
Siang ini, saat istirahat aku, Aurel, Angel, dan Grace memilih untuk makan siang di luar kampus. Kita berempat memilih untuk makan siang di salah satu café yang berada tidak jauh dari kampus.
Sambil menunggu pesanan kita datang, Aurel mengambil kartu yang disediakan di café tersebut dan mengajak kita bertiga untuk bermain kartu.
Di saat Aurel sedang membagikan kartunya pada kita, aku melihat ke arah pintu masuk café tersebut dan ternyata terdapat Kak Jeff dan dua temannya yang memasuki café ini.
“Lohh Claire, tumben makan siang di sini.” Celetuk Kak Arthur saat melihatku.
“Hehehehe diajakin mereka Kak,” sahutku.
Seketika teman-temanku meyambut mereka bertiga dengan senyuman.
“Oh ya, nanti siang jam dua dokter Putra minta kumpul lagi, tadi Jeff dikasih tahu.” Kata Kak Arthur memberitahuku.
“Bisa ga?” Tanya Kak Jeff kali ini.
“Bisa Kak,” balasku.
“Ya dah lanjutin aja, sorry jadi ganggu kalian.” Kata Kak Arthur yang merasa tidak enak pada kita.
“Eh gapapa Kak. Mau gabung juga Kak sama kita? Gapapa kok.” Celetuk Grace dengan tersenyum lebar.
Kita bertiga seketika menatap ke arah Grace tetapi Grace menatap kita balik dengan tersenyum lebar seperti tidak merasa ada salah.
“Ehh … gima-“
Di saat Kak Arthur masih mau membalas tawaran Grace, tiba-tiba Kak Jeff langsung menarik kursi kosong yang ada di sebelahku dan duduk.
“Iyaa deh, boleh.” Kata Kak Arthur dengan tersenyum yang mukanya masih terlihat terkejut dengan tingkah laku Kak Jeff barusan.
“Gue ga kedapetan kursi dong kalau lu duduk sini.” Protes Kak Theo saat Kak Arthur menduduki kursi yang barusan ia tarik.
“Sini Kak, gue ambilin kursi.” Kata Grace yang sudah berdiri sambil menarik kursi di meja lain dan meletakkannya di sebelahnya.
Aku dan Aurel hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku Grace terhadap Kak Theo.
Setelah mereka bertiga juga memesan makanan, mereka juga ingin bergabung dengan kita untuk bermain kartu.
Karena kini jumlah orangnya banyak, akhirnya Aurel mengganti mengambil kartu UNO untuk dimainkan.
Meja yang kita pilih ini sebenarnya hanya untuk berlima karena kursinya hanya ada lima, tetapi karena Kak Arthur memaksakan untuk duduk di sebelah Kak Jeff, kini aku merasa jarak antara aku dan Kak Jeff sangat sempit.
Saat membuka kartu masing-masing, aku melihat ke arah Kak Jeff karena aku merasa Kak Jeff seperti dapat melihat kartuku dan benar saja dia sudah melihat kartuku.
“Kak, curangg!” protesku.
“Hah apaan? Gak ngapa-ngapain.” Balasnya dengan pura-pura tidak merasa bersalah.
“Udah, mau mulai gak nih?” Tanya Kak Arthur yang dibalas dengan senyuman dari teman-temanku yang lain sambil melihat ke arahku.
“Dah gue duluan ya yang mulai.” Kata Kak Theo sambil mengeluarkan satu kartu.
Tidak terduga ternyata aku dan teman-temanku bila bergabung seperti ini dengan Kak Jeff dan teman-temannya bisa seseru ini.
Daritadi permainan kartu ini diiringi dengan penuh canda tawa dan suasana terasa melebur seketika meskipun sebelumnya kita belum terlalu kenal satu sama lain.
Kak Theo dan Kak Arthur yang paling sering membuat kehebohan bersama dengan Grace dan Aurel.
Kini, dari kita bertujuh tersisa hanya aku, Kak Jeff, dan Aurel yang masih bermain. Sisanya mereka sudah menang sehingga mereka sekarang hanya menunggu dari kita bertiga siapa yang akan kalah.
