SUNDIRAH

SUNDIRAH
Kebisingan Suwarti


__ADS_3

Pov sundirah


Kaki-kaki ku terasa berat, gelap dunia ku, tanpa se titik pelita pun bisa menerangi kegelapan pandangan mata ku.


Mati rasa, hanya rasa kebas yang aku rasakan. Dug Gusti... apakah aku benar-benar akan mati...? Siapakah suara suara itu?


"Duh Gusti yang maha Pengampun..! ampuni segala kesalahan Ku.


hamba berbuat dosa-dosa begitu teramat besar. Tapi, saat hamba sandingkan dengan ampunan-Mu, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar.


Dosa-dosa hamba telah memakan iman, kalaupun ini sebuah teguran, Hamba tidak sanggup untuk menjalani nya lebih lama lagi. Gusti.....ampuni dosa hamba"


Aaaahhhh.....!


Dunia ku sunyi, gelap, hampa tanpa cerita. Semua hilang tak berjejak


Seiring lenyapnya tiap untaian harapan ku, angan ku melayang mencari satu suara dalam keheningan. Mengharap satu sentuhan yang dulu begitu menggetarkan


Aku rindu, akan lembut teriakkan yang memanggil namaku, tapi sekarang semua hilang tertelan dalam keheningan. Tak sedikit pun ku dengar suara, tak juga tiupan angin yang dulu selalu sampaikan pesan rindu


Aku terdampar disini dalam keheningan tanpamu


Warti....! ingin rasanya aku mengusap air matamu, tapi aku lemah.!


Warti...! Kau satu-satunya keluarga yang aku miliki, selain teguh dan mas Hendra.


Tolong aku Warti....! Tubuhku kebas tanpa rasa


Teguh... maafkan ibu nak, ingin ibu menimang mu, membawa mu duduk di bawan mentari pagi, dan membawa mu dalam dekapan hangat dan mengajak mu bicara seperti bulek Warti.


Maafkan ibu nak...!


Terimakasih ibu, maafkan saya. Semenjak menjadi bagian dari keluarga ini, selalu saja menjadi beban.


Mas Hendra... kesabaran mu membawakan sebuah cinta yang sejati. usap lah... dan usap terus, agar aku bisa merasakan belaian mu di kebas nya tubuh ku.


pov Sundirah off


"Mbok! kang Hendra bercerita, Hari ini mbok Paini akan menjemput yu Lastri, kang Jito terluka parah mbok!" Warti bertukar cerita dengan Surip.


"Itulah ndhuk! sebuah ambisi bisa menjadikan banyak korban."


"Petik lah semua pengalaman yang selama ini kamu dapat, tidak semua pahit. Tapi untuk meraih rasa manis itu, kita butuh proses." Tidak bosan-bosan nya Surip menasehati Suwarti.


"Semoga cobaan kalian segera berakhir, kegilaan lurah Djaelani membuah kan penderitaan kalian."


"Licin betul si Sardi itu, dia bahkan lepas lagi dari kejaran para polisi polisi keamanan." Cerita Surip lagi.


"Mungkin dia punya ajian sesat mbok, licin seperti bekicot ileran. Habis itu bisa ilang balik-balik tinggal nama."


"Ha .. ha... ha.." Warti tertawa lepas.

__ADS_1


Sifat Suwarti yang selalu riang namun tegas, dan selalu tanggap akan situasi. mampu memberikan rasa tersendiri pada Surip dan anggota keluarga lain nya. Bahkan dengan mudah dia sanggup memendam rasa kesedihan dengan gurauan gurauan yang ia ciptakan.


"Husshh....! jangan tertawa lebar begitu, ***Saru***! "Surip berkata sambil mencetot lengan Warti.


"Sakit mbok." Warti mengelus lengan nya yang kena cetot sama Surip.


"Kira-kira kemana dia mencari persembunyian lagi ya mbok..? Memang perampok punya tempat persembunyian banyak ya..?" Lanjut Warti.


"Lalu....."


"Kata pak Lik Slamet, mungkin dia ke wilayah terpencil di dekat pantai." Belum selesai Warti bicara, sudah di potong oleh Surip.


"Opo mbok...? Tempat terpencil...? Wilayah pantai...?"


"Ohhh... ini harus segera di laporkan ulang...!" Ucap Warti sambil berlalu, dengan lari kecil nya menuju ke kamar Sundirah, Menemui Mahendra.


"Mas... mas Hendra..!"


Suwarti benar benar lepas kontrol, sepanjang menuju ke dalam kamar dia memanggil lantang nama Mahendra.


Membuat siapapun yang mendengar akan merasa heran dan terkejut, termasuk Atmosiman yang sedang melakukan pekerjaan, menghitung jumlah pengeluaran minyak kopra ke pasaran di kota.


"Hela dalah...! ***Bocah wadon kok solah e, ora di jogo blas***." Surip menggelengkan kepala lalu mengelus dada nya.


Dia juga, melewati karmilah yang sedang terkejut oleh suaranya.


