
Jupri berpura-pura meminum kopi dalam cangkir itu, lalu pelan ia berdiri dan menuju tempat dimana Sulis dan Siti berada.
Pemuda suruhan Tunggak sedikitpun tidak menaruh curiga, dengan gerak-gerik Jupri yang seolah-olah nikmati suguhan pagi hari.
Pemuda itu berpura-pura melakukan pekerjaan memindah kan karung-karung goni ke dalam gudang.
Jupri memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk mendekat, lalu mereka berjalan berdua. Jupri membawa pekerja itu masuk ke dalam rumah utama.
"Le.. kamu tau pemuda yang memakai ikat kepala itu? siapa dia, ada berapa orang yang kamu ketahui." Jupri membawa pekerja itu untuk mengintip melalui celah-celah dinding penyekat ruangan.
"Loh bukannya itu pekerja ndoro Jupri yang baru! ada beberapa orang ndoro, mereka berada di luar gudang dan halaman depan." Penjelasan pekerja itu cukup mengagetkan Jupri.
Lantas Jupri manggut-manggut mencari solusi bagaimana untuk melakukan perlawanan terselubung, agar tidak terjadi kegaduhan yang akan memicu, pergerakan gerombolan Tunggak mengarah ketempat tinggalnya.
"Berapa orang sepengetahuan mu di luar sana?" Tanya Jupri pelan dan santai.
"Di gudang ada satu ndoro, lalu di luar gudang ada dua, dan di halaman gapura ada dua, mereka lima orang den." Jawab pekerja itu sambil menunduk kan kepala hormat.
"Baik! Kamu pelan-pelan bisikan kepada teman kerjamu, untuk membantu kewaspadaan kita. Mereka bukan pekerja ku, tapi mereka penyusup yang berniat buruk hendak menculik Sulistyowati." Jupri memegang pundak pekerja itu.
"Jangan ada yang makan, makanan dari dapur sebab makanan itu sudah mengandung racun."
"Baik ndoro, kami juga akan waspada, sebab kemaren ada kang Naris yang mewanti-wanti keamanan di tempat kita. Kalau begitu saya akan menginfokan ini kepada teman-teman lain nya." Jawab pekerja itu serasa membetulkan letak capil bambu yang ia kenakan.
Pekerja itu berlalu sambil membungkukkan tubuhnya, menuju ke gudang dan memberikan pesan Jupri kepada setiap pekerja dengan hati-hati.
Jupri sendiri berlalu mencari adek perempuannya, dan Sulistyowati. Mereka sedang asyik menyiapkan busana untuk menghadiri pesta pernikahan Sundirah dan Suwarti besok.
"Ndhuk, kamu sudah besar sudah cocok untuk di pinang." Siti bicara pelan, sambil menyisir rambut panjang Sulistiowati.
"Emak mau menjodohkan saya...?" Jawab Sulis yang tiba-tiba hilang semangat.
"Ya, kalau kamu sebagai perawan kasip, tentu emak akan menjodohkan mu. Dengan persetujuan paman Jupri tentunya." Siti menyembunyikan senyumannya.
__ADS_1
"Ndhuk, pernikahan yang hebat bukanlah ketika 'pasangan sempurna' bersatu. Saat itulah pasangan yang tidak sempurna belajar untuk menikmati perbedaan mereka. Cinta tidak mengenal hambatan. Ia melompati rintangan, melompati pagar, menembus tembok untuk sampai pada tujuannya dengan penuh harapan."
"Mereka mengatakan seseorang hanya membutuhkan tiga hal untuk benar-benar bahagia di dunia ini. seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan.” Siti menghentikan tangan-tangan yang sedang menyisir rambut panjang Sulis, dan membalikkan tubuhnya agar menghadap nya lalu menjewer telinganya.
"Sudah kamu manut aja, biar enak kedepan nya."
"Tapi saya mencintai seseorang Mak, apa itu salah?" Sulis menatap mata emak nya seraya memelas.
eehemm...
Mereka membalikkan tubuh bersamaan. "Kang, ada apa? sampean sepertinya menanggung sebuah beban?" Siti menyelidik ke arah jupri.
"Siti kalian waspada di dalam rumah, karena rumah kita terdapat penyusup, dan terutama kamu Sulis, jangan pernah berinteraksi dengan orang lain. Ataupun keluar seorang diri dari rumah ini."
"Rumah kita ada beberapa penyusup suruhan dari Sardi dan Tunggak."
"Sebaiknya kalian berkumpul dengan para perempuan dan menyatu pada satu tempat yang aman, Siti! Bawa mereka menghindar dari bahaya, pergilah ke gudang kopi di sana ada pengamanan, Naris bersama lain nya akan segera datang." Jupri mengintruksikan kepada Siti.
