
Para penjaga keamanan menatap dari jauh, semua mata was-was tertuju pada Sulastri, di saat Sulastri mendekati dua pengantin di atas pelaminan.
Hingga lengah semua penjagaan pada setiap sisi, penjagaan hanya fokus pada keselamatan pengantin dan Sulastri.
Erangan kesakitan dan teriakan di tengah-tengah kerumunan para tamu, jeritan dan suara kursi-kursi berderit membuat suasana panik seketika.
Djaelani tumbang dalam rangkulan Atmosiman, nafas dia sesak tersengal-sengal. Djaelani menyelamatkan Harjito dari lemparan sangkur dari seseorang yang tidak sengaja ia lihat sekilas melempar sesuatu ke arah harjito yang duduk di sebelahnya.
"Kamu harus bertahan Djaelani, mereka akan meringkus sang pembuat onar ini." Atmosiman mendekap erat sahabatnya itu, walaupun menyebalkan dan sering membuat kesalahan fatal, namun sahabat tetaplah sahabat.
"Aku ora po po kang." Djaelani berusaha bangkit dan mencabut sangkur yang menancap pada lambung kirinya.
Aakhh..... Darah segar mengucur deras, wajah Djaelani seputih kapas. Ia menarik selendang yang ia temukan di samping tempat duduknya, dan membalut kuat bekas lukanya.
Di saat semua mata tertuju pada Djaelani dan Atmosiman, Harjito melangkah lari menuju panggung pengantin. Namun terlambat sudah, Sardi sudah mendapatkan Lastri dan mendekap dari belakang, dengan menodongkan sebuah sangkur pada leher Lastri.
Jeritan dan tangis para wanita yang menyaksikan, tidak sanggup menyaksikan apa yang akan terjadi lagi pada diri Sulastri.
"Duh Gusti, Lastri...." Karmilah menjerit histeris, dia mendekap erat teguh, seakan takut hal serupa akan menimpa cucu pertamanya.
Kekacauan luar biasa memporak porandakan acara puncak ngunduh mantu juragan Atmosiman, kejadian serupa kembali terulang lagi.
Naris yang menyaksikan secara langsung, mata nya tidak pernah berkedip melepas kewaspadaan mengikuti pergerakan Sardi.
Sedangkan kedua mempelai pria Mahendra dan Prayuda, saling bahu membahu dengan melawan anak buah Sardi yang menyerbu dengan gelap mata.
Slamet yang juga berada di tengah-tengah mereka, menggeret Sundirah dan Suwarti untuk menyelinap bersembunyi.
"Pak... kenapa ini, Lastri pak..." Teriak Sundirah sekuat tenaga ia berusaha untuk kuat berdiri.
"Biarkan mereka sudah ada yang menolong ndhuk, sekarang selamatkan diri kalian masing-masing. Pergi dari sini." Bentak Slamet, karena melihat sekelebat bambu runcing terbang, untung saja melesat, dan menancap pada gedebog pisang yang di gunakan sebagai hiasan dekorasi panggung pengantin.
Di sudut tidak jauh di belakang panggung pengantin, gadis pesuruh Sardi menangis tegang tatkala ia menyaksikan seorang tamu, yang terburai isi perutnya karena terkena sabetan celurit.
__ADS_1
Dan ketika Sundirah dan Warti hendak menyelamatkan diri dari kekacauan yang terjadi, seorang berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala kuning melintas dan menarik tangan Suwarti dengan paksa.
"Warti....!" Sundirah semakin lemas tidak berdaya menyaksikan sang adek dalam sekapan laki-laki anak buahnya Sardi.
"Yu... pergi dari sini, selamatkan dirimu sendiri yu.." Gadis pesuruh itu menarik lengan tangan Sundirah dan membawa masuk kedalam ruangan yang aman. Namun na'as kembali terjadi, sesuatu telah menancap pada punggung sang gadis itu, dan membuatnya roboh seketika tanpa berkutik.
"Aakkkhhh....tolong..... tolong."
Laki-laki muda yang telah memakai senjata tulup dan mengenai punggung gadis itu, mendekat dan berusaha menarik tangan Sundirah yang sudah lemas tidak bertenaga.
Namun sebuah beda keras terlebih dulu melayang dan mengenai tepat di kepala nya lalu.
Crooott.... brugh...
Laki-laki itu terkapar dengan kepala berlumuran darah, benda keras itu adalah linggis yang di lempar oleh Jupri yang kebetulan hadir tepat pada saat kegaduhan terjadi.