"Ada apa Warti, kenapa kamu seperti orang kesurupan..? Apa yang sedang terjadi...?" Karmilah menghentikan langkah Warti.


Suwarti membiarkan karmilah terbengong sendiri, sambil menatap Suwarti yang berlari pecicilan, mengarah ke kamar Mahendra dan Sundirah berada.


Dari belakang, Atmosiman menyusul ke arah suara Warti berada.


"Mas....! saya yakin Sardi bersembunyi di tempat kami dulu, Dia harus mati mas..! Arwah emak bapak ku tidak akan terima , kamituwo Sardi harus mati..!"


Suara Warti sangat keras.


"Warti! ada apa..?" Tanya mahendra.


"Tenang Warti, bicaralah pelan-pelan dan jelas, jangan panik begini." Mahendra mendekati Warti di ujung pintu.


Akan tetap Warti menyelonong masuk saja ke dalam kamar, lalu duduk jongkok. mengamati Teguh dan Sundirah yang masih saja pulas tertidur.


"Yu...Bangun yu....!"


"Kau harus semangat yu...! hati ku mengatakan, kamituwo Sardi berada di tempat tinggal kita dahulu. Persil milik nyonya Ratmini."


"Bangun yu.....!" Suara Warti mengecil.


Atmosiman berhenti di depan pintu kamar, menyaksikan dua saudara itu berinteraksi dengan cara mereka.


Mahendra juga menatap tanpa kedip, apa yang terjadi dengan Suwarti?.

__ADS_1


"Ayo yu...! Bangunlah, aku yakin kamituwo menempati tempat kita dulu di wilayah jolosutro. Tempat emak dan bapak bersemayam di sana."


"Bantu doa yu...! bangun! walaupun Persil itu bukan milik kita, akan tetapi di sana terdapat jasad emak bapak kita."


"Semoga kamituwo Sardi, segera membayar lunas perbuatan nya."


Mahendra dan Atmosiman yang mendengar saling pandang, lalu mendekat ke arah Suwarti yang sedang duduk di sisi Teguh dan Sundirah.


"Tenang ndhuk... Sardi dan komplotannya sudah ada yang mengurus, saat ini mereka dalam perjalanan menyusul Sulastri, dan melanjutkan pengejaran terhadap Sardi." Atmosiman memberikan pengertian kepada Suwarti yang sedang terselimuti emosi.


"Yu... Bantu aku ***nyenyuwon marang*** ***Gusti***. semoga kamituwo segera tertangkap." Tangan Lastri mengenggam tangan Sundirah.


"Aku maunya, dia di gantung saja di alun-alun kota. Biar bisa jadi pelajaran semua orang, keserakahan menyusahkan siapa pun yang tidak memiliki sangkut pautnya dengan dia." Emosi Warti membuat segala perkataan, yang ia lontarkan keluar begitu saja dari mulutnya.


Namun di luar pemikiran Suwarti, genggaman tangan itu terbalas oleh Sundirah. Tangan mereka saling bertautan, walaupun lemah namun genggaman tangan Sundirah semakin terasa.


Suwarti yang merasakan itu semakin yakin, kalau Sundirah telah sadarkan diri.


"Yu ..kau mendengar! kau membalas genggaman tangan ku! ohhhh." Suwarti menciumi tangan dan pipi Sundirah, air mata tidak mampu ia bendung lagi.


Mahendra dan Atmosiman tersenyum haru, Mahendra mendekati mereka, sedangkan Atmosiman mencari keberadaan karmilah.


Perawat yang selama ini di tugaskan untuk menjaga Sundirah pun bergegas memeriksa Sundirah.


"Tuan Hendra, sepertinya nyonya Sundirah sudah kembali kesadaran. Akan tetapi jangan terlalu dipaksakan, dia akan membaik sendiri." Pesan sang perawat.


Atmosiman memeluk erat Mahendra, dari belakang Karmilah yang ikut menyaksikan ikut tersenyum lega.


Terbayang sudah, kelak akan kembali berwarna dan penuh canda dalam rumah yang saat ini sedang sepi.


"Selamat ndhuk... kau telah kembali pada kami." Batin Karmilah berbicara sambil mengusap ujung matanya, yang sudak mulai berembun.


"Nyonya...semoga ini awal yang baik. Saya ikut gembira Nyonya." Perawat itu menyalami karmilah, Atmosiman dan Mahendra, lalu berlalu kembali melangkah, memberikan ruang untuk mereka.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


***Saru \= itu dari bahasa jawa,yang artinya tidak elok atau tidak baik***.



***Mencetot \= mencubit dalam bahasa jawa.


Nyenyuwon marang Gusti \=Memohon kepada Tuhan yang maha esa***.


Horeeee....! Sundirah sudah kembali Mak...πŸ˜‰


Kasih semangat yuk, biar makin rame rumah Ndoro Siman 😁


tapi! Jangan lupa like nya ya kak πŸ˜β­πŸ–οΈtentunya 😘

__ADS_1


__ADS_2