Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 44


__ADS_3

Saat pergantian antara quarter pertama dan kedua, aku bersama dengan teman-temanku yang bermain di starting five kini digantikan dengan teman-temanku yang lain oleh Bang Ben.


Baru bermain satu quarter saja terasa sudah bermain empat quarter bagiku sekarang. Mungkin ini efek karena aku sudah lama tidak bermain basket sehingga nafasku tidak sekuat dulu.


Di samping itu, tetapi aku cukup optimis kalau timku akan menang karena daritadi skor klubku lebih unggul dibandingkan lawanku. Kini skor 25-20 di mana klubku masih tetap unggul.


“Claire, permainan kamu luar biasa. Gue suka sama permainan lu.” Kata Bang Ben yang tiba-tiba menghampiriku.


“Terima kasih Bang,” kataku.


“Kalau bisa, sekitar dua minggu lagi klub kita mau ikutan pertandingan antar klub di Jakarta. Lu ikutan main wakilin klub kita ya.” Ajak Bang Ben padaku.


“Aku lihat jadwalku dulu ya Bang,” sahutku.


“Oke gapapa. Tapi gue berharap banget lu bisa join di pertandingan itu. Karena gue ada target tim cewek harus bisa juara, tahun lalu soalnya kita cuma sampai big five.” Kata Bang Ben menjelaskan padaku.


“Oke Bang. Nanti aku kabarin kalau memang bisa ikut,” balasku.


Di pertengahan quarter tiga hingga selesai, aku diberikan waktu bermain kembali oleh Bang Ben karena dia ingin melihat permainanku kembali.


Di permainan kali ini, aku sempat terjatuh beberapa kali. Lawanku yang berkuncir pita pink sepertinya sedikit sengaja bermain kasar terhadapku.


Setiap dia menjagaku, dia selalu bermain kasar tetapi sepertinya beberapa kali wasit tidak melihat pelanggaran yang sebenarnya dia lakukan padaku.


Bang Ben menawariku untuk digantikan pemain lain saat aku sudah terjatuh untuk ketiga kalinya, tetapi aku tidak mau karena aku masih ingin memaksakan diriku untuk bisa bermain lama.


...-------...


Setelah melewati permainan yang cukup melelahkan untukku, akhirnya pertandingan ini ditutup dengan skor 55-48 yang dimenangkan oleh timku.


Aku merasa sangat senang dan bangga karena akhirnya bisa bermain kembali di sebuah pertandingan dan menang meskipun ini hanyalah sparing.


“Claire, kaki lu itu gapapa?” Tanya Bang Ben padaku setelah aku bersama dengan teman-temanku berselebrasi untuk kemenangan ini.


“Gapapa Bang. Nanti aku kompres aja waktu pulang pasti sudah baikan,” jawabku.


“Harus lu kompres ya. Soalnya kelihatannya itu memang memar kena benturan-benturan waktu lu jatuh. Tapi gak berdarah ‘kan ya?” Tanya Bang Ben kembali sambil melihat ke arah kakiku.


“Gak kok Bang. Cuma memar aja,” jawabku.


“Hmm ... okee deh. Jangan lupa pikiran tawaran gue yang tadi.” Katanya sambil memegang bahuku sekilas sebelum meninggalkanku.


“Claireeee … kamu keren banget tadi mainnya. Pulang nanti kita mampir makan dulu yuk, buat rayain kemenangan di permainan pertamamu.” Kata Jacob saat menghampiriku.


“Hehehehe, thank you Jac. Tapi buat makan-makannya nanti dulu aja deh. Lagian ‘kan ini cuma sparing.” Tolakku karena aku merasa perlu istirahat segera.


“Gapapa Claire. Bentar aja deh, ke tempat yang ada di dekat kosmu aja deh, gimana?” Tanya Jacob tetap memaksaku.


“Lu gak lihat kondisi kaki dia apa?” Celetuk Kak Jeff yang tiba-tiba berada di belakangku.


“Tahu. Makanya gue cuma mau ajak dia keluar bentar doang.” Jawab Jeff pada Kak Jeff.


“Kalau lu gak bisa ngejagain cewek bener, lu gak usah sok jagoan deketin cewek sana sini.” Kata Kak Jeff dengan suara berbisik di depan Jacob tetapi sekilas aku mendengarkan ucapannya.


“Yuk, ikut aku.” Kata Kak Jeff kemudian sambil menggandeng tanganku.

__ADS_1


Dengan pasrah, aku mengikuti langkah Kak Jeff meninggalkan Jacob.


“Lu berdua, coba cari es batu dulu buat kaki dia.” Perintah Kak Jeff pada Kak Arthur dan Kak Theo yang langsung dilakukan oleh mereka.


“Duduk sini dulu aja.” Kata Kak Jeff padaku setelah kita berada di area parkiran gedung tersebut.


Tanpa berkata-kata lagi, aku hanya menuruti perintahnya. Aku duduk dan langsung meletakkan tasku di sebelahku.


“Itu memarnya nyut-nyutan atau gimana?” Tanya Kak Jeff yang masih berdiri di depanku.


“Hmm … terasa nyeri sama sakit kalau kesentuh,” balasku.


“Tunggu bentar ya. Kenapa tadi masih tetep maksain buat main?” Tanya Kak Jeff sambil menatap ke arahku.


“Gapapa. Tadi gak kerasa sakit. Aku kira juga bukan luka, cuma memar biasa aja. Waktu di menit-menit terakhir baru kerasa mulai nyerinya.” Kataku menjelaskan tanpa menatap ke arahnya.


“Jeff, nih cuma dapet segini.” Kata Kak Theo sambil memberikan sekotak kecil es batu yang ia dapatkan entah dari mana.


