SUNDIRAH

SUNDIRAH
Mata-mata Sardi


__ADS_3

Dengan semangat akan bertemu keponakan, Paini menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut mereka.


Rasa kangen dan ingin mengendong Teguh kecil, yang sedari lahir hingga selapan belum pernah berjumpa, sebab sama-sama mendapatkan musibah.


Berbagai masakan ia sediakan, nasi jagung, ikan asin, sayur rebung, urap-urap, dawet srabi, lengkap dengan buah-buahan hasil petik sendiri.


Dari semula kirab menuju ke tempat tinggal Harjito, berubah haluan menjadi ketempat yg tinggal Paini, karena esok nya Atmosiman bersama Karmilah akan berbagi berita bahagia dengan Paini, menyangkut pernikahan Sundirah dan Suwarti.


Dokar berjalan melambat, Surip turun lebih dulu lalu membantu Sundirah yang sedang menggendong Teguh.


Mahendra menurunkan satu persatu, bekal maupun buah tangan untuk Paini dengan Sulastri.


Sundirah ada rasa yang tertinggal, dia menoleh ke belakang dan melihat Suwarti masih asyik dalam lamunannya.


"Mbok! Suwarti kenapa diam saja? apa yang terjadi dengan nya." Sundirah berjalan kembali kedepan di mana dokar parkir di halaman depan, setelah menyerahkan Teguh kepada Surip.


"Warti... Warti..! Kenapa dengan mu ndhuk." Sundirah mengguncang tubuh Suwarti yang terbengong.


Duh...brug krompyang


"Aaaakh...yu.. sakit!" Warti yang masih asyik melamun kan prayuda, hingga tidak sadar dokar sudah berhenti.


Ia terjatuh sambil duduk di lantai dokar, pucat pasi wajah Suwarti menahan malu, sedangkan di depan pintu, Mahendra bersama Slamet tergelak melihat ulah Suwarti.


"Ya ampun Warti! melamun nya sudah, nanti mas Yuda nya bersin-bersin terus loh." Ejek Sundirah, menahan senyum dengan melihat ulah Suwarti yang super konyol.


Jelas saja Suwarti malu dengan ulahnya sendiri, Ia bangkit lalu nyelonong masuk ke dalam rumah, setelah Salim sama Paini.


Tidak lama Sulastri bersama Harjito terlihat juga sampai di rumah Paini, dengan mengendarai sepeda onthel nya.


Mereka temu kangen, dan saling berpelukan melepas rasa rindu, dan saling bercerita.




Kebahagiaan Sundirah bersama keluarga kecilnya, berbeda dengan cerita kegundahan yang di alami Sulistyowati.


Semenjak pertemuan dan perpisahan dengan Naris, ia bahkan sering mengharapkan suatu saat akan terjadi pertemuan kembali dengan Naris.

__ADS_1


Secara tanpa di sadari pertemuan antara Naris dengan Sulistyowati bertautan dengan kejadian yang menimpa Sulastri.


Jupri sebagai pemilik rumah sekaligus menjalankan usaha ijon yang ia tekuni selama ini, di samping ia juga penjudi sabung ayam. Akan tetapi ia bisa memilah mana untuk kesenangan dan mana untuk kewajiban.


perjalanan bolak balik tempat tinggal anak dan istrinya, ke tempat usaha yang saat ini cukup menyita waktu. Maka, ia berfikir untuk memboyong, saudara wanita satu-satunya untuk melanjutkan usaha dan bertempat tinggal bekas milik lurah Djaelani tersebut.



Sementara di sisi lain mata-mata Sardi berseliweran di desa kawedusan dan sekitarnya. Penculikan gadis belia sering terjadi, namun juga tidak mudah untuk melarikan diri bagi mereka.


Pengamanan desa, bergilir warga melakukan perondaan di setiap sudut.


Patroli setiap saat juga selalu di galakkan.


Hanya orang suruhan Sardi dan Tunggak yang sering mengawasi jalanan dan mencari informasi tentang Sulastri.


Di suatu tempat sebuah gardu yang biasa untuk mangkal para petugas ronda, duduklah seorang laki-laki masih muda. Dengan intens memandang setiap pergerakan, dan keluar masuk para pekerja di tempat Jupri.


Jupri yang belum beranjak dari tempat tersebut, juga sedang memperhatikan siapa gerangan yang sedang sedari tadi mengamati tempat tinggalnya.


"Siti, aku rasa tempat ini tidak aman bagimu. Aku tidak mungkin meninggal kalian di sini sendiri."