“Eh bentar, gimana kalau ntar yang kalah dikasih hukuman? Biar lebih seru!” Ucap Kak Theo yang membuatku menjadi takut kalau aku yang kalah.
“Boleh lah. Satu orang yang kalah aja tapi, ya ga?” imbuh Kak Arthur.
“Bebas,” balas Kak Jeff.
__ADS_1
“Hmm… ya dah gue setuju juga Kak. Lu gimana Claire?” Tanya Aurel padaku.
“Hukumannya apa?” tanyaku.
“Truth or Dare aja kali ya? Gimana?” usul Grace.
“Okee, boleh kalau gitu.” Balasku setelah berpikir sejenak.
Kita bertiga langsung melanjutkan permainan tetapi tidak lama kemudian, Aurel sudah menang terlebih dahulu. Oleh karena itu, sekarang hanya tersisa aku dan Kak Jeff.
Sekarang pikiranku hanya aku ingin menang dari Kak Jeff karena aku tidak mau mendapatkan hukumannya.
Saat ini, waktunya kita mengeluarkan angka sembilan sedangkan aku tidak mempunyai angka sembilan. Dengan terpaksa akhirnya aku mengambil satu kartu lagi dan aku melihat kartu Kak Jeff hanya tersisa dua saja.
Tetapi rupanya Kak Jeff juga tidak memiliki kartu angka sembilan sehingga kini dia juga mengambil satu kartu lagi.
Aku mempunyai kartu plus empat dan kartu skip dengan warna yang sama dengan apa yang sekarang diminta.
Aku langsung mengeluarkan kartu skipku untuk Kak Jeff dan kemudian mengeluarkan kartu plus empatku. Lalu aku meminta pada Kak Jeff warna kuning dan ternyata dia tidak mempunyainya.
Dan aku seketika langsung mengeluarkan kartu kuningku yang terakhir aku punya.
“Yayyy, menanggg” Ucapku dengan senang.
“Lu cupu banget Jeff.” Celetuk Kak Arthur dengan muka mengejek.
“Woii, lu punya kartu angka sembilan, kenapa tadi lu ga keluarin. Lu bisa menang tadi oii.” Sambung Kak Arthur saat melihat ke arah kartu Kak Jeff.
“Gue gak lihat. Gue kira enam.”
“Cepet dah hukumannya apa?” balasnya.
“Lu pilih mau truth apa dare?” Ucap Kak Theo.
“Truth aja,” jawabnya cepat.
“Satu doang kali. Tadi di awal lu ga ada ngomong gitu.” Protes Kak Jeff pada Kak Arthur.
“Gak adil dong kalau satu doang pertanyaannya. Nih orangnya banyak loh. Lu takut yaa,” goda Kak Arthur.
“Kagakk. Ya dah terserah lu deh.” Balas Kak Jeff menanggapi godaan Kak Arthur.
“Yokkk pikirin pertanyaan guys,” kata Kak Arthur.
“Dari kita berdua satu. Dari mereka berempat satu gitu kali ya?” Tawar Kak Theo.
“Boleh banget Kak.” Balas Grace dengan senyum lebarnya.
Kak Theo langsung menghampiri Kak Arthur dengan tersenyum tidak jelas. Sekilas aku menoleh ke arah Kak Jeff yang ada di sebelahku tetapi dia terlihat santai-santai saja.
“Claire, mau gue tanyain ga, sebenarnya hubungan dia sama kak Daisy apaan?” Bisik Aurel padaku.
“Dia gak ada hubungan sama kak Daisy,” jawabku.
“Masak sih? Nah yang lalu mereka boncengan itu?” kata Aurel.
“Ada keperluan bentar katanya,” jawabku.
“Lu dah tanyain?” Tanya Aurel yang aku balas dengan anggukan.
“Kalau gitu nanya aja, kenapa kak Daisy kayak kejar-kejar dia terus. Sejak kapan kayak gitu? Mau ga? Biar lu tahu kenapa kak Daisy sampai gitu banget sama lu,” ucap Aurel.
“Jangan sangkutin sama kak Daisy. Nanti dia jadi tanya emang kak Daisy kenapa sama aku gimana? Tanya yang lain aja, aku gak mau!” Tolakku pada Aurel dengan berbisik.
