
"Kau kenapa Warti, ada apa denganmu? Kau sakit." Sundirah memegang kening Warti, yang di pegang malah cengengesan.
"Iya yu, baru saja kepanasan mengambil popok dan baju Thole dari jemuran." Dusta Warti sambil senyum-senyum sendiri.
"Kau ini aneh saja, kan bisa ambil baju di jemuran pakai capil , biar tidak terlalu panas." Sedikitpun Sundirah tidak paham kemana arah pembicaraan Suwarti.
Suwarti meraih Teguh dari ayunan dan mengendong nya keluar dari kamar, bersama Sundirah mereka berjalan beriringan.
"Yu, apakah pernikahan orang kaya dan terpandang itu harus ada istilah perjodohan ya..?" Sundirah menghentikan langkahnya lalu menatap Suwarti. Gurat di kening nya menandakan, dia sedang mencermati kalimat yang Suwarti lontarkan.
"kenapa kamu bertanya? adakah yang menggangu fikiran mu cah ayu" Sundirah balik bertanya, senyum penasaran nya sedikit mengetahui kemana arah Warti berbicara. lalu melanjutkan langkahnya, hingga berhenti pada lorong serambi samping rumah.
"Cinta bukanlah kasta Warti, Dan jodoh tidak bisa di paksa. itu menurutku." Sundirah menjawab pertanyaan Warti setelah jeda beberapa saat.
"Bila cinta itu memang lahir dengan tulus, maka pertahankan. Namun! apabila cinta itu sebuah ambisi dan keinginan untuk meraih sesuatu, tidak bisa di pungkiri. Waktu akan berjalan dengan cepat dan memudar, ibaratkan sebuah warna pada kain, ia akan segera memudar warnanya bila setiap hari berada di bawah teriknya matahari."
"Begitupun dengan hubungan tanpa di dasari rasa dalam hati, dia akan memudar bersama putaran waktu. Berbeda dengan hubungan dengan rasa pasrah, dan mengikuti alur, witing tresno jalaran Soko kulino."
"Cinta penuh misteri Warti, kelak kau akan tau juga. Kenapa kau menanyakan itu?" Panjang lebar Sundirah memberikan wawasan kepada Warti.
"Tidak ada apa-apa yu, hanya saja aku merasa aneh."
"Orang kaya, dan beberapa orang yang mempunyai derajat lebih tinggi. Mereka menjodohkan anak-anak nya semata-mata untuk menyelamatkan kekuasaan dan harta, iya kan yu?" Tangan Warti sambil membuka satu persatu tali gurita Teguh, dan memandikan Teguh.
"Warti.. kenapa kau membahas tentang perjodohan dan pernikahan. Katakan sejujurnya, apakah ada sebuah cinta yang menghampiri mu?" Selidik Sundirah dan di balas dengan senyuman Warti.
"Sepertinya Warti memang sudah gede ndhuk, tapi dia malu untuk mengakuinya." Surip tiba-tiba sudah berada di samping Warti sambil membawa air hangat untuk Teguh mandi.
"Harus jujur Warti, jangan main petak umpet seperti yu Dirah." Sundirah tersenyum malu-malu mengakui kebodohannya kala itu.
"Tapii.. belum tentu dia juga suka sama Warti yu, ah.... biarlah waktu yang bicara , aku manut Kerso ne Gusti Kang murbeng dumadi." Warti menunduk lesu.
"Aku pasrah saja mbok, harta milik ku pun hanya baju yang melekat pada tubuh, lalu mau meraih yang lebih tinggi, apa mungkin?"
"Aku bakal Nrimo ing pandum." Suwarti melanjutkan kegiatan rutin nya memandikan Teguh dengan bantuan Surip.
"Bicara dengan berterus terang, jangan menyimpan rasa hati ndhuk. Jadikan pengalaman yu Dirah sebagai guru, menjadi cambuk kedepan untuk lebih mawas diri." Sundirah tetap menjadikan diri nya sebagai patokan untuk Warti.
__ADS_1
"Iya yu! Tapi ketahuilah, bagaimana pun juga kau adalah wanita terhebat. Setelah emak kita yu." Warti menatap Sundirah.
"Wis... ayo semangat menghadapi masa depan ndhuk, jangan selalu mengingat hari kemaren yang terlalu pahit."
"Hidup bukan untuk di sesali, Banyak orang yang tidak bertindak karena takut gagal, padahal tidak bertindak adalah kegagalan yang jelas sudah terjadi." Surip menengahi pembicaraan mereka, lalu memberikan Teguh pada Sundirah. Untuk mendapatkan air susu ibu, dan menimangnya dalam buaian hangat seorang ibu.
