SUNDIRAH

SUNDIRAH
Mitun dan Situn


__ADS_3

Wanita tua itu memahami, kemana arah Keceng berbicara, lalu siapa perempuan muda yang sedang bersembunyi di dalam tempayan itu.


"Oalah.... kasihan kamu ndhuk ..!" wanita tua itu berbicara dalam hati, dan ikut merasakan kecemasan yang tentu saja Lastri alami saat ini.


"Iyo... nanti kalau ada, mbok panggil kamu." Wanita tua itu berusaha mengusir dengan halus.


Keceng berlalu ke depan kembali, dengan menentang kopi panas, sebagai penghangat kerongkongan mereka.


Wanita tua itu adalah dua wanita kembar Mitun, dan Situn. Mereka penduduk asli desa itu, mereka berkerja pada Sardi hanya untuk sesuap nasi dan tempat tinggal.


Tidak lama tempayan itu di buka, lalu Mitun mengulurkan sepotong singkong hangat kepada Lastri.


Lastri mendongak kan kepala, dan menerima, berterima kasih dengan bahasa isyarat.


Air mata Lastri, mengucur tidak bisa terbendung. Dalam Isak dia teringat nenek Ratmini. "Nenek...Lastri takut nek.. bagaimana nasib Lastri..?"


"Kang Jito.... jemput Lastri kang..."


Di luar dapur Mitun mendekati Situn, lalu mencolek lengan Situn. Dengan hati-hati dan pelan, Mitun menceritakan semua yang ia lihat, dan siapa perempuan yang sedang bersembunyi dalam tempayan di dapur itu.


"Yu.. kita harus membantu bocah itu untuk kabur. Ingat loh yu...!"


"Anak-anak kita juga perempuan, mereka juga dalam perantauan, walaupun ikut suaminya transmigrasi ke Andalas."


"Semoga semua ada hikmahnya buat kita semua yu." Ucap Situn bijaksana.


"Biasanya kalau siang Sardi sama komplotan nya, akan pergi yu, nanti kita bawa bocah perempuan itu ke lumbung milik bulog, yang sudah tidak di pakai. biar dia tinggal di sana untuk sementara." Semangat Situn ingin menyelamatkan Sulastri.


Sementara di lain tempat. Dimana Suprapto bersama Paidi sedang bicara dari hati ke hati.


Paidi mengutarakan akan insaf, dan menyesal atas semua yang telah ia lakukan.


Sedangkan Suprapto sendiri, mempunyai rencana dan firasat tidak bagus untuk kepergian Nasir bersama Harjito, apalagi Jito dalam keadaan terluka.


"Paidi...Apa bisa semua ucapan mu aku percaya...?"


"Nggih pak , saya siap mengabdi, saya siap membantu."


"Apa yang kamu ketahui tentang Sardi dan komplotannya..? lalu apa saja yang mereka lakukan dalam keseharian nya?" Pertanyaan demi pertanyaan Prapto lontar kan.


Paidi menceritakan semua, tempat persembunyian dan kegiatan keseharian kamituwo Sardi adalah, berjudi dan menjarah hasil panen serta sebagai ketua begal yang beringas, dalam beberapa bulan terakhir, setelah di selamatkan oleh mantri di desa Wates. Dia mampu membangun sendiri kejahatan yang ia susun, dan merekrut beberapa maling-maling kecil, dan para begal yang sudah takluk pada Sardi.

__ADS_1


Sardi memiliki beberapa tempat tinggal hasil jarahan, dan hasil berbuat curang pada permainan judi kluthuk, yang gemar ia gelar di acara-acara tertentu.


Panjang lebar Paidi menceritakan kepada Suprapto, dan Suprapto menyimak dengan baik.


"Lalu apa imbalan, yang kamu inginkan dari kami, bila kamu mampu menyelesaikan tugas ini dengan sempurna..?" Tanya Suprapto santai.


"Saya tidak mengharapkan lebih, dari sebuah harga diri, dan pekerjaan yang kelak akan membawa saya pada sebuah keluarga kecil saya." Cara bicara Paidi, berbeda dengan berandalan lain nya yang hanya menginginkan, kemenangan dan kesenangan sesaat semata.


"Tetapi... Apa yang akan kau lakukan jika kegagalan itu menimpamu? Mengingat kelompok Sardi tidak sedikit, dan ada beberapa jaringan." Suprapto kembali memberikan kebimbangan, dan menguji kejujuran seorang Paidi.


Prapto mengangguk-angguk kan kepala, dan menilai setiap kata kata Paidi, lalu bertanya kembali.


"Seandainya, kamu gagal, dan kamu mengingkari janji mu, sebagai pengabdi kebenaran. Apa yang harus aku lakukan..?"


"Saya berhak mendapatkan hukuman yang setimpal, dan saya akan menanggung semuanya." Paidi menunduk dalam-dalam, bersungguh-sungguh dalam semua jawaban.


"Baiklah... apa hubungan antara Cendet dengan dirimu Paidi..?"


