
Kelelahan bukan lagi halangan, Warti terus mendorong gerobak menuju rumah lama. Tempat tinggal mereka sewaktu belum ada terjadi peristiwa demi peristiwa.
Nafas pendek, memacu detak jantung mereka dengan cepat. Namun tetap melanjutkan langkah mereka.
"Mak.... sakit mak..."
"Ndhuk, sabar ndhuk.. kita sudah sampai." Surip membuka pintu gedhek yang sudah sedikit rapuh.
"Yu... kita sampai yu.. yang kuat yu" Warti memegang puncak kepala Sundirah, dan mengelus perut nya.
Sundirah menahan rasa sakit, dan memejamkan mata. Tangan nya meremas ujung kain yang ia kena kan. Air mata meleleh pelan di pelipis kanan dan kirinya.
Surip mengganti kain yang di pakai Sundirah, dengan kain yang bersih. Perasaan Surip sangat cemas, sebab dia yakin air ketuban Sundirah sudah pecah.
Dengan pencahayaan yang minim, mereka membersihkan tempat untuk persiapan Sundirah melahirkan.
********
Mahendra memasuki rumah utama, di susul Atmosiman.
Mahendra menatap kobaran api, dengan pandangan mata nanar. Dia lari masuk kedalam, mencari dimana Sundirah dan Suwarti berada.
Segala penjuru ruangan sudah ia teliti, namun tidak tanda tanda adanya manusia
Karmilah, Lemas tidak berdaya melihat kekacauan yang ada. kaki-kaki serasa tidak bertulang, lidah kelu, jangan kan berteriak, berucap sepatah katapun ia tidak mampu.
Sedang kan Slamet membaur dengan yang lain nya untuk memadamkan kobaran api.
Menjelang subuh, bara api itu tidak kunjung padam juga. Gudang kopra rata dengan tanah, beruntung tidak merembet ke bangunan lain, termasuk rumah utama.
Suara Kokok ayam pun enggan bersahutan, seakan mereka ikut berduka atas semua kejadian semalam.
"Ayah... Sundirah, kemana mereka?" Mahendra bersimpuh di lantai. Rasa frustasi, ketakutan akan kehilangan Sundirah kembali menghantuinya.
"Tidak mungkin penculikan juga terjadi pada Dirah, semua tidak ada sangkut pautnya."
"Siapa dalang ini semua, apa kaitannya dengan keluarga ku?" Atmosiman geram sambil mengepalkan tangan ia berkata.
"Mas.... Sundirah harus segera kita temukan, kalau tidak" Karmilah menghentikan kata-katanya, karena melihat langkah Slamet yang berlari menuju arah nya.
"Ndoro...! sapi sapi yang ada di kandang lepas semua. akan tetapi, saya menemukan selendang yang di pakai Surip berada di sekitar kandang." Suara Slamet ngos-ngosan.
Begitu mendengar kata-kata Slamet, Hendra bergegas ke belakang dan di susul Atmosiman.
Karmilah mengamati, meja di sebelah. kain kain lipatan berserak sebagian di lantai.
"Pak Slamet....!"
"Nggih nyonya!"
"Apakah jejak lain nya tidak ada?"
"Kita belum, bisa memastikan nyonya! sebab, pekarangan belakang masih sedikit gelap. Kita tunggu saja sebentar lagi."
Karmilah merasa kecewa dengan jawaban Slamet. Lalu beranjak menyusul ke kandang sapi di bangunan paling belakang.
Sinar mentari seakan enggan menyinari desa jatilengger, Kabut tipis sisa kebakaran, menyisakan bau yang menyengat. Para pekerja, dan masyarakat masih bahu membahu memadamkan bara api.
__ADS_1
"Ndoro..." seorang pekerja muda mendekati Atmosiman.
"Silahkan! apa yang hendak kau beritahukan kepada kami." Pelan suara Atmosiman.
"Kebetulan, adek saya baru datang dari desa Mbelik. Dia menceritakan, di rumah pak Dhe Suyud ada yang menempati." Pekerja muda itu bicara sambil menundukkan kepala.
"Maksudmu? rumah kang Suyud ada yang menempati?" Karmilah menyela pembicaraan mereka.
"Nggih nyonya."
"Ayah... saya akan ke sana."
Tidak menunggu persetujuan, Mahendra sudah bergegas melangkah. Atmosiman berdiri dan melepas blangkon yang ia kenakan semalam.
"Pergilah,! Slamet temani hendra, kami akan menyusul setelah ini."
"Nggih ndoro." Slamet pun berlari kecil mengejar Hendra yang sudah terlebih dulu naik di atas dokar.
Dokar di pacu dengan kencang, mengarah ke rumah tempat tinggal Sundirah semula.
#Kita tinggalkan Sundirah dulu, kita ikuti ****suasana**** di rumah Djaelani, setelah penculik Sulastri dengan komplotan Sardi#
Sulastri tidak sadarkan diri, kejadian itu begitu cepat. Dua orang sudah berada di dalam kamar pengantin, ketika mereka memasuki kamar, Untuk ganti busana. Dua wanita yang membantu merias manten pun terkulai dengan mulut di sumpal dan tangan mereka terikat di kaki-kaki tempat tidur.
Satu diantara mereka, menyekap mulut Sulastri dengan kain yang sudah di beri cairan chloroform.
Dan yang satunya lagi bertugas untuk memperdaya Harjito. terjadi duel yang tidak seimbang tenaga di dalam kamar, Harjito terkena sabetan belati di rusuk sebalah kanan jito.
