
Pencarian Sardi dan Tunggak terus berlanjut, Di setiap lorong kota berita dan gambar tentang Tunggak dan Sardi bertebaran di mana-mana.
Menancap di setiap sudut kota dan sudah bukan rahasia umum lagi kalau mereka adalah penjahat kelas licin.
Dasar perampok dan berandalan, mereka tidak pernah gentar. Bantuan dan dukungan sesama, dan seprofesi saling bahu membahu untuk menutupi dan menyembunyikan keberadaan kedua pentolan itu.
Tunggak yang sudah terbiasa dengan kebejatan nya, masih asyik aja menikmati situasi yang ia anggap biasa-biasa saja.
Sardi yang sudah kepalang tanggung, cincing-cincing tetep kelelep juga. Dia semakin merajalela, tuak, wanita dan judi disana sini ia jalani.
Penculikan gadis untuk pemuas nafsu, sering terjadi dan semakin membuat suasana pada waktu itu sangat mencekam bagi gadis belia. Pendek kata mereka sudah ibaratkan perampok dan berandalan kelas kakap, sulit di tangkap. Dan punya kekuasaan dimana-mana, luka berdarah maupun kematian bukan lagi rintangan bagi mereka.
Ancaman demi ancaman mereka berikan pada mangsa dan korban keberingasan mereka. Peluh kenikmatan bagi mereka, tawa kepuasan selalu terdengar pada saat-saat tertentu.
Namun tidak dengan jerit dan tangisan, serasa nyawa sudah di ujung pencabutan, masa depan hancur bagi gadis gadis yang harus rela menjadi budak nafsu mereka. itu sudah hal yang biasa.
Penjarahan di desa desa kecil, ibarat pembayaran upeti dan kewajiban bagi hasil bagi mereka, sungguh hilang sudah hati nurani, tanpa ampun mereka akan merampas dan membawa hasil panen maupun ternak yang mereka inginkan. kelakuan mereka jelas meresahkan.
Malam yang dingin, cuaca tidak bersahabat suara binatang malam menjadi irama menyeramkan di area tempat tinggal mereka.
"Sardi! Apakah nyalimu untuk memiliki Sulastri, sudah pupus?" Tanya Tunggak di saat mereka sedang asyik berkumpul, dengan wanita yang menemani mereka masing-masing. Bau tuak dan asap tembakau linting menyeruak, menyesakkan paru-paru.
"Tidak kang! Aku akan tetap mencari waktu tepat untuk menjemput Sulastri, dia harus tetap menjadi milik ku, sebagai ganti Rukmini mendampingi ku, hingga ajal ku menyusul dia."Tekad Sardi tidak sedikit pun pernah reda.
"Aku sudah kirim seorang mata-mata, dam sedikit berita dari mereka yang ku dapat kang. Akan tetapi rumah yang mereka tempati saat ini, memang sudah ganti penghuni."
"Rupanya mereka telah membayar hutang-hutangnya dengan mengalihkan, rumah huniannya dengan juragan sabung ayam dan ijon dari Tlatah Blitar."
Penjelasan Sardi yang di maksud adalah Juragan Jupri.
"Kedudukannya sebagai lurah, juga sudah lengser. Aku kurang pasti sekarang mereka berada dimana kang." Sardi mengakhiri kata-kata nya dengan seteguk tuak membasahi kerongkongan nya.
"Harus nya kamu melakukan penelusuran, untuk mengetahui dimana mereka berada."
__ADS_1
"Tapi aku heran juga sama kamu Di, dari wanita sekian banyak kenapa kamu masih juga minat sama Sulastri? Apakah jeritan perawan sudah tidak menggugah seleramu lagi...ha...ha ..ha..." Ejekan Tunggak cukup memekakkan telinga.
"Djaelani harus mati dengan cara yang menyakitkan, dan Sulastri satu-satu tempat dia bernafas saat ini." Raut wajah Sardi masih juga menganga bara dendam yang sulit terpadamkan.
"Nyawa Rukmini harus terbalaskan."
"Tapi kamu jangan bodoh Sardi, Tiwas mburu uceng, kelangan deleg. Kalau kedudukan lurah saja sudah lengser, tentu dia sudah menjadi kere, mau apalagi yang kita dapat dari dia...?"
"Ahhh sudah... sudah kita bersenang-senang saja, jangan mikir mereka, kalau nggak suka bunuh saja. Habis perkara." Sungut Tunggak berapi-api.