"Sulis...! Bantu sundirah berdiri, dan bawa masuk mencari tempat yang aman. Tutup semua pintu-pintu, dan jangan ada yang keluar sebelum aman di luar." Jupri dengan tegas memberikan perintah kepada Sulis.
Di bantu dengan para wanita yang ada di tempat, mereka saling menyelamatkan diri masing-masing.
"Kamu siapa... kamu hanya cecunguk yang mau-maunya dibodohi oleh mereka, jangan pernah mengajari aku tentang keinsafan, karena kamu belum tau rasanya di bodohi, kamu belum tau rasanya sakit dan menunggu bagaikan hidup diantara ribuan sembilu menyayat hati sewaktu-waktu."
"Kang Sardi...tapi Sulastri tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini, sadarlah kang!" memotong ucapan Sardi.
"Tau apa kamu le...! hah..."
"Heiii Djaelani... kemari lah, mendekatlah padaku! akan ku ceritakan tentang rasa yang aku alami selama ini, di atas tawa dan kepongahan mu."
"Dan aku ingin berbagi sedikit rasa ini padamu, ha...ha ..ha.." Tawa Sardi memecah kesunyian.
Suprapto bersama anggotanya bersiaga, dan mencari kesempatan untuk meringkus kawanan Sardi dan lainnya.
Terlihat Slamet membopong tubuh gadis pesuruh yang pingsan karena pengaruh senjata yang bercampur dengan bisa binatang yang bisa mematikan.
__ADS_1
Slamet membawa masuk ke tempat yang lebih aman, lalu memberikan penawar racun bisa binatang itu, tubuh gadis itu menggigil dan memuntahkan cairan berbusa.
Sementara dari balik dekorasi pengantin, muncul-lah Prayuda berjalan pelan, dan menghunuskan belati yang ia pegang ke arah perut anak buah Sardi, dan menggertak pelan di sisi telinga bajingan itu.
"Lepaskan istriku, atau kamu pulang dengan tinggal nama, aku tidak main-main." Ucap Prayuda.
Laki-laki itu menjatuhkan celurit ya ia kalungkan di leher Suwarti. Prayuda Menarik tangan Suwarti, disaat hampir saja lengah laki-laki anak buah Sardi, kembali meraih celuritnya dan hendak mengayunkan ke arah Suwarti, namun! Apes tidak bisa di tolak, dengan sigap Prayuda menghujam kan sangkurnya, laki-laki itu terkejut dengan balasan serangan yang sama sekali tidak ia duga.
Mata laki-laki itu melotot, tubuhnya terhuyung kebelakang, ambruk lantas kejang-kejang dan berpulang ke Rahmatullah.
"Dek! jangan takut, masuklah berkumpul dengan ibu dan mbak yu Dirah, Kita akan segera berkumpul setelah ini." Janji dan pesan Prayuda pada Suwarti.
Pemandangan tersebut semakin membuat Sardi geram, dan semakin erat mencengkeram tubuh Sulastri.
"Kang.... sakit, saya mohon lepaskan saya kang..." Rintih Sulastri mengiba memohon kepada Sardi yang sudah gelap mata.
Djaelani berusaha bangun dari duduk bersandar di bahu Atmosiman, susah payah ia menggapai sebuah pegangan untuk merambat, mendekat dan berusaha menyelamatkan Sulastri dan berbicara dengan Sardi.
"Ayah....! Jangan mendekat, Ayah...pak dhe Siman tolong..." Teriak Sulastri.
"Diam....! jangan pernah memberontak atau aku lempar celurit ini, biar terburai seluruh isi perutnya." Ancam Sardi
"Akhhh... jangan kang! jangan sakiti ayah ku ampuni ayahku kang. Kang Jito...! bawa ayah pergi dari sini, selamatkan ayah." Lagi-lagi Sulastri memohon dengan deraian air mata.
Harjito yang dari tadi ikut melakukan, perlawanan terhadap para antek Sardi, tanpa sepengetahuan siapapun telah menyelinap dari kerumunan tersebut.
Dari balik tempat ia menyelinap, sesuatu ia lakukan demi menyelamatkan Sulastri dari cengkeraman Sardi.
Dan dari arah berlawanan Nasir juga, mengetahui apa yang akan Jito lakukan. Sedikitpun Sardi tidak menaruh kecurigaan, dia hanya fokus menatap ke arah Djaelani yang sedang tertatih-tatih mendekat kearahnya.
...****************...
tetap bersambung lagi pak e 🤭😁
__ADS_1
tetap dukung Mak e 😉😉