
“Claireee … Clairee …” Panggil seseorang padaku ketika aku sudah keluar hall dan berjalan pulang.
Aku menoleh ke arah suara tersebut dan melihat siapa yang memanggilku. Saat aku lihat, ternyata Kak Jeff yang memanggilku.
Malas menanggapinya, aku memilih untuk membiarkan dia dan aku tetap berjalan lurus ke depan.
“Clairee … berhenti dulu!” Perintahnya dengan berlari mengejar ke arahku.
Aku tidak mendengarkannya dan tetap berjalan lurus dengan langkah yang lebih cepat.
“Claireee … dengerin dulu.” Katanya tiba-tiba sambil menarik tanganku untuk berbalik badan menghadapnya.
“Apaa sih Kak? Aku mau pulang, gak usah ganggu aku.” Kataku yang tanpa aku sadari berbicara dengan nada tinggi padanya.
“Aku mau nanya ke kamu sebentar aja,” katanya.
“Gak perlu dan gak mau.” Kataku sambil menghempaskan tangannya yang masih memegang pergelangan tanganku.
Aku kini langsung berjalan kembali meninggalkan dia dengan langkah cepatku. Ketika sudah di luar gedung kampus, tiba-tiba Kak Jeff menarik tanganku kembali untuk berhenti berjalan.
“Aku gak ngerti kenapa kamu sekarang tiba-tiba marah sama aku kayak gini?” tanyanya padaku.
“Gak marah.” Kataku sambil membuang muka dari hadapannya.
“Aku mau bantu kamu selesaiin masalah ini,” katanya.
“Gak perlu Kak, aku bisa sendiri. Kakak gak usah ganggu aku terus deh Kak. Karena ada Kakak hidupku jadi gak tenang, penuh masalah.” Kataku sambil kembali menghempaskan tangannya dan meninggalkannya.
Kini dengan sedikit berlari aku meninggalkan dia. Ketika sudah di jalanan luar kampus, aku melihat ke belakang dan kak Jeff sudah tidak mengikutiku kembali.
Saat sampai di kos, aku langsung masuk ke kamarku dan mengunci diri di kamar. Tak lama kemudian, buliran-buliran air mataku berlinang dan membasahi bantalku.
...--------...
Jefferson:
Kemarin aku baru saja merasa senang karena ada seseorang yang mendukungku dengan sungguh-sungguh bahkan kata-katanya menyadarkanku untuk bangkit.
Tetapi hari ini, orang itu membuat aku sangat sedih mendengarkan perkataannya.
“Kakak gak usah ganggu aku terus deh Kak. Karena ada Kakak hidupku jadi gak tenang, penuh masalah.”
Aku menjadi merasa bingung dengan dia. Aku merasa tidak ada salah besar dengan dirinya.
Baru saja aku merasa mulai nyaman dan memerlukan dia di kehidupanku, tetapi sekarang apa yang aku dapatkan? Dia membuat aku merasa sedih dengan kata-katanya.
Tetapi setelah aku merenung dan memikirkannya kembali, aku merasa sepertinya dia bukan orang yang seperti itu. Sepertinya ada penyebabnya dia sampai berkata seperti itu padaku.
Jangan-jangan keraguanku selama ini tentang dia dan Daisy yang tidak baik-baik saja benar.
Setelah memikirkan sendiri dengan akal sehat, aku yakin Claire benar-benar bukan orang yang seperti itu.
__ADS_1
Sepertinya aku harus mulai mencari tahu sendiri tentang hal ini!
...--------...
Jefferson:
“Dais, lu mau gue anterin pulang gak?” Tawarku padanya saat melihat dia yang sedang berjalan keluar kampus.
“Hah? Beneran mau anterin gue?” Tanyanya tidak percaya.
“Hmm …” Kataku sambil mengangguk.
“Mau lahhh pasti.” Katanya kemudian langsung naik ke boncengan motorku.
Aku sengaja menawarkan tumpangan padanya karena aku ingin menanyakan sesuatu hal nanti ketika sampai di rumahnya. Kalau aku bertanya ketika di kampus, pasti tidak bisa bebas karena pasti akan selalu ada dua temannya yang mengekori itu.
“Jefff, tumben banget mau anterin aku gini. Baik banget sih.” Katanya sambil memegang lenganku yang membuatku risih ketika sudah sampai di rumahnya.
“Hmm … gue mau nanya sesuatu. Tapi lu jawab jujur sama gue,” kataku akhirnya.
“Okee boleh. Apa?” tanyanya.
“Lu sama Claire ada masalah?” tanyaku langsung.
“Gak. Kenapa nanya kayak gitu?” jawabnya.
“Lu gak bohong, kan?” Tanyaku karena masih ragu.
“Gak bilang apa-apa sih. Tapi gue ngerasa lu aneh sama dia. Kejadian di pemilu ini bukan rencana lu semua, kan?” Tanyaku sedikit mendesaknya.
“Kok gak percaya sama gue sih. Jadi tujuan lu ini mau nganterin gue pulang?” Katanya dengan raut wajah yang mulai kesal.
Kenapa sih lu kayak belain dia banget? Apa sih bagusnya dia buat lu?” Ucap Daisy yang sangat tidak aku suka.
