SUNDIRAH

SUNDIRAH
Sundirah


__ADS_3

Teguh Menyesap air susu yang Dirah berikan, Dirah membelai lembut rambut tipis Teguh, dan menatap kedua mata bayi mungilnya, yang enggan juga membuka walaupun hanya sekedar berkedip. Senyum tipisnya menghiasi wajah ayu itu.


"Ndhuk.... Perasaan seorang ibu, yang sering naik turun karena emosi. juga bisa mempengaruhi air susu, dan bayi akan semakin rewel." Tutur Karmilah.


"Ada apa ndhuk, bicara sama ibu. Apa yang sedang menggelayut dalam pikiranmu, ceritakan. Mungkin ibu bisa membantu mu, ndhuk."


"Persiapan pernikahan mu dengan Mahendra, akan segera kita mulai ndhuk, setelah selapanan nya teguh kita akan kirab ke rumah mbok Paini, dan sekaligus menjenguk Lastri dan Jito." Panjang lebar Karmilah berbicara, mencoba membongkar masalah yang ada dalam benak Sundirah beberapa hari ini.


"Iya Bu.... Terimakasih semua dukungan, dan kasih ibu yang selama ini saya rasakan." Lolos juga air mata yang sejak tadi ia tahan.


"Jangan pernah bersedih lagi ndhuk, Fokus pada perkembangan Teguh, dan kesehatan mu saja." Karmilah nyatanya sangat perhatian dan sayang sepenuh hati terhadap Sundirah maupun Suwarti.


Teguh yang terlelap dalam pangkuan Sundirah, Karmilah kembali menggendong Teguh dan menidurkan dalam ayunan bayi.


Mahendra kembali dari gudang kopra dan kumpul bersama, duduk menemani Dirah, bercerita dan bercanda bersama.


Sungguh kebahagian mana lagi yang harus mereka sangkal, Restu dan dukungan penuh sudah mereka dapatkan.


"Dek.... sebentar lagi adalah selapan hari nya thole Teguh. Kita akan kirab ke tempat mbok Paini, dan kita akan berkumpul dengan Jito. Sampean bisa bertukar cerita dengan Sulastri." Mahendra berbicara sembari menyandarkan kepala nya di pundak Sundirah.


Sikap manja dan perhatian Mahendra kepada Dirah, tidak pernah berubah sedikitpun. Buah kesabaran selalu indah pada akhirnya.


"Mas... sampai kapan cintamu padaku? bila aku sudah tua nanti, dan tubuhku sakit-sakitan seperti saat ini, apakah cintaku akan tetap seperti pertama kita berjumpa dahulu...?" Pertanyaan Sundirah Tiba-tiba mengalir begitu saja.


"Hingga mata ku tertutup untuk selamanya, dan nyawa ku lepas dari ragaku. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, kenapa dek...?" Mahendra merasa aneh dengan pertanyaan Sundirah.


"Singaraning nyowo, Garwo... Kau adalah separuh nyawaku, Dirah."


"Menurut ku Garwo adalah saling memahami. Orang yang kedatangannya menjadi obat bagi setiap lukanya, luka di hati, luka pikiran, luka jiwa, hingga luka raga. Garwo adalah orang yang tidak akan pernah berubah menjadi apa yang dia tidak suka. Orang yang akan membuatnya rela melakukan apapun asal ia bisa memberikan seiris senyum pada orang yang disayang. Garwo adalah orang yang bila ia jauh darinya, maka ia dadanya akan terasa sakit, sesak menahan rasa rindu."


Sundirah tersenyum, dan membenamkan kepala nya dalam hangat nya dada Mahendra.


"Mas tau! adakalanya kita merindukan sosok ibu maupun ayah di sisi kita, saat ini. Mas tidak akan melupakan semua yang menimpa perjalanan cinta kita, Dirah."


"Kau bagian terpenting dalam keluarga Atmosiman, setelah Teguh dan adik-adiknya kelak, kita akan membimbing anak-anak kita bersama."


"Sayang... Aku mencintaimu dan kita akan menua bersama." Mahendra semakin mempererat pelukan nya terhadap Sundirah.


Sundirah membalas dengan sebuah kecupan di kening Mahendra.


"Terimakasih mas, aku merasa kuat berada di sampingmu."

__ADS_1


Angin semilir membawa Mahendra dalam rasa untuk memejamkan mata pelukan Sundirah, semakin mendorong sebuah lena. Belaian tangan halus Sundirah, sulit untuk menolak mata Mahendra untuk tidak merajut mimpi dalam buaian.


Senyum Sundirah mengembang manis ketika mendengar dengkuran halus Mahendra dalam pangkuannya.


Ingatan masa-masa ketika merajut asmara dengan Mahendra melintas dalam benak nya.


Pov sundirah


Aku tidak menyangka pandangan pertama ku pada pria lebih tua beberapa tahun itu, akan membawa debaran yang sulit untuk aku Artikan. Hingga aku berada di tengah-tengah keluarga ini, semua bagaikan mimpi.


Manik matanya yang hitam, rahang nya yang melukiskan bahwa dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Membuat aku terlena pada sebuah Angan-angan


ahhh...!


