SUNDIRAH

SUNDIRAH
Sang pengukir jiwa


__ADS_3

"Jangan mengorek luka lama, mereka sudah tenang, dan ayah kalian sudah mengakui kesalahannya." Paini menitikkan air mata di akhir katanya.


Memang tidak di pungkiri, sedalam apapun luka itu tertanam, borok juga yang masih membekas.


"Yu... Jangan menangis yu... masih ada aku, ada kang Jito. Juga ada mbok Paini." Sudargo membawa Sulastri kedalam pelukan nya. Satu sisi tangan nya mengenggam tangan Paini, seolah-olah mengharap sebuah kekuatan.


Akhirnya perjalanan sampai juga, matahari hampir saja mencondongkan sinarnya ke ufuk barat.


"Mbok... saya takut, saya ndhak mau berjumpa dengan ayah. Lindungi saya mbok." Sulastri berbisik pada Paini.


Sedangkan Sudargo saat ini, sungguh dalam keadaan dilema. Satu sisi kakak yang merasakan trauma atas kelakuan sang ayah, dan satu sisi dia adalah sang ayah. Setiap ucapan Ratmini menjadi patokan Sudargo.


"Bagaimana pun juga ayah adalah ayahku, tidak mungkin juga aku membiarkan ayahku dalam keadaan sakit seperti ini." Batin Dargo sedang dalam perang rasa.


"Mbok! bawa yu Lastri ke tempat kang Jito, saya akan menengok ayah." Bisik Dargo pelan kepada Paini.


Paini hanya mengangguk dan terus membawa Sulastri, dalam genggaman tangan nya menuju tempat di mana Harjito sedang berbaring.


"Kang...kang Jito.." Suara pelan itu membuat Harjito menoleh.


"Oh... Lastri.." Jito menggapai tangan Lastri namun luka pada lambungnya terlalu sakit untuk bergerak.


"Oh..."


"Jito, jangan memaksa bergerak dulu." Perintah Slamet, namun dia dengan sigap membantu jito untuk bersandar agar bisa melihat Sulastri.


"Kang... jangan sakit kang.. aku takut." Isak Lastri dalam pelukan Jito. Tangis Sulastri pecah di saat melihat harjito lemah berbaring, dengan telanjang dada dan luka dalam balutan kain putih pada perutnya.


"Sstt... sudah... Jangan menangis, aku tidak apa-apa." Hibur Harjito pada Lastri.


Slamet dan Paini melihat adegan mereka, dengan kondisi masing-masing. Paini mengisyaratkan Slamet untuk keluar ruangan, dan memberikan kenyamanan bagi mereka.


Slamet yang menyadarinya, langsung mengekor mengikuti kemana paini berjalan menuju sebuah bangku di sebelah lorong rumah sakit, yang tidak jauh dari kamar Harjito.


"Lastri, maafkan kang Jito. karena keadaan ini, aku tidak mampu melindungi mu." ucap jito, sambil menundukkan kepala.


"Sungguh aku lelaki yang tidak berguna, yang telah membiarkan seorang istrinya, sendiri dalam pelarian seorang Sardi. Maafkan aku Lastri." Harjito menangis tergugu sambil memeluk erat Lastri.

__ADS_1


Sementara di luar, Slamet dan Paini sedang menyusun kata untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. Tentang Ratmini yang telah meninggal dunia, dan tentang tempat tinggal mereka yang susah beralihkan menjadi milik Jupri.


"Cepat atau lambat, Lastri juga harus tau yu. Tidak mungkin kita menyembunyikan rahasia kematian nyonya Ratmini, dan sepulang dari rumah sakit, rumah mereka juga harus alih kepemilikan dengan tuan Jupri."


"Tugas kita saat ini adalah, memberi kekuatan pada mereka. Harjito harus kuat, fisik dan jiwa. Sedangkan Lastri juga harus kuat jiwa nya untuk menghadapi semua ini."


"Lalu Dargo piye le..?" Kegelisahan Paini beralasan, mengingat Dargo juga harus tetap meneruskan pendidikan, dan kondisi Djaelani yang tidak mungkin untuk mendukung anak-anak nya.


"Tenangkan dulu pikiran mu yu, sebab segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya." Hibur Slamet.


Di lain ruangan, dimana Djaelani sedang tergeletak lemah, dengan bantuan pernafasan dan luka di punggung.