Tapi sosok penyerang pun juga terkena pukulan keras, Harjito memukul dengan menggunakan Bokor Kuningan, tempat bunga yang tebal dan berat.
Pengejaran mengarah ke segala penjuru, Harjito mengejar dengan segala kekuatan yang ia miliki.
Menjelang matahari terbit. Para anak buah Suprapto kembali, termasuk Naris.
Dan kali ini pengejaran di beberapa penjuru desa membuahkan hasil.
Satu laki-laki berbadan tegap, bermuka bonyok membiru dan berdarah pada mulut dan hidungnya. Dan yang satunya lagi berbadan tegap namun sedikit kerempeng. Dia bahkan tidak mampu berdiri karena kaki-kaki nya di pukuli kawanan masyarakat yang sudah berhasil menangkap mereka.
"Katakan...! Siapa yang telah menyuruhmu! kemana kalian membawa pengantin wanita lari?" Naris menjambak rambut gondrong pemuda tegap berlumuran darah itu. Hingga kepalanya mendongak ke belakang, dan wajahnya meringis menahan sakit.
"Ampun tuan... Saya tidak tau.."
" jangan pukul saya..." laki-laki itu mengiba.
Plaak..bugh...
Harjito memberikan pukulan berkali-kali kepada berandalan itu.
"Siapa yang menjadi majikan mu, untuk membuat keonaran disini."
"Katakan....! kemana kalian bawa Sulastri?" Bentak Harjito lagi.
"Kami tidak akan mengatakan nya." Suara pelan, lelaki kerempeng itu sambil meludah di lantai.
Plak...plak..
"Kurang ajar sekali mulut mu heh..! Harjito benar benar kehilangan kesabaran. Luka di rusuk sebelah kirinya pun tidak ia rasakan.
__ADS_1
"Kalian tenang saya, tidak perlu mencari, maupun bimbang."
" Pengantin wanita aman, ha...ha.. ha..." berandal kerempeng itu rupanya bernyali baja juga.
"Jangan memancing kemarahan kami, atau... kamu akan kami ikat di tiang hingga mengering tubuh kalian, terpanggang dengan panasnya matahari." Naris merasa gemas di buatnya.
"kalian harusnya, membunuh si tua bangka lurah Djaelani itu!, dia yang membuat keonaran ini terjadi."
"Apa maksudmu...! Harjito duduk sejajar dengan laki laki itu. Ia menoleh ke arah Djaelani, lalu mereka saling beradu pandang
"Sekali lagi, katakan! siapa yang menyuruhmu?"
"Aku tidak akan mengatakan." Sungut laki-laki itu sambil mendengus kesal.
"Baik... ikat mereka di pelataran, hingga menjelang sore." Naris yang juga kehilangan kesabaran memerintahkan beberapa pemuda, untuk mengikat ke tiang di depan pelataran rumah Djaelani.
Harjito di landa kekalutan yang luar biasa, luka pada rusuk nya tidak ia hiraukan.
Naris mendekat...
"Jito... kita akan berusaha bersama-sama. kita kerahkan beberapa pemuda, dan kita mencari informasi dari mereka berdua." Naris duduk berdampingan dengan Jito.
"Kang.... ini perbuatan siapa? kebakaran juga terjadi di gudang kopra ndoro Siman."
"Dalang semua ini, sudah jelas lurah Djaelani yang mengawalinya. Sebab semua ada keterkaitan dengan Lurah Djaelani." Naris memberikan pengetahuan dalam pikiran nya.
Sedangkan, di dalam rumah Djaelani.
Djaelani mengenggam erat tangan Ratmini. Mata Ratmini terpejam rapat , kaki dan tangan dingin sedingin es. nafas Ratmini pelan dan tidak teratur.
"Ibu... ini kesalahan ku, aku telah menuai nya. Buka matamu ibu." Djaelani tidak sanggup melakukan apapun. Anak perempuan nya di culiik belum tau keberadaan nya, sedangkan ibunya lemah, sekarat.
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, penyesalan selalu pada akhir cerita.
Dargo juga tidak beranjak dari pembaringan Ratmini. kesedihan terlukis jelas, sesekali matanya nanar menatap kearah sang Ayah. Kebencian memudarkan rasa hormat, dan kasih sayang.
"Apapun yang terjadi, Dia adalah ayahmu. Dia pengukir jiwa dan raga sejati mu" Kata-kata Ratmini selalu menepis rasa benci itu.
Di saat batin Dargo berkecamuk antara kebencian dan menghormati. Tiba-tiba tubuh Ratmini mengejang, nafasnya tersengal-sengal, perlahan melemah dan melemah.
"Nenek.....!" Dargo berteriak sekuat tenaga, siapapun yang mendengar terkejut dan beranjak mendekat.
Djaelani buru-buru mendekat dan memegang nadi Ratmini yang sudah tidak berdenyut.
Ratmini telah berpulang dengan duka yang mendalam.
...****************...
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana. Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, akan tetapi penggunaannya sudah dilarang karena telah terbukti dapat merusak liver dan ginjal.Β
...----------------...
π₯Ίπ₯Ίπ€§π€§
Tetap minta dukungan komen, rate βποΈ, like ya kakak-kakak semua.
Sedang berkabung nih, nenek panutan terbaik telah berpulang.
__ADS_1
selamat jalan nenek Ratmini.π Pesan mu akan selalu teringat, sampai kapan oun.
Salam sayang π€by Rhu π