SUNDIRAH

SUNDIRAH
Dia milikmu Jito


__ADS_3

pov Naris


Matanya sayu, bibirnya terdapat luka. Dan pandangan nanar, seolah olah ingin menerkam siapapun yang mendekat.


Siapa wanita tua itu...? semoga mereka adalah orang-orang baik, yang sengaja di kirim oleh penguasa alam.


Aakkkhhh....


Jantung ku ber desir penuh iba, apa yang sudah terjadi pada Lastri.Kain itu tidak menutup sempurna pada tubuhnya, apakah yang di lakukan Sardi pada Lastri.


Aku pun ikut merasakan betapa hancurnya Lastri, belum lagi harus di hadapkan dengan kematian nenek nya.


"Mbok.... tolong tutup tubuh Lastri dengan benar." Perintahku pada dua wanita itu.Untung ada wanita itu, kalau tidak bagaimana nasib Lastri.


Setelah aku rasa selesai, wanita itu membantu Lastri memakai baju nya kembali. Aku coba mendekat, dan menyapa Lastri. Tentu saja ku coba memberikan semangat, dengan senyum ku.


Namun yang ada sungguh di luar dugaan, Lastri bahkan berteriak bagaikan orang yang kesurupan ketika mendengar suara ku, dan melihat ku telah berdiri di samping nya.


Dengan berat hati aku hanya bisa memandang dari balik gedhek di dapur itu.


Harjito dengan luka yang parah, di tambah lagi Sulastri yang mengalami guncangan batin.


Oohhh ..... Lastri, nasib mu kenapa begitu pahit. Semoga kamu akan mampu menerima kenyataan esok.


Aaaahhhkk.... kapan akan berakhir duka dengan dendam dan ambisi ini.


yang sabar Jiyo, Lastri..


pov end


Sulastri sudah mulai tenang, Mitun dan Situn mampu memberikan ketenangan, yang Sulastri sedang butuhkan saat ini.


"Ndhuk .. kamu siapa...?"


"Kamu bisa panggil kami mbok Situn sama mbok Mitun."


"Ceritakan apa yang telah terjadi padamu, jangan takut! semua telah berlalu." Mitun mengelus pucuk kepala Lastri.


"Lalu kenapa kamu bisa dengan Sardi, yang sabar ndhuk. Kami akan ikut melindungi kamu, dan semampu kami." Situn menambahkan kata-kata untuk meyakinkan Sulastri.

__ADS_1


Sulastri tetap dalam posisi rebahan, bibir nya terkunci rapat, matanya hanya memandang jauh pada pohon pisang, dan lamtoro, beluntas yang menghampar di luar pekarangan belakang dapur.


Sulastri sedikit demi sedikit kembali normal dan mengingat kejadian sebelum di culik kawanan Sardi.


"Malam itu adalah hari pernikahan ku."


" Oohh... aku lupa...! Mbok.... aku harus segera pulang...! nenek ku sendiri di rumah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya."


Lastri berusaha bangun, dan menepis tangan Situn yang berusaha meraih pundaknya.


"Ndhuk...! kamu harus istirahat dulu, tenang kan duku pikiran mu. jangan berpikir yang lain-lain duku ndhuk."


"Nenek ku sendiri di rumah mbok, tidak mungkin aku tinggal lama-lama di sini." Lastri keukuh dengan kemauannya. Dia tetap berusaha untuk beranjak dari lincak, dan bergegas berjalan keluar dapur.


Namun....


Brruuhgg... aahh...


Lastri terjatuh, dan kembali pingsan. Mitun dan Situn buru-buru mengangkat tubuh Lastri dan membawa nya kembali ke lincak di dapur.


Sementara di pelataran rumah besar tersebut, Harjito di bawa dengan tandu naik ke mobil, bantuan tim medis juga sudah datang. Lalu beberapa lainnya melakukan proses pemakaman untuk kawanan Sardi. Untuk anak buah Suprapto di bawa pulang dan di kembalikan pada keluarganya, untuk melakukan proses penghormatan terakhir.


Tubuh Harjito dalam terluka parah, menggigil dengan bibir membiru, Karena menahan sakit.


"Fokus lah pada keadaan mu dulu Jito, Lastri aman. Dia ada di dalam rumah itu." Naris menceritakan keadaan Lastri yang baru saja ia temui, walaupun dalam keadaan terguncang jiwanya. Namun setidak nya Lastri aman dengan Mitun dan Situn.


"Kang....! Aku titip Sulastri, seandainya memang harus bersama mu, aku rela kang."


