
Persiapan bancakan selapanan dino sudah mereka mulai, bancakan selapanan dino ulang weton pertama bayi, selama tiga puluh lima hari. Adat jawa khusus nya pada era saat itu sangat kental dengan kepercayaan, yang mengarah pada doa-doa positif untuk perkembangan anak kelak.
Surip dan beberapa rekan saudara, menyiapkan segala ubo rampe. Acara yang akan esok pagi setelah matahari terbit.
Tumpeng weton, dengan tujuh macam sayuran, bubur tujuh rupa, buah-buahan tujuh rupa, kembang setaman.
Semua tertata rapi di atas amben, untuk melakukan tradisi Sesuai dengan namanya, tradisi tersebut merupakan prosesi gebrak pada jabang bayi, yang dilaksanakan setiap tiga puluh lima hari sekali tepatnya pada hari weton Jawa si jabang bayi. Bayi digebrak mendadak supaya kelak ketika dewasa tidak menjadi orang yang kagetan/gumunan.
Bancakan hendaknya dimakan sebanyak minimal tujuh orang, jika mungkin semakin banyak akan lebih baik lagi misalnya sebelas orang, atau tujuh belas orang.
Jumlah tujuh artinya pitu, yakni agar mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari Gusti kang murbeng dumadi. Jumlah sebelas artinya sewelas, yakni agar mendapatkan kawelasan atau belas kasih .
Jumlah tujuh belas artinya pitulas, yakni agar mendapatkan pitulungan dan kawelasan dari Gusti engkang Murbeng Gesang.
Pagi yang indah, prosesi demi prosesi telah usai, Teguh pulas dalam buaian sang ibu berdampingan dengan san ayah, mereka duduk menikmati perbincangan hangat bersama sanak saudara.
Berbeda dengan Atmosiman sepertinya sedang persiapan akan menyambut tamu, Karmilah mendandani suwarti, dengan tampilan beda pada gadis di era waktu itu.
Kain batik untuk bawahannya dan blouse model kutu baru, rambut panjang Suwarti yang mencapai pundak, tergerai indah ikal dan hitam legam dengan memakai jepit bunga pada sisi kanan dan kiri. Elegan dan cantik, lengkungan senyum manis Suwarti bagaikan bulan sabit, yang menggantung di awal bulan.
"Mas.. Ada apa dengan ibu sama ayah? sepertinya ada sesuatu, apa ada tamu istimewa yang akan datang, ya mas..?" Bisik Sundirah, yang dari awal memang tidak tau akan adanya tamu istimewa yang akan bertandang ke rumah.
"Ada dek, semoga Warti dan Prayuda berjodoh ya! ini semua rencana ayah dan ibu. Namun bisa di pastikan ini bukan paksaan." Mahendra tersenyum lalu mencium kening Teguh.
Dan berakhir sebuah kerlingan nakal Mahendra untuk Sundirah, yang hari ini juga tampil lebih segar, dan cantik dengan tubuh lebih berisi ketika sedang memberikan air susu ibu secara eksklusif kepada Teguh.
"Ndhuk warti! Cantiknya kamu ndhuk beruntung nanti yang bisa memiliki mu ndhuk." Karmilah bangga dengan penampilan Warti yang lugu.
"Apa kita akan mengikuti yu Dirah kirab ke rumah mbok paini Bu?" Warti belum juga menyadari bila saat ini sedang mempersiapkan kedatangan keluarga Prayuda dan Hamida.
"Kita akan kedatangan tamu ndhuk, ibu harap jaga! kamu bisa menjaga sikap." Karmilah memegang pundak Suwarti.
"ibu! maaf maksud nya ibu bagaimana, saya bingung bu!" Warti memegang pergelangan tangan Karmilah dan memandang penuh arti kepada ibu angkat nya itu.
"Warti... Ayah dan ibu tidak menjodohkan kamu, akan tetapi kami berharap! kamu bisa saling mengenal terlebih dahulu." Jawaban Karmilah melegakan hati Suwarti.
Atmosiman senyum senyum sendiri, matanya mengarah pada lembaran Harian rakyat yang ia baca. Namun sesekali matanya melirik sambil mengamati sekeliling nya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian tamu yang mereka nanti-nanti akhirnya datang juga.
Senyum sumringah, dan saling mengabarkan keadaan, mereka saling berpelukan menandakan kebahagiaan.
"Thole Teguh...! Bagus cepat gede yo lee...!" Hamidah mengambil alih Teguh dari pangkuan Sundirah.
Mahendra menyalami mereka, lalu membaur dengan mereka bercengkerama dengan prayuda, Karmilah duduk berdampingan dengan Hamidah.
Sedangkan Sundirah datang menghampiri Suwarti, yang dari tadi masih saja gugup tidak beranjak dari ruangan tempat tidur nya.
"Warti! kami kenapa? ayo kita keluar. Ada keluarga pak Prapto di luar." Ajak Warti.
"Yu... Aku takut, dan malu.."Wajah Warti pucat pasi bagaikan baru saja ketemu hantu di siang hari.