“Guyss, gimana? Kalian dah ada pertanyaan?” Tanya Kak Arthur padaku dan teman-temanku.
__ADS_1
“Sudah dong.” Balas Grace dengan bersemangat.
“Jadi tanya apa?” bisikku pada Aurel.
“Dah dengerin aja bentar lagi,” balasnya.
“Okee. Kalian duluan aja langsung,” perintah Kak Theo.
“Selama ini, mantan Kak Jeff ada berapa? Dan kapan terakhir pacarannya?” Tanya Grace yang membuat Kak Jeff yang ada di sampingku langsung menjadi duduk tegak.
“Wihhh manteb nih,” celetuk Kak Arthur.
“Pertanyaan lu ada dua. Satu doang lah yang ditanyain,” protes Kak Jeff.
“Itu ‘kan satu kesatuan. Gapapa lah lu jawab,” sahut Kak Arthur.
“Okee.”
“Gue gak punya mantan. Gue gak pernah pacaran.” Jawabnya yang membuat suasana di meja ini seketika hening.
“Lu serius? Seseorang yang kayak lu, disukai orang sana sini gak pernah pacaran selama hidup lu?” Tanya Kak Theo yang sepertinya juga baru mengetahui akan hal ini.
“Seriusan.”
“Lu berdua emang selama temenan ama gue di kuliah pernah lihat gue pacaran?” ucap Kak Jeff.
“Ya gak sih. Tapi sebelum kuliah, sapa tahu pernah sama sapa gitu.” Jawab Kak Arthur dengan tampang yang masih berpikir.
“Ehhh tapi, lu bukannya pernah yang dulu sama adik kelas angkatan Daisy. Sapa ya namanya kok gue lupa.” Celetuk Kak Theo yang membuatku dan teman-temanku langsung menatap ke Kak Theo.
“Temen doang. Dah gak usah bahas itu.”
“Cepetan lu berdua tanya apa ke gue?” Ucap Kak Jeff dengan raut wajahnya yang seperti terlihat menghindari sesuatu.
Setelah itu, Grace langsung menatap ke arahku dan bertanya padaku dari kejauhan siapa orang yang dimaksud dengan Kak Theo, tetapi aku hanya mengangkat bahu karena tidak tahu.
“Lu sekarang, lagi ada suka sama cewek ga? Kalau misal ada orangnya ada di kampus kita ga?” Ucap Kak Arthur memberikan pertanyaan.
“Pertanyaan lu privasi amat sih,” protes Kak Jeff.
“Kalau lu gak mau jawab, ya dah pilih dare aja dari kita,” sahut Kak Theo.
“Males banget. Ya dah gue jawab.”
“Ada. Tapi orangnya di mana rahasia lah.” Ucap Kak Jeff yang membuat kedua temannya langsung berdiri dari kursinya.
“Lu seriusan? Siapa?”
“Kok gak pernah cerita ke kita sih?”
“Lu jawab dong ada di kampus kita gak?”
Protes Kak Arthur dan Kak Theo langsung ribut.
“Kenapa kepo banget sih. Gue aja masih gak tahu dia suka ama gue juga gak,” jawabnya.
“Kenapa gak Kakak langsung tanya ke orangnya aja?” Celetuk Aurel tiba-tiba.
“Masih gak berani,” jawabnya.
“Hahahahaha, lu cupu amat sih. Pasti mau lah tuh cewek ama lu. Cewek mana sih yang gak mau ama lu,” kata Kak Theo.
“Udah lah. Gak usah bahas lagi. Pertanyaan lu cuma itu doang, gak usah dipanjang-panjangin.” Ucap Kak Jeff kemudian kembali bersandar di kursinya.
Aku seketika terdiam dan berpikir siapa sebenarnya cewek yang disuka dengan Kak Jeff. Aku menjadi takut bila dekat dengan Kak Jeff tetapi di belakang itu ternyata dia sudah ada cewek.
__ADS_1
Aku tidak mau nanti ada kak Daisy yang kedua. Aku menjadi berpikir apakah sebenarnya cewek yang dimaksud adalah cewek yang ada di kosku?