
Setelah Dokter Kevin selesai memberikan penjelasan tentang materi hari ini, kita langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam kelompok kita masing-masing.
Sebelum berjalan dan duduk di tempat kelompok kita masing-masing aku, Aurel, dan Grace mengecek ponsel kita masing-masing dan kita sama sekali belum ada yang dibalas oleh Angel.
“Aduh, Angel sebenarnya kenapa ya? Jadi khawatir deh." Kata Aurel setelah melihat ponselnya dan ternyata tidak ada balasan apa-apa dari Angel.
“Sama aku juga,” jawabku pada Aurel.
“Ya udah kita masuk kelompok kita dulu deh. Nanti sambil praktikum sekali-kali kita lihat chat Angel dah ada kabar gak. Kalau sudah ada yang dikabarin Angel kasih tahu ya.” Kata Grace sambil bersiap untuk menuju ke kelompoknya.
“Okee deh gitu aja." Kataku menyetujui pendapat Grace.
...--------...
Sesampainya di meja kelompokku, aku langsung duduk di salah satu kursi yang berada di tengah karena aku tidak mau kalau sampai disuruh pindah tempat duduk lagi.
Semua teman kelompokku sudah berkumpul dan kini hanya tinggal menunggu Kak Jeff yang terlihat masih sedang briefing dengan teman-teman asdos lainnya.
“Pagi semuanya. Hari ini nanti kalian mulai coba pratikum sendiri pakai mikroskopnya ya. Untuk preparatnya, setiap orang harus mengamati 4 preparat. Nanti kalau kalian sudah dapat di mikroskopnya panggil aku dulu, biar aku lihat sama nilai itu sudah benar tidak yang kalian dapatkan. Nanti aku juga akan foto untuk bukti dokumentasi aku. Kalian juga foto ya buat nanti di masukin ke laporan hasil praktikum kalian masing-masing.” Kata Kak Jeff langsung menjelaskan teknis praktikum hari ini saat datang ke meja kelompokku.
“Sebelum kalian mulai, ada pertanyaan gak dari kalian?” Tanya Kak Jeff pada kita sekelompok.
“Kak saya mau bertanya,” ucap salah satu teman sekelompokku.
“Iyaa, kenapa?” Respon Kak Jeff pada teman sekelompokku tersebut.
“Untuk laporan praktikumnya nanti deadline kumpulnya kapan ya Kak?” tanya temanku tersebut.
“Oh iyaa lupa kasih tahu. Okee thank you sudah diingetin. Jadi untuk pengumpulannya tiga hari dari hari ini ya. Terus kumpulnya nanti kirim ke line atau whats app aku dalam bentuk pdf ya. Nanti line sama whatsappku aku bagi nanti.” Jawab Kak Jeff pada temanku tersebut.
“Sekarang kalian langsung urut nomer absen, ke mikroskop kalian masing-masing ya. Nomer terkecil dimulai dari mikroskop yang sebelah kiri sini.” Ucap Kak Jeff memberikan instruksi kembali pada kita.
Aku langsung menuju ke mikroskop tempat aku praktikum kali ini.
Aku menyiapkan mikroskopku agar siap aku gunakan.
Setelah itu, aku langsung memasang preparat di meja preparat mikroskopku lalu aku mencoba mencari dan mengamati preparat pertamaku.
“Drett.. drettt…” Tiba-tiba ponsel yang ada di sakuku bergetar tanda ada chat masuk.
Seketika aku langsung berhenti mengamati preparatku dan mengambil ponselku karena aku yakin ini pasti Angel yang membalas chatku.
Angel: Hehehehe aku gapapa Claire
Angel: Td aku sakit perut, jd aku di kos ke toilet dlu trus kelupaan ga liatin jam
Angel: Semangat praktikumnya Claireee …
Saat aku masih mau menjawab chat Angel, tiba-tiba,"Srett" Ponselku ditarik oleh seseorang yang ada di sampingku.
“Jamnya praktikum, bukan balesin chat." Kata Kak Jeff sambil memegang ponselku.
“Ehh Kak, itu aku cuma mau balesin temen aku bentar aja.” Jawabku padanya dan dia mencoba melihat apa yang sedang ada di layar ponselku.
