
Perjalanan Slamet menuju rumah sakit, tidak memakan waktu lama dengan dokar yang biasa ia tunggangi.
Sepanjang lorong rumah sakit Slamet merasakan, kebahagian pasti akan mereka raih.
Sundirah telah memberikan tanda-tanda akan pulih kembali, lalu Sulastri saat ini pasti sudah dalam perjalanan pulang. Sedangkan Harjito, walaupun masih dalam penanganan dokter karena luka tusukan itu, akan tetapi semua memberi harapan untuk kebahagian mereka.
kelegaan Slamet, membawa dia pada langkah yang ringan sambil tersenyum menyapa setiap berpapasan dengan orang-orang ketika melewati lorong rumah sakit itu.
"Sepertinya, angin segar membawa cerita bagus ini ya, pak Slamet." Suara seorang laki-laki menyapa Slamet.
Slamet menoleh dan mendapati Suprapto yang telah menyapanya.
"Loh pak Prapto kok juga disini..?" Bukanya menjawab sapaan Suprapto, malah balik bertanya.
" Saya mengantar Lurah Djaelani, diabetes yang beliau derita sepertinya, mengharuskan beliau untuk rawat inap di sini juga." jawab Suprapto sambil tangan nya menunjuk ke arah ruangan, dimana Djaelani sedang di rawat.
"Luka tusuk, satu bulan yang lalu sulit mengering pak, di tambah lagi penglihatan beliau juga buram. Semua atas persetujuan ndoro Siman, Maka beliau kami rujuk ke rumah sakit ini." Penjelasan Suprapto panjang lebar, dan membuat Slamet menoleh ke arah Djaelani berbaring. Lalu menghela nafas berat. Setelah berbincang di rasa cukup, mereka berpisah.
Slamet menuju ruangan Harjito di ujung lorong. Perlahan langkah kaki Slamet mendekati Harjito yang masih terlelap.
wajahnya yang pucat, dan mata terpejam membuat Slamet iba. Dia memandang lekat di setiap tarikan halus, nafas Harjito.
"Segera sembuh lee... biar semua bisa kumpul dengan keluarga kalian. Hidup tanpa sandungan lagi." Batin Slamet tidak pernah lepas dari setiap doa nya.
Detik berganti menit, mata Harjito perlahan terbuka, dan melihat di sekitar ruangan.
"Oh.... Pak Lik.... Sudah lama? maaf saya ndhak tau." Harjito berusaha duduk. Ketika melihat sosok Slamet berdiri menghadap jendela, memandang ke arah luar.
"Sudah.. sudah.. Kamu berbaring saja! jangan banyak gerak." Slamet mendekat, dan membetulkan letak kain selimut yang Jito pakai.
"Aku juga baru saja datang lee, kamu bagaimana? apa yang kau rasakan saat ini..?" Sambil duduk di sebelah pembaringan, Slamet menanyakan kondisi Harjito.
"Luka saya membaik pak lik, saya sebetulnya ndhak kerasan disini pak lik, ingin pulang saja." Harjito melempar pandangan nya ke arah luar jendela.
"Sabar le, kamu harus kuat. Hari ini si mbok mu menjemput Sulastri."
"Jadi kamu harus, Kuat dan segera sembuh. Ndoro lurah Djaelani juga sedang di rawat di rumah sakit ini."
"penyakit gula yang ia derita, mengharuskan beliau menjalani rawat di sini." Slamet memberikan penjelasan kepada Jito.
"Pak lik... Apakah saya seorang laki-laki yang masih mampu melindungi wanita?" tiba-tiba Jito melontarkan pertanyaan kepada Slamet.
__ADS_1
"Buang jauh-jauh rasa khawatir mu Jito, kamu sekarang seorang suami. Pak lik yakin Lastri, juga hanya menginginkan kamu sebagai pendampingnya, dia wanita setia"
"Kenapa kamu tiba-tiba mempertanyakan soal ini?" Slamet berbalik tanya, dan merasa heran dengan pertanyaan Jito, yang seharusnya bukan masalah ini yang di bahas kedepan nya.
"Saya, takut tidak bisa melindungi Lastri pak lik." Jito merasa sedang putus asa.
"Cekelana impenan mu, amarga yen impen mati, urip iku kaya manuk sing swiwine rusak, mula ora bisa mabur."
"Sabar iku lire momot kuat nandhang sakening coba lan pandhadharaning urip." Slamet memberikan tutur nasehat.
