SUNDIRAH

SUNDIRAH
Rondo royal


__ADS_3

Sundirah sudah mampu untuk berjalan, walaupun pelan dan merambat. Perkembangan yang luar biasa, tidak putus-putusnya mereka bersyukur, dan berbahagia.


Mahendra dan Suwarti tidak pernah sedikitpun meninggalkan Sundirah, jauh dari pandangan nya. Walaupun itu hanya melihat pembangunan gudang kopra yang baru.


Tangis Teguh seakan bagaikan alunan musik tempo dulu, mereka akan berebut menimang dan mengajak ngomong dengan bahasa bayi.


Sundirah duduk berselonjor kaki pada amben senden , dan menikmati bunga bunga anggrek tanaman Karmilah.


Atmosiman bersama karmilah sedang pergi menjenguk Harjito dan Djaelani, yang atas kebesaran hati keluarga terutama Sundirah, telah mencabut segala tuntutan hukum.Hanya dengan sebuah kata maaf, dan memaafkan.


"Suwarti... Terimakasih semuanya, tanpa mu aku sudah tidak ada di sisi kalian." Senyum Sundirah menghiasi bibirnya.


"Opo toh yu...! Kita sudah bahagia, yang lalu biarlah berlalu, tidak wajib untuk di ingat. Aku ndhak mau mengingatkan nya, ngeri yu." Warti menjawab sambil membenarkan letak kain popok Teguh.


"Sekarang kita fokus saja pada teguh, dan kesehatan mu yu." Suwarti sungguh bijaksana dalam menjawab.


"Yu...Jatuh cinta itu rasanya seperti apa Yo..?" Tanya Suwarti lugu.


Sundirah mesem , sambil membalikkan tubuh nya menghadap Suwarti. "Kamu jatuh cinta sama siapa ndhuk cah ayu, adi ku." Ledek nya sambil mencubit lengan Warti.


"Opo to yu...! sakit tau..." Warti jadi cemberut sambil mengelus lengan nya.


"Warti lagi pacaran yo ...?" Tanya Surip yang tiba-tiba ada bersama mereka.


"Ini pengalaman ndhuk, kalau memang kamu ada hati pada seseorang, alangkah baiknya jujur saja."


"Jangan pernah menyimpan rahasia hati, Sebab! semua itu tidak akan pernah bisa kita hadapi sendiri." Nasehat Surip pada Suwarti. lalu meletakkan gorengan rondo royal, sama sawut , untuk sarapan mereka.


"Loh saya ndhak punya cinta loh mbok...."


"Lah wong saya hanya tanya saja, kok malah di bilang mencintai!" Warti bingung dengan pendapat dua wanita beda usia di depan nya.


"Warti....Kalaupun ada yang mencintaimu, apakah kamu akan menerima cintanya?" Mahendra tiba-tiba menimpali nya dari belakang.


"Huh....kalian sepagi ini sudah main keroyok aja." Suwarti menggaruk kepala bagian belakangnya, yang tiba-tiba gatal saja.


"Mengingat dari perjalanan cinta kalian, aku lebih baik diam di tempat saja." lirih Suwarti.


"Maksudnya....?" hampir serempak mereka bertiga balik bertanya.


"Aku manut sama keadaan, dan jodoh dari yang Maha Kuasa saja." Warti tersenyum, setelah itu mencomot Rondo royal bikinan Surip.

__ADS_1


"Mas... bagaimana keadaan Sulastri dan kang Jito, aku tiba-tiba mengkhawatirkan mereka." Tanya Sundirah pada Mahendra, sebab sampai sekarang Sundirah juga belum tau mengenai penculikan dan penyerangan, yang telah menimpa keluarga Djaelani.


"Mereka baik-baik saja, suatu hari ketika kondisi mu membaik, kita bawa Teguh kirab ke rumah mereka setelah Selapan dino." Balas Mahendra sambil menyisir rambut ikal Sundirah yang menggerai panjang.


"Dek Dirah... ayah berencana mengenalkan Suwarti, kepada putra pak Suprapto. Apakah sampean setuju dengan saran ayah?" Pelan suara Hendra menyampaikan Sarah sang ayah.


"Mas... perjodohan memang manis bagi mereka yang menginginkan nya, namun pahit bagi kita yang menjalani. Biarlah berjalan apa adanya, Suwarti masih muda, dan punya keinginan juga." jawab Sundirah sambil bersandar di dada Mahendra.


Surip yang ikut dalam perbincangan, merasa berjalannya waktu membawa mereka sikap dewasa dengan keadaan.


Hari berganti hari, pembangunan gudang kopra yang telah terbakar pun kembali di mulai. Roda kehidupan desa tersebut berpatok dari hasil ladang, dan sebagai lahan pekerjaan bagi penduduk jatilengger.


Aktivitas demi aktivitas di mulai dengan lancar kembali. Semua berjalan dari bawah dan pasti, kebahagiaan kembali tertata.


Suara gemerincing bel dokar nyaring berbunyi, Suwarti berjalan masuk dan berteriak memanggil Surip.


"Mbok... bapak pulang, membawa kerinduan. Segera sambut mbok." senyum-senyum sendiri kegirangan, karena bisa membalas gurauan mereka yang sempat menyudutkan dirinya pagi tadi.


