SUNDIRAH

SUNDIRAH
sengsara membawa hikmah


__ADS_3

pov Suwarti


Perjalanan dokar beriring-iringan untuk kirab ke tempat mbok Paini di desa Setinggil. Gemerincing bell dokar, dengan derap langkah kaki kuda pagi itu memecah kesunyian.


Pertemuan kali ini akan mengingatkan sebuah kenangan ku dengan yu Sundirah. Jalan kecil yang dulu sering kami lewati, yu Sundirah berboncengan sepeda dengan bapak, sedangkan aku dengan emak berjalan kaki menuju pasar Setinggil.


Ah.... emak sama bapak semoga tenang di Surga. Aku bahagia, aku menoleh melihat Teguh yang terbuai lelap dalam pangkuan yu Sundirah, sedang kan mas Hendra sedang sibuk dengan mengendalikan dokar, sesekali menoleh dan mengajak kami bicara.


Mbok Surip bersama pak Slamet mengendarai Dokar di belakang kami.


Aku terlena dalam lamunan ku, kupu-kupu asmara berterbangan kian kemari, menampar ingatan demi ingatanku tentang pertemuan kemarin.


Ahh... bagaimana aku mampu melupakan senyum nya, apakah aku telah jatuh cinta? Iya... Aku telah jatuh cinta. Ternyata cinta memang indah, dan seketika bisa membuat ku bego-bego o'on.


Aku malu dan takut, rasa itu membaur menjadi satu. Aku merasa kecil diantara mereka, dan aku sadar siapa diri ini.


Masih jelas pertanyaan nya terdengar di telingaku.


" Suwarti! bila Mbak yu Sundirah, bisa meluluhkan hati paman Atmosiman, seharusnya nya aku juga bisa meluluhkan hati Suwarti." Ya ampun hati ku langsung penyet seperti jajanan gethuk. Semoga ini bukan rayuan belaka, mimpi apa semalam Gusti...!


Hening lagi...


melirik lagi...


sudah ku tahan mata ini untuk tidak mencuri pandang nya tapi, lagi dan lagi aku tak mampu melawan rasa penasaran ini.


Di sebelah tempat duduk kami, aku sadar beberapa pasang mata asyik curi-curi pandang ke arah kami.


"Dek! menikah dengan mas Yuda mau kan?"


"Ayah dan ibu sudah merestui, esok kita ke pelaminan dek, mau ya?"


Aku diam, aku tertunduk. malu dan takut rasa itu, berebutan menempati isi hati ku, yang sebenarnya ingin ku teriak kan


Ho oh....! aku mau...!


Ah...apa aku mimpi... tidak tidak, aku bukan mimpi ini kenyataan.


"Sa saya.. bukan wanita berpendidikan, dan bukan keturunan orang kaya mas, apa mas Prayuda nanti tidak akan malu..?" Ku berucap tanpa berani menatap manik mas yuda, takutnya aku langsung pingsan saja karena tidak mampu mengendalikan perasaan ini.


"Warti! tentang kepandaian, kita akan belajar bersama. Aku yakin kita akan mampu, karena kedepan kita akan saling menguatkan."


"Kekayaan bukan tolak ukur untuk seseorang menghadapi sebuah rumah tangga, dan kebersamaan. Nyowo mung gadhuhan, Bondho mung titipan, pangkat mung sampiran."

__ADS_1


"Aku mencintaimu Suwarti, ku mohon cinta ku terbalas.Dan kita bisa menyatu."


"Kedudukan bisa kita raih perlahan, kekayaan bisa kita gapai bersama."


Lidah ku serasa kelu, mataku menghangat tapi aku tidak boleh menangis karena rasa haru ini. Aku harus kuat.


"Beri waktu sedikit saja mas, tapi! saya manut dengan ayah saja." Ya ampun mulut ku keceplosan! bisa di pastikan wajah ku terlihat memerah seperti buah juwet yang masih asem.



Buah juwet


Mas Prayuda tiba-tiba berdiri, tepat di depan tempat duduk ku. Lalu berjongkok, "Secepatnya kita menikah warti."


Mataku serasa mau mencolot saja bola-bolanya, bagaimana tidak! mas Yuda memegang tangan ku.


Buru-buru ku palingkan pandangan mengarah kepada Ibu dan yu Dirah, lalu ke Ayah. yu Dirah mengalihkan pandangan, sedangkan Ibu tersenyum saja.


Ya ampun aku bagaikan masuk perangkap mereka. Mau tidak mau aku mengangguk kan kepala ku.


Huhhh... Bapak, Emak...! Ku harap kalian bisa melihat, dan ikut merasakan. betapa bahagianya kehidupan yang akan kami Songsong saat ini.


