SUNDIRAH

SUNDIRAH
Gadis pesuruh


__ADS_3

Persiapan sudah matang! pada dasarnya para gadis itu berasal dari desa tidak jauh dari tempat target yang ditentukan Sardi dan komplotannya.


Jadi tidak sulit bagi mereka untuk kembali membaur ke masyarakat walaupun di bawah tekanan Sardi dan Tunggak mereka harus kembali ke rumah masing-masing.


mata-mata Sardi menyamar sebagai apapun untuk mengelabuhi para gadis dan petugas yang sudah menjamur di setiap sudut area perondaan.


Para gadis-gadis tawanan itu juga tidak bodoh, dengan berbagai pengalaman setelah beberapa pekan dalam sekapan dan melayani nafsu bejad para laki-laki bajingan itu.


"Yu! kita harus mengingat wajah-wajah mereka, jangan sampai kita salah memberikan info." Pesan gadis itu.


"Menurut berita yang aku dengar tadi malam, perayaan pernikahan di rumah ndoro Siman akan berlangsung beberapa hari lagi ke depan. Dan esok pagi kita sudah di pulangkan ke rumah kita masing-masing." Gadis lain nya juga menimpali pembicaraan mereka, dengan sedikit berbisik supaya tidak sampai terdengar dari balik kamar mereka yang hanya memakai dinding sekat gedheg saja.


"Yu.. aku takut pulang ke rumah, tubuhku sudah kotor, tidak pantas lagi menjadi pendamping kekasihku. Serasa mau mati saja aku yu!" Tangis salah satu gadis itu dalam pelukan salah satu teman nya.


"Ini takdir yu, kita tidak pernah meminta mengalami nasib seperti ini. Ini bukan kemauan mu, juga bukan kemauan ku, jangan lemah kita bisa, kita akan mampu kalau sudah jodoh kita bagaimana bentuk fisik, dan kekurangan kita dia pasti akan menerima kita dengan lapang hati dan tulus."


"Semangat yo yu.. kita akan saling membantu, dan kita akan pulang berkumpul kembali dengan keluarga kita." Mereka saling merangkul dan saling menguatkan.


Kokok ayam jago terdengar bersahut-sahutan, pagi pun telah tiba. Dengan berteriak lantang salah satu anak buah Sardi menghimbau para gadis itu segera naik ke atas cikar, dan mereka akan berangkat menuju tempat tinggal mereka semula.


"Awas kalian semua, jangan pernah ada punya niatan untuk lari dari kami, sebab! kemanapun kalian bersembunyi kami tetap akan menemukan kalian." Ancam Sardi kepada para gadis-gadis itu.


"Dan kamu!" Tunggak menunjuk seorang gadis


"Iya kamu aku tugaskan untuk berusaha masuk kedalam keluarga yang menempati bekas rumah lurah Djaelani, berikan bubuk ini kepada semua penghuni rumah, kecuali kepada gadis yang bernama Sulistyowati."


"Ingat! jangan pernah berbuat macam-macam atau berpikir an untuk melarikan diri dari ku, sebab kamu dalam pengawasan mereka dari luar rumah tersebut, dan di tempat tersembunyi.

__ADS_1


Tunggak kembali menunjuk para laki-laki yang semua memakai, tanda hitam pada kain kepalanya.


Siapa yang tidak takut, siapa yang tidak gentar di dengan ancaman Tunggak yang terbiasa tidak main-main. Apalagi gadis pada waktu itu sangat lugu, dan minim pengetahuan. Terkecuali mereka yang mempunyai latar belakang berpendidikan dan mampu.


Namun semangat para gadis gadis itu tidak luntur dengan gertakan Tunggak.


"Dan yang lain nya, kalian harus membaur dan bisa masuk kedalam kediaman juragan Atmosiman, berikan bubuk racun ini kedalam bahan makanan mereka."


"Dan setelah itu kalian harus berkumpul kembali disini, jangan ada yang berani lari, sebab keluarga kalian akan aku tumpas semua kalau kalian berani melawan ku."


Para gadis-gadis itu nurut saja bagaikan kerbau di cocok hidungnya, namun di balik semua itu semangat mereka membara ketika nama orang tua mereka juga dalam bahaya setelah ini.


