Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 39


__ADS_3

Pagi ini sebelum berangkat kuliah, aku menelepon mamaku terlebih dahulu untuk menanyakan kondisi Raymond.


Ternyata Raymond kemarin masih baru bisa dilakukan operasi untuk wajahnya terlebih dahulu. Untuk kaki Raymond karena banyak yang harus diobservasi terlebih dahulu oleh dokter melalui foto rontgen sehingga kurang lebih sekitar dua hari lagi untuk kaki Raymond akan dioperasi.


Mamaku juga mengatakan kalau ternyata teman Raymond yang ia bonceng mengalami sedikit patah tulang di tangannya juga.


Karena ada patah tulang, dokter juga masih sedang mengobservasi apakah teman Raymond perlu dilakukan operasi. Orang tuanya tetap menuntut mama papaku untuk membiayai semua pengobatan untuk anaknya.


Saat aku bertanya, mengenai apakah uang yang aku berikan dan yang masih ada kurang untuk operasi Raymond selanjutnya dan temannya, mamaku hanya mengatakan masih cukup. Tetapi dari nada berbicaranya aku sama sekali tidak yakin dengan apa yang mamaku katakan.


Karena jam sudah menunjukkan setengah jam lagi aku harus berangkat kuliah, akhirnya aku dan mamaku mengakhiri pembicaraan kita di telepon ini.


...--------...


Setelah aku selesai menyiapkan diri untuk ke kampus, aku langsung ke kamar Angel untuk mengajaknya berangkat ke kampus bersama seperti biasa.


Saat kita keluar gerbang kos, aku dan Angel sangat terkejut ketika melihat siapa yang ada di depan kosku dengan motornya.


Saat melihat Kak Jeff di depanku seperti ini, aku merasa sangat malas untuk menanggapinya terlebih setelah mendengar cerita dari teman-temanku semalam.


Aku langsung menggandeng Angel dan mengajaknya menghiraukan Kak Jeff.


“Claire …” Panggilnya saat aku dan Angel melewatinya.


“Claire … tunggu dulu.” Katanya yang tidak aku tanggapi melainkan aku dan Angel tetap berjalan ke arah kampus.


“Claire, mau ngomong bentar.” Katanya yang kali ini sambil mengikuti di belakangku.


“Claireeeeeee, please. Dengerin aku dulu. Aku bahkan sebenarnya juga gak ngerti tiba-tiba kamu marah besar sama aku kayak gini.” Ucapnya sambil tetap berjalan mengikutiku.


“Claireeeee!” Panggilnya kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras dan memegang bahuku untuk menghentikan langkahku.


“Apa sih Kak? Aku buru-buru mau berangkat kampus!” Kataku dengan kesal.

__ADS_1


“Bentar doang. Aku cuma mau tahu alasanmu kemarin marah ke aku tiba-tiba seperti gitu dan ngomong ke aku kayak gitu,” jelasnya padaku.


“Gak ada yang perlu dijelasin. Kemarin apa yang aku ucapin sudah jelas.” Kataku tanpa menatap ke arahnya.


Aku hendak berbalik badan untuk kembali berjalan bersama Angel, tetapi lagi-lagi Kak Jeff menahanku.


“Kak, tolong deh. Kalau Claire emang dah gak mau bicara lagi sama Kakak, jangan dipaksa Kak.” Tegur Angel saat tahu Kak Jeff kembali menahanku.


“Lu gak tahu apa-apa, gak usah ikut campur.” Balasnya pelan ke arah Angel.


“Sudah deh Kak. Aku dah gak mau lihat Kakak lagi. Kakak sendiri ‘kan yang buat aku jadi ada masalah kayak gini? Kakak kerjasama dengan kak Daisy, kan? Setelah kemarin sukses buat aku kena masalah seperti itu, Kakak ngerayain berdua ya sama kak Daisy? Pantes kemarin boncengan pulang bareng.” Kataku dengan tersenyum tipis bermaksud menyindirnya.


“Claireee, kamu salah paham. Beneran deh, itu gak seperti yang ada di pikiranmu Claire.” Kata Kak Jeff dengan suaranya yang melemah.


“Terus kalau gak gitu, ngapain Kakak pulang bareng sama dia? Perasaan Kakak kalau aku lihat juga sering risih biasanya kalau kak Daisy deket-deket,” ucapku.


