SUNDIRAH

SUNDIRAH
Pencarian Sulastri


__ADS_3

Tanpa nafsu, tanpa nafas. Mata hidung tertutup kapas, Jiwa raga terlepas, Ruh melayang bebas. Tenggelam di relung bumi. Hinggap di ranting-ranting berduri, Rokib Atid siap menanti. Hujatan tanya sudah mengantri.


******


Kegaduhan kembali terjadi, Jerit tangis Dargo mewakili kemarahan yang ia pendam selama ini.


Djaelani mematung di kaki Ratmini yang sudah terbujur kaku.


Harjito pun bersimpuh, disisi jasad Ratmini. menatap mata teduh itu telah terpejam, untuk selamanya. Suara lembut penuh tutur nasehat itu, telah berpulang dan tidak akan terdengar kembali kata-kata yang selalu menyejukkan, siapapun yang mendengar nya.


Penyesalan apalagi? menangis pun tiada guna.


Sanak famili berhamburan mendekat, tangis mereka mengalun perih.


"Ayah... semua sudah pergi, semua sudah berakhir. Hanya tinggal kita berdua, apa yang harus kita lakukan?" Dargo menyeka air matanya. Ia beranjak mendekati Djaelani, dengan berbagai kebencian.


Djaelani menunduk dengan sejuta penyesalan. Kesalahan demi kesalahan seolah enggan membuka pintu maaf bagi nya.


Para pelayat, mempersiapkan prosesi memandikan jenasah, dan penghormatan terakhir, lalu memakamkan Ratmini.


Kembali pada hasil tangkapan para warga kawedusan. Dua antek Sardi, masih juga tidak mau membuka mulut mereka.


Mereka memilih menahan panas dan haus terikat di tiang, di tengah tengah pelataran.


"Kang... kita mengaku sajalah, aku sudah tidak kuat." Bisik Paidi pemuda yang berbadan lebih tegap itu.


""Cih....! kamu hanya gede badan saja, begini saja sudah mengeluh."


"Tunggu, aku harus meminta perhitungan dengan Djaelani, gara-gara dia, sawah dan sapi ku juga ludes di tanah kalangan ayam." Geram Cendet, laki-laki yang lebih kecil.


"Ada masalah apa kamu sama lurah Djaelani?"


"Ya ... Aku pernah taruhan, dan Lurah Djaelani mengalahkan jago ku Di.." anjut Cendet bercerita.


"Oalahhhh, jadi sampean numpang tenar gitu Yoh kang...?"


"Ha... ha...ha... "


"Hush...Cangkem mu..! Mata Cendet melotot ke arah Paidi.


"Tapi, kan... yang judi sampean kang...? kalau lurah Djaelani menang, berarti keberuntungan dia toh...!"


"Gini aja kang... Kita kembali saja ke jalan yang benar, sepertinya lurah Djaelani sudah mulai insaf. Dia juga lupa akan dirimu kang."


"Kamu jangan sok baik Paidi, aku sudah bosan sengsara."


Paidi membenarkan posisi kakinya, yang berdiri sejak sebelum subuh tadi. " Bukan sok baik kang, tapi mencoba insaf kang."


"Caranya..?" Cendet mulai termakan rayuan Paidi.


"Aku akan menyusul, Bapak ku transmigrasi ke Andalas, Jadi berandalan untungnya dikit kang." Sesal Paidi.


Cendet mendengus kesal. "Lalu bagaimana dengan ku?"

__ADS_1


"Kau minta pekerjaan saja sama mereka?" Paidi mengisyaratkan dengan anggukan dagu ke arah Naris.


"Tidak semudah itu Di...!"


"Tadi aku sudah bersikap buruk sama dia!" Sesal Cendet.


"Itu lah kita kang...! Orang bodoh, yang mudah di kendalikan orang yang lebih pengetahuan nya daripada kita."


"Hanya sedikit iming-imingi kehidupan layak, kita lupa dengan siapa kita sebelum."


"Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan."


Paidi menunduk dalam-dalam, sesal itu semakin mendorong dia untuk kembali kejalan yang benar.


Cendet berdiam beberapa saat, dia merenungi semua apa yang Paidi katakan.


"Baiklah.... coba kau dulu yang panggil mereka mendekat, aku malu." Cendet akhirnya mengikuti saran Paidi.


Cendet yang punya jiwa plin plan, akhir nya manut juga.


Tanpa mereka sadari, dari balik percakapan antara Paidi dan cendet. Ada salah satu anggota bawahan Prapto, mendengar percakapan mereka. Lalu beranjak pergi masuk kedalam, mencari dimana keberadaan Naris.


Senja sebentar lagi menghampiri malam, kesepian Djaelani menjadi sebuah kehampaan.


