Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 28


__ADS_3

Siang ini, setelah pulang kampus aku berencana untuk menemui bu Dewi yang lalu aku diberitahu oleh ibu yang aku temui bersama dengan kak Arthur. Aku nekat untuk menemui bu Dewi ini sendiri tidak sesuai dengan yang kak Arthur katakan waktu itu.


Saat sampai di tempat admin humas, aku cukup bingung harus mencari bu Dewi di mana. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada seorang bapak yang berada di tempat admin humas tersebut.


“Siang Pak, permisi Pak saya mau bertanya. Bila ada keperluan dengan bu Dewi dan ingin menemui bu Dewi, bu Dewi ada di mana ya Pak?” Tanyaku dengan sopan pada bapak tersebut.


“Keperluan apa ya cari bu Dewi?” tanya bapak tersebut padaku.


“Saya anggota BEM periode ini Pak. Di sini saya salah satu anggota panitia humas untuk pemilu yang sebentar lagi diadakan. Saya ingin menanyakan tentang data nomor telepon dosen Pak untuk keperluan acara pemilu ini,” kataku menjelaskan.


“Emang ketua kamu gak punya ya?” Tanya Bapak tersebut terus terang.


“Tidak Pak, karena tahun lalu sistemnya tidak seperti sekarang ini,” kataku menjelaskan kembali.


“Oh kalau gitu sebentar ya. Saya panggilkan bu Dewinya dulu. Bisa ditunggu dulu di sana. Nanti kalau sudah ada bu Dewinya saya kabari.” Kata Bapak tersebut sambil menunjuk ke arah tempat duduk untuk aku menunggu.


“Baik Pak. Terima kasih.” Kataku membalas niat baik bapak tersebut.


Aku langsung menuju ke tempat duduk yang bapak tersebut perintahkan padaku.


Dari kejauhan aku melihat bapak tersebut seperti sedang meneleponkan bu Dewi melalui ponselnya, tetapi rupanya bu Dewi tidak bisa dihubungi sehingga dari gerak geriknya bapak tersebut harus mencoba meneleponnya beberapa kali.


“Ehh eluu …” Kata Kak Daisy yang tiba-tiba melintas di depanku bersama dengan dua temannya.


“Dah beberapa hari nih gue gak ngelihat lu setelah digendong sama Jeff gue.” Kata Kak Daisy yang membuat aku cukup terkejut.


Kali ini aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi karena aku juga tidak tahu bagaimana Kak Daisy bisa mengetahui hal tersebut.


“Lu sengaja ya waktu itu? Lu pura-pura pingsan, kan? Sok banget sih lu.” Kata Kak Daisy dengan nada bicaranya yang tidak enak didengarkan.


”Bukan sengaja Kak, tapi beneran.” Kataku tanpa menatap dia.


“Kenapa sih Jeff selalu bantuin lu? Lu pelet pakek apa dia?” Tanya Kak Daisy lagi yang badannya semakin mendekat ke aku.


“Habis pingsan terus lu pura-pura lemah, sampe lu gak bisa kerja tanggung jawab lu? Hahh?? Jawab gue.” Bentak Kak Daisy kali ini padaku.

__ADS_1


“Maksudnya tanggung jawab apa Kak?” Tanyaku karena bingung dengan maksud Kak Daisy.


“Lu yang lalu bilang ke gue, kalau pembagian lu sama Jeff, Jeff cuma dosen profesi, tapi kenapa barusan gue dah dapet semua dosen enam puluh lima orang, dari dia semuaa?” Tanyanya kini dengan nada geram dan semakin mendekat ke aku.


Aku bingung dan kaget mendengar hal tersebut karena aku tidak ada diberitahu sama sekali dengan kak Jeff tentang hal tersebut.


Karena ini hanya tinggal 5 hari lagi, dan aku di hari keempat sudah harus mengumpulkan semuanya oleh karena H-3 sudah harus share pengumuman, maka aku memutuskan untuk menemui bu Dewi sekarang.


Tetapi aku sama sekali tidak tahu bahwa ternyata kak Jeff sudah berhasil mengumpulkan semuanya sendiri.


“Lu kenapa ga jawab gue sih?” Tanya Kak Daisy kembali dengan nada tinggi.


“Eh lu jangan sok-sok an ya sama Daisy. Lu gak usah kepedean mentang-mentang lu bisa deket sama Jeff. Mana Arthur segala lu gebet sampe pulang dianterin.” Kata Kak Olive kali ini memanaskan suasana.


“Kakk ... tapi aku-” Kataku mau mencoba membela diri.


“Pakek tapi segala, gue dah kesel banget nih yaa amaa lu. Luu gakkk-” Kata Kak Daisy kini sambil mencengkeram bahuku yang tiba-tiba cengkeraman itu dilepaskan oleh seseorang yang ada di belakangku dan membuat Kak Daisy dengan kedua temannya terkejut.


