang tuaku berapa, tetapi paling tidak aku mau membantu mereka Jac. Selain biaya operasi, nanti biaya perawatan untuk adikku juga masih banyak. Aku pengin banget bisa bantu mereka.” Kataku memohon bantuan Jacob.
“Claire, aku paham kondisimu. Tetapi kalau dalam waktu yang sempit gini kamu tiba-tiba langsung minta bisa menghasilkan banyak aku tidak bisa jamin itu. Apalagi sorry banget aku harus bilang ini, tapi modal kamu ‘kan juga hanya satu juta.” Kata Jacob memberitahuku yang membbuat aku sedih mengetahui hal tersebut.
“Gimana kalau aku kasih kamu ide lain?” sambung Jacob.
__ADS_1
“Apa?” tanyaku.
“Aku bisa Claire beri kamu pinjaman berapa pun yang kamu perluin. Nanti kamu tinggal cicil aja buat kembaliinnya ke aku juga gapapa.” Kata Jacob memberitahukan idenya.
Seketika aku langsung memikirkan tawaran Jacob ini. Bila tidak aku ambil, aku tidak membayangkan bagaimana nantinya orang tuaku akan sibuk mengumpulkan uang banyak sendiri saja. Apalagi tiap bulannya mereka pasti juga masih harus mengirimkan aku uang untuk keperluanku di sini.
Akhirnya aku memutuskan untuk menyetujuinya saja tawaran Jacob tersebut.
“Beneran gapapa Jac kalau misal seperti itu?” Tanyaku memastikannya.
“Gapapa Claire. Kamu mau berapa pun aku bisa langsung transfer sekarang ke kamu.” Kata Jacob langsung mengambil ponselnya.
“Terserah kamu aja Jac. Kamu bisa pinjamin ke aku berapa, aku terima.” Kataku masih tidak enak hati dengan Jacob.
“Lima puluh juta dulu, okee?” tawar Jacob.
“Okee banget Jac. Gapapa beneran? Nanti aku kembaliin ke kamunya gimana ya? Tiap bulan atau per minggu?” kataku.
“Masalah itu terserah deh Claire. Cicil kapan aja berapa pun juga boleh. Nanti kalau tradingmu dah jalan cukup lama ‘kan itu juga pasti mulai menghasilkan,” kata Jacob.
“Okee Jac. Makasih banyak ya sudah mau bantuin aku.” Kataku dengan merasa sangat senang karena akhirnya sementara waktu beban pikiranku sedikit teringakan.
Saat jam sudah menunjukkan jam dua belas siang, aku langsung meminta Jacob untuk mengantarku pulang kembali ke kos.
Kini aku merasa antara aku dan Jacob lebih terasa lebih dekat dibandingkan sebelum-sebelumnya mungkin karena kita hari ini bisa cerita banyak hal dan lebih terbuka satu sama lain.
“Kamu ada suka olahraga gak Claire?” Tanya Jacob saat kita sedang terjebak macet di tengah perjalanan pulang ke kosku.
“Ada. Aku suka basket,” jawabku.
“Oh yaa? Yang bener? Sejak kapan main basket?” Tanyanya yang terlihat terkejut.
“Sejak aku SD kelas lima, tapi semenjak kuliah aku berhenti. Dah gak ada waktu, hehehe,” jelasku padanya.
“Sama Claire, aku juga suka basket. Bahkan aku gabung di suatu klub gitu,” kata Jacob.
“Oh bareng sama Kelvin?” tanyaku.
“Engga. Nah, itu dulu aku gak tahu kalau Kelvin juga suka basket, aku sudah gabung di klubku dan dia di klubnya. Terus kita baru tahu waktu kita mulai dekat dan sering cerita-cerita.” Kata Jacob menjelaskan.
“Ikutan yuk Claire datang ke klubku. Klubku itu ada buat cowok sama cewek. Tapi biasanya jam latihannya sama tapi lapangannya beda, soalnya kayak kekeluargaannya klubku itu lumayan dekat gitu antar pemainnya. Oh ya, terus dibanding klub Kelvin, anak kampusmu itu lebih banyak di klubku loh, jadi kamu ada temannya deh dari kampus yang sama.” Kata Jacob dengan semangat menjelaskan tentang klubnya.
__ADS_1
“Gak deh Jac, waktu latihannya aku gak bisa kalau sering,” kataku.
“Gak usah khawatir Claire, enaknya dan anehnya di klubku tuh waktunya fleksible banget apalagi kalau mainmu emang bagus gitu. Aku yakin tapi kalau kamu sudah main dari SD pasti bagus deh mainmu. Terus selain itu, sekitar tiap dua bulan sekali, klubku sering ikut pertandingan antar klub atau kota gitu. Kalau menang uang hasil tim kita itu dibagi buat kita per orang jadi lumayan dapat tambahan-tambahan uang jajan.” Kata Jacob yang membuatku menjadi cukup tertarik karena lumayan bisa menghasilkan untukku.
“Kamu datang sebisamu aja waktu ada jadwal latihan, itu gapapa. Asal waktu di awal kamu di tes kamu pro, sama coachnya langsung dibiarin kamu mau kapan aja datang latihan.” Kata Jacob yang membuat aku semakin ingin mencobanya.
“Tapi tim ceweknya emang belum full?” tanyaku.
“Minggu lalu, dua orang keluar soalnya dah lulus kuliah. Jadi mereka sibuk kerja,” katanya.
“Gimana? Mau yaa ikutan di klubku? Sebelum jawab gak boleh turun dari mobilku nih.” Kata Jacob saat tiba-tiba sudah sampai di depan kosku.
“Hmm okee deh. Kabarin dulu kapan jadwal latihan terdekat nanti aku lihat dulu bisa ga.” Jawabku akhirnya.
“Siap.”
“Okee deh, byee-byeee.” Pamit Jacob setelah mendapat jawaban dari aku.
...--------...
Setelah sampai kos, aku langsung mentransfer uang yang aku dapat dari Jacob ke mamaku. Kemudian aku langsung menelepon mama, untuk memberitahu tentang transferan dariku.
Mamaku sempat syok saat mengetahui bahwa aku mentransfer uang yang cukup banyak dan menanyakan bagaimana aku bisa mendapatkan uang segitu banyaknya. Aku akhirnya hanya mengaku ke mamaku bila aku selama kuliah ini sambil menyambi bekerja.
Mamaku tidak sempat memprotesku kembali karena tiba-tiba dokter yang akan mengoperasi Raymond siang ini, mendatangi Raymond untuk memeriksa keadaannya terlebih dahulu.
Setelah menutup telepon mamaku, aku langsung berdoa untuk kelancaran operasi Raymond siang ini.
Halooo semuaa 👋👋
Gimana nih cerita author sejauh ini??
Jangan lupa dukung selalu author ya, dengan cara:
Like
Comment
Vote
Thank youu ❤
__ADS_1