SUNDIRAH

SUNDIRAH
Rasa hati


__ADS_3

Harjito dengan Naris, melakukan pengejaran terhadap kawanan kamutiwo Sardi. Mereka menelusuri jalan yang sudah Paidi beritahu kan.


"Aku sepertinya mengenali jalan ini kang...!" Angan Harjito kembali berputar, ketika mengikuti kamituwo Sardi, saat tragedi pembunuhan Suyud dan Yatemi.


"Bagus...! ini akan memudahkan kita dalam pencarian." Ucap Naris, tanpa menoleh.


Mereka mengayuh sepeda tanpa istirahat, bersama tiga anak buah Suprapto lain nya.


Luka goresan belati, pada rusuk sebelah kanan Harjito masih basah, dalam balutan kain dan ramuan binahong untuk mengantisipasi merembesnya kembali darah, dan terhindar dari kotoran dan infeksi. mengingat perjalanan yang mereka tempuh bukan jarak dekat, dan intensitas pergerakan dalam mengayuh sepeda, akan sulit bagi Harjito.


Namun semua tidak menyurutkan, semangat Harjito untuk segera membawa kembali Sulastri.


"Kita istirahat dulu Jito, esok menjelang pagi kita akan sampai di tempat yang kita tuju." perintah Naris.


Semua menyepakati saran Naris, sebab...! Bagaimanapun juga, tidak mungkin tetap mengayuh sepeda pada malam hari, sedangkan Medan perjalanan tidak begitu mereka kenali.


Pada saat istirahat, Naris dengan telaten membantu mengobati luka Jito.


"Luka mu terus basah Jito, apa tidak sebaiknya kamu istirahat saja, biar kami yang melanjutkan pencarian ini." Kembali Sardi mencoba memberikan saran terbaik untuk Harjito.


Harjito memandang penuh arti pada Naris. "Kang....! apakah sampean juga mencintai Sulastri..?"


Naris menghentikan pergerakan tangannya yang sedang membalut luka Jito. "Sebaiknya, kita fokus pada pencarian Sulastri saja Jito, bukan saatnya kita berbicara soal hati."


"Kang...! Aku sangat mencintai Sulastri, namun...! perjalanan cinta ini sungguh tidak mudah. Banyak sekali pertumpahan darah."


"Apakah kamu menyerah...?" Jawab Naris pelan, sambil meneruskan mengobati luka Jito.


Setelah selesai, Naris membenarkan tempat duduk nya, dan bersandar pada pohon besar, yang di sampingnya ada bangunan gardu kecil, tempat mereka beristirahat untuk sementara.


"Kamu tidak pantas, untuk mengucapkan kata menyerah jito...! Kamu sudah berhasil."


"Kita bersama-sama mencari Sulastri, bagaimana akhir cerita nya nanti, Sulastri tetap milik mu. Sebab dia juga mencintaimu, Bertahan lah Jito. keberhasilan di depan mata." Naris tetap memberikan semangat kepada Jito.


"Istirahat lah Jito, buang fikiran mu. yakinlah pada kepercayaan mu. Kami akan berjaga bergantian." Ucap Naris kembali.


Walaupun sesungguhnya perih juga, bila harus jujur mengatakan, tentang rasa dan tentang hati.


Dari balik semak-semak, sepasang mata mengintai keberadaan mereka. Dia adalah antek Sardi, yang sudah di tugaskan oleh kamituwo sardi, untuk menghalangi siapapun yang akan masuk dalam area persembunyian nya.


Namun sial....!


kresek...kresek...


"Oiii.... sopo kuwi....!"


Teriak salah satu anggota Naris, mereka seketika siaga, memasang mata dan telinga.


"Hati-hati, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Semua waspada." gumam Naris tapi sangat jelas di telinga para anggota yang memang sudah terbiasa dengan segala tugas.


Tidak lama, ada dua ekor garangan/luwak, melintas di jalan dekat tempat istirahat mereka.


Garangan tersebut saling berkejaran, dan hilang di balik semak-semak rimbun tidak jauh dari gardu.

__ADS_1


"Oh-hh hanya dua ekor garangan rupanya." Sungut salah satu dari mereka, yang sudah bersiap untuk melawan siapa saja yang akan mendekat.


"Tapi tetap waspada...! Kita sedang berada di jauh area, yang kita tidak paham akan Medan sekitar nya." salah satu dari mereka saling mengingatkan, untuk siaga dalam penjagaan.


Mereka melanjutkan istirahat, namun...! Naris tetap siaga, mata dan telinga ia fokuskan. hingga menjelang mentari menampakkan sinarnya, Naris mulai terlelap.



Sosok pengintai itu, berlari tunggang langgang menuju tempat tinggal Sardi, yang berjarak dua desa, dari tempat istirahat nya Naris dan kawan-kawan.


"Kaaang....kaaang....! kang Boo Bogel.."


"Heh.... jaga mulut mu.."


"Kenapa harus berteriak, seperti seorang kesurupan saja kamu ini."


