
Seusai makan siang di café tersebut, Aurel dan Grace sepanjang perkuliahan jam ini terus menerus menggodaiku tentang aku dan kak Jeff di café tadi.
Menurut perkiraan mereka berdua, cewek yang dimaksud kak Jeff adalah aku. Tetapi aku mengelak mereka karena menurut keyakinanku cewek tersebut adalah cewek yang berada di kosku.
Karena ucapan teman-temanku, kini aku menjadi terpikirkan akan hal tersebut.
“Claire, menurut kamu jawabannya apa?” Tiba-tiba tanya Dokter Mila yang berdiri di depanku.
Seketika aku terkejut dari lamunanku lalu aku langsung mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah slide yang sedang ditayangkan oleh Dokter Mila.
“Ehh mung-kin itu per-nyata-annya benar Dok.” Jawabku dengan terbata-bata.
“Kamu daritadi saya lihat tidak memperhatikan penjelasan saya ya?” Tanyanya.
“Maaf Dok, saya kelelahan sehingga kurang fokus selama pelajaran.” Jawabku beralasan.
“Selanjutnya lebih perhatikan saya bagaimana pun kondisi kamu!”
“Jawaban kamu aja buktinya masih salah.” Tegur Dokter Mila padaku.
“Baik Dok. Maaf Dok,” balasku.
“Lu kenapa Claire?” Tanya Aurel padaku setelah Dokter Mila meninggalkan tempatku.
“Gapapa kok. Tadi lagi sibuk sama pikiranku aja, hehehe.” Balasku dengan tersenyum.
...--------...
Selesai kelasku siang ini, aku langsung bergegas menuju ke ruangan dokter Putra.
Saat aku sudah berada di dalam lift, tiba-tiba lift ini berhenti di lantai tiga. Saat pintu lift terbuka, ternyata Kak Daisy dan Kak Olive sudah ada di depan lift.
Saat bertatap muka dengan mereka, aku hanya bisa langsung memberikan senyuman tipis.
“Ngapain lu sok ramah ama kita?” Ucap Kak Daisy setelah pintu lift tertutup.
“Maaf Kak, gak maksud seperti itu. Cuma bermaksud nyapa aja,” balasku.
“Nih pertemuan hari ini, lu dah rencanain apa nih buat kita berdua?” Tanya Kak Olive dengan nada sinis.
“Gak ada rencana apa-apa Kak,” jawabku.
“Oh ya, lu deket ama Arthur? Bagus sih kalau lu deket ama dia. Lu mending deket aja ama Arthur gak usah sama Jeff gue!” Ucap Kak Daisy lagi-lagi dengan nada mengancam seperti biasanya.
Aku hanya terdiam karena bingung harus menjawab seperti apa.
“Modus lu deket ama Arthur apaan nih?” Tanya Kak Olive padaku.
“Gak ada apa-apa Kak,” jawabku.
“Lu selalu ya bilangnya ama kita gak ada apa-apa. Segala sesuatunya lu bilang gak dan gak, lu gak usah bohong deh sama kita. Ngapain juga sih lu tutup-tutupin dari kita?” Bentak Kak Daisy padaku.
__ADS_1
“Apa yang lu bilang itu selalu beda dari kenyataan yang lu lakuin ya. Lu ama Jeff kalau emang gak ada apa-apa kenapa lu ngintilin dia melulu? Trus Arthur juga, gak mungkin ‘kan tiba-tiba Arthur yang nyamperin terus ngintilin lu ke mana-mana.” Sambung Kak Daisy yang kini sudah berdiri sejajar di depanku.
“Tapi beneran Kak. Aku gak ada apa-apa sama mereka berdu-“
“PLAK”
“Ting”
Satu tamparan yang tiba-tiba melayang di pipi kananku bertepatan dengan pintu lift yang terbuka karena kita sudah sampai di lantai delapan.
“DAISYYYYYY!!” Teriak seseorang yang berada di luar lift dengan suara yang sangat lantang.
Kak Daisy seketika langsung mematung saat mengetahui siapa yang melihat kejadian di lift barusan.
“LU JADI CEWEK KENAPA KASAR BANGET SIH! JAHAT PULA PIKIRAN LU!!” Teriak Kak Jeff di depan muka Kak Daisy.
Setelah berkata demikian, Kak Jeff menggandeng tanganku dan menarikku untuk keluar dari lift.
“Jeff, dengerin gue dulu. Itu tadi gak seutuhnya salah gue, dia juga ada salah Jeff.” Kata Kak Daisy membela diri sambil memegang tangan lain Kak Jeff yang tidak menggandengku.
Aku hanya bisa terdiam dan merasakan pipiku yang mulai memanas.