"Karena, aku rasa kang Naris lebih mampu melindungi dan mengayomi Sulastri." Serak dan berat suara Jito, mengucapkan beberapa kalimat, cairan bening itu meleleh perlahan di sudut mata Jito.


""Tidak Jito! itu tidak mungkin, dan tidak akan terjadi. Sampai kapan pun Lastri milik mu, bukan milik ku!" Naris memegang tangan Jiyo. dan membetulkan letak tempat bersandarnya kepala Jito.


"Tidak jauh dari wilayah sini, terdapat balai pengobatan di pusat kota, aku akan bawa Lastri pada mu. menyusul mu Jito, buang pikiran mu itu. Kamu harus tetap berusaha dan semangat."


Tidak mau berlarut dengan kata kata Harjito yang baru saja ia dengar. Naris segera mengisyaratkan pengemudi mobil, untuk segera berangkat dan membawa Harjito ke balai pengobatan. Agar segera di tangani dan bersatu dengan Lastri.


Naris menatap kepergian mobil itu, hingga tidak terlihat oleh matanya.


Proses pemakaman para berandal kawanan Sardi juga hampir selesai. Naris bersama beberapa anggota yang di tugas kan Suprapto, masih menduduki tempat tinggal Sardi yang terpaksa harus ia tinggalkan.

__ADS_1


"Nak Naris....!" Tiba-tiba suara perempuan terdengar memanggilnya. Ketika Naris menoleh, ternyata mitun yang memanggil dan mendekati Naris.


"Duduklah di sini lee, lukamu mengeluarkan darah, biar mbok membantumu mengobati luka itu." Tangan mitun meraih lengan Naris, Naris hanya menatap tangan tua itu mengolesi dan membalut luka nya.


"Mbok...siapa mbok ini...? kenapa harus hidup di lingkungan Sardi?" Pertanyaan Sardi membuat mitun tersenyum.


"Saya Mitun, dan saudara kembar ku yang sekarang sedang membantu Lastri mandi itu Situn." Mitun membuka cerita, tentang siapa dan bagaimana asal usul dia bisa bersama dengan Sardi.


Menerawang jauh Mitun mengingat semua cerita tentang kehidupan nya.


"Aku mempunyai suami dan anak le.., sudah sewindu anak ku hidup di perantauan mengikuti program pemerintah, sedangkan suamiku satu tahun kemudian meninggal dunia."


"Sedangkan Situn adek ku, dia tidak menikah. Dan dia keluargaku satu-satunya yang aku miliki."


"Aku yakin Sardi tidak akan kembali ke sini lagi, dia punya tempat tinggal lagi, yang lumayan jauh dari sini."


"kami tidak tau Sardi berasal dari mana, akan tetapi Komplotan Sardi sangat meresahkan penduduk di beberapa desa, di lingkungan sini." Panjang lebar Mitun menceritakan siapa, dan bagaimana Sardi sebenarnya.


"Lalu kamu siapa le..?" Mitun balik bertanya pada Naris.


"Saya Naris mbok, Saya berasal dari perbatasan kota Kediri dan Pare." Jawab Naris.


"Lalu.. kalau di perbolehkan saya mengetahui! Dimanakah letak persembunyian Sardi dan komplotannya. Saya akan menjamin keselamatan mbok Mitun dan Situn." Lanjut Naris lagi.


Mitun selesai mengobati dan membalut luka Naris, ia tersenyum dan membersihkan semua sisa kain dan obat untuk Naris. Lalu dia kembali duduk di samping Naris kembali.


"Usia kami sudah tua le.. jaminan keselamatan apa lagi yang kami harapkan? Mungkin hanya doa saja yang bisa kami perbanyak, Sulitnya kehidupan


Seiring bertambahnya usia, Kita bisa belajar untuk memahami kehidupan dengan lebih baik. Hal yang menyenangkan tentang menjadi tua adalah menemukan orang yang lebih muda untuk dibimbing."


"Kami akan lebih berarti dalam sisa hidup kami, bila bisa memberi sesuatu kepada kalian. Walaupun itu bukan Harta, sebab harta kami hanya yang melekat pada tubuh kami."


...****************...


Secara historis, permulaan penyelenggaraan transmigrasi dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 1950. Transmigrasi pertama pada tahun 1950 saat itu memberangkatkan 25 Kepala Keluarga (KK) atau dengan total 98 jiwa.


Kakak pembaca yang budiman, kalian kebayang beluntas di bikin urap tidak sih 😅😂


Jadi lapar tau 🤭, makan dulu behh sebelum up di chapter berikutnya.

__ADS_1


tetap jaga kesehatan, and I love all of you 😘😘


__ADS_2