Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 43


__ADS_3

Pertandingan pun dimulai yang ditandai dengan wasit yang melakukan jump ball.


Starting Five dari klubku terdapat Kak Jeff sebagai point guard, Kak Arthur sebagai center, dan Kak Theo sebagai shooting guard. Pada posisi power forward dan small forward diisi oleh dua pemain yang berasal dari kampusku juga.


Dari tempatku, aku melihat Jacob yang berada di bangku cadangan bersama dengan teman-temannya yang lain. Aku tidak menyangka ternyata pemain inti dari tim cowok semua berasal dari kampusku.


Tiga menit awal permainan terasa sangat seru dan menegangkan karena poin antara klubku dan lawan saling terus menerus mengejar satu sama lain.


Kini mataku tidak bisa terlepas dari Kak Jeff yang permainannya terlihat sangat bagus dan keren bagiku. Sebagai point guard, menurutku dia sangat pintar.


Kak Jeff dapat membawa permainan timnya dengan tampak santai tetapi tetap terus menambah poin perlahan-lahan. Beberapa kali Kak Jeff tampak melakukan lay up yang tidak dilakukan dengan gerakan biasa saja, melainkan harus melewati beberapa musuh terlebih dahulu untuk mendapatkan poin tersebut.


Tak terasa quarter pertama pun selesai dengan skor sementara klubku 22 dan lawan 18 yang berarti posisi klubku sedang memimpin empat poin.


Saat memasuki quarter kedua, terlihat ada pergantian pemain. Kini Jacob memasuki lapangan bersama dengan teman-teman lainnya yang menggantikan pemain starting five secara keseluruhan.


Jacob menggantikan posisi Kak Jeff sebagai point guard. Permainan quarter kedua pun langsung dimulai.


Jacob terlihat tidak kalah keren menggantikan posisi Kak Jeff. Saat masih baru beberapa menit bermain, Jacob sudah cukup mendapatkan banyak poin.


Tetapi setelah beberapa menit bermain, tempo permainan Jacob tidak terlihat seperti di menit-menit awal. Beberapa kali kini Jacob seperti salah memasang strategi serangan sehingga lawan mudah sekali membaca pergerakan Jacob.


Setelah klubku menjadi tertinggal tiga poin, Kak Jeff bersama dengan teman-temannya yang tadi bermain di awal kembali memasuki lapangan.


Saat memasuki lapangan, Kak Jeff terlihat seperti sedang emosi dan beberapa kali arah pandangannya terus melihat ke arah papan skor.


“Wahh, Jeff kelihatannya mulai kesel nih. Pemain juniornya gak bisa bawa ke arah yang bagus nih permainannya. Skor kita jadi tertinggal.” Celetuk Yola.


Semua pemain cewek yang duduk di tepi lapangan mengangguk-angguk menyetujui perkataan Yola dengan pandangan yang tetap fokus tertuju melihat permainan di lapangan.


Kini Kak Jeff dan teman-temannya berhasil membuat kedudukan menjadi seimbang. Raut wajah Kak Jeff terlihat tidak setegang dan sekesal ketika tadi memasuki lapangan setelah kedudukan kini bisa menjadi seimbang.


Kak Jeff terus mengeluarkan banyak penampilan-penampilan bagusnya untuk mendapatkan poin-poin. Tanpa aku sadari, daritadi aku terus memuji-muji permainan dia dalam benakku.


...--------...


Setelah melewati pertandingan yang cukup ketat di antara keduanya, akhirnya skor terakhir pertandingan ini 65-60. Di mana klubku yang memenangkan sparing kali ini.

__ADS_1


Dari tempatku, aku melihat raut wajah Kak Jeff terlihat senang dan lebih ceria dibandingkan ketika tadi sedang bertanding.


“Yukk, samperin mereka. Sebelum kita disuruh pemanasan.” Ajak Yola pada kita semua.


Aku mengikuti teman-temanku yang lain dan menghampiri mereka. Awalnya aku merasa canggung karena tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya aku hanya mengekori teman-temanku ini yang tos dan memberikan selamat pada mereka semua.


Saat akan memberikan selamat pada Kak Jeff ada sedikit keraguan di dalam benakku, tetapi akhirnya aku memutuskan untuk tetap memberinya selamat.