Pengorbanan Bapak sama emak membawa hikmah bagi kami.


Sungguh jauh dari dugaan kehidupan ku dengan yu Dirah, aku bahagia, aku bersyukur.


Pertemuan keluarga ini berakhir dengan, candaan dan sejuta kebahagian antara aku dan mas Yuda.


Aku dengan mas Yuda masih asyik dengan duduk manis, di pojok ruangan. saling diam, tersenyum dan sedikit bercerita.


Aku melihat ayah serta pak Prapto bersama mas Hendra sedang serius berdiskusi, tidak tau apa yang mereka rundingkan.


sedang kan yu Dirah sepertinya tenggelam dalam suasana bahagia dengan Bu Hamidah dan Ibu.


Matahari hampir saja meninggalkan teriknya, menuju semburat sendu. Perbincangan serius mereka telah usai, mereka berpamitan aku menghampiri bu Hamidah untuk salim. Beliau juga menghampiri ku lalu memeluk ku dalam dekap nya, aku rindu pelukan ini. Terbayang emak ku yang memeluk ku, lalu ku dengar bisik Bu Hamidah di sisi telinga ku.


"Jaga diri baik-baik calon mantu!"


lagi dan lagi aku tersanjung, semoga wajah ku tidak Semerah juwed, tapi aku bahagia.


Setelah aku rasa sudah rapi, dan selesai aku membereskan meja dalam ruangan bale-bale, kaki ku melangkah menuju serambi samping.


Aku di kejutkan dengan keberadaan yu Dirah bersama ibu, oh tidak!.... mereka berempat, ya ampun!.... mereka sedang membicarakan diriku.

__ADS_1


"Ndhuk sini!" Ibu memanggil ku, aku pun mendekat.


"Ndhuk.. jangan ragu untuk mengatakan iya untuk sebuah jawaban pada Prayuda, Ibu sangat yakin, nak Yuda ada keseriusan untuk membawa mu ke jenjang yang lebih."


Aku duduk dan menghela nafas dalam-dalam, ku menoleh kepada yu Dirah.


"Jangan melihatku Warti, keputusan ada padamu." Bahkan yu Dirah menggiring opini pernyataan setuju.


"Ibu...., Ayah! apakah tidak terlalu terburu-buru, apakah beliau semua bisa menerima saya dengan apa adanya?"


"Warti! Untuk kemaren, perjalanan Sundirah bersama Mahendra adalah sebuah kesalahan. Dan ini kami selaku orang tua kalian, tidak menginginkan kejadian serupa akan terulang kembali menimpa dirimu ndhuk." Ndhoro Atmosiman yang kini menjadi sosok ayah ku, berbicara ada nada penyesalan teramat dalam di sana.


"Dan saat ini, ayah bersama ibu sudah tua. Hanya menginginkan kalian semua bahagia." Ayah ku menambahkan lagi ucapannya, mataku tidak sanggup berkedip, kulihat rona wajah yu Dirah menahan buliran air mata yang sudah antri menitik ke pipinya.


"Yu...aku menerima mas Prayuda, apakah yu Dirah mengizinkan?" Ku remas tangan yu Dirah, ku lihat senyum dia menyejukkan hati ku.


"Bahagia lah Warti, yu Dirah ikut bahagia emak sama bapak pasti akan bahagia di sana, mereka tau kita telah meraih kebahagian kita." Yu Dirah memeluk ku, aku terbenam dalam pelukannya.


Selanjutnya apa rencana ibu dan ayah, aku hanya pasrah. Bersyukur ku tiada batas nya, perjalanan asmara ku yang tidak terduga dan tanpa halangan inikah yang namanya hikmah kehidupan?


Dan yang lebih buat ku tercengang kembali adalah, pernikahan ku akan terjadi sehari setelah pernikahannya yu Dirah sama mas Hendra.


Aku bahagia, aku tersenyum sendiri, aku lupa saat ini berada di mana.


telingaku tiba-tiba tuli tidak mampu mendengar suara apapun di sekitarku.


"Warti... Warti!"


Aahhh..... gedebug kompyang...!


...****************...


Nyowo mung gadhuhan,


Bondho mung titipan,


Pangkat mung sampiran artinya.


Nyawa hanya pinjaman, harta hanya titipan, pangkat hanya hiasan.


Yang lain kek kepiting rebus, Warti mah Semerah juwet 🤣🤣.


semua,..! Siapin baju cantik, Ama isi amplop yah..🤭kita nak kondangan ke rumah Juragan kopra 🤭

__ADS_1


__ADS_2