"Ayoh sini ndhuk..! pijitin pinggang kang Tunggak, setelah itu bawa kakang ke puncak nirwana." Teriak Tunggak memanggil gadis di depannya.
Dengan takut-takut dan sedih gadis itu mendekat juga, mau bagaimana pun dia tidak akan mampu melarikan diri dari cengkeraman Tunggak bersama kawanannya.
Gelegar tawa Tunggak bagaikan, suara geledek bagi gadis gadis malang itu.
Mereka akan terpaksa harus melayani kebutuhan nafsu para laki-laki bejad, termasuk Sardi dan setelah itu mereka akan di jual ke kota, untuk sebuah bisnis rumah bordir.
#Rupanya bisnis yang seperti ini, tidak jaman dahulu tidak jaman sekarang memang sudah ada, yang membedakan hanya fasilitas, dan kondisi yang jelas jauh berbeda pada saat jaman modern#
Tidak lama kemudian dengan langkah gontai ia berjalan mendekati gadis yang dari tadi hanya menunduk saja.
"Ndhuk bocah ayu... kenapa kamu berdiam dan bermuram durja begini, sini temani kang Sardi." Sardi menarik tangan gadis di depannya, lalu memanggul begitu saja di pundaknya.
"Akh... turunkan aku, aku tidak sudi tinggal disini." Teriak gadis itu seperti alunan irama yang merdu di telinga Sardi.
Namun! sedikitpun tidak merubah hati Sardi untuk menjadi welas asih, terhadap gadis malang itu.
"Jangan teriak ndhuk, kamu harus pandai menikmati. Manut o yo ndhuk..!" Sardi membisikkan kata ke telinga gadis yang masih meronta itu.
"Kamu mau aku gantung di halaman hingga mengering tubuhmu, atau kita saling menikmati?" Ancaman Sardi tidak main-main. karena ini pernah terjadi, hingga nyawa si gadis tidak tertolong, dan mati mengenaskan.
"Sa.. saya takut kang, saya ndhak mau, saya ingin pulang, ampun kang." Rengek gadis itu.
__ADS_1
Sardi membawa masuk kedalam sebuah ruangan remang-remang, dia membaringkan dengan kasar gadis malang itu.
"Apa yang kamu takutkan, aku sudah mengganti kan dirimu dengan sepasang cikar, dan dua petak sawah yang luas pada orang tuamu." Seringai Sardi mengerikan.
"Aku ingin kamu hamil dan memiliki, keturunan dariku sebelum ajal ku menjemput nanti. aku sudah ada keturunan." Bisik Sardi ke telinga gadis itu.
kata-kata ini sedikit bisa di nalar, ternyata Sardi masih takut mati bila tanpa adanya keturunan yang akan meneruskan cita-cita.
Isakan gadis itu tidak ia hiraukan, Nafsu sudah menutup telinga dan mata hati Sardi.
Ia buka paksa semua kain yang gadis kecil itu kenakan, ia rengkuh madu gadis kecil itu dengan paksa, hancur sudah gadis lemah itu.
Mengerang... melenguh kenikmatan, menjerit menangis kesakitan irama itu sungguh menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya.
"oh.... madu legit, kau milikku. tidak ada siapapun akan mampu menjamah atau pun melepaskan dirimu dariku." Erang Sardi yang sedang menuai puncak kenikmatan nya.
Waktu berhenti sesaat, seiring nafas Sardi yang naik turun terbakar kepuasan, tangis gadis itupun seolah mengering. Mata sayu itu terpejam juga, pasrah tanpa perlawanan.
"Diam dan jangan menangis, jangan pernah menyesal. Sebab! walaupun kamu sesali waktu tidak akan berputar kembali."
"Kamu harus melahirkan keturunan ku, sebelum aku pergi mencari apa yang seharusnya menjadi milikku."
Sardi membelai gadis yang baru saja ia nikmati, gadis itu pingsang dalam kedukaan yang tiada tara.
...****************...
Mburu uceng kelangan deleg adalah mengejar sesuatu yang kecil, tetapi jelas akan kehilangan miliknya yang lebih besar.
kata si Mbah Sardi punya ajian suro prucut 🤣🤣, jadi yaaa licin mrucut terus kek belut gitu licin nyah
up...up...🤠yuk jempol Mak 😘😘
tetap jaga kesehatan ya Mak, pak, mas, mbak.. cuaca kadang tidak bersahabat.
__ADS_1
Semangat 💪 kuy😉