
Sore ini, setelah kuliah seperti janjiku pada Jacob kemarin, aku akan ikut sparing basket yang dilaksanakan sore ini.
Seperti kemarin, tepat setengah empat Jacob sudah ada di depan kosku. Aku langsung bergegas turun dan menghampiri Jacob ketika mendapatkan telepon dari dia.
“Kamu gak pakai jersey?” Tanya Jacob ketika aku sudah masuk ke mobilnya.
“Hehehehe gak bawa jersey ke sini aku. Jersey adanya di Blitar semua,” jawabku.
“Hmm … nih.” Katanya sambil mengeluarkan jersey berwarna hitam dari tasnya.
“Hahh? Gak usah, nanti kamu pakai apa?” Tolakku pada Jacob.
“Kan, kita dresscodenya sama-sama gelap. Aku sudah ada lagi. Nih.” Katanya sambil menunjukkan jerseynya satu lagi berwarna merah tua.
“Yang ini, ukurannya lebih kecil. Ini dulu ukuran jersey waktu aku SMP.” Jelasnya sambil memberikan jersey hitam tersebut padaku.
“Hehehehe okee deh. Makasih ya. Nanti kalau sudah aku cuci, aku kembaliin ke kamu,” kataku.
“Ambil aja gapapa.”
“Berangkat sekarang ya?” Tanyanya padaku yang aku balas dengan acungan jempol dariku.
...--------...
Setelah beberapa menit berada di perjalanan yang tidak terlalu padat, kini kita sudah sampai di depan gedung olahraga tempat kita akan sparing.
Kini Jacob di dalam mobil langsung mengganti sandalnya dengan sepatu basketnya. Karena tak lama lagi untuk sparing yang pertama akan dimulai dari cowok terlebih dahulu.
“Kamu mau ganti baju dulu atau jerseynya langsung kamu doublein? Kamar mandinya di sini agak jauh dari lapangan basket. Kalau emang mau ganti, aku anterin sekalian kasih tahu tempatnya.” Kata Jacob bertanya dan memberitahuku.
“Hmm … aku double langsung aja deh.” Ucapku setelah beberapa saat berpikir.
Aku langsung memakai jersey milik Jacob di mobil. Jersey Jacob agak terlalu besar di aku, tetapi kalau dilihat masih tidak terlalu oversize.
Setelah aku selesai memakai jerseyku dan Jacob memakai sepatunya, kita langsung turun dari mobil dan menuju ke lapangan.
Sesampainya di lapangan, aku cukup terkejut karena kini di depanku Kak Jeff, Kak Arthur, dan Kak Theo ada di depanku semua.
“Clairee… kamu juga ada di sini?” Tanya Kak Arthur yang terlihat sama terkejutnya dengan aku.
“Ehh i-yaa Kak.” Jawabku dengan terbata-bata.
__ADS_1
“Lu kenal Claire Bro?” Tanya Kak Arthur saat membalas tos dari Jacob yang biasa dilakukan saat baru datang ke sesama pemain.
“Iyaa. Lu ternyata juga kenal ya,” kata Jacob.
“Gue, Theo, Jeff tahu semua sama Claire. Kita sejurusan oii. Dia adik kelas kita.” Kata Kak Arthur menjelaskan dengan semangat.
Di balik Kak Arthur aku melihat Kak Jeff yang terlihat hanya diam saja tetapi tatapannya seperti ke arahku terus menerus yang membuat aku kini berusaha menghindar dari tatapannya.
“Sejak kapan ikutan di sini Claire?” Tanya Kak Theo kali ini.
“Kemarin Kak,” jawabku.
“Nah, kemarin yang aku bilang pemainnya kurang lima, itu tiganya mereka. Duanya itu, yang ada di ujung sana.” Kata Jacob menjelaskan padaku.
“Nih, kapten kita tim cowok.” Kata Jacob dengan menghampiri Kak Jeff sekalian tos dengannya.
“Keren juga Claire. Ternyata kamu bisa basket.” Celetuk Kak Arthur dengan tersenyum padaku.
“Hehehehe makasih Kak,” balasku.
“Ya udah, kamu samperin ke timmu sana deh.” Kata Jacob menyuruhku.
“Bye-bye semua. Aku ke sana dulu ya.” Pamitku pada mereka semua yang ada di sini kecuali Kak Jeff yang mukanya tetap datar dan hanya sekilas melihatiku.