Sundirah tersenyum tipis melihat kegugupan dan kelakuan Suwarti. Tapi tak ayal juga ia bimbing tangan Warti menuju dapur untuk mengambil sesuatu dan membawa nya kedepan sebagai suguhannya.
Suwarti berjalan menunduk, serasa berat kepalanya untuk menengadahkan pandangan kepada tamu. untuk mempersilahkan mencicipi suguhan yang ia bawa.
Seakan takut terbuang sia-sia moment yang indah ini, sehingga untuk berkedip mata pun Prayuda tidak sanggup melakukannya.
Tanpa ia sadari semua mata memandang tingkah Prayuda, yang tiba-tiba menjadi bego-bego o'on, dan Suwarti yang gugup, malu tapi menyimpan rasa ingin menyatukan pandangan mata mereka.
ehem... " Oh ayah maafkan." Suara lirih Warti setelah mendengar suara berdehem Atmosiman.
Prayuda juga buru-buru mengalihkan pandangan matanya, ke arah Hamidah dan Suprapto. Seolah meminta sesuatu segera di tuntaskan.
"Duduklah bersama ndhuk, kita bisa bertukar cerita bersama disini." pinta Atmosiman, dan memberikan tempat duduk di samping kanan nya.
Mereka pun akhirnya duduk bersama, dan Suprapto mengawali pembicaraan nya.
Mengatas namakan keluarga dan maksud tujuannya berkunjung selain bersilahturahmi, menjenguk Teguh. Ada maksud lain yang harus di rembug bersama.
"Mohon maaf Bapak Atmosiman bersama ibu Karmilah, kedatangan kami jauh dari perbatasan kota. Tidak lain untuk bersilaturahmi guna mempererat, ikatan pertemanan kita agar lebih dekat menjadikan sebuah ikatan yang lebih berarti."
"Bila di perkenankan dalam sebuah ikatan yang lebih sakral, Kami selaku orang tua Prayuda ingin mempersatukan anak-anak kita dalam sebuah tali pernikahan, dan di restui." Suprapto menatap lurus ke arah Atmosiman, mengharapkan jawaban, lalu beralih kepada Mahendra dan Prayuda.
"Bapak Suprapto beserta ibu! kami selaku orang tua Suwarti! tidak akan bisa menampik sebuah kehormatan ini, dan berita bagus untuk menuju ke jenjang yang lebih mendekatkan ke dalam tali kekeluargaan."
__ADS_1
"Kami juga tidak akan melakukan kesalahan yang sama akan terulang kembali, Suwarti sebagaimana mestinya sebagai anak kandung kami."
"Namun! semua akan kembali kepada mereka yang akan menjalani, kami hanya bisa mendukung dan memberikan yang terbaik." Jawaban Atmosiman memberikan ruang kelegaan pada Mahendra dan Sundirah.
"Suwarti, apa yang akan kamu berikan sebagai jawabannya." Atmosiman menoleh dan bertanya kepada Suwarti.
"Ayah... saya tidak mampu menolak, rencana sebuah ikatan. Akan tetapi bisa saya di izinkan, biarkan kami mengenal dahulu antara saya dan mas Prayuda." Suwarti menundukkan kepala sedalam pandangan nya dan memberikan sebuah jawaban.
Tangannya mengepal erat tangan Sundirah yang tidak jauh duduk berada di samping nya.
"Jangan takut ndhuk! selaku orang tua kalian, kami hanya menginginkan yang terbaik." Suprapto sangat memahami, apa dan bagaimana pikiran dan jalan Suwarti bersama Sundirah saat ini.
Dalam pembicaraan mereka, saling memahami dan menyadari perjalanan hidup mereka memang tidak mudah.
Perbincangan beralih pada, hal kedepan dan mereka harapkan.
Mereka terdiri dari tiga kelompok, Sundirah bersama Karmilah dan Hamidah asyik membicarakan si kecil Teguh.
Atmosiman, Suprapto dan Mahendra mereka tenggelam dalam perbincangan masalah laki-laki dan bergurau wajar.
Berbeda dengan Prayuda dan suwarti, mereka beranjak ke tempat duduk di serambi depan. Saling diam, saling tatap dan saling tersipu. seolah mata mereka menjadi perwakilan sebuah kata hati.
...****************...
#Jangan pernah menoleh ke belakang jika itu hanya membuatmu mengulangi kesalahan, cobalah menoleh ke depan dan membuka lembar baru yang lebih baik.
Jadilah seperti ombak, kuat dan tak terbendung.
Kita berbuat baik bukan karena kita baik. Tetapi karena kita sedang berubah dan berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Kamu pencipta hidupmu sendiri dan bisa tidak mengubah apa pun untuk orang lain.
Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.
Jangan pernah membiarkan kesedihan masa lalu membuatmu merusak kebahagiaan masa kini.
Jika kamu menjalani hidup dengan pilihan orang lain, maka hidupmu tidak akan lagi menjadi milikmu. Semakin berat masalahmu, semakin kuat dirimu. Dan itulah yang membuat dirimu semakin baik.#
__ADS_1
Salam sehat ya Pak, Mak, Mbak, Mas, saling mendukung dalam doa, love all of you is the best 😘😘
jempol yuk jempol 🤭🤭