
Kini jam sudah menunjukkan tepat pukul dua siang yang berarti proses pemilu ketua BEM hari ini ditutup.
Setelah proses pemilu ditutup, kita panitia langsung bersiap untuk melakukan perhitungan suara. Pada proses perhitungan suara ini, saatnya aku bisa beristirahat karena tim humas tidak ada jobdesc pada proses ini.
Dari tempatku, aku melihat Kak Jeff dan Kak Arthur menaiki panggung dan berada di samping sekretaris yang menulis di papan tulis.
Kak Jeff dan Kak Arthur terlihat saling mendukung satu sama lain apapun itu hasilnya karena daritadi sebelum naik panggung mereka saling berangkulan satu sama lain seperti saling memberikan dukungan untuk hasil yang sebentar lagi akan diketahui.
Satu per satu kertas suara dihitung dan sekretaris mencatat hasilnya. Total keseluruhan yang mengikuti pemilu hari ini ada sekitar tujuh ratus orang dan kini yang terhitung masih sekitar seperempat dari total pesertanya.
Selama proses perhitungan suara, dari tempatku ini aku baru menyadari kalau outfit Kak Jeff hari ini terlihat cukup keren.
Dengan memakai kemeja berwarna hitam yang dipadukan dengan almamater berwarna merah tua, lalu menggunakan celana berwarna hitam yang bercorak, terlihat sangat cocok melekat di tubuh Kak Jeff. Ditambah dengan sepatunya yang berwarna putih polos.
Meski dandanan Kak Jeff hari ini terlihat simple, tetapi entah mengapa dia terlihat keren di mataku.
“Claireee.” Panggil Aurel tiba-tiba saat aku sedang memerhatikan Kak Jeff.
“Hayoo, lihatin siapa nih?” Goda Grace sambil duduk di sebelahku bersama dengan Aurel.
“Ya lihatin tuh hasilnya lah. Mau lihatin apalagi kalau gak,” balasku.
“Ohh … sapa tahu lihatin yang pakek kemeja hitam.” Kata Grace dengan tertawa.
“Eh dugaan lu sapa nih yang menang?” Tanya Aurel padaku.
“Gak tahu deh. Gak bisa prediksiin aku,” jawabku.
“Samaa. Dulunya gue kira tuh lebih ke Kak Arthur, tapi sekarang gue jadi bingung karena menurut gue kayaknya bisa imbang nih.” Ucap Grace yang tampak berpikir.
Kini hasil suara sementara yaitu 200 suara untuk Kak Arthur dan 202 suara untuk Kak Jeff, yang berarti sekarang posisi Kak Jeff sedang unggul dua suara dari Kak Arthur.
__ADS_1
Sudah hampir dua jam kira-kira kita melakukan perhitungan suara dan masih setengah suara yang berhasil terhitung.
...--------...
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore dan akhirnya proses perhitungan suara selesai. Hasil akhir dari perhitungan suara mengatakan bahwa pemenangnya adalah Kak Jeff dengan selisih suara yang sangat tipis dengan Kak Arthur.
Suara yang didapatkan Kak Jeff sebanyak 379 sedangkan Kak Arthur mendapatkan suara sebanyak 376 yang berarti selisih suara mereka hanya 3.
Kak Arthur di atas panggung saat mengetahui hasil tersebut langsung memeluk Kak Jeff sedangkan Kak Jeff yang masih terlihat cukup syok dengan hasil tersebut.
Di saat sekretaris sudah mengumumkan hasilnya kepada kita yang hadir di proses perhitungan acara ini, tiba-tiba Kak Daisy naik ke panggung dengan membawa map bening yang berisikan kertas-kertas.
“Ya elah, tuh orang mau ngapain lagi sih?” Gumam Grace saat melihat Kak Daisy menaiki panggung.
“Selamat sore semuanya. Sebelumnya saya izin mau memberitahukan sesuatu hal berkaitan dengan pelaksanaan proses pemilu hari ini.” Kata Kak Daisy saat di atas panggung.
