SUNDIRAH

SUNDIRAH
Waktu mulai menjawab


__ADS_3

Hari-hari berjalan dengan landai, beranjak menjadi pekan


Kuncup bunga berubah menjadi bermekaran, kumbang berebut dengan kupu-kupu mereka saling mencari kesempatan untuk mengisap madu madunya.


Mentari pagi bersinar lembut, dengan membawa garis keindahan bersama semburat asap-asap pembakaran dari dapur penduduk, yang terbiasa dengan aktivitas memasak menggunakan kayu bakar.


Begitupun juga kegiatan serupa terjadi di dapur Sulis bersama Siti, dibantu dengan pekerja menyiapkan makanan di dapur mereka.


"Mak siapa yang mau datang? Apa mereka masih saudara kita?" Siti menghentikan tangan-tangan nya yang sedang mencuci beras ketan untuk di jadikan jadah bakar.


"Kita akan kedatangan tamu, teman nya pak dhe. Mereka akan membantu mengamankan tempat tinggal kita secara bergilir, di karenakan alasan tertentu dengan tempat tinggal kita ini ndhuk." Jelas Siti setelah mendapatkan perintah dari Jupri.


"Ada apa dengan rumah kita Mak, saya sering melihat orang asing, dan bukan bekerjanya Bapak berada di gardu depan rumah." Sulis berkata sambil mendekat ke arah Siti.


"Dulu! Rumah ini adalah milik ndoro Lurah, ya.... mungkin ada ceritanya sendiri ndhuk, dan kita tidak perlu tau, kita cukup manut dan waspada saja, toh kita sedang dalam penjagaan dan keamanan mendapatkan jaminan, dari yang berwajib." Lalu Siti melanjutkan pekerjaannya.


"Mak... Sulis jadi ingat sang penyelamat saya dulu, dia ganteng lho Mak. Tapi di mana tempat tinggal nya, andaikan bisa berjumpa lagi ya Mak...?" Sulis mengingat sosok laki-laki itu yang tak lain adalah Naris.


"Hush.. saru anak gadis ngomongin laki-laki ndhak bagus ndhuk, sudah sana! lanjutin saja pekerjaan mu sana!"


Tamu yang Jupri maksud adalah Suprapto dan Naris yang akan datang mereka sedang memberikan jadwal untuk keamanan secara berkala. Hingga acara perkawinan Sundirah dan Suwarti berakhir.


Segala upaya untuk meminimalisir kan kekacauan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


Sulis yang mendapat tugas untuk mengantar suguhan kepada tamu, sama sekali tidak berani menengadah kan wajah untuk sekedar melihat siapa yang sedang bertamu.


Ia menundukkan kepala saja, hingga akhirnya semua yang ada di nampan berpindah ke meja tamu. kesunyian mendominasi ruangan itu, Naris terpaku menatap siapa yang jongkok di depan nya, Jupri bersama Prapto masing-masing sedang merangkai rencana yang akan ia rundingkan. Dan tidak menyadari di antara mereka ada hati yang sedang bergejolak.


Sulis dengan santainya mundur kebelakang, dan berjalan melenggang tanpa beban. Menuju ke dapur menemui Siti dan kembali menanyakan satu pertanyaan kepada Siti.


"Mak.. mereka hanya berdua? Bagaimana mampu menjaga rumah paman yang begini besarnya."

__ADS_1


"Saya maunya penculik itu kesini dan mengambil saya, lalu kakang itu yang menyelamatkan Sulis lagi" Sulis cengar-cengir sambil tersipu di belakang punggung Siti.


"Wohhh bocah gemblung kamu ndhuk, yang lain pada takut di culik lha kok kamu maunya di culik lagi. Nanti di culik orang beneran susah kamu, Piye sih...!" Siti gemas mendengar ucapan Sulis yang konyol itu, bahkan ia lupa tangan nya mencetot lengan Sulis.


"Maakk...! iyung.. sakitloh Mak!" Erang Sulis bukan nya takut malah cengengesan sambil memperlihatkan lesung Pipit di sebelah kiri pipi nya bila tersenyum.


"Siapa laki-laki itu ndhuk? apa kamu mencintainya? kamu jangan ngawur ya.. jadi anak gadis itu harus di jaga tatakrama nya, jangan asal kesengsem saja. Salah-salah kalau sudah jatuh, harga diri tidak ada tandingannya lho ndhuk." Mau tidak mau Sulis harus membuka telinga nya dan mendengar petuah sang Emak.


Di luar, mereka bertiga melakukan perbincangan lancar mereka diskusikan. Bahwa pekan depan pernikahan Sundirah dan Suwarti akan berlangsung, Karena rumah mantan lurah Djaelani yang sekarang beralih menjadi hak milik juragan Jupri, sedang dalam incaran Sardi bersama komplotan nya maka penjagaan juga akan di perketat.