“Jangan pernah sebut dia kayak barusan!” Kataku dengan sedikit membentak Daisy karena kesal.
“Hahahaha lu dah gila kena dia. Tuh cewek bagus juga peletnya, boleh gue tiru deh kayaknya. Seorang Jeff yang kayak gini bisa gila-gilaan belain cewek kayak begitu.” Katanya yang semakin merendahkan Claire.
“Lu tutup mulut lu! Awas sampe lu berani macem-macem ke dia kayak dulu lu perlakuin Shannon! Sampe lu kayak gitu sama dia, lihat aja lu gue gak akan tinggal diem kali ini sama lu!” Kataku dengan kasar padanya dan langsung meninggalkannya dengan mengendarai motorku kencang.
Sekarang aku merasa sangat kesal dan semakin merasa curiga dengan Daisy. Tanpa aku sadari, daritadi aku mengendarai motorku dengan kecepatan yang kencang. Pikiranku kini juga semakin kacau karena teringat dengan kejadian Shannon setelah tadi sempat mengucapkan tentang dia tadi pada Daisy.
****
Flashback:
“Shann, aku bisa jelasin semuanya. Jangan marah dulu sama aku! Please!” mohonku padanya.
“Gak perlu lagi Kak. Semenjak kenal Kakak hidupku terasa banyak masalah. Kalau kenal sama Kakak sebagai seseorang lawan jenis sama sekali gak enak. Enak jadi kak Arthur, kak Theo gak akan banyak masalah di hidup mereka temanan sama Kakak!” Kata Shannon dengan terisak-isak.
“Gak usah ganggu aku lagi Kak. Alasan Kakak apapun itu, selama Kakak gak bisa terlepas dari Kak Daisy, orang yang akan dekat sama Kakak gak akan ada yang bisa bertahan!” katanya.
__ADS_1
“Jefff! Pergi sekarang! Kamu gak pantas buat anak saya! Mulai dari sekarang gak usah saling berkomunikasi satu sama lain! Shannon juga akan saya ajak balik ke tempat asal!” Kata papa Shannon mengusirku.
“Om tapi-“
“Gak perlu tapi-tapian. Kamu gak merasa kasihan dengan Shannon yang seperti ini? Semakin lama dia kenal kamu, saya semakin susah harus mengobati dia! Pergi sekarang!” Bentak papa Shannon dengan suara keras.
****
...--------...
Malam ini, aku bersama Aurel, Grace, dan Angel melakukan video call karena mau mengerjakan tugas kita bersama.
Setelah tadi tertidur beberapa saat, kini kondisiku sudah jauh lebih baik dan pikiran terasa sedikit lebih ringan dibandingkan tadi. Sehingga sekarang mau mengerjakan tugas seperti ini, aku sudah bisa berpikir dengan baik.
Tak perlu waktu lama, kurang lebih satu jam akhirnya kita sudah berhasil menyelesaikan tugas kita.
Setelah selesai, Aurel dan Grace menanyakan kondisiku sekarang bagaimana. Angel cukup bingung karena tidak tahu dengan apa yang terjadi padaku. Akhirnya Aurel dan Grace menceritakan pada Angel tentang apa yang tadi terjadi padaku.
“Ehh Claire, besok mau kita temenin gak waktu kamu menghadap dokter Putra?” Tanya Grace setelah bercerita pada Angel.
“Gak usah deh. Kan, tadi dokter Putra sudah sebutin maunya sapa aja yang datang ke dia,” kataku.
“Oh ya Claire, sebenarnya kak Jeff sama kak Daisy tuh hubungannya gimana ya?” Tanya Aurel tiba-tiba.
“Hahahaha gak tahu,” balasku.
“Kenapa kok nanya gitu?” Sambungku bertanya pada Aurel.
“Hmm … tadi waktu aku sama Grace mau pulang, gak sengaja kita lihat kak Jeff boncengan sama kak Daisy keluar kampus gitu. Kayaknya kak Daisy mau dianterin pulang.” Jelas Aurel yang membuatku menjadi berpikir.
“Iyaa Claire bener. Aku gak nyangka loh ternyata kak Jeff sama kak Daisy itu agak dekat kayak gitu. Kan yang kita tahu, kak Jeff kalau kamu sama dia aja masih seringan kamu yang dibelain kak Jeff,” ucap Grace.
“Hmm … mungkin lebih hati-hati aja Claire sama kak Jeff, kayak yang pernah aku bilang, kamu belum kenal lama sama dia soalnya. Sekarang aja kita juga jadi bingung ‘kan, kenapa kak Jeff tiba-tiba boncengan sama kak Daisy seperti itu.” Kali ini ucap Angel yang membuatku juga menjadi berpikir mendengar perkataan teman-temanku.
“Hehehe ya udah, aku dah malas bahas tentang itu lagi. Bahas yang lain aja deh.” Kataku meminta ganti topik pada mereka.
Malam ini, aku berbincang-bincang bersama dengan teman-temanku tak terasa hingga jam sebelas malam akhirnya baru selesai dan aku langsung tidur karena sudah sangat lelah.
Haloo semuaaa, jangan lupa tetap dukung author yaa dengan :
Like
Comment
Vote
Thank You 🙂
^^^❤ Double Sister
^^^
__ADS_1