Saat Kak Daisy sudah berada di atas panggung, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Tetapi aku berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut dan tetap menunggu apa yang akan Kak Daisy beritahukan pada kita di akhir acara ini.
“Berdasarkan dari data absen yang dipegang tim humas, total seluruh peserta yang seharusnya mengikuti proses pemilu ini sejumlah tujuh ratus lima puluh lima orang. Tetapi hari ini yang hadir dalam pemilu hanya sebanyak tujuh ratus lima puluh orang saja karena lima orang yang tersisa merupakan mahasiswa yang hari ini sedang tidak hadir kuliah.” Kata Kak Daisy yang seketika membuat suasana kini berisik karena anggota BEM yang menyaksikan proses perhitungan suara ini langsung bergumam satu sama lain.
“Hah ini maksudnya gimana ya? Jadi ada yang salah gitu ya?” Celetuk Aurel kebingungan.
Jujur aku juga sangat terkejut saat mendengar apa yang diberitahukan oleh Kak Daisy saat ini. Aku sekarang menjadi berpikir mengenai siapa yang ada melakukan kesalahan dalam proses pemilu hari ini.
“Mohon tenang terlebih dahulu semuanya. Saya akan melanjutkan tentang hal ini,” tegur Kak Daisy.
“Dari apa yang sudah saya paparkan ini, dapat disimpulkan bahwa hasil akhir suara ini sebenarnya ada kelebihan sebanyak lima suara. Kemungkinan yang bisa kita ketahui sementara ini, yaitu dari peserta pemilu hari ini ada yang melakukan pemilu sebanyak dua kali.” Kata Kak Daisy yang membuat dosen pembimbing kegiatan mahasiswa fakultasku langsung berdiri dan mendekat ke panggung.
“Semuanya harap tenang terlebih dahulu. Saya ingin berbicara.” Kata Dokter Putra dosen pembimbing kegiatan mahasiswa Fakultas Kedokteran.
“Bagaimana kalian dari panitia bisa menyimpulkan bahwa kemungkinan kelebihan suara ini pasti terjadi karena ada peserta pemilu yang melakukan pemilu sebanyak dua kali? Apakah tidak mungkin bila ternyata ada dari fakultas lain yang ternyata menyusup mengikuti pemilu di tempat kita?” tanya Dokter Putra.
__ADS_1
“Izin menjawab Dok. Untuk hal itu sepertinya tidak mungkin Dok. Karena sebelum peserta pemilu memasuki hall, tim keamanan akan meminta para peserta untuk menunjukkan identitas diri mereka melalui Kartu Pelajar Dok, sehingga kami dapat memastikan bahwa yang masuk ke dalam hall merupakan mahasiswa kedokteran. Untuk dosen dan karyawan mereka juga menunjukkan id card yang selalu mereka pakai Dok.” Kata Kak Daisy menjawab pertanyaan Dokter Putra.
“Lalu kemungkinan dari serangkaian proses kalian, proses mana yang bisa jadi membuat masalah ini bisa terjadi? Dari tim absen?” Tanya Dokter Kevin kembali.
“Izin menjawab kembali Dok. Menurut saya bila dari tim absen tidak mungkin Dok, karena saya bersama dengan Olive turun langsung dalam mendampingi tim absen Dok sehingga kita tahu bagaimana proses kerja dari tim absen. Tim absen juga tidak tahu bila ternyata kertas suara yang digunakan sejumlah tujuh ratus lima puluh lima Dok karena di kertas absen ini yang terisi hanya tujuh ratus lima puluh Dok.” Kata Kak Daisy yang seketika membuat hatiku tidak nyaman mendengarnya.
“Oke, kalau gitu langsung to the point saja. Menurut kamu kemungkinan siapa yang ada kesalahan dalam bekerja hari ini?” Tanya Dokter Putra yang terlihat sudah lelah.