"Tapi jangan khawatir, aku akan mencari orang untuk menjaga dan melindungi kalian disini."


"Kang Jupri, aku khawatir dengan Sulis juga. Aku ndhak mau kejadian seperti tempo hari kembali terulang." Siti kembali teringat penculikan Sulis, walaupun target salah sasaran akan tetapi trauma tergambar jelas jelas.


Jupri memanggil beberapa pekerja, untuk mengawasi pria asing di yang setiap jam-jam tertentu duduk dalam gardu ronda itu.


"Kalian semua berjaga lah di lingkungan tempat kita, aku akan menemui tuan Suprapto." perintah Jupri kepada mereka.


"Cermati apapun yang kalian anggap mencurigakan, Sebab pentolan penjahat yang sebenarnya belum tertangkap." Sambil berucap pesan, Jupri melangkahkan kaki keluar dari bale-bale.


Sulis yang melihat gerakan cepat sang paman, ia merangsek masuk ke bale bale.


"Mak.. emak! ada apa dengan paman? sepertinya beliau tergesa-gesa." Sulis mendapati Siti sedang berbicara dengan salah satu pekerja, untuk memindahkan kopi, maupun gabah menuju gudang yang baru di bangun beberapa hari lalu.


"Sulis, kamu alangkah baiknya jangan keluar rumah dulu ndhuk, sepertinya desa ini sangat tidak aman bagi anak perempuan seperti mu." Siti kembali menghawatirkan Sulis.


Sulis kembali teringat kejadian yang menimpanya satu bulan lalu, dan kembali mengingatkan akan sosok Naris, yang pernah menolongnya dan sempat ia rindukan. Namun apa daya kini harus ia kubur dalam-dalam, sebab ia sadar tidak mungkin mereka akan berjumpa.

__ADS_1


Para pekerja suruhan Jupri mengamati dari jauh gerak gerik orang aneh tersebut, Sedang kan orang yang di duga suruhan Sardi itupun juga sadar bila sedang di awasi.


"Hei anak muda, siapa kamu, apa yang membuatmu mengawasi pergerakan rumah tuan Jupri." Tegur salah satu pekerja yang lebih di panggil dengan sebutan mandor gudang ijon.


"Ini tempat umum, dan aku tidak pernah menginjak kan kaki ku ke tanah pekarangan yang kalian tempati. Apa hak mu melarang ku duduk di gardu ini." Jawab laki-laki asing itu ketus.


Tentu saja, pekerja itu sedikit naik pitam mendengar jawaban laki-laki asing itu. Sontak ia berjalan mendekat, dan mengamati dengan tatapan tajam.


"Mau apa kamu! Aku tidak berurusan dengan mu."


"Pergilah dari tempat ini, jangan pernah mengganggu ketenangan warga disini. Sebelum kami bertindak dan membahayakan nyawa kamu" Ancaman pekerja itu membuat ciut nyali pemuda asing itu.


"Aku hanya mencari wanita bernama Sulastri, katakan dimana dia." Rupanya pemuda ini masih belum menyadari, ketika dia menyebut nama tersebut. secara tidak langsung dia akan menjadi sorotan.


"Pulanglah, dan jangan mendekat ke sini lagi! Todak ada wanita yang kamu maksud itu, disini hanya ada Ning Sulistyowati."


"Pergi sekarang sebelum kamu mendapatkan keroyokan warga setempat." Sambil berkata memberi peringatan perkerja itu pun membalikkan badannya lalu melangkah masuk kedalam pekarangan rumah Jupri kembali.


Sedangkan si pemuda itu mencerna baik-baik kata-kata perkerja itu, bahwa ini adalah tempat tinggal seorang gadis yang bernama sulistyowati, nama yang tidak asing pada pendengaran nya.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba tidak akan aku sia-siakan berita ini, ha...ha ..ha"


"Tunggu lah! sebentar lagi tangisan dan jeritan akan menghiasi hari-hari kalian." Ia pun beranjak meninggalkan gardu tersebut, dengan membawa sejuta senyuman kejahatan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Mohon maaf Mak emak, Akak, Abang..


up agak slow🙏


Body Rhu sedang letoy, terbaring lemah di ranjang nya pak dokter🤧 mikirin cinta nya si Sardi 🤣🤣.


Ayuk kak vote please 🙏 rate ⭐🖐️ maupun jempol kakak penyemangat kelanjutan kisah Sundirah 😘😘


and I love you all.

__ADS_1


__ADS_2