SUNDIRAH

SUNDIRAH
Meniti hari esok


__ADS_3

"Dek kita telah sampai... Bangun." Tangan Atmosiman mengelus lembut pipi karmilah, yang tertidur di pundak Atmosiman


"Oh maaf mas, aku tertidur." Karmilah tersipu malu. Lalu membetulkan letak kain jarik yang ia kenakan, dan menata rambut nya yang di sanggul.


Mereka turun, dan berjalan melewati lorong rumah sakit menuju kamar Djaelani.


Perlahan mereka memasuki sebuah ruangan yang sunyi, dan meringkuk tubuh kurus dengan kain penutup di tubuhnya.


Atmosiman menatap trenyuh, teman kecilnya yang lemah tidak berdaya. Tarikan nafas dan mata cekung nya, seolah ikut menjadi saksi, dan siapapun tidak akan percaya, bahwa dia adalah lurah Djaelani yang pada saat sedang dalam kedudukan nya membina masyarakat. Siapa yang menduga ada ambisi di balik kewibawaan nya.


"Mas..." Karmilah menepuk bahu Atmosiman.


Atmosiman menoleh dan menggenggam tangan lembut Karmilah, lalu mencium punggung tangan nya, dan membisikkan kata. "Dek... terimakasih, dengan semua kesabaran, dan cintamu. Aku selamat dari ke egoisan dan kebutaan ku selama ini." Lalu membawanya dalam sebuah pelukan yang hangat.


"Oh.. Siman...! Maaf aku tidak tau, kau ada di sini." Djaelani terbangun dari lelap nya.


"Tetaplah berbaring, jangan banyak bergerak." Atmosiman membenarkan letak kain penutup tubuh Djaelani.


"Terimakasih, kalian sudah mau berbaik hati padaku." Djaelani tergugu dalam isakan nya.


"Jangan banyak fikiran, utamakan kondisimu saat ini. lekas lah pulih dan kembali pulang ke rumah." Hibur Atmosiman lagi.


"Harjito juga dalam perawatan disini, serta Sulastri juga dalam proses pengembalian trauma yang sudah menimpanya, beberapa hari lalu." Atmosiman menyampaikan keadaan Harjito dan Sulastri.


"Siman, tidak kah kau membenciku...?" mata sayu Djaelani menelisik manik hitam milik Atmosiman, dan bergantian menatap Karmilah.


" Lupakan saja, untuk apa harus di ingat. fokus pada kesehatan mu, Jangan mati dulu. Sebab kita akan berlomba menimang cucu bersama." Kata kata Atmosiman mengandung semangat untuk di Djaelani, akan tetapi mata Karmilah melotot hampir saja lepas, saat mendengar ucapan sang suami, yang kasar menurut dia.


"Hush... piye to mas...! Bicara yang bagus, Setiap ucapan adalah, sebuah doa mas...!" Protes Karmilah.


"Ya... memang aku sedang berdoa dek! biar Djaelani segera sembuh dan kita menimbang cucu bersama, dia cucu pertama. Sedang kan kita sudah ada dua."


he...he...he... tawa Atmosiman mengejek Karmilah.


"Kalian dari dulu, masih saja tetap romantis Siman." Sahut Djaelani dengan suara lemahnya.


Perbincangan mereka merembet mengingat masa lalu, hingga tiba masa Atmosiman berpamitan pulang, namun sebelumnya akan menjenguk Harjito dan Sulastri yang sedang sama-sama dalam perawatan, di tempat lain.


Paini dan Dargo duduk bersebelahan, mereka dalam fikiran masing-masing. Dargo tetap bertekad melanjutkan pendidikan dan mengejar ketinggalannya, Belajar dengan mendapatkan . Dan akan kembali dalam waktu dekat karena mendapatkan beasiswa.


Sedangkan Paini sibuk dengan fikran, bagaimana akan menghadapi Sulastri kelak, ketika harus tau, Ratmini telah berpulang.

__ADS_1


"Hem...Hem..."


Suara deheman Karmilah membuyarkan lamunan mereka.


"Nyonya..." Paini tersipu lalu mempersilahkan karmilah dan Atmosiman duduk pada bangku yang berjajar di sebelah.


"Le... apa kabarmu..?" Sapa Atmosiman pada Dargo.


"Saya baik pak dhe, terimakasih atas semua bantuan nya kepada kami." Dargo membungkuk, dan menyalami tangan Atmosiman dan Karmilah.


"Sudah... jangan di pikirkan masalah itu, Kita melangkah kedepan, dan saling memperbaiki kekurangan kita." Atmosiman memberikan dukungan kepada Sudargo.


"Mbok... Sepertinya kurang tidur..?" Tanya Karmilah pelan sambil mengelus punggung Paini.


"Iya nyonya.. saya bingung, bagaimana menyampaikan kata-kata kepada Sulastri, kalau nenek Ratmini telah wafat, lalu rumah yang mereka huni saat itu, telah berpindah kepemilikan kepada tuan Jupri." Kegelisahan Paini kembali terukir.