Jupri meninggalkan kamar mereka, dan menuju keluar rumah, dan tidak lama Yanto sang adik juga datang. Beberapa hari silam sudah mendengar berita tentang akan terjadi pengintaian di rumah Jupri.
Kembali matahari hampir saja menyembunyikan sinar hangat nya, dengan hati-hati Jupri bersama para pekerja dan Naris yang baru saja datang bersama anggota keamanan. Bergerak pelan namun pasti, mereka harus melakukan penangkapan tanpa harus ada kegaduhan, dan akan membuat kepanikan anggota keluarga lain nya.
bugh...bugh.. aakkhh...
Satu penyelundup berhasil mereka lumpuhkan dengan beberapa kali pukulan dan tanpa perlawanan berarti.
Dan memasukkannya kedalam ruang tahanan sementara di samping bale-bale yang memang sudah ada sejak Djaelani menjabat sebagai lurah desa pada waktu itu.
Jupri dan lainnya menyerang secara bersembunyi dan menghalau dari belakang. Semua kawanan Sardi itu babak belur dan tidak berdaya, darah segar berceceran di mana-mana.
Dan tidak memakan waktu hingga tengah malam, mereka sudah takluk dan tersungkur bahkan ada yang pingsan, karena tidak tahan dengan rasa sakit.
"Katakan! apa maksud kalian menyelundup masuk kedalam area kami."
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh kalian, dan apa motif kalian." Jupri bertanya dengan geram. Dan tidak satupun dari mereka yang mau menjawab, membuat kemarahan Jupri memuncak.
"Tolong ambil kan aku jeruk nipis dengan garam. Biar membantu mereka membuka suaranya." Seorang pekerja lari dengan sigap mengambil pesanan Jupri.
"Karena ulah kalian, kami merasa tidak aman dan nyaman. Jangan enak nya saja yang kalian rasakan, kalian juga harus menikmati sedikit keperihan mereka yang tidak ada seberapa perihnya ini." Dengan berucap begitu Jupri memeras jeruk nipis dan menebarkan garam pada luka mereka.
Jeritan panjang mereka terdengar menyakitkan. "Jangan siksa saya tuan Jupri, bunuh saja saya. Atau kalian akan menyesal bila boss kami mengetahui semua ini." Masih juga ada kata ancaman dari mulut mereka di saat mereka sudah tidak berdaya.
Satu sayatan maka satu kucuran jeruk nipis dengan taburan garam. Yanto yang tidak tahan dengan perbuatan Jupri menyingkir dari dalam ruangan itu.
"Aku bukan penegak hukum, dan aku bukan pencabut nyawa. Beginilah rasa gadis-gadis tidak berdosa yang kalian tangkap. dan kalian gagahi kesuciannya." Jupri meludah di wajah para bajingan bayaran itu.
"Aku malu sebagai seorang laki-laki melihat kalian yang berjiwa picik seperti ini. Tunggulah keadilan akan berbicara pada kalian."
"Kalian semua...! ikat para laki-laki jahanam ini dengan rantai, dan biarkan mereka di luar halaman. hingga yang berwajib mengamankan mereka " Perintah Jupri kepada anak buahnya, lalu mereka bergerak dengan sigap.
"Dimana kang Sardi dan lain nya, beri kami jawaban, kalau tidak! jangan harap masa depan mu akan menikmati nikmatnya jeritan wanita-wanita j*lang kalian." Gertakan Naris tidak main-main, sebab kaki kokoh Naris sudah siap-siap menginjak arem-arem bungkus daun pisang milik bajingan yang sudah terkapar itu.
Tentu saja bajingan itumengerut Sambil membayangkan rasa ngilu daripada kucuran jeruk nipis dengan garam yang baru saja ia rasakan.
"Beri aku keringanan hukuman kang, saya akan memberikan jawaban." pemuda itu mengiba kepada Naris.
"Katakan...!"
"Kang Sardi esok pagi akan membuat keonaran di kediaman ndoro Atmosiman, dan akan menculik Ning Lastri, lalu kang Tunggak pada tengah malam ini akan menguasai kediaman mantan lurah Djaelani yang sekarang di tempati tuan Jupri, dan menculik ning Sulistyowati." Jawaban yang komplit, namun sangat mengejutkan mereka.
...****************...
Kain goni terbuat dari serat tumbuh- tumbuhan berupa jute (goni) dan rosella (java jute (goni)). Serat jute didapat dari kulit batang tanaman corchohorus capsilaris dan corchorus olitorius.
Ayo kak 🤣🤣 kita keroyok mereka. kasih jeruk nipis a garam biar kek salmon panggang 🤣🤣
yuk yuk semangat 💪💪💪
__ADS_1