
Warti senyum-senyum sendiri menimang Teguh, yang sudah mulai bisa membuka matanya. Membantu Mbah Bayem memakaikan kain gurita, popok dan baju, lalu di bungkus dengan kain bedong setelah mandi di pagi hari.
Di bawah sorot matahari pagi, Warti ikut berjemur Bicara sendiri, menjawab sendiri, dengan Teguh kecil di atas lincak.
Di samping lincak, juga Sundirah sedang di baringkan untuk mendapatkan vitamin D dari sorot matahari pagi.
"Yu... ayo bangun yu...! lihatlah teguh lucu yu..."
Warti tidak bosan bosan nya, memberi semangat pada Sundirah yang masih lemah juga untuk mengerakkan tangannya.
"Ibu... cepat bangun bu, Teguh ingin dalam buaian mu bu." Ucapan Warti menirukan suara bayi.
Karmilah yang menyaksikan dari kejauhan, tersenyum sambil menyenggol lengan Atmosiman, lalu jari telunjuk nya mengarahkan pandangan mata Atmosiman ke pemandangan yang ia saksikan pagi ini.
"Dek, Warti itu gadis periang, walau sebenarnya dia juga menderita batin. Semoga bersama kita, dia akan mendapatkan kebahagiaan."
"Semoga dia, menemukan jodoh yang baik ya mas." Karmilah menimpali ucapan Atmosiman.
"Dek...! Kita Carikan jodoh buat Suwarti..! setuju..?" Atmosiman melontarkan ide, sambil menaik turun kan alisnya ketika bicara.
"He...he ..he.. Tidak akan ya mas...! tidak akan, terulang lagi perjodohan itu." Geram karmilah sambil melotot kan mata, lalu membuang muka.
"Aku tidak mau melihat penderitaan Sundirah, kembali terjadi pada Warti!" Omel karmilah sambil memalingkan tubuhnya, hingga memunggungi Atmosiman.
"Ya... tapi jangan marah to dek..! Kan mas hanya ide saja." kilahnya sembari tersenyum di balik punggung karmilah.
"Maksud ku itu, putra dari pak Prapto itu lho dek, biar kenalan dulu sama Warti, kalau jodoh ya syukur, kalau tidak berjodoh ya.... kita bantu doa dek!" Atmosiman tetap aja memberikan ide perjodohan untuk Suwarti.
Mahendra, tidak sengaja mendengar percakapan mereka, lalu menghampiri dan duduk bersama mereka.
"Apa ayah mau menjodohkan Warti...?"
"Tetapi tidak karena sebuah jabatan kan yah...?" Mahendra terang-terangan menyindir sang ayah.
"Iya.. iya..! Ayah yang salah. Maafkan ayah, dengan adanya kejadian yang telah menimpa kalian. Telah membuka hati ayah yang telah di buta kan oleh ambisi." Sesal Atmosiman, walaupun sudah terlanjur terjadi tetapi setidaknya sikap legowo Atmosiman mampu meleburkan ambisi dan keserakahan.
"Mas.... coba lihat...!" karmilah berjalan mendekat ke tempat Warti dan Sundirah berjemur di halaman.
"Yu... kamu membuka mata!" Teriak Warti lantang.
"Duh Gusti... matur nuwun... Doa hamba terkabulkan." Warti menadahkan tangan sambil memanjatkan rasa syukur.
Sundirah perlahan membuka mata dan mengenggam lemah, membalas genggaman tangan Suwarti.
Mahendra segera berjongkok dan mengelus kening Sundirah. " Selamat datang sayang... kehadiran mu kami tunggu, jangan diam saja. Karena aku tidak sanggup melihatmu seperti hari ?kemaren."
__ADS_1
"Hmm.... sinar matahari pagi ini sangat bersahabat, mampu membangun kan mu ya ndhuk..." Karmilah memegang kaki-kaki Sundirah, yang juga telah ikut menghangat.
Semua berkumpul di halaman, bahagia, mereka saling membalas senyuman.
Sundirah yang masih lemah, mengedarkan Pandangan lalu berhenti menatap Suwarti yang tengah menimang Teguh, lalu tangan nya membalas genggaman tangan Mahendra, mengisyaratkan bahwa dia juga sedang dalam rasa kebahagiaan saat ini.
Suwarti mendekat, dan membaringkan Teguh di sisi Sundirah. Mahendra membantu untuk bersandar, lalu membetulkan letak kepala.
Pagi yang mampu mengubah setiap senyum penghuni rumah Atmosiman. Tidak bosan bosan nya Atmosiman melebarkan bibirnya untuk sekedar menyaksikan, senyum kebahagiaan mereka.
Sundirah sudah duduk bersandar dengan beberapa bantal di belakang punggung dan kepala. pandangan mata nya menatap satu persatu, dan memberikan seulas senyum manisnya.
"Tidurmu sudah terlalu lama ndhuk, sekarang saatnya kamu menimang Teguh." Karmilah mendekatkan Teguh kecil ke atas pangkuan Dirah.
"I..ibu.. te.. terimakasih." Ucapan terimakasih pertama kali yang di dengar dari bibir Sundirah.
