SUNDIRAH

SUNDIRAH
Hikmah pada kegagalan


__ADS_3

Sulistyowati sibuk membalut luka Naris dengan sobekan kain yang ia kenakan, agar darah segar itu tidak merembes keluar.


"Saya Sulistyowati, saya sampai di sini karena di culik sama mereka. Setelah melakukan perampokan, mereka membawa saya hingga ke tempat ini." Jawab Sulistyowati sambil menunduk.


"Apakah anda juga akan menyandera saya, siapa anda, dan kenapa anda menyelamatkan kami disini." Sulistyowati mencerca berbagai pertanyaan kepada Naris.


Naris lemah, namun ketika mendengar rentetan pertanyaan dari Sulistyowati, ia tersenyum dan menatap gadis di depannya dengan tidak berkedip.


"Dimana rumahmu, tunjukan pada kami. Jangan takut! kami orang baik, kau tidak perlu khawatir."


"Saya Sulistyowati pak, saya yatim . Ibu saya bekerja pada ndoro Wedono di kota Blitar."


"Mereka menculik saya pada saat ada pesta rakyat di desa Nglegok di daerah Penataran." Jelas Sulistyowati gamblang.


Naris mendengar secara teliti, setiap penjelasan yang ia dengar. " Kalian para perempuan berkumpul lah di satu tempat. Kami akan membawa kalian kembali pada keluarga masing-masing."


"Dan apakah aku terlihat tua, sehingga kamu memanggilku pak." Naris tertawa sendiri mendengar jawaban lucu Sulistyowati.


Lalu Naris berusaha bangkit dari tempat bersandarnya, di batu besar. Tanpa ia sadari, di samping batu besar itu terdapat tulisan huruf Jawa dengan tanggal Jawa dan nama Suyud dan Yatemi yang telah di semayamkan di tempat itu.


Naris dengan membungkuk kembali berjongkok dan mengusap pusara batu, "Pak dhe! Mbok Yatemi... bersemayam lah dengan tenang, Anak dan cucu mu sudah bersatu." Senyum Naris terlukis.


"Perjuangan mu tidak sia-sia pak dhe, kelak, saya yakin mereka pasti akan singgah dan mengingat kembali tempat ini." Lalu berdiri dan berjalan menuju mereka yang telah menunggunya. Sulistyowati mengekor Naris sambil menunduk kan kepala.


"makam siapa mereka pak..? apakah bapak mengenal salah satu dari bajingan itu?" Sulistyowati banyak tanya.


"Panggil aku kang! bukan pak! Apakah aku sudah terlihat tua?" Ucap lirih Naris sambil menyembunyikan senyuman nya.


"Maaf mmm... ka..kang...!"


""Dua makam itu adalah makam penghuni pertama tempat ini, dan mereka juga di bunuh oleh komplotan Sardi.


"Nanti kalau kamu bersamaku, kamu akan tau siapa mereka." Jawab Naris enteng sambil berjalan membaur dengan mereka.


"Saya tidak mau bersama sampean kang.. saya mau pulang dan bertemu ibu." Sulistyowati menjawab sambil berlari menjauh dari Naris.


"Jangan berlari, hati-hati kakimu terluka." Teriak Naris, namun tidak di hiraukan oleh Sulistyowati.


Sementara mereka telah selesai Mendoakan, mensucikan dan mengubur para korban yang kebanyakan kawanan Tunggak termasuk Bogel.

__ADS_1


Mereka tetap bermalam di tempat tersebut, karena tidak memungkinkan bagi mereka keluar dari alas jati dengan posisi malam, dan membawa beberapa anggota yang terluka ringan, dan para wanita bersamanya.


Malam itu hujan rintik-rintik, suara hewan malam menjadi saksi bisu. Berakhir nya tempat persembunyian para berandal, perampok dan pengecut seperti Sardi dan Tunggak.


Mereka berkumpul di beberapa titik berjaga bergantian, para wanita menebarkan senyum dan kelegaan, atas terlepasnya belenggu yang telah merantai nya beberapa waktu lalu.


Mereka saling bercerita suka dan duka selama menjadi budak nafsu para bajingan itu.


Naris tidak sengaja melihat gadis kecil Sulistyowati, tertidur pada pangkuan seorang wanita di sampingnya.


Luka di kaki nya terlihat sudah di balut dengan kain kasa putih, dan di beri obat persediaan mereka.


"Hushh... ngintip sopo le..?" Celetuk Parman ketua komando mereka.


"A anu.. kang.. tidak ada." Gelagapan Naris menjawab pertanyaan Parman.


"Kenapa...? dia ayu lo le, walaupun kecil dia kuat, semangat memberontak sangat besar, dia tidak takut walaupun dalam keadaan yang cukup mengerikan, bagi anak seusia dia."


"Aku yakin, kawanan Sardi telah salah tangkap anak orang." Ujar Parman di iringi tawa renyahnya.


