
Slurrpp... aaakh...
Naris menoleh ke belakang, satu anggotanya terkena tombak pada lengannya. Darah segar mengucur, Jerit pasukan itu tertahan. Naris mengisyaratkan untuk berjalan ke depan dengan berlindung di balik pohon.
Kembali terdengar suitan aba-aba isyarat untuk berhati-hati, pasukan sudah terbagi menjadi dua bagian.
Mereka berpencar, berjalan, berlari kecil tanpa bersuara dengan perlindungan pohon sebagai tameng mereka.
Tiba-tiba...
Dorr.....
Satu tembakan tepat mengenai anak buah Tunggak, saat ia hendak melempar mata tombak ke arah pasukan pengamanan. Namun kalah cepat dengan sebuah tembakan dan tergeletak seketika.
Sardi yang mendengar letupan tembak, menoleh kearah Tunggak. "Kang.. kita hanya memiliki beberapa Bionet, dan bom rakitan ?"
" Lakukan penyerangan jebakan, dan setelah itu kita lari ke arah pantai, kita berakit menuju Pacitan." Perintah Tunggak.
"Lalu, gadis itu?" Tanya Sardi lagi agak ragu, sebab pelarian dengan bawa seorang wanita akan menambah keribetan, berbeda dengan saat membawa Sulastri, karena ada maksud tertentu.
"Aaahhh seandainya gadis itu adalah Lastri!" Rutuk Sardi kembali.
"Sudahlah, bukan waktunya untuk menyesali nya. Lakukan persiapan."
"Bawa gadis itu, dan tinggalkan semua. Yang penting kita aman." Teriakan Tunggak, memberi penekanan pada Sardi.
Sardi memasang beberapa jebakan, dan menyiapkan segala yang akan ia lakukan, bila kawanan Naris telah tiba ke pusat persembunyian nya.
"Duh.... Aku harus keluar dari sini, bagaimana ini. Ibu...!" Sulistyowati meratapi nasibnya, dengan berbagai cara ia juga menyusun untuk melarikan diri.
Setelah mendengar suara tembakan, Sulistyowati yakin bahwa ada orang yang akan menolong nya.
"Aku harus berusaha, mencari celah." Ia mondar-mandir di dalam gubuk tersebut.
Gubug bambu itu, terlalu kuat untuk ukuran gadis seperti Sulistyowati. Dari celah lubang, ia mendapati sesosok perempuan setengah tua..
"Yu...yu... tolong, bantu aku keluar dari sini..!"
Wanita tua itu malah berjalan mundur, bingung suara dari mana. "Yu... aku dari dalam gubug ini, tolong bantu aku untuk keluar." Suara Sulistyowati pelan seperti orang berbisik.
Wanita itu maju lagi, lalu mengintip dari celah. Dia harus hati-hati sebab Sardi telah memasang jebakan tidak jauh dari gubug tersebut.
Wanita paruh usia yang biasa di pakai para berandal sebagai pelampiasan nafsu itu, mundur sejenak. Lalu kembali ke gubug induk, mengambil sesuatu.
Namun naas Tunggak melihat gerak-gerik wanita itu. Dia mengikutinya, lalu memanggil wanita itu.
"Oii.. apa yang kau lakukan? Jangan pernah punya niatan untuk kabur dari ku, atau ku buraikan usus usus kalian." Ancaman Tunggak tidak main-main, dia terkenal dengan sebutan rampok raja tega.
__ADS_1
"Ampun kang, saya tidak bermaksud melarikan diri." Wanita itu ciut nyali dan beringsut meringkuk bersama yang lain.
Namun dia juga tetap berniat untuk membantu Sulistyowati, keluar dari gubug kecil itu.
"Awas..! Kalau salah satu dari kalian berani bertindak, aku tidak segan-segan untuk menggantung kalian di pohon beringin itu, hingga ajal menjemput kalian." Suara keras Tunggak sampai di telinga Sulistyowati juga. Putus sudah harapan, untuk mendapatkan pertolongan.
"Duh Gusti... tolong hamba, hamba takut..!" Isak Sulistyowati dengan ketakutan.
Dor.... dor...
Kembali terdengar tembakan, tidak lama lagi suitan isyarat bersahutan di luar.
"Aah... matih aku...!" Jeritan dari jauh terdengar jelas. kegaduhan tidak bisa terelakkan.
"Kang.. bertahan kang.. aakhh..."Suara itu kembali terdengar. Anak buah Sardi berjatuhan, mereka kepepet langkah, Bogel tewas di tempat, tembakan dari pasukan pengamanan tepat mengenai jantungnya.
Pasukan dan anggota Naris semakin merangsek masuk ke area inti tempat persembunyian Tunggak.
Di sini Sulistyowati mempunyai nyali untuk mendobrak sekuat tenaga dia, dengan tendangan kaki kaki kecilnya, dia berhasil dobrak pintu yang terbuat dari bambu itu.