Karena sebentar lagi yang akan melakukan sparing tim cowok terlebih dahulu, kini teman-temanku mengajakku untuk duduk di samping lapangan menonton tim cowok bermain.
...--------...
Jefferson:
Aku benar-benar gak nyangka sama sekali, tiba-tiba Claire datang ke sini dan yang paling buat aku kaget dia datangnya sama Jacob.
Nih cewek kayaknya terlalu polos deh, gimana coba kok dia bisa sampai berteman sama Jacob. Dia kayaknya gak tahu deh Jacob itu orangnya gimana.
Aku merasa gak suka melihat Jacob dekat dengan Claire. Memang belum terlihat gimana-gimana banget sih di antara mereka berdua. Tapi aku melihat Jacob cukup bahaya nih buat Claire.
Aku cukup terkejut lagi saat melihat jersey yang dipakai Claire, punggungnya bertuliskan nama Jacob. Aku menjadi berpikir, sebenarnya sedekat apa ya dia sama Jacob.
“Woi Jeff. Lu kepikiran gak sih Claire kok bisa deket sama Jacob? Gue kok jadi khawatir ya sama Claire.” Tiba-tiba Arthur berbisik ke aku saat aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri.
“Gue juga gak tahu.” Balasku pada Arthur.
__ADS_1
“Kayaknya kita harus pantau Claire. Lu bayangin, Jacob yang kayak gitu bisa deket sama Claire yang selama ini kita kenal orangnya baik, polos.” Kata Arthur kembali.
“Pantengin terus aja lu ama gue.” Kataku kemudian memilih untuk mengganti kaosku ini dengan jerseyku.
“Lihat aja nanti di game, aku bakalan buat kamu jadi gak bisa lepas pandanganmu dari aku.” Batinku sambil melihat Claire yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya.
...--------...
“Claire, kok kayaknya Jeff itu beberapa kali seperti lihat ke arah kita sini ya?” Tanya salah satu temanku saat kita sedang asyik ngobrol bersama.
“Kamu kenal ya sama Jeff, Arthur, Theo? Tadi aku lihat kamu sama Jacob ngobrol sama mereka.” Kata salah satu temanku yang lain lagi.
“Hehehe iyaa. Mereka kakak tingkat aku di kampus.” Balasku dengan tersenyum tipis.
“Ohh kalian sejurusan yaa? Berarti mereka bertiga semua dokter gigi di kampus kamu?” Tanya temanku Jessi yang terlihat sangat semangat daritadi menanyaiku.
“Iyaa,” balasku.
“Tuh Jess, lu harusnya di kampus dia, ambil jurusan kedokteran gigi juga.” Kata temanku yang lain pada Jessi.
“Tahu gak sih Claire, di sini fans Jeff tuh banyak. Nih yang paling fanatik si Jessi ama Yola.” Kata temanku memberitahuku.
“Kok gue jadi diikutin. Jangan gitu dong, malu gue.” Kata Yola yang malu karena ditunjuk-tunjuk oleh teman-teman setim.
“Lu semua pada ngaku juga lah kalau suka Jeff.” Kata Jessi kali ini.
“Suka, tapi biasa doang.”
“Gue kagum doang kok.”
“Nah tuh bener. Gue juga gitu doang, gak kayak lu berdua.”
Semuanya kini jadi ribut membicarakan Kak Jeff dan aku tidak menduga ternyata di luar kampus Kak Jeff juga sepopuler ini.
Aku kini menjadi terpikirkan apa mereka bisa jadi seperti kak Daisy ya kalau mereka tahu aku dan Kak Jeff kenal cukup dekat?
“Eh Claire, kamu juga suka gak sama Jeff? Apalagi ‘kan sekampus tuh. Pasti sering ketemu, kan?” Tanya Jessi tiba-tiba saat aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri.
“Ehhh … eh … gak sih. Biasa aja sih.” Kataku yang aku sadari nada berbicaraku terdengar gugup.
“Hehehehe gapapa Claire kalau emang kamu suka bilang aja. Kita buat Jeff, buat kita semua.” Kata Yola yang membuat semuanya menjadi tertawa.
__ADS_1
“Udahh-udah. Mau mulai nih, nonton aja deh kita. Jangan gosip terus.” Celetuk salah satu temanku yang membuat kita semua menjadi menghadap ke lapangan untuk siap menonton pertandingan.