
Jefferson:
Hari ini aku masuk kampus hanya sebentar saja karena aku hanya melaksanakan tugasku sebagai asdos mendampingi kelas Claire ujian, tetapi nanti sore aku ada jaga di rumah sakit kampus.
Karena ada waktu senggang, aku pakai waktuku ini untuk main game karena sudah lama aku tidak bisa bermain game dengan waktu yang lama.
Di tengah-tengah aku sedang asyik sendiri, tiba-tiba Arthur meneleponku.
“Broo, bukain pintu, gue di depan kos lu.” Kata Arthur yang membuatku heran karena aku kira tadi dia juga sudah pulang.
Aku langsung berhenti bermain gameku dan langsung turun ke bawah untuk membukakan pintu Arthur.
“Lu habis ngapain? Tuh baju lu kenapa?” Tanyaku ketika membukakan Arthur dan melihat bagian belakang baju Arthur penuh dengan cat kuning.
“Gue habis bareng Claire ke admin humas kampus. Terus tadi di sana sedang ada perbaikan gedung kan. Nah, tukangnya ada yang numpahin cat gak sengaja, tadi hampir aja kena Claire tapi gue sempet nolongin jadinya gue deh yang kena.” Kata Arthur menjelaskan padaku yang membuatku menjadi teringat kalau mereka berdua siang ini ada janji untuk bertemu.
“Terus Claire gapapa?” Tanyaku memastikan pada Arthur.
“Ga kenapa-kenapa samsek. Gue pinjem kaos lu deh sama numpang mandi. Gue pulang kayak gini ntar nyokap ngomelin gue pasti.” Kata Arthur saat masuk ke kamarku.
“Lu ambil sendiri aja di lemari gue. Terus Claire dah pulang juga?” Tanyaku masih ingin tahu.
“Udah lah, gue anterin sebelum ke sini.” Balas Arthur yang membuatku cukup kaget karena ternyata Arthur bisa mengantarkan dia pulang.
“Oh ya, hampir gue lupa. Dia titip terima kasih buat lu ke gue tadi, soalnya dah nolongin dia.” Kata Arthur kemudian masuk ke kamar mandiku.
Aku sekarang menjadi berpikir, “Kenapa dia harus titip ucapan kayak gitu ke Arthur? Emang gak bisa ya setidaknya chat aku sendiri, atau call ke aku gitu? Apa dia marah ke aku ya? Aku salah kali ya karena tadi nyuruh dia duduk di tempat itu? Tapi aku juga gak tahu kalau dia gak tahan dingin, kenapa dia gak bilang ke aku aja?” batinku sendiri.
Setelah aku pikir-pikir beberapa saat, tetapi sepertinya memang aku yang salah. Aku juga gak ada minta maaf ke dia duluan waktu tahu kalau dia memang pingsan karena kedinginan. Kini aku harus memikirkan cara untuk minta maaf ke dia.
...--------...
Setelah diantar kak Arthur pulang, aku langsung ke kamarku dan kemudian tanpa berganti baju terlebih dahulu, aku langsung tertidur begitu saja karena aku sangat lelah dan badanku setelah pingsan tadi masih belum terasa kembali fit seperti biasa.
__ADS_1
“Tokktokktokk… Tokktoktokkk…” Dengan sayup-sayup aku dengar ada ketukan di depan kamarku.
Aku langsung membuka mata dan melihat jam, ternyata aku masih satu jam saja aku tertidur. Aku langsung beranjak dari kasurku untuk membukakan pintu kamar.
“Claire, ini tadi mbak agak bingung. Ada orang kayak ojek makanan yang kirim makanan tapi gak tahu dari sapa, tapi katanya buat Claire.” Kata mbak kosku saat aku bukakan pintu sambil membawa sekotak pizza di tangannya.
“Hmm... orangnya sama sekali gak bilang apa-apa gitu ya mbak?” tanyaku masih bingung.
“Gak. Cuma bener-bener bilang untuk Claire,” jawab mbakku.
“Okee deh mbak, aku terima dulu. Makasih ya mbak.” Kataku sambil menerima sekotak pizza tersebut.