"Jangan banyak bergerak ndhuk, kamu baru saja terbangun dari tidur panjang mu." ucap karmilah lirih.
"Mas... aku lapar." Sundirah menunduk kan kepala dengan satu permintaan. Mahendra yang mendengar nya tersenyum, dan mengusap pucuk kepala Dirah.
"Baik mas akan minta mbok Surip, untuk membuatkan makanan buat kamu." Mahendra bergegas berlari ke dapur belakang untuk mencari Surip dan membuatkan bubur sumsum.
"Yu...." Warti menciumi pipi Dirah, mata nya sudah tidak sanggup lagi menahan tangis bahagia itu.
"Awas..! kamu tidur berlama-lama lagi, kamu membuat ku seperti orang gila setiap hari." Isak Warti, tangan Sundirah meraih pipi Warti yang basah oleh tetesan air mata.
"Aku punya banyak cerita yu.. Aku ingin berbagi dengan mu." Senyum Suwarti menunjukkan sikap malu-malu.
"Bercerita lah pada ibu Warti, kan sama saja...!" Sahut karmilah
Suwarti tersipu malu, Atmosiman yang menyimak perbincangan mereka, hanya menggeleng kan kepala. Tidak bisa di pungkiri bahwa kebersamaan masalah pemicu keharmonisan.
Tidak berapa lama bubur sumsum, di bawa Mahendra dan menyuapi Sundirah perlahan-lahan.
#Pagi merambat pelan, menuju siang nan cerah. Pada langit yang semakin membiru. Gugur daun telah menghembus. Pertanda musim telah terganti. Pertanda dikau tetap ternanti Pada hari dimana cerah menyengat retinaku hingga terkedip Namun yang terhati tetap saja ternanti#
"Ndhuk Lastri, tidak lama lagi kita akan sampai di rumah sakit. Dimana Jito di rawat, dia menantimu di sana." Suara paini memecahkan keheningan.
"Ayah juga di sana yu." Dargo menimpalinya, akan tetapi dia lantas dengan ucapan nya. Seketika memberikan isyarat mata kepada Paini.
"Apakah ayah juga sakit?" lalu nenek dengan siapa..? Sulastri memburu pertanyaan kepada Dargo.
"Ohh.. anu yu, a..anu nenek." Dargo tergagap menjawab pertanyaan Lastri.
__ADS_1
"Nenek baik-baik saja ndhuk, untuk saat ini kamu jangan banyak fikiran dulu. Fokus pada tujuan utama mu saja." Paini menengahi perbincangan mereka.
Sulastri terdiam, namun di rasa ada kejanggalan, pada pembicaraan mereka.
"Yu... mungkin, setelah ayah sehat dan kembali bisa beraktifitas, aku akan kembali ke Surabaya. Melanjutkan cita-cita ku." Dargo mencoba mengurai ke janggalan yang baru saja ia perbuat.
"Bukan kah ayah harus menjalani hukuman atas perbuatan nya Go..?"
"Tidak yu..! Pak dhe Siman mencabut segala tuntutan nya dan memaafkan semua, karena keadaan dan kondisi ayah saat ini."
"Sungguh mulia mereka, nyawa kedua orang tua Sundirah hanya di balas dengan permohonan maaf saja, dari ayah." Sulastri menunduk kepala, kesedihan jelas terlukis di gurat wajahnya yang masih memucat.
"Yu.. apakah kau membenci ayah..?" tanya Dargo lagi.
"Tidak Dargo! Aku tidak akan pernah membenci Ayah, beliau tetap ayahku, ayah kita!"
"Aku hanya benci sikap dan kelakuannya, karena ayah! mereka yang tidak bersangkutan harus menanggung penderitaan."
"Apakah kau tau Dargo...? Bagaimana kang Sardi hampir saja melakukan hal yang tidak seharusnya padaku." Sulastri kembali terisak.
"Aku hanya membenci Sikap ayah Dargo!"
"Wis ndhuk... uwis yo... jangan lukai batin mu." Paini yang menyadari kata-kata Sulastri mulai tidak stabil, segera menengahinya.
"Mbok...! Aku benci ayah ku sendiri, dia seperti bukan ayah ku, dia kunci kesengsaraan banyak orang. Gara-gara dia, aku hampir saja menjadi pelampiasan nafsu bejad kang Sardi." Sulastri semakin berapi-api dengan kemarahannya.
Dargo merah padam mendengar penuturan Sulastri.
"Yu.. apa yang terjadi dengan mu, katakan yu..?"
"Le.. Sudah le...!"
"Jangan mengorek luka lama, mereka sudah tenang, dan ayah kalian sudah mengakui kesalahannya." Paini menitikkan air mata di akhir katanya.
Memang tidak di pungkiri, sedalam apapun luka itu tertanam, borok juga yang masih membekas.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Mak.....!!!
Dosa kah membenci ayah sendiri ππ.
Dah lah π€§π€§ jadi ingat ayah aja π°
__ADS_1
up besok lagi, tetap love kalian dengan sejuta rasaπππ