Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 45


__ADS_3

Saat berhenti di lampu merah, tiba-tiba terdengar ada telepon masuk di salah satu ponsel kita. Kak Jeff mencoba mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya tetapi ternyata tidak ada apa-apa.


Aku tidak sadar, bila itu ternyata bunyi dari ponselku. Saat ponselku Kak Jeff keluarkan dari tasku yang dia bawa, telepon tersebut mati.


“Tinnn…tinn…” Kendaraan-kendaraan yang ada di belakang kita membunyikan klakson dan membuat Kak Jeff langsung kembali menjalankan motornya.


Tak lama setelah kita jalan, ponselku kembali berbunyi.


“Minggir dulu kali ya, di minimarket depan.” Kata Kak Jeff sambil mulai mengurangi kecepatan motornya.


“Nih, buruan angkat.” Kata Kak Jeff sambil memberikan ponselku.


Saat aku melihat layar ponselku, ternyata “Tante Maya” yang meneleponku. Ini tidak biasanya seorang Tante Maya meneleponku seperti ini.


“Halo, Tan,” sapaku.


“Claire, ya ampun. Susah banget sih mau telepon kamu,” katanya.


“Maaf Tan. Aku lagi di jalan soalnya,” balasku.


“Kenapa Tan?” tanyaku padanya.


“Eh Claire, kamu tuh gak mau pulang dulu gitu ya? Bantu urusin Raymond dulu. Kamu jangan sibuk sama diri kamu sendiri dong.” Celetuk Tante Maya tiba-tiba yang membuatku mengernyitkan dahi.


“Kamu tahu gak sih hari ini Raymond kakinya sudah dioperasi?” tanyanya.


“Tahu Tan. Tadi mama sudah kasih kabar ke aku,” jawabku.


“Terus tahu gak, nih keluargamu lagi kekurangan duit buat bayar seluruh tagihannya Raymond sama temannya itu. Tante sudah dua hari ditanyain mama kamu, buat mau dipinjam uang Tante. Tapi asal kamu tahu ya Claire, Tante sendiri sekarang juga lagi banyak kebutuhan. Apalagi kamu tahu sendiri om sekarang juga sakit.” Ucap Tante Maya dengan nada tinggi tiba-tiba.


“Maaf Tan, tapi aku gak tahu tentang masalah itu.” Kataku karena aku benar-benar baru tahu tentang hal itu sekarang.


“Makanya pulang dong kamu. Jangan mikirin diri sendiri. Kamu kerja dulu di sini atau kalau emang gak mau pulang kerja dulu lah kamu di Jakarta sana. Sadar diri kenapa Claire, kuliahmu tuh gak sebanding sama pemasukan keluargamu!” Kata Tante Maya yang membuatku sangat sedih mendengarkannya.


“Iyaa Tan. Aku akan tanggung jawab bantu keluargaku. Kalau boleh tahu, mama ada mau pinjam ke Tante berapa ya?” tanyaku.


“Sekitar lima puluh juta. Gak tahu buat apa aja. Yang jelas pengeluaran buat Raymond sama temannya itu besar. Belum lagi Raymond masih butuh untuk perawatan pasca-operasinya.” Kata Tante Maya menjelaskan padaku.


“Okee Tan. Makasih infonya. Tante gak perlu pinjemin mama duit, aku nanti yang akan tanggung jawab buat bantu mama. Maaf banget Tan karena keluargaku sudah selalu merepotkan Tante.” Kataku mengakhiri teleponnya.


Setelah menutup telepon dari Tante Maya tanpa aku sadari kini mataku berkaca-kaca.

__ADS_1


“Aku bantuin ya.” Kata Kak Jeff yang rupanya sedari tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Tante Maya.


“Gak usah Kak.” Kataku dengan lemas.


“Kenapa kamu gak mau aku bantu?” tanyanya.


“Gapapa. Nanti Kakak makin ada rencana-rencana lagi sama Kak Daisy yang buat aku jadi makin kesusahan. Aku urus semuanya sendiri aja bisa kok.” Jawabku sambil memalingkan wajahku dari hadapannya.


“Claire, dengerin aku!”


“Kamu itu cuma salah paham. Aku bonceng dia pulang itu bukan berarti aku ada hubungan sesuatu sama dia. Urusan yang aku maksud waktu itu-“


“Urusan tentang kamu. Aku curiga antara kamu sama dia sebenarnya ada sesuatu, makanya dia bertindak sejauh ini seperti itu ke kamu. Aku antar dia pulang, buat mendesak dia tanya apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian. Tapi ternyata dia bilang kalian gak ada apa-apa.” Jelas Kak Jeff yang membuatku terkejut mengetahui hal tersebut.