“Jangan sekali-kali lu nyakitin dia ato pun kasar sama dia.” Kata Kak Arthur sambil menarik tanganku agar aku berada di samping dia.


“Tergantung. Kalau lu dah berlebihan gak ada salahnya gue laporin.” Ucap Kak Arthur dengan muka serius.


“Thurr, please jangan pernahh ngomong apapun ke Jeff.” Kata Kak Daisy kembali memohon pada Kak Arthur yang tidak dipedulikan lagi oleh Kak Arthur.


“Yukk, Claire, ikut aku.” Kata Kak Arthur sambil merangkul bahuku untuk mengikuti dia.


Aku pun menuruti Kak Arthur untuk pergi dari tempat tersebut. Sekilas saat aku berbalik badan, terlihat Kak Daisy menghentakkan kakinya karena kesal.


“Ngapain tadi di sana?” Tanya Kak Arthur setelah kini kita berada di depan kampus.


“Ehh ... tadi mau cari bu Dewi.” Jawabku sambil menunduk.


“Kenapa gak ada ngomong dulu ke aku ataupun Jeff?” Tanya Kak Arthur dengan mengernyitkan dahinya seperti bingung dengan diriku.


“Aku tadinya ehh mau biar cepet selesai dan biar sesuai deadline jadi mau selesaiin semuanya dengan cari bu Dewi Kak.” Kataku menjelaskan akhirnya dengan jujur ke Kak Arthur.

__ADS_1


“Jeff dah selesaiin semuanya, belum tahu, kan?” Ucap Kak Arthur yang aku balas dengan menggelengkan kepala.


“Aku sama Jeff beberapa hari ini sibuk, tapi Jeff sudah ada minta tolong teman yang lagi kosong buat bantu tentang hal itu. Hari ini padahal aku atau Jeff salah satu mau kabarin kamu, kalau dah dapat semuanya tinggal masukin ke grup,” kata Kak Arthur menjelaskan.


“Tapi Kak, kenapa Kak Daisy tahu kalau Kak Jeff sudah dapat semua? Kenapa Kak Jeff kasih datanya ke Kak Daisy?” tanyaku bingung.


“Kemarin Daisy sempet ketemu sama Jeff dan ada bahas tentang hal itu, detailnya gimana aku juga kurang tahu. Intinya tapi Jeff bilang kalau Daisy gak usah kejar-kejar kamu tapi dia sudah dapetin, sebagai buktinya dia kasih tunjuk ke Daisy.” Kata Kak Arthur kembali menjelaskan yang membuat aku membelalakkan mata karena terkejut dengan apa yang Kak Jeff sudah lakukan.


“Kamu gapapa tadi? Kamu dah diapain aja sama Daisy?” Kini Kak Arthur menanyakan kondisiku.


“Gapapa Kak. Tadi Kak Daisy cuma marah aja karena tahu Kak Jeff yang kelarin tugas itu.” Kataku memilih tetap tidak memberitahukan sesungguhnya karena takut membebani Kak Arthur.


“Daisy sering ngelakuin kayak gitu ke kamu?” Tanya Kak Arthur kembali mengkhawatirkan aku.


“Gak kok Kak.” Kataku dengan tersenyum tipis.


“Ehh Kak, jangan kasih tau Kak Jeff ya tapi tentang tadi. Nanti daripada Kak Jeff juga jadi marah sama kak Daisy kan jadi ribet.” Kataku dengan tersenyum pada Kak Arthur.


“Hmmm ... oke. Dengan satu syarat,” celetuk Kak Arthur.


“Apa Kak?” Tanyaku dengan mengernyitkan dahi.


“Kalau Daisy macem-macem ke kamu, kamu harus selalu cerita ke aku. Oke?” Kata Kak Arthur dengan memberikan jari kelingkingnya ke depan wajahku.


“Okee Kak.” Kataku mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya tanda kita telah membuat kesepakatan.


“Nanti agak malaman mungkin Jeff atau dia suruh aku untuk ngomong di grup tentang hal ini,” kata Kak Arthur.


“Iyaa Kak, nanti pura-pura gak ada kejadian apa-apa aja ya. Nanti aku juga bakalan kayak orang yang baru tahu gitu.” Kataku mengajak Kak Arthur sepakat dengan rencanaku.


“Okee.” Katanya dengan mengacungkan jempol.


“Aku anterin pulang, yuk.” Ajak Kak Arthur padaku tetapi sebelum aku menjawabnya dia sudah menarik tanganku terlebih dahulu untuk mengikutinya.


Untuk kedua kalinya sudah Kak Arthur mengantarkan aku pulang.

__ADS_1


__ADS_2