"Jangan terlalu di pikirkan mbok, kita hadapi bersama. Mereka anak-anak kita yang butuh kebersamaan." Karmilah memberikan kecerahan di saat kegelapan melanda pikiran Paini.


#Sebab pada waktu tahun-tahun lalu, apalagi bagi kalangan menengah kebawah. Semua tunduk pada kalangan atas yang lebih mampu, maupun terpandang, Karena di tahun tersebut segala pengetahuan dan kemampuan sangat terbatas.#


"Mari nyonya... masuk, mereka ada di dalam kamar sebelah sini." Paini membawa mereka masuk pada salah satu ruangan. Dan ternyata Harjito sedang berbincang-bincang dengan sulastri.


"Ndoro..." Salam Harjito sambil mengangguk


Sedangkan di sisi lain Karmilah memeluk hangat Sulastri, yang menangis pilu dalam pelukan nya.


"Bu dhe... apa yang akan terjadi lagi dalam kehidupan kami nanti? Saya takut bu dhe.." Sulastri semakin membenamkan wajahnya kedalam pelukan karmilah dan Paini yang berada di sampingnya ikut trenyuh.


"Sabar ndhuk.. semua pasti akan berlalu, jangan bersedih. Percaya ndhuk kamu bisa melewati nya."


"Sundirah melahirkan bayi tampan ndhuk, apa kamu tidak ingin berjumpa dengan nya.? Karmilah mengalihkan pembicaraan, menjadi kan topik baru, untuk merubah kesedihan Sulastri.


"Tentu perjalanan yang sangat sulit bagi Sundirah, Apakah kang Sardi juga melakukan hal yang tidak terpuji kepada Sundirah Bu dhe..?" Tanya Sulastri di luar dugaan mereka.


Mereka saling pandang satu sama lain, dan sunyi sesaat dalam ruangan.


"Bu dhe, pak dhe, sama mbok... saya sudah siap, dengan apapun yang akan saya dengar dan yang akan saya lakukan untuk ke depan, bersama kang Jito." Tarikan nafas lega, di sela isakan Sulastri.


Atmosiman mendekat, dan perlahan mengatakan yang sebenarnya.


Tentang apa yang sudah terjadi, tentang Sundirah dan bayinya, tentang kebakaran hebat yang terjadi pada gudang kopra, lalu.... tentang kematian Ratmini.

__ADS_1


Sulastri tidak mampu berkata satu ucapan pun, lidah serasa kelu, dunia seperti berhenti berputar, dan...


"Ndhuk...ndhuk... mas... piye iki mas...?" Teriak karmilah yang mendapati tubuh Lastri sudah lemas dan dingin.


Lastri pingsan....


"Jangan panik dek.. baringkan dan beri ruang biar dia bisa lega menghirup udara segar." Jawab Atmosiman santai, Dargo dengan sigap memijat kaki-kaki Sulastri. Dan memberikan kehangatan.


Harjito terdiam, sesak di dada ia juga ikut merasakan. mengingat semua kejadian, dan luka batin Sundirah Namun masih juga berbesar hati, memberikan pintu maaf dan memaafkan.


Atmosiman mendekat ke arah Harjito dan berkata. "Jito... jalani semua dengan lapang hati, bimbing Sulastri dia istrimu sekarang, dan belahan nyawamu ada pada Sulastri."


"Semoga Naris segera kembali, dan membawa berita baik. Sardi tertangkap dan di beri ganjaran yang setimpal."


Harjito yang hari ini merasa ada perbedaan dalam tubuh dan lukanya, merasa mendapat dorongan dan semangat dari Atmosiman. Dia mengangguk, menjabat tangan Atmosiman. Lalu melangkah pelan mendekat pada Sulastri yang masih belum siuman.


"Lastri... bangun, kita harus semangat. Hari indah menanti kita kedepan, jangan mau kalah dengan keadaan."


"Bangunlah istriku.." Harjito memeluk dan mencium kening sulastri.


"Mas...." Suara Sulastri lirih terdengar.


"Bangun ndhuk... segera sehat semua, kita akan pulang dan berkumpul menjadi satu." Paini memberikan minuman hangat untuk Lastri.



\#Beranilah. Ambil risiko. Mari berjuang. Tidak ada yang bisa menggantikan pengalaman. Jangan memikirkan masa lalu, jangan memimpikan masa depan, konsentrasikan pikiran pada saat sekarang.


Hadapi masa lalu tanpa penyesalan. Hadapi hari ini dengan tegar dan percaya diri. Siapkan masa depan dengan rencana yang matang dan tanpa rasa khawatir.


Lupakan yang ada di masa lalu mu, cukup jadikan pelajaran dan jangan berlarut di dalamnya. Ada masa depan yang menantimu di depan mata.


Lebih baik menjaga apa yang ada di tangan kita, daripada mengejar apa yang ada di tangan orang lain.\#



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


wes Mak besok lagi🀭


Terimakasih semua dukungan dan semangat nya, biarlah Rhu ngos-ngosan asal emak bahagia, aku tetap okeh 🀣

__ADS_1


semangat Mak yuk...πŸ˜‰ tapi like \+ rate β­πŸ–οΈ jangan bosan bosan ya Mak 😘


__ADS_2