Duduk dengan beberapa sanak famili, dalam diam mereka saling pandang. Enggan berbicara dengan nya.


Naris masih setia menunggu, dan mereka telah menyusun siasat untuk pencarian Sulastri.


"Saya rasa, ini ada sangkut pautnya dengan kebakaran gudang kopra tuan Siman." Naris membuka suara.


"Coba! tuan Djaelani ingat ingat! siapa selain tuan Jupri, yang belum terselesaikan masalah hutang piutang, di kalangan ayam?" Sungguh...! ini benar-benar pertanyaan memojokkan lurah Djaelani yang keluar dari mulut Suprapto.


Djaelani hanya menunduk, dan menghitung kesalahan demi kesalahan. Apa yang harus ia katakan lagi, dia hanya bisa bernafas dengan sesak.


Seorang pemuda menghampiri Naris. "Kang Naris... saya ada info!"


"Katakan..! semoga sangat membantu."


"Para berandal yang sekarang kita ikat itu, sepertinya sedang menyusun kata, untuk menyerahkan diri."


"Maksudnya?" Naris masih belum bisa mencerna perkataan pemuda tersebut.


Pemuda itu menceritakan semua yang ia dengar, hingga keinginan Paidi untuk menyerah dan melakukan kebaikan.


"Bawa Paidi kesini, tetap dalam keadaan terikat, sebab saya ragu, ini adalah siasat mereka.


Paidi pun di bawa mendekat, dan duduk di antara mereka, tangan dan kaki masih terikat.


"Paidi... katakan apa yang ingin kamu katakan....!" Suara Naris tegas.


"Ampun kang...! Saya mohon perlindungan sebelum nya."


Paidi menceritakan semua perihal Sardi, dimana tempat persembunyian nya, lalu apa yang akan Sardi lakukan untuk Sulastri.

__ADS_1


Semua yang ada menyimak dengan seksama, raut muka Harjito jelas terlukis kemarahan yang sulit. Ia terima dengan keadaan saat ini.


"Baik... kami akan memberikan perlindungan padamu. hingga pencarian Sulastri di temukan."


Penelusuran tempat yang sudah di infokan oleh Paidi, akan segera di tindak lanjutkan.


Naris akan memburu Sardi bersama Harjito dan beberapa pemuda mengikuti nya.


Sedangkan Djaelani harus kembali ke lapas, bersama Paidi dan Cendet.


Semua informasi lokasi yang di dapat dari Paidi, menghasilkan kekosongan.


bangunan bekas yang mereka tempati telah ditinggalkan komplotan Sardi.


Namun pencarian tetap di lanjutkan, semua informan di kerahkan menuju tempat tempat yang pernah Sardi singgahi, termasuk wilayah Blitar Selatan.




Sedang kan kondisi Sulastri malam itu, di bawah kesadaran nya karena pengaruh zat chloroform.


Menjelang pagi belum juga sadarkan diri. komplotan Sardi yang telah berhasil menculik Sulastri, membawa ke markas tidak jauh dari desa kawedusan.


Ketika menjelang pagi, Sardi, berkumpul dengan kawanannya. kegagalan untuk menculik Sundirah, membuatnya geram dengan situasi. Di tambah lagi, kehilangan dua anak buahnya yang telah berhasil di tangkap orang orang desa kawedusan.


"Sulastri... tidurlah... matamu cantik saat terpejam, wajahmu mengingatkan aku akan Rukmini." Sardi membuang jauh-jauh kekesalan nya dengan menatap Sulastri yang masih lemah tidak berdaya.


"Bogel...! ajak lain nya, kita akan berangkat sekarang juga, menuju lain tempat. Hilangkan jejak kita semua." perintah Sardi, dan di lanjutkan dengan yang lain nya.


Mereka menghindari pengejaran, dan melakukan perjalanan menggunakan cikar hasil jarahan dari tempat Atmosiman.


Di saat Ratmini mengalami Sakaratul maut, dan menghembuskan nafas terakhirnya. Di saat itu juga, Sulastri siuman dan ketika melihat situasi yang berbeda di sekitar nya.


"Nenek....!" Sulastri berteriak sekuat tenaga dia.


Sardi yang ada di sampingnya, buru-buru mendekat dan mengusap pipi Sulastri.


"Kang Sardi....! Pergi... jangan sentuh aku..!"


"Tolong....!"


"Tolong....!"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


kawan.....!!


Dua wanita hebat kita sedang dalam perjuangan mempertahankan, kehormatan, dan buah hatinya..


yuk . tetap dukung 'Sundirah' Dan siapa diantara mereka yang akan lemah dalam perjuangan nya.👍👍👍

__ADS_1


love you all 😘 by Rhu 🤗


__ADS_2