“Gue gak percaya sama lu. Nanti lihat aja lu di depan dokter Putra, gue bakal buat lu habis!” Kata Kak Jeff dengan penuh penekanan di setiap perkataannya.
Setelah itu, Kak Jeff langsung menarik pelan tanganku untuk mengikutinya ke arah toilet yang ada di lantai delapan ini.
“Kamu gapapa?” Tanyanya ketika kita berada di depan toilet dengan nada lembut.
“Coba cuci muka dulu, biar gak merah kayak gini.” Katanya sambil menyentuh pipiku sekilas.
Aku langsung masuk ke dalam toilet dan menuju ke wastafel yang ada di dalam toilet tersebut. Saat aku membasuh wajahku dengan air, seketika aku merasa seperti baru tersadarkan dari keadaan tadi dan kini aku merasa dadaku seperti sesak karena ada sesuatu yang tertahan.
Tanpa aku sadari, kini ternyata rasa sesak di dadaku ini membuat air mataku mengalir keluar begitu saja.
Aku menahan isakan tangisku ini dengan membungkam mulutku sendiri karena aku tidak mau Kak Jeff yang menungguku di luar mengetahuinya.
Bila aku ingat-ingat lagi kejadian tadi, kak Daisy memang keterlaluan terhadap diriku. Aku merasa sebenarnya aku tidak salah melainkan aku hanya mengatakan yang sebenarnya.
Aku merasa lelah dengan situasi yang seperti ini. Selalu diancam. Selalu dibentak. Selalu disalah pahami.
“Claireeee.”
“Kamuu kenapaa??” Tanya Kak Jeff yang tiba-tiba masuk ke dalam toilet.
Aku langsung mengusap air mataku dan menyalakan air kembali untuk langsung membasuh mukaku kembali.
“Kenapa?” Tanya Kak Jeff kembali dengan nada lembut.
“Gapapa,” balasku.
“Cerita aja gapapa,” ucapnya.
__ADS_1
“Akuu capekkkkkk.” Kataku dengan masih sedikit terisak.
Setelah aku mengatakan hal tersebut, Kak Jeff mendekatiku lalu tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya.
Kak Jeff tidak mengatakan apapun selain hanya mengusap-usap bahuku seperti ingin menenangkan diriku.
Setelah aku merasa lebih lega, aku menarik badanku dari pelukannya. Lalu aku kembali ke arah wastafel dan mencuci mukaku kembali.
“Jangan kasih tahu siapa-siapa ya Kak tentang aku yang gini.” Kataku setelah mencuci muka.
“Pasti! Kalau kenapa-kenapa selalu cerita aja sama aku ya,” katanya.
Aku hanya membalas dengan anggukan kecil.
“Ini dah jam segini Kak, kita sudah telat lima menit. Langsung ke sana aja ayoo,”ajakku padanya.
...--------...
“Permisi Dok, maaf kita sedikit terlambat. Tadi saya ada keperluan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu.” Ucap Kak Jeff menjelaskan.
“Maaf Dok, saya juga,” sambungku.
“Baik-baik. Kalau begitu sekarang kita bisa mulai ya untuk pertemuan hari ini.” Ucap Dokter Putra setelah aku dan Kak Jeff duduk.
“Jeff, silahkan langsung menyampaikan apa yang kemarin kamu katakan penting ke saya,” perintah Dokter Putra.
“Baik Dok. Sebelumnya, saya izin untuk memakai proyektor Dokter untuk menampilkan ke semua orang yang ada di sini apa yang saya ingin sampaikan ya Dok.” Izin Kak Jeff pada Dokter Putra.
“Silahkan Jeff,” balasnya.
Dari tempatku, aku melihat Kak Daisy dan Kak Olive saling berbisik satu sama lain dan mereka terlihat sedikit bingung dan gelisah sambil menunggu Kak Jeff sedang bersiap-siap.
Aku sendiri sampai saat ini masih belum tahu apa sebenarnya yang ingin Kak Jeff lakukan.
“Claire, ada tahu apa yang Jeff mau tunjukin gak?” Bisik Kak Arthur yang ada di sampingku.
Aku hanya membalasnya dengan mengangkat bahu.
“Sebelum saya menunjukkan apa yang ingin saya sampaikan Dok, saya berharap nantinya setelah Dokter melihat hal ini, Dokter dapat percaya dengan saya. Dan sebaiknya Dokter tidak terlalu percaya dengan apapun pembelaan orang tersebut.” Kata Kak Jeff dengan wajah seriusnya yang membuat aku semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Haloo semuaaa ...
Jangan lupa dukung author terus dengan,
Like
Comment
Vote
Supaya author semakin semangat up truss
__ADS_1
❤ Double Sister