Dada bidang itu, betapa indahnya bila aku berada dalam pelukannya.


Duniaku serasa penuh mimpi akan kebersamaan ku dengan nya, tidak ku sangka dan tanpa ku nyana, mas Hendra ternyata punya rasa yang tidak beda jauh dari isi hatiku.


Setiap pagi hari, ku bawa kaki ku melangkah berjalan melewati, jalan setapak menuju rumah ndoro Atmosiman dengan nyanyian riang, berlari kecil, berharap segera tiba di rumah besar itu.


Tugasku sebagai pencuci baju, dan membersihkan rumah utama. Adalah tugas yang paling menguntungkan bagi ku.


Setiap saat mas Hendra mencuri-curi waktu dari ndoro Siman hanya untuk berbicara, mas Hendra selalu mengikuti jejak ku, di ruang mana yang harus aku bersihkan.


"Sundirah... kalau kita menikah apa kamu mau...?" Terngiang kembali ucapan mas Mahendra


"Sundirah.... aku akan membawamu pada ayah dan ibuku, aku mencintaimu."


Ahhh.... aku tersipu tidak percaya, mana mungkin si abu Upik sepertiku mencintai dan bersanding dengan seorang pangeran seperti mas Hendra.


Hanya mimpi kan...?


"Saya hanya orang miskin Den, nanti yang ada ndoro Siman pasti malu, mempunyai anak mantu seperti saya, saya tidak pantas den Hendra " Jawabku, akan tetapi sungguh...! Aku tidak akan menolak bila itu benar-benar terjadi.


Setiap ada kesempatan, mas Hendra selalu membawaku, ke gudang kopra, ataupun melihat-lihat ladang kelapa.


Hari-hari ku terlena, dan melupakan siapa sebenarnya aku. Bahkan aku sudah berani berbohong pada bapak ku.


Mataku sudah tertutup oleh cinta, dan keberuntungan saat itu memihak padaku.


Mas Hendra nyatanya juga membalas cintaku. Dan itu semakin mendorong rasa keberanian ku. sebab aku yakin cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


Rata-rata pada jaman itu kebanyakan gadis pada di pingit, tetapi tidak berlaku padaku, aku yang hanya anak seorang buruh petik kelapa, bukan orang kaya seperti mereka yang harus di jodoh-jodoh kan, dengan mereka yang sama-sama berharta dan berkedudukan.


Aku lupa.... iya aku telah lupa, siapa sebenarnya diri ini. Mataku sudah tertutup dengan Cinta, semua hanya keindahan yang terbayang di benak ku.


Hingga suatu hari, sengaja tanpa sepengetahuan bapak ku, aku tidak masuk kerja ke rumah Ndoro Siman.


Aku asyik memadu asmara dengan mas Hendra, ku tepis rasa takut itu. Semua karena cintaku pada nya.


"Sundirah, aku ingin mencium bibirmu yang ranum itu." Mas Hendra memberikan sentuhan yang pernah aku rasakan.


"Oh... sakit den..." Isak ku menaham sakit dan takut.


Tangan ku dan tangan nya saling bertautan, atas dasar saling mencintai, dan saling menginginkan untuk memiliki satu sama lain.


Antara takut dan menginginkan bergejolak dalam satu rasa. Aku hanyut, dan aku terbuai.


Tangan kekar itu, mengungkung tubuh kecilku, dekapan *******, dan bisikan hangat di telingaku. Darahku berdesir, membuncah dalam derai an nafas penuh hasrat.


"Dirah... maaf kan mas... aku mencintaimu Dirah, kita akan bersama ini sebuah sumpah, dan bukan janji."


"Den... sakit den...!" Bisik ku, air mataku terburai berderai.


"Maaf Dirah.. maafkan mas." Sungguh ini kah rasanya kenikmatan dalam keperihan..?


Aku lupa siapa diriku, bagaimana kelak nasib ku, kehormatan ku sebagai seorang perempuan yang seharusnya, aku junjung tinggi hilang, bersama nafsu.


Gubug itu sebagai saksi nya, inikah Cinta sejati, apakah ini sebuah awal pengorbanan. Menyesal kah aku...?


Menyesal apakah masih berlaku pada kebodohan ku.


"Hapus air matamu Dirah, kau milikku saat ini dan selamanya."


Hanya tangis pilu Yanga mampu aku berikan sebagai jawabannya.


Noda itu telah membekas pada, dan tidak mungkin terhapus, waktu juga tidak mungkin berputar kembali.


...****************...


“Garwo” sering dipahami sebagai kependekan dari kata “sigaraning nyawo” alias “belahan nyawa” atau “belahan jiwa”. Di balik sebutan itu terkadung makna bahwa istri adalah “sigaraning nyawa” atau “belahan jiwa” bagi sang suami.


Mak.... Tempo hari siapa yang minta cerita sebelum Sundirah hamidun 🤭

__ADS_1


Ini... sudah ku tanggung dan ku jawab ya Mak 🤣😂, kita ke chapter berikutnya yuk.


😘😘😘 keep healthy ya Mak 😘


__ADS_2