Para gadis yang berasal dari desa jatilengger mereka kembali ke rumah masing-masing, rasa rindu terobati, namun rasa malu tidak mungkin mampu mereka sembunyikan.


Peluk tangis kerinduan pada orang tua lepas dalam, emosi tangis mereka.


#pada jaman waktu itu era gotong royong masih sangat kental yah Mak, pak. Mereka tidak mendapat upah uang, namun kerukunan sangat bermanfaat bagi kerukunan, dan kebersamaan dalam bermasyarakat kala itu sangat di junjung tinggi.#


Berbeda dengan gadis pemberani yang mencetuskan semboyan untuk memberontak kepada Sardi, dia adalah gadis sebatang kara yang di harapkan Sardi untuk mengandung anak nya.


Gadis itu masuk ke dalam area keluarga Jupri, siapa yang akan menduga bahwa komplotan Sardi akan memakai para gadis untuk memulai aksi kerusuhan nya membuat huru hara baru.


Di sisi itu seorang laki laki muda yang menyamar menjadi tua, seolah dia sebagai pekerja di gudang milik Jupri, dan mengamati gerak gerik gadis pemberani itu.


"Aku harus menghancurkan rencana busuk Sardi dan Tunggak, masa bodoh dengan ancaman mereka, mati mati sajalah asal mereka juga ikut mati." Batin gadis itu penuh kegeraman..


Ketika pagi hari gadis itu terlihat membantu di dapur, lalu lelaki mata-mata Sardi itu masuk ke dapur juga, dengan tatapan mata garang, ia melotot ke arah gadis itu. Lalu menaburkan racun itu ke dalam minuman dan makanan yang akan di kirim untuk Jupri dan keluarga nya.

__ADS_1


"Kamu harus pastikan mereka yang makan dan minum, kalau kamu sampai buka mulut. Tulup ini yang akan berbicara." Laki-laki itu mengancam gadis pemberani dengan mengacungkan senjata kecil memanjang ke arah nya.


"I..iya kang, akan saya lakukan." Jawab gadis itu singkat, namun ada rasa kemarahan yang terpendam di balik suara itu.


Dengan langkah tegas dan yakin gadis itu berjalan melewati lorong menuju bale-bale utama tempat pertemuan dengan masyarakat untuk mendiskusikan sesuatu di saat lurah Djaelani masih menjabat sebagai pemuka masyarakat.


Jupri merasa curiga dengan gadis pengantar makanan pagi ini, tapi dia juga menepis rasa itu, sebab ia pikir tidak mungkin Sardi membawa seorang gadis untuk melakukan misi perlawanan dia.


"Ndhuk.. kamu pekerja baru? Anak siapa kamu, rumahmu dimana?" Rentetan pertanyaan dari Jupri, sejenak membuat gadis itu merasa terselamatkan untuk membuka mulut dan mengucapkan sesuatu, namun bukan jawaban yang Jupri lontarkan.


"Tuan, jangan tuan makan dan minum, semua hidangan ada racunnya. Dan saya dalam pengawasan mata-mata Sardi yang ada di gudang itu." Kata gadis itu seolah memberikan jawaban kepada Jupri agar, laki-laki yang berada di ujung gudang itu tidak menaruh curiga.


"Tolong selamatkan, Ning Sulistyowati tuan!" Sambil berkata gadis itu melangkah ke belakang kembali.


Tentu saja Jupri kaget, dan diam tertegun. Ia langsung saja memahami kata-kata gadis itu, lalu ia pun perlahan mengedarkan pandangan pelan, seolah-olah tidak pernah ada terjadi pembicaraan dia dengan gadis pengantar makanan tadi.


Jupri berpura-pura meminum kopi dalam cangkir itu, lalu pelan ia berdiri dan menuju tempat dimana Sulis dan Siti berada.


...****************...



Senjata tulup.


Duh ketar ketir koyok lampu sentir kak 🤣, nulis Dewe deg-degan dewe kak 🤣🤣 ya ampun.


tetap semangat ya kak 💪 salam sehat dan ceria always.

__ADS_1


N I love you more 😘🤗


__ADS_2