"Kami hanya sebatas teman, Dia yang membawa saya kepada kang Sardi, waktu itu saya mengalami kekalahan judi kluthuk."


"Karena saya sangat membutuhkan modal untuk kelangsungan hidup saya dengan orang tua saya, saya rela menjadi antek kang Sardi."


"Akan tetapi, saya sangat menyesal tuan Prapto, saya ingin kembali kepada jalan yang benar."


"Saat ini, aku membutuhkan seorang mata-mata dan penunjuk jalan untuk membawa beberapa pasukan ku, mengarah ke sarang persembunyian Sardi." Suprapto berkata sedikit memberi penekanan kepada Paidi.


"Apakah kamu, sanggup melakukan nya Paidi..?"


"Saya sanggup tuan...! Kapan saya harus berangkat..?"


"Sekarang...! berangkatlah bersama beberapa anggota, menuju di mana sarang Sardi bersembunyi.


Sebentar kemudian, beberapa anggota berpakaian dinas keamanan berkumpul.


Suprapto memberikan arahan, untuk mengepung dari segala penjuru. semua menyimak, dan semua memahami apa yang harus mereka lakukan.


Pada saat itu juga semua, berangkat menjalankan perintah dari Suprapto.


"Tuan...! ooiii tuan...Bagaimana dengan saya, saya juga bisa melakukan tugas seperti Paidi." Cendet berteriak nyaring dari balik jeruji.


"Kamu di sini saja pak tua, luka di lutut mu belum sembuh benar, saya juga takut, encok mu akan kambuh di tengah jalan nantinya" Prapto menjawab dengan senyuman, namun sebenarnya sebuah ejekan.

__ADS_1


Perjalanan untuk menyusul Harjito bersama Naris masuk ke sarang persembunyian Sardi, kali ini lebih cepat, dengan mengendarai Toyota Land Cruiser. Salah satu mobil terlaris yang pernah dibuat oleh Toyota dari tahun 1960. Land Cruiser yang digunakan merupakan J40 series. 


Sedangkan Harjito bersama Naris, sedang melakukan pengintaian, dengan jarak setengah mil dari tempat tinggal Sardi.


Dasar nasib mereka sedang tidak memihak pada keberuntungan. kawanan Sardi sudah mengetahui kehadiran Naris dan kawan-kawan nya.


Sehingga terjadi duel yang tidak seimbang. Mereka melakukan tapal kuda pada penyerangan Naris.


Kelompok Naris semakin terdesak, pukulan demi pukulan semakin memanas. Hingga pada suatu kesempatan, Naris mampu menarik tubuh Harjito dari keganasan kelompok Sardi.


"Kang... biarkan aku melawan mereka. cepat cari keberadaan Lastri kang..!"


"Jito, kendalikan emosimu. Kita akan bersama-sama mengahadapi."


Sardi yang melihat dari kejauhan duel antara mereka, hanya meringis menahan rasa sakit. Yang masih sangat menyiksanya, Sardi masuk perlahan menyelinap ke dapur. Karena ia yakin anak buahnya mampu mengatasi kawanan Naris dan Harjito.


Sontak saja Mitun dan Situn pucat pasi merasakan ketakutan yang luar biasa, melihat Sardi masuk kedalam dapur, seperti melihat hantu di siang hari saja. Padahal mereka sudah menyiapkan cara membawa Lastri pergi dari tempat Sardi.


"Saar...di..! a..ada apa..!" Mitun terbata bata menyapa Sardi.


"Ada apa dengan mu mbok? kenapa begitu gugup melihatku." Tanya Sardi penuh rasa curiga.


"Apa yang kalian sembunyikan dari ku , hah...?" Sardi mencerca pertanyaan, dan melihat sekeliling dapur.


"Apa kalian melihat, perempuan muda pagi ini, melintas masuk ke dalam dapur kalian..?" pertanyaan Sardi penuh selidik.


"Ti..tidak tau sama sekali." Jawaban mereka hampir serempak.


Lastri yang di dalam tempayan, menahan mulutnya yang hampir saja menjerit, takut yang ia rasakan membuat dia lemas, tidak tau bagaimana lagi bila Sardi berhasil menangkap nya kembali.


Sardi berjalan lebih mendekat lagi, Jarak antara tempayan dengan tempat ia berdiri hanya beberapa jengkal saja.


"Sar.... di luar ada kegaduhan, apa yang terjadi...?"


"Makanlah dulu, nasi jagung nya sudah tersedia, masakan kesukaan mu sudah mbok siap kan." Mitun berusaha mengalihkan kepanikan nya.


Sardi mengalihkan pandangan, lalu melangkah mendekati meja hidangan.


Lega nafas Mitun dan Situn, ia kembali melakukan kepura-puraan nya mengerjakan tugas setiap harinya.


...****************...

__ADS_1


Huuffhh Sardi pengecut tuh Mak 🤧🤧 dia mau main kabur aja.


Yuk semangat yukk🤗🤗


__ADS_2