“Sumpah, aku gak ada apa-apa sama dia.” Katanya dengan mengangkat dua jarinya.


Seketika aku terdiam dan tidak tahu harus bagaimana. Aku ada merasa bersalah karena sepertinya memang aku yang sudah berlebihan memperlakukan Kak Jeff akhir-akhir ini.


Setiap dia mau mengajakku berbicara, aku selalu tidak mau dan menghindarinya. Aku tidak menyangka bila ternyata Kak Jeff begitu perhatian terhadap diriku.


“Jadi, jangan marah lagi ya sama aku?” Ucapnya saat aku hanya terdiam di depannya.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan menatapnya.


“Sekarang, aku pokoknya mau bantu kamu. Titik. Gak boleh ada penolakan.” Katanya sambil mengambil ponsel yang ada di genggaman tanganku.


“Nih, masukin password m-bankingmu,” perintahnya.


“Buruan. Kalau gak, gak aku antar pulang nih.” Katanya mengancamku.


Setelah aku memasukkan password m-bankingku, Kak Jeff langsung membuka kode barcodeku. Dia menscan barcodeku dengan ponselnya. Kemudian ponselku dikembalikan padaku.


“Dah, coba cek. Udah masuk, kan?” ucapnya.


Saat aku cek di saldoku, Kak Jeff ternyata sudah mentransfer aku sebanyak lima puluh juta.


“Kak. Ini banyak banget. A-“


“Hstttt. Yang kamu perluin segitu, kan? Dah, pakai aja.” Katanya kemudian berjalan menuju ke arah motornya.


“Kak, tapi ini beneran kebanyakan. Aku transfer balik aja. Aku gak mau.” Kataku merasa sangat tidak enak.

__ADS_1


“Kamu balikin, aku gak mau antar kamu pulang. Aku juga gak akan bantuin masalahmu di pemilu ya.” Ucapnya dengan santai.


“Memang masalah pemilu, Kakak tahu penyebabnya?” Tanyaku bingung dengan ucapannya.


“Tahu. Tungguin aja kalau nanti dokter Putra panggil kita lagi. Pasti masalahnya langsung kelar, kalau kamu gak kembaliin uang itu ke aku.”


“Lagian kenapa sih kalau aku mau bantu kamu? Dari yang lalu pertama kali aku tahu, aku mau bantu selalu kamu tolak,” protesnya.


“Aku gak enak sama Kakak.” Kataku jujur.


“Gakpapa. Mulai dari sekarang gak usah ngerasa kayak gitu. Kan, itu juga kemauanku,” balasnya.


“Nanti aku kembaliin ke Kakak batasnya kapan?” Tanyaku masih tetap merasa sangat tidak enak.


“Kapan-kapan aja. Gak usah dipikirin. Pikirin buat kesembuhan adikmu dulu yang penting.”


“Mau cepet pulang gak?” Tanyanya yang sudah siap di atas motornya.


Aku dengan dibantunya langsung menaiki motornya. Kak Jeff juga langsung mengendarai motornya arah pulang ke kosku.


...--------...


“Makasih banyak ya Kak. Maaf juga akhir-akhir ini aku sudah menyebalkan ke Kakak.” Kataku ketika turun dari motornya dan sudah berada di depan kosku.


“Iyaa. Inget satu hal, jangan dekat-dekat sama Jacob.” Ucapnya dengan muka yang serius.


“Kenapa? Dia tapi selama ini selalu baik sama aku.” Kataku membela Jacob.


“Pokok jangan dekat-dekat. Kamu gak tahu dia yang sebenarnya. Kalau kamu masih dekat terus, lihat aja nanti.” Katanya kemudian memakai helmnya.


“Aku pulang dulu.” Pamitnya kemudian langsung meninggalkanku.


Aku tidak mengerti mengapa kak Jeff tidak suka dengan Jacob. Aku merasa Jacob selama ini sudah cukup baik dan banyak membantuku.


...--------...


Jefferson:


“Setelah beberapa lama dia tidak menganggap aku, akhirnya hari ini aku berhasil untuk kembali dekat sama dia. Meskipun akhirnya aku terpaksa harus membongkar apa yang aku lakuin ke Daisy waktu itu.”


“Aku gak tega melihat dia ditegur kasar oleh Tantenya seperti itu. Meskipun sebenarnya aku sedang menabung karena ingin membeli motor gede lagi, tetapi aku rela uang itu dia pakai dulu. Dibandingkan melihat dia sedih karena ada beban seperti itu.”

__ADS_1


“Mulai sekarang, aku harus lebih perhatian ke dia dan banyak di sekitar dia. Sepertinya dia banyak menanggung banyak hal, tetapi dia pendam sendiri dan tidak mau orang lain mengetahui hal tersebut.”


__ADS_2