Memandang ke arah Dargo, yang hanya berdiri dan melihat reaksi sang ayah. Antara iba dan geram menjadi satu, antara bakti sebagai anak berperang dengan kebencian.


"Ayah... walaupun setinggi langit rasa benci ku padamu, tidak mungkin aku mengubur rasa hormatku hingga ke dasar laut yang paling dalam."?????-


"Beri waktu padaku untuk menerima kenyataan ini, sebab aku telah kehilangan semua sejak kecil, dan baru aku sadari. Orang yang telah merampas kebahagiaan ku dengan yu Lastri adalah dirimu ayah." Batin Dargo berperang dalam kebisuan.


"Le.. mendekat lah.. Bagaimana keadaaan mbak yu mu? di mana dia sekarang, Ayah ingin bertemu dengan nya." Lirih suara Djaelani membuyarkan lamunan kebencian Sudargo.


"Dia sedang membalut luka batin, yang sudah ayah torehkan." Jawab Dargo sambil membuang pandangan keluar jendela.


"mendekat lah le... apakah kau juga akan membenci ayah? maaf kan ayah le.."


Mudah sekali seribu kesalahhan, hanya akan luluh dengan satu buah kata, Maaf!.


"Apakah saya akan mampu membenci mu ayah..? saya tidak sanggup ayah!"


"Seburuk apapun yang ayah tanaman pada kami, Ayah tetap lah pengukir jiwa kami yang sesungguhnya nya." Dargo mengesampingkan ego kebenciannya, dengan sebuah kata yang menyentuh hati Djaelani.


"Istirahat lah kembali ayah, saya akan keluar sebentar." Ijin Dargo.


"Lee..ayah ingin bertemu dengan mbak yu mu Sulastri. Apa bisa?"


"Biarkan yu Lastri mencari ayah sendiri di sini, biarkan yu Lastri menyembuhkan luka trauma yang sedang dia alami beberapa hari ini, itu tidak mudah untuk di lupakan ayah! Namun saya tau, yu Lastri juga tidak akan berbuat kejam, dengan melupakan atau pun membenci ayah." Dargo menghampiri ranjang Djaelani, dan meraih tangan lemah itu, dan mencium haru.


Djaelani menatap wajah Dargo, mencari adakah rasa benci itu pada pahatan wajah lugu nya. Akan tetapi hanya senyuman kecil yang ia dapati.

__ADS_1


Perlahan Dargo berjalan, meninggalkan Djaelani seorang diri. Kekecewaan yang sudah membuncah, harus ia pendam kembali. Mengingat keadaan dan situasi ia harus bisa melupakan kejadian.


"Aku harus bertekad membawa ayah untuk sembuh, dan bertaubat dari dosa dosa yang telah ia perbuat, sebelum benar-benar meninggalkan aku dengan yu Lastri." Dalam hati Dargo bertekad.


Dengan langkah gamang, iya melangkah menuju dimana Paini dan Slamet berada.


"Mbok...!" Sapa Dargo lunglai. "Kemana akan saya bawa ayah berteduh setelah ini?"


"Kami sudah tidak memiliki apapun!"


"Sabar le... pasti ada jalan keluarnya." Slamet memberikan semangat.


"Mbok percaya kamu bisa le.. sekarang masuklah temui kang Jito sama yu Lastri. Mbok ganti mau ke tempat ndoro Djaelani, sama pak Slamet." Pungkas Paini, lalu berjalan menuju kamar Djaelani di ikuti Slamet.


Dargo hanya mengangguk, dan berlalu ke arah dimana Harjito di rawat.


"Yu... kang...!" Sapa Dargo dengan wajah lesu.


"Dargo..! terimakasih, mbak yu mu sudah kembali. Sedangkan aku dalam kondisi lemah begini." ujar Harjito pesimis, dan menundukkan kepala lemah.


"Kang...! sampean harus yakin, semua akan baik baik saja. Tidak pantas bagimu bersikap lemah begini, aku yakin kang jito kuat dan mampu."


"Kita akan pulang berkumpul bersama." Dargo menyatukan tangan-tangan mereka dalam satu genggaman.


Lastri memeluk Dargo dan terisak dalam pelukan sang adik.


...****************...


Apapun yang terjadi kau tetap sang pengukir jiwa ku 😭😭😭.


ah... indahnya dunia bila dengan hati yang penuh kedamaian 🥰.


keep strong ya Mak... keep healthy...


and I love all of you 😘


like nya Ojo lali ✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2