Tunggak melihat pintu gubuk itu terbuka, lalu ia berteriak "Sardi... cepat tangkap gadis bodoh itu...!"
Sardi menoleh dan mengejar lari Sulistyowati yang bagaikan kesetanan karena rasa takut. Dia sendiri tidak tau kemana harus berlari.
"Awas.....!"Suara lantang Sardi.
"Aahhkk...tolong.... Ibu...." Lengkingan suara Sulistyowati menyita semua anggota Naris, dan kawanan Tunggak.
Sulistyowati, masuk kedalam jebakan kakinya terikat dan tubuhnya tertarik naik ke atas pohon, tubuh Sulistyowati tergantung di pohon tinggi itu.
"Tolong... ibu...!" Tangis Sulistyowati, dengan tubuh tergantung kaki di atas kepala di bawah.
"Sardi..! ikuti aku..!" Teriak Tunggak. Sardi membalikkan badannya, dan berlari ke arah yang sudah di tunjukkan Tunggak, mereka berdua berhasil melarikan diri.
Sementara sisa-sisa mereka masih melakukan perkelahian dan saling menyerang, anak buah Sardi tewas masuk kedalam jebakan yang mereka persiapkan untuk anggota Naris.
Anak buah gerombolan perampok itu yang mengetahui bahwa Tunggak bersama Sardi sudah kabur mengarah ke pantai. Mereka jadi kocar-kacir, lari tunggang-langgang menyelamatkan diri masing-masing.
Para wanita tawanan pemuas nafsu, meringkuk ketakutan, mengharap bantuan dan bisa selamat lalu pulang dan berkumpul dengan keluarga.
"Tolong...aakhh sakit... turun kan aku dari sini, takut...!" Teriakan Sulistyowati kembali.
"Bersabarlah, kami akan berusaha" Jawab Naris dari bawah.
"Kalian! yang tidak terluka, tolong bantu para wanita itu menuju ke tempat yang aman, kalian kembali ke tempat semula." Perintah pimpinan mereka, untuk menuju ke tempat semula yaitu rumah Mitun dan Situn tempo hari.
Para anggota yang sudah terlatih, dengan cekatan membantu mereka, dan membersihkan tempat tersebut.
__ADS_1
Menguburkan empat mayat mayat bergelimpangan, korban tembak ataupun terkena Bionet.
"Edan... Sardi lepas lagi! licin betul dia." Geram Naris kepada ketua pimpinannya.
"Kita seharusnya meminta bantuan, untuk menangkap pentolan perusuh itu."
Naris menuju ke tempat jebakan yang telah membuat Sulistyowati tergantung di pohon itu.
"Ning.. bersabarlah.. Aku akan menurunkan mu." Naris mencari ujung tali yang telah mengikat kaki Sulistyowati.
Hop...! brukk
Naris memotong tali pengikat dan menangkap tubuh kecil Sulistyowati.
Tak ayal tubuh mereka jatuh bersama dan menindih tubuh Naris, tepat di dada.
Gadis malang itu menangis dan memeluk Naris. Dia tidak menghiraukan siapapun yang ia peluk, dia hanya merasakan. Bahwa dia akan aman dan bisa pulang kembali pada orang tuanya.
Tidak di sangka dari balik semak, ternyata masih ada satu pasang mata mengawasi Naris. Dan pada saat yang tepat.
Sruut... aahk... Naris terkena lemparan Bionet tepat di pundak depan.
"Tolong.... siapapun aahh..." Teriakan nyaring Sulistyowati membuat anggota Naris melakukan pengejaran, dan..
dor.. dor...dor...
ahhkk....
Laki-laki lusuh itu tumbang dan mati di tempat.
Sulistyowati ganti posisi merangkul bahu kekar Naris.
Nafas Naris tersengal merasakan sakit yang luar biasa, Bionet itu menancap di pundak nya.
"Bertahan lah, lukamu sangat dalam Mas, Kau harus kuat." Rintih Sulistyowati dalam isakan dan ketakutan yang luar biasa.
"Jangan takut, jangan menangis, aku tidak apa-apa." Dusta Naris, supaya Sulistyowati tenang, dan tidak merasa takut.
Namun darah segar terus mengalir. "Siapa namamu cah ayu, kenapa kamu sampai ada di tempat ini?" Kembali Naris berbicara untuk mengalihkan rasa perih itu.
Sulistyowati sibuk membalut luka Naris dengan sobekan kain yang ia kenakan, agar darah segar itu tidak merembes keluar.
...****************...
Duh ucul maning 🤧🤧
Rhu janji, Sardi bakal ketangkap, kasih kelonggaran lagi. Habis itu kita gantung di alun alun yak 🤣🤣
__ADS_1
jempol lagi yuk ✌️