Naris terdiam, sekilas terbayang senyum manis Sulastri. Gadis idaman nya yang telah di per istri Harjito, dan itu tidak mungkin akan menghiasi mimpinya kembali.


"Kamu sedih le..?" Tanya Parman lagi.


"Kita akan melebarkan wilayah pengejaran, kalau di lihat dari arah mereka lari adalah menuju ke daerah pantai Pacitan. Tidak akan sulit untuk menangkap mereka."


"Hanya waktu saja yang belum berpihak pada kita, mungkin saat ini Sardi bersama kawanannya lolos, tetapi tidak dengan anak buahnya. Banyak mereka yang mati sia-sia." Parman bicara sambil menerawang jauh, seakan sangat menyayangkan hal bodoh yang mereka jalani."


"Dan satu lagi le..."


"Apa itu kang..?" Tanya Naris tidak paham kemana arah terakhir pembicaraan Parman menuju.


"Kita bisa membantu mereka, untuk kembali kepada keluarga nya." Parman, mengarahkan jari telunjuk nya, ke arah para wanita yang sedang duduk bersama, lalu kembali Parman menghisap rokok lintingannya dalam-dalam.


#Ternyata di setiap pergerakan, perbuatan, dan perjalanan terdapat hikmah dan cerita yang tersembunyi.


Perjuangan adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup, jika sang Pencipta membiarkan hidup tanpa hambatan dan perjuangan, itu mungkin akan melumpuhkan kita, karena kita akan senantiasa sombong dengan segala kemudahan, hingga akhirnya jatuh dan kalah.#


Malam pun membawa mata lelah mereka terpejam, hingga bertemu pada sinar matahari pagi. Kokok ayam jago alas jati membangunkan tidur mereka.

__ADS_1


"Yu pagi ini, pagi yang berbeda ya.." Celetuk seorang wanita dari salah satu mereka.


"Biasanya setiap pagi, aku terbangun dengan rasa takut. Kali ini aku terbangun dengan rasa bahagia, dan tergambar kampung halaman sudah ada di pelupuk mataku yu." Jawab wanita itu lugu.


Mendengar kata-kata lugu para wanita itu, jelas membuat trenyuh hati Suparman, dia tau kemana arah pembicaraan mereka tertuju.


"Adakah diantara kalian yang merasakan kelainan sakit, atau sebagainya?"


"Bila iya..., besok sesampainya kita di kota, kita langsung menuju di balai pengobatan. Lakukan pemeriksaan pada diri kalian semua." Sedih terpapar jelas pada akhir kata.


Sulistyowati yang menyimak perkataan mereka, beringsut ke belakang. Dan memegang erat kakinya yang ia gunakan untuk menopang dagunya.


"Kamu kenapa ndhuk...?" Tanya Parman menatap iba pada gadis, yang di perkirakan sepantaran anak gadisnya pada usia sekitar lima belas hingga tujuh belas.


"Sa..saya mau pulang pa..paman.."


"Saya takut disini, saya ingin kembali pada ibu saya saja." Isak Sulistyowati.


"Kita akan pulang bersama sama, kalian bersiaplah. kita akan melakukan perjalan menuju pemukiman agak jauh dari sini.


Salah satu dari wanita-wanita tersebut keluar dari balik sekat gedhek, dengan membawa minuman gula aren hangat, dan nasi tiwul yang masih banyak stock persediaan bahan pangan hasil rampasan para penduduk.


Persiapan pun segera mereka laksanakan, bahan makanan yang pada waktu itu tidak mudah bagi mereka untuk di dapat. Mereka ambil, dan kumpulkan jadi satu, dan mereka kemas di atas cikar, rampasan Bogel dan Sardi waktu itu.


Para wanita mereka menaiki mobil patroli, dengan beberapa orang yang menaiki mobil di belakangnya.


Naris bersama Parman diantara mereka juga.


Lantas sisanya, berangkat dengan cikar cikar para perampok tersebut. Sebelum berangkat mereka sengaja membumi hanguskan setiap bangunan gubug yang mereka ber petak-petak.


Hewan piaraan berupa kambing dan ayam mereka lepaskan bebas, Setelah api yang membumbung tinggi mulai padam dan aman, barulah mereka berangkat meninggalkan tempat yang penuh tragedi tersebut.


...****************...


Selamat jalan para pejuang tangguhπŸ€—


ku titipkan Sulistyowati padamu πŸ˜‚


Nah... loh... Naris mau di jodohin sama Suwarti apa Sulistyowati sih🀭 sama-sama pemberani nya nih πŸ˜‰

__ADS_1


Jalan masih panjang yuk semangat yuk Mak πŸ€—πŸ€—πŸ€—


eh...rate β­πŸ–οΈ yah 🀭 jempol juga sih Makasih Mak... lope lope seluas alas jati pokok nya πŸ˜‚πŸ€£


__ADS_2