__ADS_1
“Nanti masih bisa. Kerjain praktikummu yang bener dulu.” Kata Kak Jeff sambil melangkah ingin meninggalkan aku dengan ponselku yang tetap ada di genggamannya.
“Kakk, tapi kan nanti hasilnya aku perlu foto. Aku perlu ponselnya.” Kataku sedikit membantah Kak Jeff sambil reflek aku memegang tangan Kak Jeff untuk menahan agar dia tidak pergi.
Kak Jeff sedikit terkejut dan melihati tanganku yang masih memegangi tangannya.
“Ehh maaf Kak. Tapi Kak, ponselku boleh dikembaliin gak. Aku perlu beneran Kak.” Kataku saat melepas tangannya.
“Pinjem dulu. Ponselku rusak." Kata Kak Jeff yang membuatku tidak percaya.
“Nih lihat kalau gak percaya.” Sambung kak Jeff saat melihat aku yang meragukannya sambil mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya yang terlihat retak dan mati saat dia tekan tombol yang ada di sampingnya.
“Pinjemnya tapi berapa lama Kak?” spontan tanyaku padanya.
“Buat praktikum ini doang, kan aku harus dokumentasiin hasil kalian satu-satu. Dah gak usah bawel. Aku gak akan apa-apain ponselmu. Fokus sana praktikumnya kalau sudah panggil aku." Kata Kak Jeff meninggalkanku begitu saja sambil membawa ponselku mendatangi salah satu temanku yang memanggilnya.
Aku merasa gelisah ponselku berada di tangan Kak Jeff karena selama ini aku hampir tidak pernah ponselku aku pegangkan pada orang lain selain adekku. Bahkan orang tuaku pun tidak pernah menyentuh ponselku.
Akhirnya aku mengusahakan diriku untuk bisa fokus dengan praktikumku agar praktikumku bisa cepat selesai.
...--------...
Jefferson:
Aku cukup kaget ketika dia tiba-tiba pegang tanganku, entah mengapa badanku seperti keringat dingin rasanya. Jantungku juga langsung berdetak lebih cepat.
Sebelum dia menyadari akan hal itu, makanya aku berusaha untuk cepat-cepat langsung pergi dari dia.
Sebenarnya aku masih merasa agak tidak enak membawa ponselnya langsung seperti ini padahal kita belum akrab. Tetapi aku bingung untuk mendokumentasikan kerjaanku nanti ini bagaimana dan menurutku paling aman pinjam dia karena dia pasti tidak akan macam-macam dengan data-data yang perlu aku simpan untuk aku nilai.
“Drettt... Drettt...” Getar ponsel yang ada di genggamanku ini.
Ternyata ada notif chat masuk, aku merasa bimbang mau melihat atau tidak. Akhirnya aku mencoba melihat dari luat tanpa membuka chat tersebut.
Kelvin: Claireeeee
Kelvin: Minggu ini kalau misal hari Jumat atau Sabtu kmm yg kosong kpn?
Hmm ... cowok. Bentar, nih namanya Kelvin. Oh apa-apa nih orang yang selalu keluar sama dia selama ini ya? Kan kemarin dia panggilnya “Vinn” gitu ya.
Okee bodo amat, gak usah lu pikirin Jeffff.
...--------...
Kini preparat pertamaku sudah aku dapatkan dan aku sudah siap untuk diperiksa dengan Kak Jeff. Aku langsung memanggil Kak Jeff saat itu juga.
“Sudah?” Tanya Kak Jeff saat datang ke tempatku.
“Sudah. Ini preparat yang pertama,” kataku pada Kak Jeff.
Aku langsung minggir dari tempat dudukku dan membiarkan dia duduk di tempatku untuk melihat langsung hasilku.
“Okee lanjutin yang kedua.” Katanya setelah memotret hasilku yang pertama. Aku hanya menganggukkan kepala dan langsung duduk kembali di tempatku.
__ADS_1
Aku langsung mengganti preparat pertamaku dengan preparat yang kedua dan mengamati lagi hingga menemukan apa yang aku cari.
Ketika aku sudah mendapatkan hasilnya, aku langsung memanggil Kak Jeff dan dia seperti sebelum-sebelumnya langsung duduk di tempatku dan memotret hasilku lalu menyuruhku untuk melanjutkan lagi.
