SUNDIRAH

SUNDIRAH
Cinta dan kesabaran


__ADS_3

Kehidupan Harjito bersama Sulastri berjalan normal apa adanya. Cinta dalam kesabaran mereka, membuahkan rasa percaya diri. Mereka saling menguatkan dan menutupi kekurangan satu sama lain.


Harjito dengan penuh telaten, memberikan pengertian, dan menuntun Sulastri untuk menjadi jiwa yang besar menghadapi kenyataan, tentang Hidup kasih dan mengasihi.


Sulastri yang sudah mengetahui tentang kematian Ratmini. Mau tidak mau harus mengikhlaskan kepergian nenek satu-satunya tempat dimana ia menumpahkan rasa, dan belajar mengenai kehidupan.


Dunia bagaikan runtuh saat mengetahui cerita yang sebenarnya, Rukmini telah meninggal dunia, di saat malam perkawinan dan terjadi penculikan.


Harjito masih seperti dulu, sebagai pedagang kerajinan dari kayu bambu.


Seiring berjalannya waktu, semakin banyak nya pesanan dan bisa menambah lapangan kerja bagi wanita di sekitar tempat tinggal mereka.


Bersama dengan ekonomi dan kebutuhan, Harjito melebarkan usaha hingga pemasaran keluar kota, dengan sarana transportasi cikar tentu, di era waktu itu yang masih sangat sulit. Dan hanya orang tertentu yang mampu memiliki tranportasi oto seperti saat sekarang.


Dan Djaelani harus berbesar hati menerima akhir dari semua ambisi dan mimpinya saat ini. Kesehatan Djaelani yang berangsur-angsur membaik, dan mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan dimana ia berada sekarang.


Rumah induk satu-satunya harus Djaelani relakan, menjadi milik Supri karena kekalahannya pada judi sabung ayam waktu lalu.


Dan beralih fungsi sebagai tempat distributor bahan pangan, terutama kopi, beras dan jagung.


Tugas sebagai Lurah lengser dan sudah tergantikan dengan, pengganti yang lebih mumpuni dan mengayomi masyarakat desa kawedusan.


Djaelani, baru menyadari rumah yang saat ini ia tempati adalah rumah yang seharusnya milik Rukmini.


Saudara kandung satu-satunya yang telah ia siksa hingga merenggangkan nyawa.


Sebagai pengganti kesibukan dalam keseharian Djaelani, dia membuka perkumpulan kesenian karawitan untuk pemuda pemudi sekitar dan berbagai desa tetangga.


Paini yang semula di rundung rasa takut dan was-was akan perkembangan kehidupan Sundirah, Suwarti dan Harjito. kini tersenyum lega menjalani kehidupan dengan wajar, sebagai buruh pengusir burung pipit di sawah. dan mengikuti berbagai kegiatan sosial seperti umumnya yang di canangkan pada era saat itu.


Sedangkan Sudargo, melanjutkan cita-cita nya sebagai seorang ahli kesehatan di ibukota.


Adakalanya dia kembali ke desa, untuk sekedar memastikan kesehatan Djaelani.


"Kang... lusa kita akan kedatangan tamu, kita harus berbenah sejak sekarang." Sela Sulastri saat mereka memulai buka lapak di pasar seperti biasanya.


"Sundirah bersama Mahendra dan Thole Teguh, akan kirab ke rumah kita."

__ADS_1


"Mbok paini harus kita beri tau Kang, Beliau pasti akan senang menyambut kedatangan mereka." Binar mata Sulastri menyiratkan kebahagian dan harapan akan segera bertemu dengan mereka.


"Aku kangen dengan Dirah mas! sungguh tidak menduga hidup dia se-tragis itu, dan berakhir manis."


"Dengan senang hati Lastri, kita curi satu popok Thole Teguh, biar kita segera ketularan." Harjito mencolek dagu Lastri, Lastri mendelik malu-malu.


"Kang di lihat orang malu! eh..." Sedangkan Harjito mana perduli dengan teguran Lastri. Cubitan manis, hinggap di pinggang Jito, bukan masalah besar bagi dia.


"Semoga Warti juga turut serta, adek manis itu menggemaskan. Aku juga kangen dengan kekonyolannya, yang selalu menghibur di saat kita sedang membutuhkan."


Membayangkan akan kebersamaan, membuat Sulastri lupa akan sekitar yg ang sudah ramai dengan pembeli.


