
Semilir angin semakin dingin malam itu, suara burung hantu menambah suasana menyeramkan di jalan setapak alas jati itu.
Naris berserta kawan-kawan nya sengaja berhenti, Dan menanti matahari terbit. Dan penangkapan akan di laksanakan.
Strategi demi strategi mereka susun rapi, mengingat Sardi sangat licin untuk di tangkap.
"ingat..! mereka bukan perampok biasa yang akan kita hadapi. Jadi, kalian harus ekstra hati-hati." Naris berpesan kepada anak buah Suprapto.
"Jangan membuang peluru bila tidak dalam posisi terjepit, dan tidak menutup kemungkinan di antara mereka, terdapat sandera yang lemah."
"Ingat kode masing-masing." Semangat Naris untuk anggota nya.
Tanpa sepengetahuan mereka, ada seekor monyet kecil menyelinap masuk. Dan kembali melompat menghindari penangkapan, lalu menghilang di kegelapan.
Namun siapa yang bisa menduga bahwa monyet kecil itu adalah peliharaan si Tunggak, yang sudah di didik dengan baik untuk mengintai dan mencuri.
Secepat mungkin monyet kecil itu berlari, kembali kepada sang tuannya dan melapor apa yang di lihat baru saja.
Akan tetapi kelompok Naris juga sudah mempunyai pengalaman, dan segera memberi tanda siaga pada yang lain, termasuk kepada Naris.
"Kalian semua berhati-hati lah.. monyet yang baru saja melintas, itu adalah monyet yang sudah terdidik dengan baik."
"Jangan ada yang lengah, sebab bisa jadi mereka juga sudah melakukan persiapan, untuk menerima kedatangan kita." Peringat salah satu dari mereka sebagai komandan.
Naris menghela nafas berat, kegeramannya atas tingkah laku Sardi dan kawanannya, membuat ia ingin segera menuntaskan saja.
Sedangkan kawanan Sardi dan Tunggak, yang bisa menerima pesan isyarat dari Cening, si monyet kecil itu juga segera melakukan persiapan.
"Hmmm... rupanya jejak mu membawa mereka kemari Sardi." Kita hadapi bersama.
"Ingat...! Gadis cantik itu jangan ada yang lengah mengawasinya. Sebab, selain menjadi calon mantu nanti, dia juga sebagai sarana bagi kita untuk mendapatkan kekuatan." Seringai licik Tunggak.
"Bogel...! kamu yang memimpin di jalan sebelah barat, sedang kan kamu! di sebelah timur." Tunggak menunjuk Bogel dan satu pria bertubuh kekar, tinggi besar. yang sudah melanglang di dunia perampokan alas jati, dan sudah paham akan seluk beluk tentang perlawanan dengan aparat keamanan, sebab hingga saat sekarang pun dia masih menjadi buronan yang berwajib.
"Dan kau Sardi..! Kau tetap disini, bersama ku." Perintah Tunggak. Akan tetapi tidak satupun yang bisa melihat, ada sorot kelicikan di mata Tunggak.
"Kang...! Ada apa ini, kenapa kita berkutat di sini?" Tanya Sardi.
"Kamu, nurut saja! Aku ada rencana." Tunggak tersenyum penuh arti, dan kelicikan yang hanya dia saja yang memahami.
\#Petiklah bulan, jadikan ia cahaya sahaja di malam laknat para pendosa. Sepi ini tanpa nama, dingin namun bermakna. Harapan adalah sarapan yang baik, tetapi merupakan makan malam yang buruk. Jingga di bahu mu. Malam di depanmu. Dan bulan siaga sinari langkahmu. Teruslah berjalan. Teruslah melangkah. Kutahu kau tahu. Aku ada.
__ADS_1
Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.\#
Perlahan mereka berjalan mendekat ke sarang Tunggak dan Sardi, Mobil patroli mereka sembunyikan di antara semak-semak. Dengan mata dan pendengaran yang super waspada.
"Kang.. kita harus melakukan penggerebekan dengan cara ***Supit urang***, dengan cara tersebut akan memudahkan kita meringkus mereka, dan dengan keamanan berlapis sehingga kekuatan kita tidak melemah pada satu titik." Panjang lebar Naris menjabarkan denah, yang sudah di dapat dari Slamet saat bertemu. sehari sebelum mereka melanjutkan perjalanan lagi.
surrrtt... Krosak...
"Oh.. awas...! Tiba-tiba suara dari belakang melengking. Untung tombak yang meluncur itu, tidak tepat pada sasaran.
