
Setelah dari pertemuan dengan tim humas selesai, aku langsung pulang dan sekarang aku sudah di kos.
Kepalaku terasa pening sekali salah satunya karena memikirkan yang tadi terjadi saat di pertemuan tadi.
Aku juga belum ada bercerita dengan teman-temanku sama sekali. Aku takut bila bercerita dengan teman-temanku nanti semakin rumit penyelesaiannya bila banyak yang tahu.
Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, kini aku langsung memejamkan mataku sambil berbaring di atas kasur. Aku ingin menghilangkan penat yang aku rasakan ini.
...--------...
Tak terasa saat aku bangun dan melihat ke jam dinding kamarku, jam sudah menunjukkan pukul 19.00.
Aku langsung bersiap-siap untuk mandi karena aku baru ingat, malam ini tepatnya satu jam lagi aku ada kerja kelompok.
Saat aku sekilas membuka hpku sebelum mandi, aku melihat ada telepon masuk sebanyak 3x saat aku masih tidur tadi dari nomer yang tidak aku ketahui.
Aku akhirnya menghiraukan hal tersebut dan aku lebih memilih untuk segera mandi.
Setelah selesai mandi, tiba-tiba ada telepon masuk dari Grace. Aku langsung mengangkat telepon dari Grace.
“Claireeeee… kenapa kamu gak angkat-angkat telepon dari kak Arthur?” Kata Grace sambil berteriak kencang disebrang sana saat aku mengangkat teleponnya.
“Emang ada telepon dari kak Arthur ya?” Tanyaku pada Grace sambil menjemur handukku yang baru saja aku gunakan untuk mandi.
“Ya ampunn, dia empat kali katanya total dah telepon kamu, tapi kamu gak angkatttttttttt.” Kata Grace yang seketika membuatku tersadar bahwa nomer yang tadi aku lihat sebelum mandi itu ternyata nomer kak Arthur dan waktu aku mandi kak Arthur menelponku sekali lagi.
“Ohh ya ampunn, aku baru tahu. Aduh, gimana dong ini?” Kataku sedikit panik pada Grace.
“Ya dah aku kasih tau buat bentar lagi telepon kamu.” Kata Grace kemudian langsung mematikan teleponnya denganku.
“Tringgg… Tringgg...,” Telepon dari kak Arthur masuk dan aku langsung mengangkatnya.
“Halo Kak,” kataku saat mengangkatnya.
__ADS_1
“Kamu ada masalah pribadi sama Daisy?” Tanya suara yang ada di sebrang tersebut dan saat aku mendengarkan suaranya, ini bukan suara dari Kak Arthur tetapi aku yakin ini suara Kak Jeff.
Aku bingung harus berkata jujur atau tidak, tetapi bila berkata jujur aku takut bila kak Daisy semakin marah denganku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak memberitahu Kak Jeff terlebih dahulu.
“Gak ada Kak,” jawabku pada Kak Jeff.
“Beneran?? Jawab jujur aja.” Kata Kak Jeff terdengar masih kurang yakin dengan jawabanku.
“Iyaa Kak beneran. Aku juga baru kenalnya di BEM ini." Kataku mencoba meyakinkan Kak Jeff.
“Hmm... okee. Aneh banget dia berarti.” Celetuk Kak Jeff seperti berbicara dengan Kak Arthur yang ada di sampingnya.
“Kenapa Kak?” kataku mencoba bertanya.
“Hmm... gapapa. Biasanya kalau ada masalah sama dia, dia bisa berbuat apa aja ke orang itu. Beneran ya kamu gak ada apa-apa sama dia?” Tanya Kak Jeff meyakinkan aku kembali yang langsung aku balas, “Iyaa Kak, bener.”
“Okee, mulai besok kita bertiga kerjain bareng aja. Besok aku pastiin aku dah ada HP buat chatting,” kata Kak Jeff memberitahuku.
“Iyaa Kak.” Balasku singkat dan Kak Jeff langsung mematikan teleponnya.
Setelah selesai telepon dengan kak Jeff, aku lihat di grup chat aku, Aurel, Grace, dan Angel dipenuhi dengan keributan karena Grace memberitahukan kalau aku sedang dicari kak Arthur.
Saat aku membalas chat di grup, Grace yang sangat ingin tahu langsung melakukan call grup.
“CLAIREEEE … ceritaaaaaa! Kenapa tiba-tiba kak Arthur cari kamu?” Kata Grace langsung saat aku join call grupnya.
“Ya ampunn Grace, lu gila kali ya. Kuping gue sakit rasanya denger suara lu yang melengking banget." Ucap Aurel saat mendengarkan Grace yang terlalu semangat seperti itu.
“Ihh lu gak tau sih, gue juga agak seneng nih. Gue ada di chat kak Theo gara-gara Claire ini. Mana gue dah ge-er duluan lagi.” Kata Grace bercerita pada kita bertiga.