#Mencuri sesuatu dari bayi yang baru lahir, untuk segera ketularan mendapatkan momongan kiranya sudah terjadi sejak dari jaman dahulu ya Mak...! Begitupun pada saat ada pernikahan, kepercayaan dengan mendapatkan sekuntum bunga dari mempelai perempuan, akan membantu mereka yang bersangkutan, agar enteng jodoh mereka sangat mempercayai mitos tersebut. Terkabul atau tidaknya ritual tersebut hanya Sebuah kepercayaan turun temurun, dan Allah hu a'lam bi sawab dengan ke Agung an dan kuasa Nya#


Seharian dalam aktifitas bersama di pasar, tidak membuat mereka lelah. Senyum dan gurauan, membawa rasa kebahagiaan tersendiri bagi mereka.


Sore nan cerah, Sulastri bersama Harjito duduk bersanding di teras emperan rumah, dengan pemandangan sawah yang mulai menguning menghampar, sejauh mata memandang. Burung pipit berebut mencuri bulir bulir padi, dan sembunyi, demi mendengar teriakan sang penunggu sawah. Sungguh alam yang bersahabat dengan keadaan saat ini. berdampingan dengan pohon nyiur yang melambai, memberikan salam perpisahan kepada sang Surya yang menyongsong hadirnya terang purnama, pada pertengahan bulan Jawa.


Burung Pipit berebut arah, untuk pulang ke sarang masing-masing selagi semburat jingga masih bersahabat.


"Aku takut dia akan kembali, dan berbuat onar kembali." Ketakutan Sulastri sangat beralasan sebab dia wanita yang di cari dan di inginkan saat ini.


"Sungguh tidak ku duga, dendam dia begitu mendarah daging, Rasa takut itu kadang masih menghantui kemana aku pergi dalam kesendirianku, kang."


"Aku takut kang, aku tidak mau itu akan terjadi lagi." Tangan Lastri memegang erat, seakan takut terlepas, dan di tinggal harjito sendirian.


"Kita akan hadapi bersama, jangan berfikir macam-macam fokus saja pada tujuan kita dalam sebuah pernikahan." Harjito membelai lembut sulur Sulastri, mencium harum aroma shampoo hi top.


"Kang..."


"hemmm... iya."


" Kenapa aku belum hamil juga." Tanya Lastri malu-malu, sambil mengigit bibir tipis nya.


"Sabar sayang, kita tetap Nyenyuwun Aksamaning Gusti Kang Maha Agung” Harjito tetap memberi semangat kepada Sulastri.


"Kita masih manten anyar kan? dulu kita ketemu mencuri-curi waktu, sekarang kita bisa menghabiskan waktu semampu kita. jadi bersabarlah."

__ADS_1


Sulastri menggelayut manja pada lengan kokoh Harjito.


Djaelani mendengar dengan jelas semua percakapan mereka, rasa trenyuh dan penyesalan menjadi cambuk kesehariannya, terkadang rasa malu itu hinggap di benak nya ketika bicara dan berhadapan dengan Sulastri dan Harjito.


walaupun sebenarnya mereka telah memaafkan segala kesalahannya pada masa silam.


sebagai pembina karawitan, Djaelani selalu menemani dan membimbing anak didik dan di sini kembali ia menghadapi fase yang sulit untuk melupakan masa lalu, di mana masa-masa dia masih muda dan tidak pernah akrab dengan anak-anaknya dan saudara kandung nya.


Sungguh... secara tidak langsung Djaelani menjalani hukuman sosial di dalam lingkup keluarga nya.


Walaupun sebenarnya Sulastri dan Harjito, serta sanak keluarga sudah saling memaafkan kesalahannya pada masa lalu.


Lelabuhan kang kangge wong Urip, Olo lan becik puniko,


Prayoga kawruhono, adat waton punika dipun kadulu, Miwah ingkang totokromo,


Den kaesthi siyang ratri.


👉Pengabdian yang berguna untuk orang hidup, jelek dan baik itu, sebaiknya kamu ketahui, adat istiadat itu hendaknya dilaksanakan, Juga yang berupa tata krama,


Dilaksanakan siang dan malam.


cuplikan tembang pangkur yang selalu mengingatkan dan ia jadikan pembelajaran dalam kehidupan kedepan untuk pemuda pemudi yang menjadi anak didik Djaelani.


#Tembang pangkur ada berbagai ragam cerita tentang kehidupan.


Tembang pangkur merupakan karya sastra bercerita tentang seseorang agar mengenang masa lalunya yang buruk, untuk mengajaknya mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mulai meninggalkan keserakahan duniawi. Tembang macapat pangkur ini merupakan salah satu sastra yang diciptakan oleh Sunan Drajat#


...****************...


Hayoo... siapa yang suka karawitan 🤭, bisa daftar Ama eyang Djaelani mak 😂


kalau Rhu mah sukanya slow rock je 😜


okelah... apapun hobby kalian, tetep keep healthy and strong ya kak 😘


yuk saling mendoakan ✌️

__ADS_1


__ADS_2