“Ehh … ada urusan yang harus aku selesaiin sama dia,” jawabnya.


“Nah kan, urusannya tentang rencana kalian buat aku kena masalah, kan? Dah Kak jangan ikutin aku lagi, aku bener-bener udah malas sama Kakak.” Kataku langsung menarik tangan Angel untuk mengikutiku pergi meninggalkan Kak Jeff.


...--------...


Jefferson:


Sial, ternyata ada yang tahu aku kemarin pulang dengan Daisy dan Claire juga tahu tentang itu. Dia juga sudah terlanjur salah paham dengan hal tersebut.


Tetapi aku jujur juga masih ragu kalau harus mengatakan apa tujuanku kemarin mengantar Daisy pulang.


Sekarang, sepertinya Claire juga mulai tidak percaya dengan aku dan benar-benar gak mau berbicara dengan aku.


“Kenapa gue jadi ngerasa sedih banget yaa diginiin sama dia?” Batinku sambil mengendarai motor untuk menuju ke kampus.


...--------...

__ADS_1


Siang ini, aku langsung bersiap untuk menuju ke ruangan dokter Putra. Aku sedikit agak takut dan merasa malas sebenarnya, tetapi ini tanggung jawabku sehingga mau tidak mau harus aku lakukan.


Di depanku, tak jauh dari aku berdiri sekarang sudah tampak ruangan dokter Putra. Setelah berhenti sebentar dan menatap ke ruangan tersebut, akhirnya kini aku berjalan sendiri ke arah ruangan tersebut.


Sebenarnya tadi teman-temanku mau menemaniku seperti kata mereka ketika di video call semalam, tetapi aku dengan keras melarang mereka untuk ikut campur karena aku tidak mau mereka nanti juga terlibat dengan masalah ini.


“Claire.” Tiba-tiba panggil seseorang sambil memegang bahuku.


Aku langsung menoleh dan ternyata Kak Arthur yang menyapaku.


“Yang sabar ya, aku yakin kamu gak ngelakuin kesalahan, kan. Aku tahu ini semua pasti ulah Daisy, kan?” Kata Kak Arthur dengan tersenyum padaku.


“Hmm … Makasih Kak. Mungkin bisa jadi seperti itu Kak, tetapi kalau gak ada bukti kita juga gak bisa menuduh dia langsung juga Kak,” balasku.


“Iyaa. Aku bakal bantuin kamu Claire buat selesaiin urusan ini.” Kata Kak Arthur dengan tetap tersenyum.


“Tapi aku gak mau ada keterlibatan kak Jeff,” kataku.


“Okee, tenang. Aku tetap pegang janjiku ke kamu buat gak kasih tahu dia apapun,” ucapnya.


“Yuk, masuk ke sana. Gak usah takut, aku bakalan bantuin kamu semaksimal mungkin.” Kata Kak Arthur yang membuatku merasa ada yang melindungiku.


Saat sudah di depan ruangan dokter Putra, Kak Arthur langsung mengetuk pintu ruangan Dokter Putra. Dari dalam terdengar suara yang mempersilahkan kita untuk masuk.


Aku dan Kak Arthur langsung masuk bersama. Di dalam ruangan tersebut ternyata hanya masih ada teman-teman tim humasku yang menjaga absen.


Ketika aku masuk, Dokter Putra langsung mempersilahkan kita untuk duduk. Kak Arthur mengajakku untuk duduk di tepi dekat pintu masuk.


Tak lama kemudian, Kak Daisy bersama dengan Kak Olive datang. Kini hanya tersisa Kak Jeff yang masih belum datang.


“Kak, kenapa Kakak tadi gak datang bareng sama Kak Jeff?” Tanyaku pada Kak Arthur ingin tahu.


“Tadi dia bilang aku suruh duluan aja. Dia cuma bilang gak lama lagi dia bakalan nyusul gitu.” Jawab Kak Arthur dengan berbisik padaku.

__ADS_1


Tak lama kemudian Kak Jeff datang dan meminta maaf pada Dokter Putra karena sedikit terlambat.


Setelah meminta maaf, Kak Jeff melihat tempat duduk yang ada di ruangan ini, lalu dia memilih untuk duduk di kursi kosong yang ada di sebelahku.


__ADS_2