“Oh jadi yang kasih nomerku ke kak Arthur kamu ya.” Kataku mencoba memastikan.
“Iyaaa. Jadi tadi sore tiba-tiba kak Theo chat gue, gue kira kenapa kan. Gue kira dia mau ngomongin tentang praktikum kelompok gue. Terus dia bilang butuh nomer lu ternyata soalnya Arthur lagi perlu banget, trus ya dah gue kasih dong. Pas gue tanya kenapa, katanya kak Theo nanti suruh tanya lu nya sendiri,” jelas Grace padaku.
__ADS_1
“Trus jadi lu sebenernya kenapa Claire?” Tanya Aurel yang terlihat juga menjadi ingin tahu.
“Hmm... jadi tadi tuh waktu kita pertemuan tim, nah, si kak Daisy itu di tim kasih aku tugas kayak yang banyak banget dan itu aku harus kerjain sendiri. Nah waktu kak Arthur dan kak Jeff keliling cek-cekin, waktu di timku dia nemuin kalau pembagian tugasnya gak rata gitu. Mereka berdua marah dong sama kak Daisy, trus mereka berdua tiba-tiba bilang mau bantuin aku. Kak Daisynya sama kak Olive trus kayak jadi serem gitu tau tadi. Langsung ninggalin kita tim humas sendirian.” Kataku menceritakan semuanya akhirnya.
“Hmm kayaknya tuh cewek berdua sengaja deh. Mau buat lu susah.” Komentar Aurel setelah mendengarkan ceritaku.
“Gue setuju sama lu. Pasti sengaja, mana dia orangnya keliatannya emang kayak semena-mena gitu.” Imbuh Grace berkomentar.
“Nah tadi kak Arthur telepon itu kenapa?” tanya Angel padaku.
“Hmm... dia kayak pastiin kalau aku sebenernya ada masalah gak sama kak Daisy.” Jawabku pada Angel tanpa menyebutkan kalau yang berbicara sebenarnya adalah kak Jeff.
“Ehh trus lu jawab apa?” tanya Grace padaku.
“Aku bilang gak ada. Aku takut nanti makin ribet kalau bilang jujur,” jawabku pada Grace.
“Ya ampunn Claire. Kalau gue jadi lu, gue jawab yang sebenernya biar paling gak hidup gue jadi lebih aman, damai, tentram dari orang macem kak Daisy gitu. Paling gak ada yang bantu ngelindungi lu. Apalagi cowok-cowok itu emang cukup berkuasa di kampus kita.” Kata Aurel yang membuatku menjadi berpikir.
“Hmm... tapi menurutku ada benernya juga sih Claire gak bilang gitu dulu. Belum tentu dengan kak Arthur sama kak Jeff tau kebenarannya mereka bisa bantu. Apalagi kan itu sebenernya berkaitan sama kak Jeff. Siapa tahu kak Jeff karena tahu cuma karena dikira mau rebutan dia, terus dia jadi illfeel trus ngehindarin Claire malahan. Terus Claire kalau makin kena sama kak Daisy juga gimana?” Pendapat Angel yang membuatku merasa juga ada benarnya apa yang dikatakan Angel.
“Iyaa sih. Sebenernya ini masalah sepele deh. Tapi tuh kak Daisy and the geng aja yang aneh. Masalah kecil salah paham dikit aja langsung di gede-gedein. Takut banget kak Jeffnya lu ambil." Kata Aurel dengan nada sinis.
“Eh apa biar kelar urusannya, lu ajak bicara kak Daisynya langsung aja ya. Bilang kalau waktu itu cuma salah paham. Biar dia gak mikir terus kalau lu suka kak Jeff juga,” usul Grace padaku.
“Hmm sudah pernah, tapi dia agak gak percaya. Ujung-ujungnya juga kalau menurutku dia agak ngancem aku.” Jawabku pada Grace yang membuat mereka bertiga langsung terkejut.
“Hahhh... kapan lu ketemu dia?” Tanya Aurel dengan terkejut.
“Waktu aku sama temen SMAku pergi ke suatu café. Nah, di situ aku ketemu dia. Aku dah bilang kalau itu cuma salah paham, ujung-ujungnya dia masih bilang jangan ganggu-ganggu milik gue sama tatapannya yang begitu tuh.” Kataku menceritakan kejadian waktu itu.
“Wahh parah emang tuh orang. Dah di kasih tahu, masih gak percayaan lagi, apa coba maunya. Claire, mulai sekarang kalau ada apa-apa berkaitan sama tuh orang, langsung aja cerita sama kitaa biar kalau ada apa-apa kita langsung tahu. Jadi, kalau sampe ada kejadian apa di depan kita, kita bisa langsung bantu dan paling gak kamu gak kena terus sama dia.” Kata Grace dengan menggebu-gebu.
“Iyaaa... iyaa... eh bentar ya, mamaku telepon nih. Aku tutup duluan yaa.” Pamitku pada mereka bertiga dan langsung mengangkat video call dari mama.
__ADS_1