
Naris jelas gelagapan dengan sikap Sulis, jantung dia mau copot rasanya. Bagaimana tidak! karena baru kali ini ada seorang gadis yang berani memeluk dia, apalagi pelukannya erat begini.
#Sekali dapet gadis sangat agresif aja tuh Sulis nya 😂.Oke Mak, kita tinggalkan dulu adegan film India versi Naris dengan Sulis, biar deg-degan terus tuh kang Naris nya. Kita bantu Jupri menangkap pentolan perusuh Tunggak#
Jupri dengan gesit terus menyudutkan setiap gerak Tunggak, namun Tunggak rupanya telah kenyang dengan asam garam tentang dunia per hitam yang ia jalani selama ini.
Sehingga tidak mudah bagi Jupri untuk mengalahkan Tunggak, namun di saat naas. Tunggak terpental mengenai pilar dan menabrak beton kokoh itu.
Karena celurit yang masih menancap di punggungnya, belum tercabut dan belum lepas akhirnya celurit itu masuk ke dalam dan menghujam tubuh dia. Tunggak terkapar... dia tidak berdaya dan dia menghembuskan nafas terakhirnya seketika di tempat itu.
Ujung celurit yang melengkung itu, merobek Jantung Tunggak dan habis sudah riwayat Tunggak sang ketua perampok dari alas jati yang tersohor kebengisannya itu.
Kegaduhan dan situasi yang porak-poranda di pelataran dan bale-bale rumah jupri, berhenti seketika.
"Matilah dengan tenang Tunggak, dunia akan damai tanpamu." Jupri berkata sambil Menutup kedua mata tunggal yang melotot di saat hembusan nafar terakhir nya yang merasakan kesakitan yang luar biasa.
Ayam jago berkokok bersahutan, embun berjatuhan membasahi tanah yang kini mengering karena sengatan matahari kemaren. Kabut pagi berterbangan tertempa angin pagi nan sejuk. Bunga kertas bermekaran seolah-olah mereka sedang dalam rasa kelegaan dengan tewasnya Tunggak.
Para pekerja bahu membahu membersihkan pelataran dan bale-bale, tidak lama sebuah mobil petugas keamanan datang, karena mendapatkan laporan dari seorang pekerja Jupri yang berinisiatif melakukan laporan, tentang kegaduhan rumah sang majikan.
Jasad Tunggak di kebumikan dengan layak nya walaupun dia bajingan tetap juga manusia. Dan beberapa anak buahnya yang sudah tidak berdaya, mereka angkut dan akan mendapatkan proses hukuman yang harus mereka jalani.
"Tuan Jupri, saya juga akan pamit tugas saya masih banyak.Sebab hari ini adalah hari dimana pesta perkawinan mas Hendra dengan mas Prayuda akan terselenggara kan, saya harus siaga di tempat ndoro Siman." Dengan sopan Naris memohon diri.
" Naris, aku ucapkan terima kasih dengan semua bantuan dan segala upaya penyelamatan Sulis. Aku tidak pernah menduga, pria yang pernah Sulis ceritakan itu adalah dirimu." Jupri menepuk bahu Naris dan tersenyum penuh arti.
"Baiklah tuan, saya mohon pamit dulu. Mungkin nanti kita akan berjumpa di tempat ndoro Siman untuk menghadiri pernikahan mereka." Naris pun mengangguk kan kepala dengan sopan, lalu berdiri dan pamit.
Belum juga kaki Naris melangkah keluar dari bale-bale, sudah terdengar kembali teriakan Jupri menyebut nama Naris.
"Naris!"
__ADS_1
"Iya tuan." Naris berhenti dan menoleh menghadap ke arah Jupri.
"Terimalah Sulis sebagai pendampingmu, menikahlah dengan nya aku merestui kalian." Suara Jupri dengan permintaan yang sangat mengejutkan Naris.
Naris tertegun sesaat, dan membalikkan badan nya seraya membungkuk sopan.
"Tuan jupri! suatu kehormatan bagi saya bisa menjadi bagian dari keluarga tuan. Akan tetapi! saya hanya seorang yatim-piatu dan saya hanya abdi paling rendah dalam sebuah jabatan. Saya tidak menolak tuan, tapi saya merasa tidak pantas mendampingi putri tuan."
Jupri mendekat dan membimbing Naris menuju gapura di depan rumahnya.
"Aku sudah tau banyak tentang mu, namun aku tidak tau banyak tentang perkenalan kamu dengan Sulis."