Dengan hati-hati, aku langsung membukanya setelah mbakku pergi.
“Sorry.” Satu kata yang tertulis di tengah pizza tersebut dengan saus tomat.
Aku cukup bingung saat melihatnya. Aku mencoba mencari catatan-catatan yang mungkin ada di luar kotaknya tetapi tidak ada sama sekali.
Aku terpikirkan untuk mengangkat pizzanya dan melihat di bawah pizza tersebut siapa tahu ada sesuatu. Dan benar saja, di bawah pizza tersebut terdapat secarik kertas yang berisi tulisan satu paragraf.
^^^-Asdosmu yg bwt sakit-^^^
Seketika aku merasa seperti terluluhkan dengan secarik kertas ini setelah beberapa lama ini aku selalu berusaha untuk menjauh ataupun cuek dengan orang ini. Tetapi tiba-tiba dia minta maaf seperti ini dan sepertinya dia juga ada sedikit salah paham.
Dia mengira aku tidak berterima kasih langsung ke dia karena aku marah dengan dia, padahal sama sekali bukan karena itu, melainkan aku sedang berusaha untuk menjauh dari dia. Memikirkan hal ini tanpa aku sadari mataku sudah berkaca-kaca.
Aku merasa jarang sekali ada seseorang terutama pria yang berani minta maaf secara langsung seperti ini. Melainkan selama ini pria yang ada di sekitarku selalu seseorang yang kasar dan egois dengan dirinya sendiri.
Hanya Kelvin yang tidak seperti itu, oleh karena itu aku bisa bertahan lama berteman dengan dia karena aku nyaman berteman dengan Kelvin.
Dan hari ini, aku menemukan satu orang pria lagi yang mau minta maaf ke perempuan meskipun tampang dia terlihat cukup dingin.
“Drettt... Drettt...” Ponselku tiba-tiba bergetar karena ada telepon masuk.
__ADS_1
Saat aku lihat, ternyata Kak Jeff yang menelepon aku.
“Haloo.” Kataku saat mengangkat teleponnya.
“Claire, dah dapet pizzanya?” Tanya Kak Jeff langsung.
“Sudah Kak. Hmm ... makasih,” ucapku dengan pelan.
“Jangan marah lagi sama aku ya, sorry banget buat semuanya. Gak enak rasanya waktu denger Arthur bilang kamu ngucapin makasihnya lewat dia gitu, hehehehe.” Katanya dengan sedikit tersenyum yang membuatku gugup dan gelisah sendiri saat mendengarnya.
“Ehh ... iyaa Kak,” balasku singkat.
“Kondisimu gimana sekarang?” tanyanya kembali padaku.
“Sudah baikan Kak.” Jawabku masih dengan gugup dan gelisah.
“Hmm okee deh. Makan ya pizzanya semoga suka. Aku cuma mau ngucapin itu aja. Bentar lagi aku dah harus jaga di RS soalnya hehehehe.” Katanya dengan suara beratnya tapi dengan nada yang halus bila didengarkan.
“Okee Kak. Semangat Kak.” Kataku sebelum mengakhiri telepon tersebut.
Perasaanku kini terasa sangat campur aduk. Aku merasa senang sekali setelah mengobrol sebentar dengan kak Jeff meski hanya segitu saja. Aku tersenyum-senyum sendiri dan salah tingkah sendiri saat ini.
Tetapi ada satu hal yang aku rasakan tetapi aku juga takutkan.
Sepertinya aku bisa jadi mulai suka dengan kak Jeff tetapi aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi karena hal itu tidak mungkin boleh terjadi kalau aku mau aman di kampus ini.
“Claireee, kamu gak boleh berlebihan.” Batinku memerintahkan diriku sendiri.
...--------...
Jefferson:
Fiuhhhh... aku senang berhasil buat dia sepertinya gak marah lagi sama aku. Aku lega paling gak sudah minta maaf secara langsung ke dia.
__ADS_1
Teleponan tadi terasa canggung sih, terutama kayaknya aku sih yang buat canggung. Tapi gapapa deh, yang penting aku sudah berhasil buat ngelakuin yang daritadi aku takut buat lakuin, yaitu minta maaf secara langsung.