Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 25


__ADS_3

Soal ujian praktikum ini, apa yang dikatakan kak Arthur tadi benar, soalnya tidak terlalu susah sekali untuk dikerjakan.


Aku cukup bisa bekerja dengan lancar, hanya saja ada sekitar dua nomor yang membuatku bingung dan ragu untuk menjawabnya.


Aku sekarang merasa sangat kedinginan berada di sini. Daritadi aku sudah berusaha untuk menahannya dan aku memilih untuk bisa bekerja dengan fokus.


Aku cukup berhasil untuk melakukan hal tersebut, karena aku sekarang sudah selesai mengerjakannya. Tetapi saat aku melihat ke arah jam dinding, waktu pengerjaan masih ada sekitar 15 menit lagi.


Aku akhirnya dengan tetap menahan dingin, mencoba mengecek kembali jawaban-jawabanku dan memikirkan nomor-nomor yang aku bingung saat menjawabnya.


Kak Jeff dan para asdos yang lain kini diperintahkan Dokter Kevin untuk mengecek identitas kita karena Dokter Kevin tidak mau ada mahasiswa yang tidak menuliskan identitas dengan lengkap.


“Kamu gapapa?” Tanya Kak Jeff saat ke mejaku untuk mengecek lembar jawabku.


“Gapapa Kak.” Kataku dengan tetap menunduk karena kini kepalaku terasa cukup pusing.


“Kok kayaknya mukamu agak pucat ya.” Celetuk Kak Jeff sambil memeriksa lembar jawabku dan sesekali menoleh ke arahku.


“Mungkin karena semalam kurang tidur. Aku kecapean Kak.” balasku menjawab Kak Jeff.


“Di nomer satu sampe sepuluh, coba cek lagi, yang kamu jawab dengan huruf awal namamu itu ada dua yang salah.” Kata Kak Jeff berbisik ketika mengembalikan lembar jawabku di mejaku.


Aku cukup terkejut karena Kak Jeff lagi-lagi mau membantuku dan soal yang dia maksud itu adalah soal-soal yang memang aku bingung saat menjawabnya. Aku langsung mencoba memikirkan lagi untuk dua nomer itu disisa waktu yang ada ini.


Setelah selesai mengganti jawaban di dua nomerku itu, tiba-tiba kepalaku semakin terasa berat sekali dan badanku seperti mulai gemetar karena kedinginan.


Aku terus menundukkan kepalaku karena bila aku angkat, kepalaku terasa sangat berat sekali.


Tak lama kemudian, aku tidak merasakan apa-apa selain terakhir yang aku ingat pandanganku semakin gelap.


...--------...


Jefferson:


Aku cukup khawatir ketika aku ke meja Claire untuk memeriksa lembar jawabannya karena muka dia tampak pucat. Dia tetapi hanya mengatakan kalau dia sedang kecapean karena semalam kurang tidur.


Saat aku periksa jawabannya, ada dua soal saja yang menurutku sangat sayang kalau tidak diperbaiki karena sedikit lagi dia pasti sudah dapat nilai sempurna.


Setelah melihat ke arah Dokter Kevin yang terlihat sedang tidak di areaku, aku langsung memberitahu Claire secara tidak langsung mengenai dua nomer tersebut.


Setelah dari meja Claire, aku melanjutkan untuk memeriksa ke meja-meja yang lain tetapi mataku tetap tidak bisa lepas dari Claire, karena aku melihat Claire sepertinya sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.


Benar saja, saat aku sudah memeriksa anak kelompokku yang terakhir, aku melihat badan Claire mulai terlihat sempoyongan sambil terus menunduk dan kini badannya terlihat akan jatuh ke arah kanan dari tempat dia duduk.


Aku langsung berlari ke arahnya dan aku masih sempat bisa menangkapnya dengan lenganku.


“Claireee… Clairee ...” Kataku mencoba memanggil-manggilnya sambil menggoyangkan wajahnya.

__ADS_1


Saat aku memegang wajahnya, aku merasakan badan dia dingin sekali. Aku lalu melihat ke atas tempat adanya AC di ruangan ini dan sepertinya dia tidak tahan dengan AC yang dingin ini.


“Kenapa ini?” Tanya Dokter Kevin menghampiriku bersama beberapa teman asdos yang lain.


“Pingsan Dok, sepertinya kondisinya sedang kecapean dan tidak tahan dengan dinginnya AC dok.” Kataku mencoba menjelaskan pada dokter Kevin.


“Langsung bawa saja ke UGD rumah sakit kita di sebelah,” perintah dokter Kevin padaku.


“Jeff, gue bantu lu ya.” Kata Arthur menawarkan bantuan padaku.


“Okee. Bantuin gue buka pintu kelas trus naik lift ntar. Gue gendong sendiri masih bisa." Kataku pada Arthur dan langsung menempatkan Claire digendonganku.


Aku bersama dengan Arhur langsung keluar kelas dan dengan langkah cepat kita langsung memasuki lift.


Saat lift terbuka, ternyata di dalamnya terdapat Daisy dan dua temannya yang selalu mengekorinya.


“Jefff, ya ampun Claire kenapa?” Tanya Daisy dengan suara lembutnya.


“Pingsan," jawabku dengan datar.