"Pulanglah, kita bertemu kembali di acara pernikahan di tempat ndoro Atmosiman." Naris mengangguk sambil kembali meraih tangan Jupri untuk salaman, lalu mengayuh sepeda onthel nya dengan lengkungan di bibir bahkan ia kesulitan untuk meluruskannya.
Siapa yang mampu menduga, siapa yang mampu menolak. Ia bahkan tidak pernah sanggup memimpikan tentang kebersamaan dengan kekasih hati.
Inilah hidup, segala sesuatu terkadang muncul tanpa kita duga. terkadang harapan melesat jauh dari kenyataan, mungkin ini yang di namakan takdir seiring dengan nasib.
Sundirah dan Suwarti duduk bersanding dengan berbeda panggung, mereka cantik dan luwes dengan busana pengantin, kebaya pendek warna hitam, dengan perpaduan kain batik Sido Mukti.
Mahendra tidak henti-hentinya memandang kecantikan sundirah dalam busana pengantin, yang membalut tubuh rampingnya.
Prayuda juga malu-malu saling memegang tangan, saling menggenggam tersenyum dan menunduk dan kembali mencuri Pandangan mata.
Mereka bagaikan siput dalam cangkang, malu untuk keluar, namun penasaran sehingga kembali mengeluarkan kepala hingga hampir lepas dari cangkangnya.
Di tengah-tengah kebahagiaan ada beberapa orang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala kuning, berada di setiap sudut salah satu dari mereka adalah Sardi.
Amarah Sardi kian memuncak, ketika mata nanar nya tidak pernah menemukan sosok Sulastri. Bahkan tempat tinggal yang mereka dapatkan informasi tidak sengaja oleh pekerja petik kelapa di ladang Atmosiman. Mereka talah mengobrak-abrik namun kosong tidak berpenghuni.
__ADS_1
"Djaelani, dimana kamu sembunyikan Sulastri. Dia harus aku dapat kan malam ini, atau aku bakar kembali tempat ini untuk mengobati rasa kecewa ini." Rahang Sardi mengeras, sumpah serapah ia lontarkan karena apa yang ia harapkan tidak juga bisa ia gapai.
Dari belakang punggung seorang menepuk pundak Sardi " Kang! ada kabar tidak terduga dari desa Setinggil, kang Tunggak telah tewas di tangan tuan jupri." Kembali laporan itu sungguh membuat Sardi terkejut bukan kepalang.
"Bagaimana bisa kang Tunggak tewas... ini tidak mungkin terjadi." Kemarahan Sardi semakin membuat dendam dia memuncak.
Di lain tempat.....
Di antara para pelayan perempuan, terdapat gadis pesuruh Sardi. Perlahan dia mendekat ke arah seorang petugas keamanan, lalu menarik dia ke dalam agak tidak mudah bagi para antek Sardi menaruh curiga padanya.
"Kang.. mohon maaf saya telah lancang, ada sesuatu yang harus saya ceritakan." Gadis itu gugup, dan ketakutan bibirnya seputih kapas.
"Kamu kenapa... katakan apa yang terjadi..?"
"Kang, siap kan keamanan, kang Sardi dan beberapa kawanannya berada di area kita saat ini. Mereka akan menculik Ning Lastri, tolong selamatkan dia." Gadis itu lalu menghindar masuk kembali ke dalam keramaian para perempuan.
Kabar itu akhirnya menyebar pelan kepada sesama anggota keamanan, dan pada saat itu Naris juga telah tiba, ia pun selalu waspada dengan kemungkinan yang lebih membahayakan lagi.
Namun apa hendak dikata, segala sesuatu yang sudah di atur rapi, masih juga ada yang meleset dan jauh dari ekspektasi.
Dari dalam ruangan, keluarlah Sulastri dengan tenang nya menuju tempat dua pasang pengantin sedang bersanding.
Sedangkan Harjito dengan Atmosiman dan Djaelani bahkan Suprapto pun bercengkrama dengan para sahabat dan sanak famili. Mereka tidak menyadari akan bahaya yang mengintai Sulastri.
Sardi menyunggingkan senyum liciknya, lalu memberikan isyarat kepada mereka anak buahnya.
" Kalian, siapkan segala sesuatu pasti akan terjadi setelah ini. Kalian menyebarlah bila perlu bunuh saya mereka yang menghalangi kita." Sardi memberikan instruksi kepada anak buahnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1
Bersambung....ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