"Semangat le... ayo bangkit, apa yang kamu takutkan?" Slamet memberikan senyuman dan nasehat. Harjito menanggapi dengan menggenggam tangan Slamet, dan mengangguk kepala.
komplotan Sardi dan kawan kawan nya, berkumpul di tempat persembunyian mereka. Di sisi alas jati, tidak begitu jauh dari pantai, dan tempat itu semula adalah tempat dimana Suyud bersama Yatemi di bunuh oleh Sardi, dan di makam kan berdampingan.
Tanah persil yang tidak terurus itu, menjadi markas besar para komplotan para berandal dan perampok bersembunyi, dan melakukan maksiat syahwat untuk pelampiasan mereka.
Lahan yang di bangun dengan beberapa gubug gubug kecil itu, berfungsi sebagai tempat tinggal mereka dan sebagai tempat persembunyian mereka.
Terdapat empat wanita bermanja-manja di bahu para laki-laki beringas itu.
"Ndhuk... sini kamu! Pijitin kaki dan punggung kang Sardi." Sardi memanggil satu di antara empat wanita belia tersebut.
"Wanita pelampias nafsu itu mendekat dengan senyuman menggoda pada Sardi.
"Kang....! Kita harus susun siasat lagi untuk melakukan pembalasan kepada mereka, aku ndhak terima menanggung kekalahan seperti ini." Bogel masih juga membakar ambisi Sardi.
"Kita harus menghabiskan riwayat mereka Sardi, masa! kalian lari tunggang langgang melawan anak-anak bau kencur! heh.....? ha.. ha. ha.."
"Level bajingan kelas teri kamu le... ha.. ha ha.." Hinaan dari seorang yang di tua kan didalam komplotan itu, mencaci Sardi dan bogel setelah mendengar cerita kekalahan mereka.
"Aku Kena pancal tepat di **onderdil** ku kang! kalu tidak sudah binasa itu laki-laki bernama Naris." Sardi membela diri.
"Tolong..... tolong.... keluarkan aku dari sini...!" Teriakan mengiba dan tangisan terdengar dari sebuah gubug di samping, gubug yang lebih besar tempat para bajingan itu berkumpul.
"Loh... ada tawanan toh..! Siapa kang...?" Sardi menyipit kan pandangan ke arah suara itu.
"Dia putri dari seorang pejabat, di kota."
"Jangan ada yang menyentuh dia, sebab dia akan menjadi lahan harta bagi kita." Ucap laki-laki tua yang biasanya di panggil dengan nama Tunggak itu.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa sampai disini kang?" Kembali Sardi bertanya.
"Aku menculik nya, ketika ada pesta rakyat di alun-alun. Akan aku jadikan dia sebagai mantuku nanti, dan akan aku peras orang tua yang kaya raya itu." Senyum Tunggak mengambarkan sebuah rencana.
"Hemm... licik sekali kau rupanya kang, ha..ha..ha.." Tawa Sardi meledak ketika mendengar penuturan Tunggak.
"kamu saja yang bodoh Di..! Kenapa harus berpatok pada satu wanita? sedangkan masih banyak wanita yang cantik dan kaya." Tunggak tak kalah mencibir Sardi balik.
"Karena aku mencintainya kang, Cintaku membawa ku kepada rasa kesetiaan." Sardi membela diri.
"Usia mu tidak muda lagi Sardi, mau sampai kapan kamu menolak indahnya pelukan wanita, hangatnya di peraduan. heh....?" Tunggak berbicara sambil menyulut tembakau linting.
Mereka berbincang dan menghabiskan waktu. Sementara di sisi gubug masih sayup sayup terdengar suara gadis dalam gubug meminta tolong.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
***Cekelono*** ***impenanmu, amarga yen impen mati, urip iku kaya manuk sing swiwine rusak, mula ora bisa mabur."
(Berpegang teguh pada mimpi, karena jika mimpi mati, hidup adalah burung bersayap yang rusak, itu tidak bisa terbang)
Sabar iku lire momot kuat nandhang sakening coba lan pandhadharaning urip."
(Sabar itu merupakan sebuah kemampuan untuk menahan segala macam godaan dalam hidup***)
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Tuh kan... ada sandera lagi 🤧 kenapa selalu wanita sih yang di jadikan sandera?
Lanjut nanti lagi ya Mak ðŸ¤
love you all pokok e 😘😘
__ADS_1