“Thanks.” Kata Kak Jeff kemudian mengeluarkan handuk yang ada di tasnya.


“Gue perlu bantuin?” Tanya Kak Arthur pada Kak Jeff.


“Gak usah. Gue bisa atasin sendiri.” Kata Kak Jeff sambil membalutkan handuknya pada es batu yang ada di tangannya.


“Aku kompres sendiri aja Kak.” Kataku saat Kak Jeff hendak memegang kakiku.


Kak Jeff tidak menanggapiku dan langsung menarik kakiku ke arahnya. Sambil berlutut di hadapanku, Kak Jeff meletakkan es batu yang telah ia balut dengan handuk pada daerah kakiku yang memar.


“Claire, kamu sama Jacob tuh sebenarnya dekat sudah dari kapan?” Tanya Kak Arthur tiba-tiba.


“Ehh belum lama banget sih Kak,” jawabku.


“Aku kenal dari temanku yang kenalin. Temanku itu satu kampus sama Jacob.” Kataku menjelaskan.


“Kelvin?” Tanya Kak Jeff tiba-tiba.


Aku hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala perlahan.


“Terus hubungan kalian apa?” Tanya Kak Theo yang membuatku cukup terkejut mendengarnya.


“Teman doang sih Kak,” jawabku.


“Teman bener nih? Tapi kok kayaknya dekat banget gitu kalian? Kayak sudah akrab banget,” imbuh Kak Arthur.


“Beneran. Dia selalu baik selama ini ke a-“


“Awhhhh.” Keluhku karena tiba-tiba tangan Kak Jeff yang memegang kompres di kakiku seperti menekan memarku.


“Sini biar aku sendiri aja. Dah tahu sakit kalau kesentuh malah dikasarin gitu,” omelku pada Kak Jeff.


Tidak menanggapiku, Kak Jeff menoleh ke arah Kak Arthur dan Kak Theo seperti mengkodekan sesuatu.


“Ehh… Claire, kita balik duluan ya. Ada keperluan nih.” Pamit Kak Arthur tiba-tiba dengan tersenyum lebar padaku.


“Sini, biar aku sendiri aja bisa kok Kak.” Kataku sambil meraih handuk yang dipegangnya.

__ADS_1


“Gak usah bawel.” Ucapnya dengan datar.


“Ngapain sih Kakak masih bantuin aku. Kan aku lagi kesel sama Kakak.” Kataku saat teringat sebenarnya aku masih kesal dengannya.


Kak Jeff tidak menjawabku tetapi hanya terdiam dan memandangi memar kakiku. Tak lama dari itu, dia membuka tasnya dan seperti sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.


Kemudian ternyata dia mengeluarkan salep dari tasnya. Setelah itu, dia langsung membuka tutup salep tersebut dan mengoleskannya pada kakiku yang memar.


“Gak lama lagi pasti terasa dingin salepnya.”


“Aku antar pulang sekarang.” Katanya sambil meringkas handuk dan salepnya.


Di dalam hatiku ada perasaan masih kesal sebenarnya dengan Kak Jeff dan malas kalau harus diantarkan pulang dengannya. Tetapi di sisi lain, aku merasa Kak Jeff memang baik. Meski aku sedang marah-marah seperti ini pada dia, tetapi dia tetap tidak membiarkanku sendiri.


“Aku bisa jalan sendiri.” Kataku saat Kak Jeff mengulurkan tangannya untuk membantuku.


Lagi-lagi tanpa berkomentar, dia hanya langsung mengambil tasku dan membawakannya. Dia berjalan di depanku dengan perlahan-lahan.


Setelah sampai di motornya, Kak Jeff memberikan helmnya padaku.


“Kalau aku pakai ini, terus Kakak pakai apa?” tanyaku.


“Gakpapa aku gak usah.” Katanya sambil masih menyodorkan helmnya padaku.


“Gak mau ah. Bahaya naik motor gak pakai helm. Kakak mau kena tilang?”


“Kakak gak ada helm dua tapi ngajakin aku pulang bareng. Daripada gini, mending aku pulang sama Jac-“


Di saat aku sedang mengomel, tiba-tiba Kak Jeff langsung memakaikan helmnya padaku.


“Gak usah deket sama Jacob. Aku gak suka!” Katanya dengan menekankan pada setiap perkataannya.


Kak Jeff langsung menaiki motornya sambil membawa tasku dan tasnya.


“Cepet naik!” Perintahnya sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku menaiki motornya.


Dengan terpaksa, aku menaiki motornya dan aku menjadi memikirkan maksud dari perkataannya barusan.


“Pegangan.” Katanya sambil menarik tanganku untuk berpegangan padanya.


“Gak mau.” Kataku menolak.


“Brumm …” Tiba-tiba Kak Jeff mengegas motor gedenya dengan kecepatan yang tinggi secara tiba-tiba.


“KAKKKKKK!!” Teriakku sambil memukul punggungnya.


“Kalau ngebut gini, aku gak mau pulang sama Kakak.” Kataku sambil hendak mencoba turun dari motornya.


“Makanya pegangan biar gak jatuh. Kenapa sih emangnya? Alergi kalau megang aku?” Ucapnya yang sekilas dari spion aku lihat dia tersenyum tipis.


Dibandingkan harus berdebat kembali dengannya, akhirnya aku memutuskan untuk berpegangan padanya tetapi hanya memegang sedikit kaosnya.


Setelah itu, Kak Jeff langsung kembali menjalankan motornya dengan kecepatan yang normal.


Gimana nih cerita authorr sampai saat ini?

__ADS_1


Hehehehe, supaya author makin semangat, boleh dong komen-komennya biar author tahu respon kalian gimana 😊


❤ Double Sister


__ADS_2