"Hush... suaramu cemprah, Bocah wadon kok koyok bocah lanang." Surip gemas dengan tingkah Suwarti, namun tidak urung juga Surip tersipu bahagia.


"Kang... ndoro Siman bersama Nyonya juga sedang ke rumah sakit loh, apa ndhak ketemu...?" Sambut Surip sambil memberikan sedikit penjelasan.


Lalu menuju pancuran, untuk sekedar mencuci kaki tangan dan muka. setelah di rasa segar, ia kembali mendekat kepada Surip dan bertukar cerita tentang apa yang sudah berjalan, selama dua hari mendampingi lurah Djaelani dan Harjito.


Mahendra juga mendekat, lalu duduk bersama dengan Slamet.


"Pak... bagaimana perkembangan Jito..? semoga dia segera membaik."


"setelah saya berada di sana, Sulastri telah tiba dengan yu Paini dan Dargo, akan tetapi kondisi mental nya sangat memprihatikan." Slamet dengan gurat sedih menceritakan semua perihal Sulastri, yang masih berjuang dengan rasa takut nya.


"Paini dengan Dargo tentu akan kesulitan, untuk memberi tau kan perihal nyonya Ratmini"


"Ada apa dengan nyonya Ratmini pak Dhe...?" Sela Sundirah yang ternyata mampu berjalan merambat pelan menuju tempat mereka berbincang-bincang.


"Ndhuk..." Slamet berdiri dan mendekat lalu merangkul Sundirah.


Senyum bahagia menghiasi muka sayu Slamet.


"Duduklah, kita berbincang bersama. Dan banyak yang perlu kamu ketahui."


Mahendra membimbing dirah duduk di sampingnya. Membetulkan tempat duduk dirah, dengan hati-hati dirah duduk.

__ADS_1


"Ndhuk sabar ya..! Pak Dhe mau bercerita, akan tetapi kamu harus menyimpulkan yang baik-baik saja, dan jangan di bawa ke hati. Semua demi kondisimu yang baru saja pulih."


"Sulastri baru saja kembali dari penculikan yang telah Sardi rencanakan, kebakaran gudang kopra juga ulah Kamituwo Sardi." Semua terdiam mendengar penjelasan Slamet.


"Nyanyo Ratmini juga telah meninggal dunia, tepat pada saat terjadi penculikan dan kebakaran gudang kopra tempat kita." Jelas Slamet mengulang kembali kejadian beberapa hari lalu.


Sundirah mencermati setiap kata Slamet. Dan menitikkan air mata, mengingat kembali kejadian lalu yang pernah menimpanya.


"Cepat atau lambat Lastri harus tau tentang nenek Ratmini, pak." usul Sundirah.


"Tentu ndhuk, rumah yang mereka tempati dulu juga akan beralih kepemilikan nya, menjadi milik tuan Jupri." Lanjut Slamet.


"Dan satu lagi ndhuk... Bapak mau tanya."


"Apakah benar! kamu telah mencabut semua tuntutan kepada lurah Djaelani?" Slamet menatap serius ke arah Sundirah, lalu berpindah ke Mahendra.


"Saya yang mencabut pak, atas persetujuan ayah dan ibu. dan saya rasa dek Sundirah akan menyetujuinya. Sebab saya tidak ingin akan adanya dendam berkelanjutan, antara keluarga saya dengan keluarga Sulastri bersama Harjito, ataupun Sudargo kelak."


"Sebab! kehidupan akan terus menuntut kita untuk tetap berjalan ke depan. Sedangkan Sundirah dan Harjito masih ada garis saudara sepupu pak dhe.Maaf kan mas dek." Jelas Mahendra secara gamblang.


Sundirah memegang tangan Mahendra. "Saya setuju mas, Biarlah duka kita berganti dengan senyum anak anak kita kelak." Sundirah menatap lekat mata Mahendra.


"Matur nuwun ndhuk, Jiwa kalian suguh besar. Jangan pernah ada dendam lagi, bantu mbok paini dan Dargo membawa Sulastri Kembali, dan bisa menerima keadaan yang sebenarnya."


"Harjito akan kembali dalam minggu-minggu ini, dan nanti setelah Selapan dino kita kirab ke rumah mbok Paini." Kelegaan Slamet terpancar.


...****************...


Amben senden adalah, biasa di gunakan para wanita pada masa itu untuk duduk berselonjor, atau tidak menggantung kaki.


Selapan Dino adalah selama 35 hari, dan biasanya bayi akan di bawa kirab ke tempat sanak famili..


Sawut, Rondo royal adalah makanan yang terbuat dari singkong, yang menjadi makanan pokok kebanyakan masyarakat khususnya Jawa pada waktu itu


Tuk kan Mak.... orang sabar pantat nya lebar 😂😂


Jempol, komen rate ⭐🖐️ dulu yuk biar sabarnya bertambah 😂


maafkan Rhuji ya Mak 🤭 judul chapter nya melenceng. Biar tau semua kalau Rondo royal itu TAPE GORENG 🤣🤣


And I still love you 😘😘

__ADS_1


__ADS_2