SUNDIRAH

SUNDIRAH
Kegundahan Jupri


__ADS_3

Laju sepeda onthel Jupri berhenti di depan pekarangan kantor kepolisian, Jupri hendak mengadu tentang keberadaan orang asing yang sering berseliweran di gardu depan halaman rumahnya.


Bukan takut, atau tidak bisa mengatasi sendiri masalah orang asing tersebut. Akan tetapi bagaimana pun juga ia harus tunduk dan patuh akan ketetapan hukum.


setelah ia masuk ruangan Jupri di sambut dengan Suprapto, mereka saling melempar senyum. Rupanya kasus Djaelani dan Jupri tempo lalu dengan permasalahan pelunasan hutang dengan rumah beserta isinya, membuat mereka lebih akrab, di bidang sosial dan keamanan.


"Pak Jupri, memang kami akui pengejaran Sardi bersama komplotan waktu itu terkendala, Medan yang kami masih awam, dan kami kehilangan jejak mereka saat kabur dari kepungan pasukan."


"Pak Jupri jangan khawatir, kami akan tanggapi laporan bapak, dan kami akan berusaha untuk memberikan pengamanan di desa bapak ." Ucap Suprapto menanggapi Jupri.


"Saya curiga keberadaan kami, akan memicu keluarnya Sardi bersama kawan-kawan nya. Sebab yang mereka ketahui rumah tersebut adalah milik Djaelani sebelum nya."


"Di samping itu, sering terjadi penculikan anak gadis untungnya sebagian sudah bisa di gagalkan oleh warga, ini sangat meresahkan pak Prapto."


"Untuk saat ini mungkin kami masih bisa menanggulangi, akan tetapi bila sudah semakin meresahkan, saya tidak bisa menjamin untuk tidak terjadinya pertumpahan darah. Yang di sebab kan oleh rasa ketidak nyamanan." Kata-kata Jupri bukanlah sebuah isapan jempol belaka, sebab bila di tela'ah kebelakang, Jupri juga pemain sawung jago, tidak menutup kemungkinan dia juga mempunyai kawanan, orang-orang kepercayaannya sebagai pendamping dia saat berada di kalangan.


"Saya tau itu pak Jupri! akan tetapi alangkah baiknya kita tidak bertindak grusa grusu. Kami akan siaga dan bertindak secepatnya."


"Untuk keamanan Sulastri bersama lurah Djaelani dan keluarga sudah kami lakukan, penjagaan berkala pak." Suprapto memberikan ketegasan akan keselamatan bersama, karena Sardi bersama komplotan terkenal sangat licin dan kejam.


"Saya tidak tenang Kalaupun akan meninggalkan adik wanita saya, bersama anak perempuan nya pak Prapto, mau tidak mau saya kok ya khawatir! Kejadian yang serupa akan terulang kembali pada keponakan saya." Keluh Jupri memulai bertukar cerita tentang kegundahan nya, mengenai laporan yang ia buat saat ini.


Dari luar terdengar bell sepeda onthel yang dikendarai seseorang. "Sugeng sonten pak." Suara seseorang memasuki ruangan dimana Suprapto bersama Jupri sedang berbicara.


Naris menatap Jupri lekat, otak nya blank, ada kegugupan tiba-tiba.


"Lah... ada apa dengan ku! sebentar.... wajah itu tidak asing bagiku, tapi siapa...?" Batin Naris Ling-lung tidak mampu mengingat apa dan siapa yang ada pada garis lekuk wajah tersebut.


"Akh... tidak...tidak .. aku ingat! wajah bapak ini mengingat kan aku pada sosok Sulistyowati. Tapi aku rasa tidak mungkin ini terjadi, persamaan wajah banyak di jagad ini. Kenapa aku kok jadi edan begini." Sendiri Naris kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.

__ADS_1


Hal ini membuat tanya antara Jupri dan Suprapto, yang sedikit bingung melihat ulah Naris, yang tiba-tiba muncul, lalu terpana dan tersenyum senyum sendiri.


"Naris, kamu kenapa..? baru saja kesambet genderuwo di mana kamu!"


"Eh....eehhmm maaf kan saya pak, saya terlambat sampai disini." Naris berusaha mengalihkan kegugupan dan rasa malu nya dengan permintaan maaf.