“Dari penjaga meja tinta Dok, karena seharusnya bila memang semua peserta pemilu sudah selesai dan mendapatkan tinta di jarinya, mereka tidak akan mungkin bisa masuk kembali ke dalam hall. Kemungkinan penjaga meja tinta ada lengah Dok saat menjaga.” Kata Kak Daisy yang seketika membuat beberapa orang di sekitarku langsung menoleh ke arahku.
“Okee, kalau begitu siapa panitia yang menjaga meja tinta?” tanya Dokter Putra langsung.
“Permisi Dok, saya ingin mengatakan sesuatu. Sepertinya tidak mungkin Dok kalau ini kesalahan dari Claire karena jujur tadi saya sempat membantu Claire saat bekerja karena dia bekerja sendiri di meja tinta. Saya tahu bagaimana proses kerja di meja tinta Dok sehingga saya dapat memastikan Claire tidak melakukan kesalahan Dok, karena saya ikut memantau dia.” Kata Kak Jeff tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan membelaku.
“Claire, tolong berdiri. Saya ingin mendengarkan langsung dari kamu tentang apa yang terjadi tadi.” Kata Dokter Putra yang membuat tubuhku gemetaran karena takut.
“Ehh …ba-ik Dok. Ja-di, ehh… tadi saya memang menjaga di meja tinta sendiri Dok. Tetapi saya sudah merasa menjaga di sana dengan sebaik mungkin Dok. Dan, ehh … memang benar Dok, tadi Kak Jeff ada membantu saya ketika jam ishoma. Ehh … tapi sekali lagi Dok saya benar-benar sudah menjaga di meja tinta dengan baik dan benar Dok.” Kataku dengan sedikit gugup di awal dan kini badanku masih gemetaran karena semua anggota BEM yang ada di sini langsung melihatiku saat aku berdiri.
“Baru kali ini saya mengalami pemilu tapi mengalami masalah yang cukup rumit seperti ini. Karena sekarang sudah jam segini, kita lanjutkan untuk mengurus hal ini besok. Besok Claire, tim absen, Daisy, Jeff, dan Arthur ke ruangan saya. Besok kita tunda terlebih dahulu untuk mengumumkan hasil pemilu hari ini.” Kata Dokter Putra yang terlihat sudah sangat lelah dan langsung meninggalkan kita semua dari hall.
“Claireee, yang sabar ya. Gue yakin ini pasti andil dari Kak Daisy. Lu jangan takut, oke?” Kata Aurel langsung memelukku ketika Dokter Putra sudah meninggalkan hall.
“Lu bener banget Rell. Gue setuju sama lu. Claire, kita akan bantuin lu buat nyelesaiin masalah ini. Gue yakin lu gak salah Claire.” Kata Grace kali ini membelaku.
Seketika aku rasakan, kini banyak mata yang menatap ke arahku. Sayup-sayup aku dengarkan banyak orang yang berbisik-bisik sambil berlalu-lalang di sekitarku membicarakan aku.
“Rell, Grace, aku pamit pulang dulu ya. Mau nenangin diri dulu.” Kataku berpamitan pada Aurel dan Grace karena aku tidak tahan dengan situasi seperti ini.
“Kita anterin lu ya,” kata Grace.
“Gak usah. Aku gakpapa kok. Biarin aku pulang sendiri aja ya.” Kataku dengan tersenyum tipis pada mereka berdua yang akhirnya dibalas dengan anggukan dari mereka.
__ADS_1
Aku langsung mengambil tasku dan berjalan keluar meninggalkan hall tersebut. Sepanjang jalan keluar dari hall, aku sama sekali tidak menyangka ternyata kak Daisy masih ada rencana lagi seperti ini untukku.
Aku merasa aku benar-benar sudah berusaha sebaik mungkin melaksanakan tugasku agar aku tidak kena lagi oleh kak Daisy, tetapi ternyata apa yang sekarang dia lakukan? Bahkan jauh ada dari pikiranku. Aku sama sekali tidak habis pikir dengan perbuatan kak Daisy yang seperti ini padaku.