""Kita berpencar! bila kita dalam keadaaan genting, bunyikan isyarat ***seribu gagak***." Perintah sang komandan.
Jalan yang mereka tempuh memang tidak melebar, akan tetapi curam dengan sedikit menjorok ke lembah terjal.
Sruutt pletok ...
lagi-lagi serangan buta, mengenai ruang kosong, dan ini semakin membuat anggota Sardi menambah konsentrasi pendengaran nya.
Tidak lama terdengar suitan dari anggota Naris.
suiiit...suiitt.. kwaak..
menandakan untuk bersembunyi di balik pohon, dan berlindung dengan serangan buta lawan.
Anak buah Bogel juga tidak kalah waspada, menghadapi pasukan terlatih.
Mereka memasang jebakan di tanah, yang biasa mereka gunakan sebagai umpan untuk menangkap babi, ataupun harimau yang sering berkeliaran mencari mangsa hewan lemah lain nya.
Hening sesaat Tiba-tiba suara teriakan terdengar sayup-sayup di telinga Naris.
"Tolong...tolong...! bajingan kalian, lepaskan aku dari sini, ku mohon." Teriakan itu pelan namun jelas terdengar.
"Sstt...! kalian dengar itu suara minta tolong? Aku rasa tempat intinya sudah tidak jauh dari sini." Bisik satu di antara kawanan Naris.
"Tetap waspada, sebab sangat mungkin mereka ada juga para wanita. Entah itu sebagai tawanan, ataupun pelampiasan nafsu mereka. Tetapi yang jelas mereka buka istri ataupun anak."
Tiba-tiba terdengar suara suitan lagi.
Suit...suit..suiitttt....
Suitan memanjang pada akhir, menandakan ada banyak jebakan bawah tanah, sebagai media penguburan korban.
"Coba kalian lihat, itu gundukan daun kering, beda dengan tanah di sekitarnya. itu adalah jebakan." Lalu Anggota tersebut melempar batang panjang ke tengah-tengah tanah yang dia maksud.
Dan benar saja tiba tiba terperosok ke dalam lubang yang dalam.
__ADS_1
"Kalian hati-hati, dari sini kita berpencar, Semangat!' Lalu mereka pun berpencar dengan metode Supit urang.
Sedangkan di tempat Tunggak dan Sardi berada, merasa jengkel dengan teriakan yang di lontarkan oleh, Sulistyowati anak seorang ***Wedono*** yang mereka jadikan sandera, pekan lalu.
"Heh... tutup mulut mu, jangan buang-buang tenaga percuma, kalau tidak ingin ku sumpal mulut manis mu ini" Ucap Sardi geram, sambil memegang kedua pipi Sulistyowati dengan satu tangan.
cuihh...
"Aku jijik dengan tangan mu, lepaskan aku. Salah apa aku dengan kalian. Lepaskan aku...!" Sulistyowati meludah tepat di muka Sardi.
"Wah..wah.. macan betina cari sensasi dengan ku rupanya heh .." Mata Sardi melotot kearah Sulistyowati.
"Jangan sia-siakan wajah ayu mu ini ndhuk, dengan cemberut dan melotot begitu."
Ha..ha...ha... Tawa Sardi membuat bulu kuduk Sulistyowati meremang.
"Sardi, kemari lah. Lihat rupanya kawanan dari kepolisian itu telah mengepung tempat persembunyian kita. Hanya ada dua cara, yaitu."
" Melawan dan kita mati, atau jadi pengecut dengan kita melarikan diri." Tunggak memberi solusi.
"Lalu gadis dalam gubug itu..?"
"Kalau kita bawa, kita akan kesulitan dalam perjalanan. Namun bila kita tinggal akan sayang, barang bagus kita sia-sia kan." ucap Sardi dengan memainkan alisnya naik turun.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
***Taktik supit urang tersebut adalah teknik penyerangan dari dua sisi yang bertujuan membuat musuh terperangkap***.
***Bupati membawahi Wedono atau Demang. Tugas mereka serupa yakni untuk membantu tugas Bupati. Namun, bupati juga bisa dibantu oleh seorang Kaliwon yang merupakan pemimpin pedesaan namun jabatannya berada di bawah bupati langsung***.
***Seribu gagak, hanyalah sebuah kode yang di ketahui beberapa anggota perkelompok dalam kesatuan bertugas***
kasih semangat Sulistyowati mak, pemeran baru, anak seorang wedana rupanya.
jempol yuk jempol 😘
__ADS_1