Akhirnya mereka duduk bersama dan mencari solusi keamanan bagi penduduk dan desa, yang saat ini sedang mendapatkan teror penculikan dan maling di mana-mana.


"Pak Prapto mungkin hanya ini yang saya sampaikan, saya mohon pamit. Saya titip adik perempuan saya bersama keponakan saya, sebab saya harus pulang menemui anak dan istri saya." Jupri meninggal kan area setelah pamit kepada Prapto dan Naris.


"Kamu kenapa le.., seperti nya ada sesuatu ketika melihat wajah pak Jupri." Selidik Suprapto kepada Naris.


"Saya seperti pernah melihat ada kesamaan pada garis wajah yang tuan Jupri milik i pak." Jawab Nasir jujur.


"Beliau yang menempati rumah lurah Djaelani saat ini, jadi! mungkin kamu pernah melihat, akan tetapi kamu yang lupa."


"Sudah jangan banyak di pikir, ada tugas buat kamu Naris semoga kamu bisa menjalankan dengan baik lagi." Suprapto mengalihkan pembicaraan dengan rencana yang akan di bahas kedepan.


"Akan tetapi, kondisi di beberapa desa termasuk tempat tinggal mu saat ini sedang marak penculikan dan maling di mana-mana."


"Saya tidak mau kejadian serupa terjadi seperti di saat lurah Djaelani menikahkan putrinya. Keamanan harus benar benar di jaga."


"Baru saja pak Jupri memberikan laporan, beberapa hari ini orang asing berseliweran di area tempat tinggal beliau." Suprapto panjang lebar berbicara tentang maksud dan kedatangan Jupri.


"Mengenai keamanan desa desa sudah kami perketat pak, mungkin saya juga akan bantu pengamanan di daerah tempat tinggal tuan Jupri." Tawar Naris.


Memang tidak mudah di pungkiri, betapa berat nya Naris menghibur hatinya untuk tidak memikirkan Sulastri kembali. Biarlah kenangan dalam hatinya sendiri ia pendam sedalam mungkin.


Naris sangat piawai mengalihkan rasa hati menjadi sebuah pelampiasan, dengan cara melakukan kegiatan bermasyarakat, dan membina para pemuda desa.

__ADS_1


Perlahan bayangan Sulastri memudar, walaupun sulit menghilang.


"Aku harus melupakan semua, benang itu tidak mungkin akan menjadi sebuah rajutan."


"Sulastri... semoga kau bahagia dan Harjito, akan menemani mu hingga akhir hayat kalian menjemput." Naris sendiri bermonolog dalam batin nya.


"Loh... sebentar pak Prapto!" Naris seperti menyadari ada perkataan Suprapto yang menggelitik keinginan taunya.


"Suwarti...? menikah?"


"Iya lee... dan Suwarti akan menjadi menantu mbarep bapak." Suprapto seolah bangga dengan ucapannya.


Naris terpaku, lalu menyalami Suprapto dan mencium punggung tangan tersebut.


"Pak... terimakasih, saya tidak menduga bapak berbesar hati menerima Suwarti. Dia layak untuk bahagia pak."


"Saya sangat prihatin dengan perjalanan hidupnya, hingga beberapa nyawa harus ikut menanggung keserakahan segelintir manusia." Naris kembali duduk melanjutkan kata-kata nya.


"Bapak tau lee,! akar permasalahannya, sudah tuntas, hanya saja Sardi belum tertangkap juga, ini yang menambah terjadinya kerumitan."


"Pernikahan Sundirah dan Suwarti harus benar benar aman, sebab tidak menutup kemungkinan Sardi bersama Komplotan akan kembali."


"Usia mu sudah matang untuk berumah tangga, segerah mencari pasangan. Nanti bapak akan mendampingi mu melamar calon istrimu." Tentu merah padam karena malu.


"Siap pak!" Jawab Nasir formal, dan itu membuat gelak tawa mereka pecah. Perbincangan mereka akhirnya berlanjut mengenai seputar keamanan, dan apa yang akan mereka lakukan kedepannya.


...****************...


Selama membaca 😁

__ADS_1


tetap mohon dukungan Nggih 🙏


salam sehat selalu 😘


__ADS_2