SUNDIRAH

SUNDIRAH
Serangan Tunggak


__ADS_3

Bagaimana tidak! taktik mereka sangat tidak meleset untuk menyatukan keamanan di satu titik sebagai umpan Sardi untuk keluar dari persembunyiannya.


"Tuan Jupri, alangkah baiknya mereka kita masukkan kedalam penjara ruang kosong itu, dan kita bersihkan semua ceceran darah, kita buat seolah-olah tidak pernah terjadi perkelahian sebelumnya." Pinta Naris.


Dan semua para pekerja melakukan pembersihan tempat, untuk menyamarkan situasi.


"Kalian semua berjaga-jaga di tempat yang aman, dan tetaplah waspada. Tertangkapnya Tunggak akan memecahkan keyakinan Sardi untuk tetap melakukan aksinya seorang diri."


"Pernikahan Sundirah dan Suwarti harus berjalan dengan lancar, kita harus bersatu menumpas mereka dengan cara bahu membahu." Jupri memberikan beberapa trik untuk penyergapan Tunggak dan kawan-kawan nya.


"Berani-beraninya dia mau mengusik ketenangan ku dengan menculik keponakan ku. Itu tidak akan terjadi, selama aku masih mampu melindungi mereka." Jupri merasa terusik dengan ulah Sardi dan Tunggak, merasa tidak punya sangkut-paut dengan mereka namun ikut mendapatkan kesialan dari mereka.


Dari balik kelambu yang menggantung di tengah-tengah penyekat bale-bale dengan ruang keluarga, muncul-lah Sulis dengan gadis pesuruh itu membawa minuman dan beberapa makanan untuk para pekerja yang harus menginap di rumah Jupri.


"Pak Naris...!" Celetuk Sulis dan meraih tangan Naris lalu bersalaman. Siapapun yang menyaksikan di buat terkejut dengan ulah Sulis kepada Naris.


Jupri menatap mereka berdua bergantian, ada rasa murka yang masih tertinggal di dalam raut muka Jupri.


"Sulis....! apa yang telah kamu lakukan." Mata Jupri hampir saja mencolot keluar, lalu Siti tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Apa toh pak dhe, dia pak Naris yang pernah menolong saya sewaktu di culik berandalan itu, tanpa pak Naris saya ndhak bisa pulang pak dhe." Sulis menggeser dari tempat berdirinya dan mendekat Siti lalu merangkul dari samping sambil menyembunyikan wajah nya karena ketakutan, mendengar bentakan Jupri.


"Apa betul Naris?" Jupri mengalihkan pandangan nya kepada Naris.


"Sabar kang! Minumlah dulu, ini ada apa jangan membuat kondisi semakin panik begini." Siti menengahi situasi.


Jupri meneguk air segar dari dalam kendi, rasa dingin menjalar menerobos kedalam tenggorokan Jupri.


"Betul tuan Jupri, saya memang pernah bertemu dengan Ning Sulis. Waktu itu kami sedang dalam pengejaran Sardi dan Bogel, ke arah Selatan kota Blitar." Jelas Naris, kepada Jupri yang tentu saja bingung dengan hal yang tidak pernah terduga sama sekali.


"Baiklah, ini kebetulan sekali nak Naris, dan kamu Sulis! sebaiknya ikuti emak mu dan istirahatlah. Malam masih panjang kami sedang menunggu kedatangan Tunggak." Jelas Jupri dan di ikuti Siti membimbing Sulis masuk kedalam.


Berbeda dengan Naris, dia masih mencerna sebuah ucapan yang keluar dari Jupri, sebuah kata-kata 'Nak' membuat nya sedikit memiliki secercah harapan yang tersembunyi.

__ADS_1


Para pekerja yang masih bermalam di tempat Jupri, mereka nyanggong kedatangan Tunggak dengan kawan-kawannya.


Dan benar, saat tengah malam menghampiri rombongan Tunggak mengendap-endap, memasuki gapura halaman rumah Jupri.


Para pekerja yang sudah bersiaga dan mempersiapkan segala kemungkinan besar yang akan terjadi.


Tiba-tiba.... akkh....!


Seorang pekerja Jupri tumbang dan terkapar tidak sadarkan diri, karena mendapatkan serangan dari senjata tulup yang mereka gunakan.


"Diam... jangan ada yang keluar dari persembunyian kalian, lakukan seolah-olah penghuni rumah sedang terlelap." Suara pelan Nasir memberi komando.


Jupri mengamati dari tempat persembunyian nya dia menghitung berapa orang bawaan Tunggak.


"Mereka hanya bertiga, kota kepung dari belakang dan kita sudutkan menuju gudang itu. Bila kalian semua terjepit, gunakan senjata kalian untuk menumpas mereka." Jupri juga memberikan komando kepada mereka.


