
Tombak yang berhasil di pakai oleh Sardi sebagai senjata, melawan beberapa orang yang melindungi Djaelani ia ayun ayunkan ke segala arah.
Djaelani yang sudah tidak mampu bergerak, hanya pasrah bila ini memang sudah akhir cerita kehidupan yang selama ini ia jalani.
Hingga pada detik yang sangat menguntungkan Sardi, tombak itu ia luncurkan ke arah Djaelani.
Traanng....gludak!
Nasib baik masih melindungi Djaelani yang sudah tidak bertenaga sama sekali.
Para warga yang masih bertahan untuk melindungi keluarga Atmosiman, berupaya membantu untuk melindungi Djaelani dari amukan Sardi.
dorrr....
Karena sudah sangat membahayakan bagi siapapun yang berada di tempat itu, kembali Suprapto menembakan senjatanya ke arah Sardi, kali ini mengenai dada kiri.
Timah emas panas itu bersarang, menembus mengalahkan kekebalan Sardi yang selama ini ia banggakan.
Kekuatan sesat yang ia anut, akan kebal senjata yang bisa membun*hnya, ternyata dengan timah emas mampu menembus jantungnya.
Sardi penganut ilmu sesat, dengan kekuatan berlipat dan hanya akan mempan dengan senjata tertentu yang bisa melemahkan kekuatannya.
Mata Sardi nanar menatap Suprapto, dengan langkah terseok-seok dan berlumuran dar*h, Sardi menghampiri Suprapto.
"Kau!" Tangan Sardi memegang dadanya, menggapai lengan Suprapto yang masih siaga.
Prayuda tidak jauh dari sisi sang Ayah, mengamati pergerakan Sardi yang mendekati Sekar*t.
Suprapto dengan sigap menangkap tubuh Sardi yang limbung ke arahnya.
"Maafkan aku Sardi! ini harus aku lakukan, agar tidak terjadi korban lain."
"Insaf-lah Sardi, kembalilah kepada sang pencipta dengan jiwa yang bersih dan hati yang ikhlas. Dendam mu akan membawa duka, dan siksa lahir dan batin."
Mata Sardi melotot, tubuhnya menegang. Tangannya memegang erat telapak tangan Suprapto mulutnya mengeluarkan busa berwarna kekuningan.
__ADS_1
"Ikhlaskan Sardi, nyebut Asmaning Gustimu Sardi." Suprapto tidak hentinya memberikan doa kebaikan kepada Sardi.
Atmosiman berjalan mendekat, lalu jongkok dan membantu Sardi menuntun doa kepada Sang Pengampun dan Sang Pemilik Jiwa Yang Esa
Tubuh Sardi mengejang, tangannya mencengkram kuat seakan nyaw* itu enggan lepas dari raganya dan sudah terperangkap dalam tubuh yang penuh dendam dan tanpa welas asih itu.
Erangan itu membuat merinding, dan sebagai pembelajaran bagi siapapun yang menyaksikannya. Dendam tidak akan menuntaskan segala permasalahan, hawa angkara tidak akan ada habisnya di muka bumi ini kecuali dengan jiwa dan hati yang ikhlas, sebagai pelebur dendam dan keserakahan.
Malam mencekam dengan suasana Hujan deras mengguyur desa Jatilengger, bersama berakhirnya perjalanan Sardi. Tubuh Sardi dengan segala dendam dan amarah itu telah terbujur kaku, tidak ada tangisan ataupun penyesalan.
Jenasah Sardi dan anak buah nya, menjelang pagi itu juga mereka angkat dengan cikar, menuju ke tempat dimana Sardi berasal dan bertempat tinggal sebelumnya, untuk di sucikan dan di kuburkan sesuai keyakinan yang mereka anut.
Carut marut ngunduh mantu juragan Atmosiman, berakhir dengan hikmah bagi seluruh yang menyaksikan betapa dendam bukan sebuah pengakhiran permasalahan.
Tempat yang semula terdapat seperangkat gamelan, dekor pengantin dan beberapa benda untuk melakukan acara pernikahan, telah rapi dan bersih dengan bantuan seluruh yang ada di tempat tersebut.
Penyelenggaraan ngunduh mantu, telah usai semua telah kembali seperti semula, walaupun telah terjadi pertumpahan darah.
Djaelani telah di larikan ke balai kesehatan, karena luka yang ia derita juga cukup parah, akan tetapi! pada tengah-tengah perjalanan, nyawa Djaelani tidak tertolong. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju balai kesehatan.
Kabar tumbangnya Sardi segera menyebar di seluruh rumah juragan Atmosiman.
"Warti...! Sundirah menatap Suwarti dengan pandangan kabur, menahan tumpahnya air mata yang sudah menganak berdesakkan untuk tumpah pada pipi putih Sundirah.
"Yu...! kang Sardi telah membayar semua dengan setimpal." Mereka berpelukan dan menumpahkan semua rasa yang pernah mereka rasakan dan mereka alami
Sulistyowati yang di antara mereka pun baru menyadarinya, ternyata dia berada di antara korban kebengisan Sardi dan kawanannya.
Malam panjang dan mencekam telah usai, hujan pun reda menyisakan udara yang segar dengan cuitnya burung-burung prenjak di dahan pepohonan yang masih basah.
Slamet bersama Harjito, yang sedang membawa Sulastri ke balai kesehatan di kota juga telah sampai. Sulastri yang belum siuman juga, membuat kekhawatiran Harjito dan Slamet.
Mereka tidak bergeming barang sejengkal pun dari tempat pembaringan Sulastri. Tangan Harjito tidak lepas dari genggamannya, memberikan kehangatan dan semangat kepada Sulastri.
__ADS_1
Slamet perlahan keluar dari ruangan, dan menuju dimana dokter yang menangani khusus kewanitaan di ruangan utamanya.
"Nyuwon sewu, nyonya dokter. Apa yang telah terjadi dengan anak saya? apakah kandungan selamat atau mengalami sesuatu," pelan Slamet bertanya sambil membungkukkan tubuhnya.
Petugas kesehatan yang dulu juga menangani Sundirah itu tersenyum, lalu mempersilahkan Slamet untuk duduk si bangku di depannya.
"Pak Slamet, Selamat! anak bapak walaupun dalam guncangan batin yang kuat, namun dia mempunyai semangat yang luar biasa." Wanita perawat itu tersenyum menyejukkan perasaan Slamet.
"Selamat pak, sebentar lagi pak Slamet akan menimang cucu. Kondisi calon ibu sangat lemah jadi untuk saat ini harus istirahat total."
Kebahagiaan jelas terlukis pada raut dan senyum Slamet, doa syukur juga tidak pernah lepas dari bibirnya.
Mata Sulastri masih saja terpejam, mimpi-mimpi tentang kelopak bunga kertas yang mulai bermekaran menghiasi setiap tarikan nafasnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Cerita demi cerita terangkai penuh duka dan nestapa, tawa dan canda, siapa yang akan mampu menduga akan terciptanya sebuah makna dalam setiap langkah berpijak.
Hidup bagaikan sebutir benih, terkubur dalam tanah menghujam menyatu dan menjadikan sebuah akar yang kokoh, bersemi, kuncup lalu bermekaran, dan akan kembali jatuh kedalam tanah.
Semua sesuai takaran dan semua akan tetap berputar berulang dan terus berulang, semua tergantung tempat dan cuaca.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Semangat Mak, pak 😉...
lanjut lagi yukkk
__ADS_1