Suprapto berpamit mohon diri untuk pulang, dan akan melanjutkan ke kediaman Lurah Djaelani, di desa Setinggil juga dalam fase peningkatan keamanan.


Didalam perjalanan menuju desa Setinggil Naris lebih banyak terdiam, sejuta tanya menari di benaknya ia masih penasaran dengan sosok gadis yang menyuguhkan makanan, dan tertunduk tadi.


"Apakah dia Sulis? Kalau benar, apa hubungan nya dengan tuan Jupri. Ahhh Sulis, kau membuat tidur ku tidak lena selama ini. Siapa kamu"


"Le...Lee...!" Bahkan teguran Suprapto tidak ia hiraukan, Naris masih terlelap dalam menyemai ingatan nya.


"Ehh... pak... i iya.." Naris tergagap merah padam karena malu ketahuan melamun.


"Apa yang menggangu fikiran mu le, katakan pada bapak."


"Kamu sedang memikirkan keponakan tuan Jupri?" Suprapto tanpa basa-basi menodong pertanyaan pada Naris.


"Katakan le, sebelum nanti menyesal karena terlambat berterus terang. Bapak juga laki-laki pernah jatuh cinta." Suprapto melirik ke arah Naris yang sama sama mengayuh sepeda onthel mereka.


"Biarlah tugas saya selesai dulu pak, kalau kami sudah jodoh tidak akan kemana. Bapak dulu pernah mengajarkan tentang ini bukan." Naris membalikkan kata-kata sambil menaik turun kan alis matanya melirik ke arah Suprapto yang sedang menahan tawa dari awal.


Perjalanan menuju kediaman lurah Djaelani tidak memakan waktu lama, kali ini hati dan pikiran Naris bagaikan dalam gelombang badai yang pasang surut, oleh cuaca.


Dia diam dalam kegundahan, namun harus tetap tenang dan tidak boleh lemah hanya karena cinta tidak sampai.

__ADS_1


Dia harus memendam dalam-dalam rasa yang selama ini ia miliki, ia harus menghadapi dengan legowo dan harus sadar, bahwa Lastri bukan miliknya.


Dalam pertemuan kali ini mereka akan membahas bagaimana untuk mengecoh kawanan Sardi. Dengan cara, pengalihan tempat tinggal mereka di saat acara perkawinan Sundirah dan Suwarti berlangsung. Memang tidak mudah mengibuli tokoh utama dalam kejahatan Sardi sebagai pemeran nya, apalagi mereka sudah memahami seluk beluk di beberapa tempat yang ia tempati sebelum nya.


Dan tentu saja trauma yang pernah Sulastri alami membawanya kembali pada sebuah ingatan yang ang sangat menyakitkan.


"Kang Naris, aku ingin Sardi mati dia juga harus menebus nyawa nenek ku dengan nyawanya." Celetuk Sulastri cukup mengejutkan bagi Prapto dan lainnya.


"Ndhuk.. dendam itu pernah membawa kita dalam keegoisan, dan korban rasa dan hati lupakan ndhuk."


" Berikan saja sebait doa untuk mereka yang akan menumpas dendam dan keegoisan ini dengan doa mu yang tulus." Paini yang kebetulan berada di rumah Sulastri memberikan sedikit nasehat kepada Sulastri.


Isakan Sulastri terdengar, seakan berat merelakan kata maaf untuk Sardi dan kawanannya. Namun kata kata Paini kembali menjernihkan pikirannya, beberapa hari ini ia selalu di buat merasa kalut dan mudah menangis.


Kesepakatan rencana sudah saling di pahami antara Harjito dan lurah Djaelani juga menyetujui dengan apa yang harus mereka jalankan.


Suprapto bersama Naris beranjak untuk meninggalkan rumah Sulastri, mereka akan melanjutkan tugas yang harus mereka kerjakan.


Sebelum ada kata perpisahan Harjito mendekat kepada Naris dan berbisik sesuatu.


"Kang.. terimakasih sudah menjaga keluargaku. Di pundakmu terdapat beban yang sangat berat, semoga kelak kang Naris segera mendapatkan gadis pendamping. Dan sepadan dengan kang Naris." Naris merangkul dan menepuk bahu Harjito.


"Ini sudah menjadi tugas kami Jito." Dua laki-laki itu saling berbicara lewat mata, Sulastri yang menyadari itu mundur beberapa langkah, dan mendekat kepada Paini.


"Sabar ndhuk...sabar! memang tidak mudah untuk bersabar, namun! mereka mampu melakukan hal yang berada diambang kesabaran." Paini yang sejak semula sudah menyadari sesuatu telah terjadi pada mereka. Dan kelegaan kini sudah menjadi jawabannya.


...****************...


Sekilo sabar berapa sih Mak harganya...? 🤧🤧


So keep healthy and strong ya Mak💪💪

__ADS_1


jempol plus rate ⭐🖐️ sayang 😘😚


__ADS_2