Sedangkan masih di bale-bale Atmosiman, Karmilah dan Mahendra masih duduk-duduk dan membicarakan perihal Suwarti dan Prayuda.
"Ayah, saya mohon jangan pernah ada sedikitpun pemaksaan. Sebab, pengalaman saya kemaren bukan hanya hati yang tersiksa, namun korban jiwa juga." Mahendra mencoba mengingatkan sang ayah.
"Jangan khawatir le, itu semua tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya." Atmosiman menepuk pundak Mahendra.
"Yang sudah terjadi, semoga tidak pernah terulang. Dan itu memberikan pada kami sebuah hikmah, ternyata cinta tidak bisa di sandingkan dengan harta." Karmilah juga menimpali percakapan mereka.
"Tapi dek! putra pak Prapto, sepertinya ada hati dengan Warti. Sikapnya sangat santun semoga mereka berjodoh dek."
"Dan dalam waktu dekat kita akan ngunduh mantu dua kali." Atmosiman berkata sambil senyum-senyum sendiri, bangga dengan Angan-angan nya.
"Semoga ya mas." Karmilah memandang ke arah Mahendra, lalu melanjutkan kata-kata.
"Dan kalian bisa berlomba, memberikan cucu-cucu yang lucu pada kami." Karmilah berucap sambil memberikan kerlingan mata pada Atmosiman, yang sejak tadi tersenyum puas.
"Ingat pinggang mas, tidak bagus dengan kesehatan jantung, bila memaksakan kehendak hati."
Ha...ha...ha... Jawaban Karmilah, mampu memecahkan tawa Atmosiman dan Mahendra.
Dokar itu melaju dengan kecepatan sedang. Suprapto dan istrinya Hamidah dalam keasyikan mengolah percakapan saat pertemuan dengan keluarga Atmosiman.
Berbeda dengan Prayuda, yang memang pada dasarnya adalah pendiam. Prayuda duduk di depan sebagai kusir dokar, sedang berada di alam pikirannya sendiri.
"Ah... gadis itu, senyumnya sepahit madu, rambutnya yang di kepang dua. Membuat dia semakin ayu." Batin Prayuda mendorongkan seuntai senyum, yang ia sembunyikan.
Hamidah bersama Suprapto yang duduk di belakang, menyadari akan hal itu , mencolek lengan Suprapto dan menunjuk ke arah punggung prayuda. Mereka lantas beradu pandang dan tersenyum, tanpa suara.
__ADS_1
ehemm..hhmm...
"Yuda, ada pikiran apa yang sedang menggangu mu! Ayah amati sedari tadi kau hanya diam saja."
"Biar ayah yang pegang kendali dokar, kau duduk bersama ibu di belakang." Suprapto yang bijak mengalihkan kesunyian yang sedang di alami putra sulung nya itu.
"A..ayah.. saya baik-baik saja, hanya ada sedikit pikiran mengganjal. Dan itu tidak penting ayah , ibu." Prayuda berusaha menyembunyikan kegundahan karena pandangan pertamanya kepada Suwarti.
"Yuda.."
""Iya ayah" Jawab Yuda dengan sedikit memalingkan wajah nya kebelakang, menatap sang ayah.
"Kau lihat putri bungsunya ndoro Siman? sukun yang ia bawa manis ya le?" Goda Prapto kepada yuda.
"Suwarti juga manis ayah, semoga belum ada yang memiliki hatinya." Jawab Prayuda lancar, tanpa kecanggungan.
Hamidah meraba dada kirinya, dan tersenyum bahagia, Pucuk dicinta ulam pun tiba. kerlingan mata Prapto berbicara seolah ini awal yang bagus untuk anak-anak mereka.
"Apakah kau menyukai Suwarti, Yuda."
"Bila iya, mantapkan hati dulu, jangan ***grusa grusu***, penyesalan itu menyakitkan le!" Hamidah membesarkan hati Prayuda.
"Anak kita sudah mulai main hati bu! Ayah bangga padamu le, kami akan mendukung asalkan itu positif, dan bisa membawaku kedalam manusia yang seutuhnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
***Grusa grusu \= melakukan tindakan dengan tanpa berpikir panjang, sebab dan akibatnya***.
tuh kan! Harus tetap semangat 💪
kali ini cinta tanpa pengorbanan rasa mak🤭
__ADS_1
Andai camer ku ikut baca 🤭 Alangkah Anu nya aku 😂😂
pokok e lope yu ol 😘😘 like, komen, rate ⭐🖐️ and plus plus ya Mak 😉