“Aku panggilin satpam aja ya. Kamu kayaknya keberatan gitu.” Kata Daisy yang menghalangi jalanku.


“Ga perlu. Minggir gue mau cepet-cepet. Thurr buruan.” Kataku mengusir Daisy dan mengajak Arthur untuk bergerak cepat.


Setelah memasuki lift dan sampai di lantai dasar, aku langsung berlari membawanya ke UGD rumah sakit kampusku.


“Pingsan sus,” kataku memberitahu.


Entah dapat dari mana, Arthur langsung memberikan minyak kayu putih di dekat hidung Claire. Suster perawat mulai melonggarkan sabuk yang Claire kenakan dan aku langsung mencari selimut untuk menghangatkan badannya yang terasa sangat dingin sekali.


Saat aku kembali dengan membawa selimut, ternyata Claire sudah siuman dan Arthur mencoba mengajaknya berbicara.


“Apa yang kamu rasain sekarang?” Tanyaku padanya saat aku sudah di sampingnya.


“Eh masih sedikit pusing aja Kak, sama agak kedinginan.” Jawabnya dengan senyuman tipis tersirat di wajahnya.


Aku langsung menyelimutinya dengan selimut yang ada di tanganku ini.


“Semalem kurang tidur ya kamu?” Tanya Arthur yang dijawab dengan anggukan darinya.


“Kamu kedinginan ya tadi di kelas?” tanyaku menebak.


“Iyaa. Aku gak tahan dingin.” Jawabnya yang seketika membuatku merasa bersalah untuk menyuruhnya duduk di tempat itu.


“Kenapa tadi gak bilang?” tanyaku pada Claire.


"Gapapa,” jawabnya singkat.

__ADS_1


“Ehhh ... Kak aku kembali aja ya. Aku dah gapapa kok." Katanya sambil berusaha bangun dari posisinya.


“Eh kamu yakin Claire?” Tanya Arthur sambil mencegahnya untuk duduk.


“Rebahan dulu aja di sini. Kondisimu masih gitu." Kataku sambil sedikit mendorong dia untuk kembali tidur.


“Gakk Kak. Aku bentar lagi masih ada ujian lagi. Nanti siang kita juga dah janjian loh Kak mau urus nomer telepon karyawan.” Katanya tetap mengelak dan mengingatkan janji yang telah dibuatnya dan Arthur.


“Gapapa, aku sendiri aja kalau gitu bisa kok nanti,” balas Arthur.


“Gak, aku juga tetep harus tanggung jawab Kak.” Katanya tetap keras kepala.


“Aku balik duluan ya Kak. Aku beneran gapapa.” Katanya setelah bangun dari tempat tidur.


“Kita temenin.” Kataku padanya yang tidak dibalas dengannya melainkan dia hanya langsung berjalan keluar dari UGD.


Ternyata dia cukup keras kepala orangnya dan aku entah mengapa merasa dia ada berubah dalam merespon aku. Yang lalu-lalu sepertinya dia gak seperti itu terhadap aku. Dia juga tidak ada berterima kasih sama sekali ke aku ataupun Arthur.


...--------...


Aku merasa cukup terkejut ketika bangun di sampingku ada Kak Arthur dan tak lama kemudian Kak Jeff juga muncul dengan membawa selimut.


Sebenarnya kepalaku masih ada terasa pusing yang membuat badanku terasa tidak enak, tetapi aku tidak mau sampai membuat masalah lagi. Sekarang aku juga masih risih, mereka berdua mengikutiku di belakang hingga sampai kelas.


“Claireeee … omayygatt, lu gimana?” Tanya Grace ketika aku sudah kembali di kelas dan ternyata pelaksanaan ujian praktikum sudah selesai.


“Sudah gapapa kok.” Kataku menjawab Grace dengan tersenyum tipis.


“Kok cepet banget lu dah kembali lagi gini." Kata Aurel kali ini.


“Hstttsttt aku males kalau harus lama-lama sama Kak Jeff, Kak Arthur.” Jawabku pada Aurel dengan suara pelan.


“Ya ampunn jadi lu benernya masih gak enak nih badannya?” Tanya Aurel memastikan kondisiku.


“Cuma ada pusing dikit aja. Gapapa kok tapi.” Kataku meyakinkan teman-temanku.


“Kalau lu masih kenapa-kenapa, bilang aja ya ke kita.” Ucap Aurel yang aku balas dengan anggukan.


“Eh tapi lu tau gak, semua orang kayaknya ngiri deh tadi sama lu Claire. Kak Jeff langsung keliatan khawatir trus langsung gendong lu sendirian gitu. Kak Arthur cuma kayak bantu-bantu bukain pintu aja gitu.” Kata Grace menceritakan kejadian tadi dengan semangat.


“Masak gitu?” Tanyaku masih tidak yakin.


“Tanya nih teman lu yang lain. Iyaa ga?” Kata Grace sambil meminta persetujuan dari Aurel dan Angel yang dibalas dengan anggukan oleh mereka berdua.


“Ah udah lah, sekarang siap-siap ujian selanjutnya aja deh.” Kataku mengakhiri pembahasan tentang aku tadi pada mereka bertiga.


Sekilas aku menjadi berpikir kenapa sebenarnya kak Jeff banyak mau membantu aku ya?

__ADS_1


__ADS_2