Akhirnya, ini adalah preparat terakhirku untuk praktikum hari ini.
Aku langsung memanggil Kak Jeff dan dia datang. Belum sempat aku pindah dari tempat dudukku, dia langsung dari posisi berdiri membungkukkan badannya untuk melihat ke preparat yang ada di mikroskopku.
Seketika tubuhku menjadi kaku dan jantungku terdengar berdetak lebih kencang karena kini Kak Jeff berada sangat dekat dengan diriku.
“Okee, dah kelar kan? Beresin semuanya kayak semula ya.” Kata Kak Jeff menoleh tepat dihadapanku setelah selesai melihat dan memotret hasilku.
“Ehh ii-yyaa Kak,” kataku dengan gugup.
“Kak ponselku?” Mataku sambil menyodorkan tanganku tanda aku meminta balik ponselku.
“Bentar, dikit lagi temen-temenmu selesai aku langsung balikin.” Kata Kak Jeff lalu meninggalkanku menuju ke tempat temanku yang lain.
Setelah selesai membereskan semua yang sudah aku pakai, aku hanya bisa duduk terdiam di tempatku.
Tiba-tiba kini aku ingat, bahwa Angel tadi belum aku balas chatnya dan aku juga belum memberitahu Aurel dan Grace.
Seketika aku mencoba untuk datang ke tempat kelompok Grace, untuk memberitahu tentang Angel.
“Gracee… Gracee…” Kataku dengan sedikit berbisik saat sampai di dekat meja kelompoknya.
“Kenapa Claire?” Tanya Grace mendatangiku.
“Kamu sudah dikasih tahu Angel gak? Dia tadi katanya lagi sakit perut aja. Aku tapi belum balesin chatnya, cuma sempet ke read doang,” kataku menjelaskan pada Grace.
“Aku belum buka ponsel sama sekali, takut kena tegur Kak Theo,” jawab Grace.
“Oh ya dah, nanti aja deh habis praktikum ini kita langsung ke Angel aja,” kataku pada Grace.
“Ehemm… Grace ngapain di pojokan situ?” Tegur Kak Theo pada Grace.
Mendengar itu aku langsung dengan sedikit berlari dan tetap menunduk kembali ke meja praktikumku dan aku tidak tahu sedangkan Grace bagaimana.
“Dug.” “Awwhh.” Erangku sambil memegang kepalaku yang membentur punggung seseorang.
“Kamu gapapa?” Tanya seseorang dengan suara berat yang ada di depanku.
“Hehehehehe Kak. Gapapa kok.” Kataku dengan senyum menunjukkan gigiku dan aku langsung berniat untuk kembali ke tempatku.
“Dari mana kamu? Jalan-jalan ke kelompok lain ya?” tanya Kak Jeff menghalangi jalanku.
“Maaf Kak. Tadi ke tempat Grace sebentar doang.” Kataku dengan tetap memegangi kepalaku yang terasa cukup sakit membentur punggung Kak Jeff yang cukup keras menurutku.
“Nih.” Kata Kak Jeff mengembalikan ponselku.
“Nanti aku chat kamu kalau ponselku dah bener. Foto-foto praktikum yang banyak itu jangan diapa-apain dulu ya. Nanti kalau ponselku dah bener aku minta kirimin fotonya, kirimin semuanya ya. Jangan kamu ganti-ganti itu nilai-nilai yang sudah aku coret-coret di foto itu. Thanks.” Kata Kak Jeff menjelaskan padaku dan diakhiri dengan berterima kasih padaku.
Setelah mendapatkan kembali ponselku, di tempat dudukku aku langsung membuka ponselku dan membalas chat Angel. Aku beralasan pada Angel bila sinyalku buruk sehingga pesanku tidak bisa masuk-masuk ke dia.
__ADS_1
Setelah itu, aku melihat ada orang lain yang mengirimkan pesan padaku dan ternyata itu Kelvin.
Seketika aku berpikir apakah Kak Jeff tadi ada melihat pesan Kelvin ini ya? Atau dia bodo amat gak buka macem-macem di ponselku ya? Tetapi akhirnya aku memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu karena aku yakin Kak Jeff gak akan aneh-aneh orangnya.