Dan lagi-lagi, ahhk....!


Satu pekerja kembali tumbang karena senjata tulup milik Tunggak. Jupri mendekat dan meraba tubuh pekerjanya yang tumbang tersebut.


Naris segera melakukan petunjuk Jupri, dengan yang lain nya. Mereka waspada dengan serangan tulup, sebab sekali kena senjata itu tubuh akan ambruk dan tidak sadarkan diri.


Tunggak melakukan aksinya dengan bergerak tanpa suara, gerakannya bahkan terlalu cepat untuk ukuran pekerja gudang milik Jupri.


Pandangan Jupri juga tidak pernah lengah dari kewaspadaan, ketika Jupri melihat sepintas tulup yang di pegang Tunggak mengarah ke Naris, seketika itu juga clurit milik Jupri melayang mengarah tepat pada lengan Tunggak.


Teriakan Tunggak tak ayal lagi membuat yang lain terkejut, dan menangkis clurit yang tidak ia duga sebelum nya akan ada perlawanan.


Clurit yang ia tangkis melesat menancap pada punggung Tunggak, dan tak ayal lagi darah segar muncrat. Tunggak limbung kebelakang karena kaget dan merasakan perih pada punggungnya.


Bersamaan dengan kejadian itu, seorang anak buah Tunggak telah berhasil masuk kedalam. Dan membekap Sulis yang juga meronta ingin melepaskan diri dari bajingan itu.


"Paman... kang Naris..." Teriakan Sulis nyaring dan membuat pandangan mata Tunggak tertuju pada Sulis yang sedang meronta ingin melepaskan diri.

__ADS_1


"Ha..ha..ha... semoga kamu masih ingat aku ya ndhuk, kembali padaku akan ku jadikan kamu mantu ku, atau istri mudaku bila kamu mau." Tawa Tunggak menjijikkan terdengar.


"Kang... tetap alihkan perhatian Tunggak. Rupanya luka clurit itu tidak mampu membuat dia roboh juga, biar aku masuk menerobos ke belakang dan menolong ning sulis." Bisik Naris pada salah satu pekerja gudang itu.


"Baik kang, tetap waspada rupanya mereka sudah nekat dan terjepit." Naris berjalan pelan tanpa sepengetahuan Tunggak.


"Hei Tunggak, aku tidak ada hubungannya dengan ambisimu, dan kamu berani mengusik ketenangan keluarga ku. Menyerah lah atau nyawaku akan lepas dari raga mu secara sia-sia." Ancam Jupri dengan lantangnya.


"Ha...ha..ha.. pantang bagiku untuk pulang dengan tangan kosong wahai tuan Jupri, kita memang tidak ada sangkut pautnya dalam bidang apapun. Namun aku ingin memiliki gadis itu menjadi bagianku." Tunggak yang sudah mulai limbung karena luka menganga di punggungnya, tetap berdiri pada pendirian untuk berbuat rusuh di tempat Jupri.


"Baik! bukan salah kami bila nyawamu harus berakhir hari ini." Jupri menatap sinis pada Tunggak dan berjalan ke belakang mengambil pedang panjang yang selalu ia persiapkan di dalam Jodhang besar di sudut bale-bale.


Jupri dengan geram menyerang Tunggak yang masih sangat kuat menandingi nya.


Sedangkan yang lain saling adu jotos dengan anak buah Tunggak. Di sisi lain Sulis dengan keberanian yang ia miliki, mengigit dengan sekuat-kuatnya lengan laki-laki yang membekap dia dari belakang itu.


Naris membantu Sulis dengan memukul dengan linggis dari belakang tepat mengenai tengkuk dan roboh sudah bajingan itu.


Naris mengikat kuat tangan dan tubuh bajingan itu pada pilar, lalu menutup kepala nya dengan kain goni.


Sulis yang menyadari hal itu langsung lari mendekat Nasir dan memeluk nya.


"Pak Naris... terima kasih, jangan tinggalkan Sulis lagi." Pelukan erat Sulis membuat sesak nafas Naris.


...****************...


Nyanggong - menunggu dengan secara sembunyi-sembunyi di tempat sepi.


Jodhang - perabot rumah berbentuk kotak pendek dengan berbagai ukuran untuk menyimpan perkakas.


Uhukkk Sulis mencari kesempatan Mak 🤣🤣, mau donk di peluk kang Naris 🤭.


semangat lagi yuk, malam ini Tunggak sudah keteteran Mak, tinggal matinya aja tuh orang 👿

__ADS_1


yuk like yukkkk rate ⭐🖐️ Mak Ojo lali 😘


__ADS_2