“Congrats Kak. Permainannya bagus,” kataku.


“Thanks. Semangat bentar lagi tandingnya.” Katanya dengan mengulurkan genggaman tangannya.


Aku ragu-ragu melihat uluran genggaman tangannya, tetapi akhirnya aku balas dengan cepat.


“Makasih Kak,” balasku.


“Nanti pulang sama aku aja.” Katanya yang membuat aku langsung membelalakkan mataku.


“Eh gak usah Kak. Aku sudah janjian sama Jacob.” Jawabku menolaknya.


“Nanti aku tunggu.” Katanya kemudian meninggalkanku untuk menghampiri Kak Arthur dan Kak Theo.


“Jacccc, congrats yaa.” Ucapku saat menghampiri Claire.


“Hehehee makasih yaa. Pertama kalinya nih, aku tanding ada seseorang yang aku kenal dukung gini.” Katanya sambil tiba-tiba merangkul bahuku.


“Hehehehe iyaa-iyaa.”


“Eh aku mau siap-siap dulu.” Pamitku pada Jacob.


“Okee. Semangat ya. Kalian harus menang juga,” katanya.


Saat aku berbalik badan dan mau menghampiri teman-temanku yang lain, aku melihat Kak Jeff bersama dengan Kak Theo dan Kak Arthur melihat ke arahku.


Saat aku melihat ke arah mereka, mereka langsung mengalihkan tatapan mereka dariku.


Memilih untuk tidak memikirkannnya, aku langsung mengikuti teman-temanku yang mengarah keluar lapangan.

__ADS_1


...--------...


Jefferson:


“Kayaknya Claire sama Jacob emang lumayan deket deh kalau gue lihat.” Ucap Arthur saat kita bertiga melihat ke arah Jacob dan Claire yang sedang ngobrol berdua.


Entah kenapa, aku ngerasa sangat gak suka Claire dekat dengan Jacob. Bahkan rasa tidak sukaku ini melebihi saat melihat Claire bila jalan dengan Kelvin.


“Tuh anak terlalu polos,” ucapku.


“Kayaknya lu bener deh Jeff. Lu coba deh kasih tahu Claire, sebelum dia kenapa-kenapa sama Jacob,” kata Theo.


“Suruh Arthur aja,” balasku.


“Kenapa gak lu aja. Dia ‘kan sering nurut kalau lu yang ngomong.” Tolak Arthur yang membuatku berpikir bagaimana bisa aku memberitahu dia kalau dia masih sedang marah denganku.


“Lu ‘kan lebih deket. Dia lebih nyambung ngobrol sama lu.” Balasku kemudian meninggalkan mereka.


...--------...


Ini adalah momen pertama kalinya aku kembali ada di suatu pertandingan basket meskipun hanya sekadar basket.


Semenjak kuliah, sama sekali aku belum pernah bermain basket kembali. Cukup senang aku bisa kembali merasakan permainan di dalam lapangan basket.


“Claire, lu langsung coba ya masuk di starting five.” Kata Bang Ben saat menghampiriku.


“Beneran Bang? Aku main nanti dulu gapapa kok.” Kataku merasa tidak enak dengan teman-temanku yang lain.


“Ini perintah ya Claire. Gue pengin lihat lu main di awal.” Kata Bang Ben dengan nada seriusnya.


“Eh okee Bang.” Kataku akhirnya.


Teman-temanku seketika menyemangatiku setelah mengetahui hal tersebut. Aku sangat senang mempunyai teman-teman yang selalu bisa memberikan support seperti ini meskipun sesama pemain.


Kini aku memasuki lapangan bersama dengan teman-temanku yang bermain di starting five. Seperti biasanya aku bermain, di klub ini aku kembali menempati posisi shooting guard.


Saat di lapangan, aku sempat melihat ke arah tim cowok yang sedang duduk menonton permainan kita. Saat aku mengedarkan pandangan ke sana, Jacob dan Kak Arthur terlihat menyemangatiku dari tempat duduk mereka.

__ADS_1


Sekilas aku melihat ke arah Kak Jeff yang dengan tampang coolnya, dia hanya terdiam dan melihat ke arahku. Aku tersenyum tipis membalas Kak Arthur dan Jacob yang memberiku semangat.


__ADS_2