"Bukan begitu kang...! di... di per... perbatasan hu.. hutan jati ada...anu...ada...." Laki-laki itu kembali gagap seketika, di saat melihat Sardi berjalan pincang keluar dari Ruangan.


"Ke...kenapa kang....?"


"Sssttt.... diam bacot mu.. jangan keras-keras ngomongnya." bisik Bogel.


"Ke.. kenapa ka..kang Sardi jalan nya ngang...ngangkang gitu kang..?" Laki-laki itu malah bertanya kepada Bogel, sambil menutupi mulut nya dan tertawa tertahan.


"Ade si imut dia kena, sentuhan kaki-kaki mulusnya Sulastri."


"Sssttt jangan berisik, Sulastri baru saja kabur.. kami juga kehilangan jejak dia." Bogel menjelaskan lagi sambil tertawa tertahan juga.


Byuurrr... klungtung duhg....


Bogel menyiramkan air sisa buat memandikan jago, kemuka pria gagap itu, lalu terakhir melempar kan tepat mengenai kepala.


"Waduh..... sakit kang!" Ia mengelus kepalanya dan bersungut-sungut sambil mendelik matanya ke arah Bogel.


"Cepat katakan, apa yang kamu lihat di perbatasan hutan jati...?" Tanya Bogel tidak sabar.


"Anu kang.. itu..!"


Plak..


"Ngomong yang jelas, jangan terlalu banyak anu nya...!" Bogel benar-benar tidak sabar.


"Saya mau ngomong kang...!"


"Di perbatasan hu..hutan ja.. jati.. aaada."


Byur...


Air itu kembali mengguyur tubuh lagi lagi gagap itu.


"Di perbatasan hutan jati, ada beberapa laki-laki yang akan mengarah kesini, dan menangkap kita kang..." Lancar seketika, laki-laki gagap itu berbicara ketika satu gayung air kembali di guyur kan ke mukanya.


"Ngomong dari tadi yang jelas gitu harusnya." Kesal Bogel.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu panggil yang lain nya, untuk datang kesini. Aku akan menghajar mereka, dengan Keceng dan lain nya." Ucap Bogel berapi-api.


Sardi juga mendengar perkataan mereka, akan tetapi dia lebih asyik, mengembalikan rasa sakit yang ia alami .


Sardi rebahan terlentang, di atas lincak. Dan fokus dalam penyembuhan ade imut nya, hingga mentari benar benar menampakkan warna semburat cantik, dengan sedikit kabut tipis, semakin mempercantik. Betapa Agung nya ciptaan yang maha kuasa.


Sedangkan di dapur, beberapa wanita paruh baya sudah sibuk menumbuk jagung. Dan menyalakan api dalam tungku, untuk memasak nasi jagung.


Sulastri yang terlelap karena kelelahan, tetap dalam posisi meringkuk di dalam tempayan besar itu, dengan nyiru sebagai tutupnya.


Mendengar suara orang menumbuk. Lesung beradu dengan alu, Sulastri terjaga dengan debaran rasa takut yang luar biasa.


Suara wanita, dan pembicaraan bersama. membuat Lastri ingin meminta bantuan, akan tetapi siapa mereka?.


Tiba-tiba....


Aahhhkkk.....


Ketika hendak mengambil nyiru, untuk menampi jagung yang sudah di tumbuk. Wanita itu menjerit sekuat tenaga, di saat mengetahui Sulastri ada di dalam tempayan tersebut.


Sulastri menautkan tangan, dan mengiba untuk bantuan pertolongan.


Wanita tua itu buru-buru menutup kembali, malah menutupi dengan sesuatu seolah tidak pernah terjadi apapun.


"Kenapa mbok...!"Keceng mendekati. Jeritan yang tiba-tiba itu mengundang, rasa penasaran anak buah Sardi.


Dia lalu mendekati tunggu, dan duduk jongkok mengambil bara api , lalu menyulutkan bara itu ke lintingan tembakau ***klobot***. Dan menghisapnya dalam-dalam.


"Ada tikus, membuat mbok terkejut." Dusta wanita tua itu.


"Kalau ada perempuan muda, dengan kulit bersih. Segara laporkan kepada kami, Wanita itu milik kang Sardi."


"Ha..ha .ha .. gara gara wanita itu, kang Sardi terkapar tidak berdaya mbok, jiwa ke lelakian nya meleyot kena tendangan bebas." Laki-laki yang bernama Keceng itu tertawa lepas, lalu berjalan keluar dapur.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



***Garangan/ luwak jawa, dalam bahasa daerah dikenal sebagai garangan atau ganggarangan, adalah sejenis karnivora kecil anggota suku Herpestidae. Menyebar luas di Asia Tenggara dan Selatan, hewan ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan mongoose***.



***klobot (daun jagung yang dikeringkan) sebagai pembungkus setiap batang kretek yang dilinting dengan tangan. Meski sudah jarang ada, jenis kretek klobot***.


\*\*\*\*\*\*\*



salam sayang selalu 😘😘😘


by Rhu 🤗

__ADS_1


__ADS_2